12 : Kerja Tambahan

Natasya's POV

Hari ini, aku pergi ke kampus. Meskipun aku selalu berada di rumah sakit untuk menjaga Bhara, tapi aku harus tetap pergi sebentar untuk kuliah. Aku tidak boleh terlalu banyak absen atau beasiswaku akan terancam dicabut. Maka dari itu, pagi tadi aku sudah meminta ibu panti untuk menggantikanku menemani Bhara hingga aku pulang nanti.

Rasanya seluruh tubuh dan pikiranku terasa berat. Bahkan, aku sulit untuk konsentrasi dengan dosen yang sedang menerangkan materi di depan sana. Pikiranku sekarang dipenuhi dengan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dalam waktu singkat agar aku bisa segera mengadopsi Bhara.

Rasanya setiap ide yang terlintas di otakku, pasti akan aku lakukan demi menghasilkan uang yang banyak. Saat dosen masih sibuk menerangkan materi, aku iseng membuka aplikasi twitter di ponselku, lalu mengetikkan sesuatu di sana

...

...

"Haah~ semoga banyak yang nawarin aku pekerjaan," gumamku.

Aku meletakkan ponselku di meja, lalu kembali mendengarkan penjelasan dosen di depan. Beberapa menit kemudian, aku merasakan getar notifikasi ponselku berdering secara berkala. Aku melihatnya sekilas, lalu senyumku seketika tersungging. Postingan di twitterku cukup banyak yang membalas. Beberapa rekan kuliah menawariku pekerjaan, sebagian besar untuk mengerjakan tugas kuliah mereka.

Natasya's POV end

...----------------...

Alan berjalan keluar dari kelas, tujuannya sekarang adalah mencari Natasya. Hari ini, mereka memiliki kelas yang berbeda. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Alan berhasil menemukan sahabatnya itu sedang mengantri makanan di kantin.

"Natasya!" teriak Alan dari kejauhan.

Gadis yang dipanggil itu pun menoleh dan tersenyum, "hai, Alan!"

Alan berlari kecil untuk menghampiri Natasya. Lalu, ia pun ikut memesan makanan di kantin. Setelah itu, mereka memilih untuk menempati salah satu meja kosong di sudut kantin tersebut. Mereka pun mulai memakan makanan masing-masing. Tetapi, Alan mengernyitkan dahinya bingung saat Natasya malah membuka laptopnya.

"Kamu masih ada tugas, Sya?" tanya Alan.

Natasya menoleh sebentar, "oh, ngga kok. Aku mau ngerjain proposal anak jurusan sebelah."

"Dia joki ke kamu?" tanya Alan lagi.

Natasya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Natasya mulai mengerjakan proposal itu sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Astaga, Natasya! Kalau makan, ya makan aja dulu. Jangan sambil ngerjain tugas dong! Harus dinikmati makanannya!" omel Alan.

Natasya tersentak ketika sahabatnya itu tiba-tiba meninggikan suaranya, tapi beberapa detik kemudian ia pun tersenyum kecil.

"Aku gak boleh buang-buang waktu, Al. Makin cepat kerjaan ini selesai, makin aku bisa ambil banyak pekerjaan selanjutnya," jelas Natasya sambil melanjutkan pekerjaannya di laptop.

Alan menghela napas lelah, "tapi gak begini juga, Natasya. Belajar ya belajar, kerja ya kerja, makan ya makan. Badan kamu itu juga perlu istirahat, Sya."

"Iya iya, Tuan Alan Robert Adikusuma," ucap Natasya dengan nada jenaka, "kenapa kamu jadi cerewet banget sih?"

Alan mendengus kesal, laki-laki itu tidak membalas perkataan Natasya lagi. Ia lebih memilih untuk melanjutkan acara makannya. Ia merasa sangat kesal saat Natasya menjadi sulit dinasihati. Melihat sahabatnya kesal, Natasya pun terkekeh dan mengajaknya berbicara lagi.

"Jangan marah gitu dong," kata Natasya, "aku kerja juga buat Bhara, Al. Aku harus cepat-cepat ngumpulin banyak uang biar bisa segera adopsi anak itu."

Kemarahan Alan lenyap seketika, tergantikan dengan rasa iba. Kini, ia merasa kasihan dengan Natasya yang benar-benar berusaha keras untuk mengadopsi Bhara.

"Kamu serius mau adopsi Bhara, Sya?" tanya Alan.

"Ya serius lah," ucap Natasya sangat yakin.

"Meskipun kamu tahu kalau uang aja belum cukup buat adopsi dia?" tanya Alan kembali.

Natasya terdiam. Sebenarnya, ia juga tahu bahwa mengumpulkan banyak uang belum tentu bisa membuatnya memenuhi syarat untuk mengadopsi Bhara. Sejujurnya ia juga tidak terlalu yakin dengan langkah yang ia ambil.

"Yang penting sekarang aku harus cari uang yang banyak dulu. Masalah persyaratan yang lain, biar aku urus belakangan," ucap Natasya tidak ingin ambil pusing lagi.

Alan hanya diam memperhatikan penjelasan dari sahabatnya itu. Ia bisa menangkap keraguan dari Natasya. Ia paham bahwa gadis itu sebenarnya juga bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

"Toh, kalau misal nanti aku gak memenuhi syarat, aku bisa pakai uang itu buat ambil cara yang lain," imbuh Natasya, kemudian gadis itu memajukan badannya untuk membisikkan sesuatu kepada Alan.

"Hukum kan bisa dibeli."

Alan membulatkan matanya terkejut setelah mendengar ucapan terakhir Natasya.

"Natasya! Kamu udah gila?!" seru Alan.

Natasya hanya mengedikkan bahunya, "kenapa? Omongan aku gak salah, kan?"

"Yaa... Gak salah sih," lirih Alan, tapi sedetik kemudian ia kembali berseru, "tapi gak benar juga!"

Natasya tertawa kecil, "astaga, Alan, aku bukannya ngelakuin tindak kriminal. Lagipula, ini bukan sesuatu yang ngerugiin orang lain."

Alan sudah membuka mulutnya untuk menyangkal ucapan Natasya, tapi ia benar-benar sudah kehabisan kata-kata. Sebagai mahasiswa hukum, Natasya seharusnya tidak boleh merencanakan pelanggaran hukum seperti itu. Tapi apa yang dikatakan oleh Natasya juga benar adanya, gadis itu berniat melanggar hukum karena memang terpaksa, serta tidak merugikan orang lain.

"Udah deh, Alan. Daripada kamu terus-terusan mempertanyakan tindakan aku, mending kamu bantuin aku buat cari pekerjaan tambahan," ucap Natasya.

Alan menoleh dan menatap Natasya penuh selidik, "udah berapa banyak kerjaan yang kamu terima lewat tweet-mu itu tadi?"

"Gak terlalu banyak, cuma 7 tugas kecil," jawab Natasya acuh.

"Gak terlalu banyak katamu?!" seru Alan, "astaga, Natasya! Kamu bisa kecapekan kalau ngerjain banyak tugas. Ingat! Tugas para mahasiswa di sini bukan tugas yang gampang dan butuh banyak riset."

Natasya menatap Alan dengan malas, "udah aku bilang kan, jangan terlalu khawatirin aku. Lebih baik bantu aku cari pekerjaan lagi, ya?"

"Tck! Iya iya," jawab Alan enggan.

Natasya tersenyum lebar, "nah, gitu dong! Itu baru namanya sahabat."

Alan mendengus kesal, "huh! Dasar nyebelin!"

Natasya hanya tertawa kecil melihat Alan yang semakin kesal. Kemudian, ia pun melanjutkan memakan makanannya yang masih tersisa sedikit. Karena makan sembari mengerjakan tugas, ia jadi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanannya itu.

...----------------...

Natasya tidak bercanda dengan mengambil begitu banyak pekerjaan tambahan. Bisa dibilang gadis itu sama sekali tidak beristirahat. Saat menunggu pergantian jam kuliah, bukannya beristirahat seperti mahasiswa yang lain, ia malah menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas per-joki-an milik teman-temannya.

Lalu, setelah menyelesaikan kuliahnya, ia langsung pergi ke klub menembak dan bekerja di sana selama 3 jam. Natasya baru kembali ke rumah sakit untuk menemani Bhara pada pukul 8 malam.

"Eh, Bu Natasya sudah datang?" ucap ibu panti saat Natasya memasuki ruang rawat Bhara.

"Iya, Bu," jawab Natasya, lalu melirik ke arah ranjang Bhara, "Bhara sudah tidur ya, Bu?"

Ibu panti mengangguk, "iya, dia baru saja tidur. Dari tadi Bhara rewel nyari Bu Natasya terus."

"Oh ya? Aduh, maafin saya ya karena pulang terlambat, jadi merepotkan ibu," ucap Natasya merasa bersalah.

Ibu panti pun menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, "tidak merepotkan kok, Bu Natasya. Saya kan walinya Bhara, jadi sudah seharusnya saya selalu siap untuk menjaga Bhara."

Natasya hanya tersenyum mendengar hal itu. Ia cukup lega mengetahui bahwa orang yang bertanggung jawab mengurus Bhara adalah orang yang baik.

"Oh iya, karena Bu Natasya sudah kembali, saya izin pulang ke panti dulu ya, kasihan anak-anak yang lain," pamit ibu panti.

"Oh, baik, Bu. Terima kasih ya, sudah menjaga Bhara," balas Natasya.

Setelah itu, ibu panti pun pergi dari ruangan itu. Natasya mendekati Bhara dan mengusap pelan kepala anak itu. Sebenarnya, Natasya sangat lelah hari ini. Namun, setelah melihat wajah damai Bhara yang tertidur pulas, rasa lelahnya langsung hilang begitu saja.

Setelah puas memandangi anaknya itu, Natasya pun duduk di sofa dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia tidak ingin membuang-buang waktu barang sedetikpun.

...----------------...

...PENGUMUMAN...

...Buat kalian yang udah baca sampai episode ini, aku sarankan untuk melihat sekilas mulai dari episode awal, hanya sekilas....

...Aku udah tambahin foto-foto cast di beberapa chapter. Kalau kalian ngerasa gak perlu lihat foto cast-nya juga gak apa-apa, isi ceritanya gak ada yang berubah kok....

Terpopuler

Comments

LISA

LISA

👍 Kak..aq suka bgt sama ceritanya

2023-11-28

2

lihat semua
Episodes
1 1 : Natasya
2 2 : Bhara
3 3 : Mama?!
4 4 : Fakta Mengejutkan
5 5 : Ke Kampus
6 6 : Kakek
7 7 : Berpisah
8 8 : Kecelakaan
9 9 : Donor Darah
10 10 : Johnathan
11 11 : Rencana Natasya
12 12 : Kerja Tambahan
13 13 : Haikal
14 14 : Kelelahan
15 15 : Permintaan Alan
16 16 : Hasil Tes DNA
17 17 : Keturunan Adikusuma
18 18 : Bermain
19 19 : Rencana Buruk
20 20 : Papa
21 21 : Berkas
22 22 : Kecewa
23 23 : Amarah
24 24 : Pertengkaran
25 25 : Buntu
26 26 : Kesepakatan
27 27 : Undangan
28 28 : Makan Malam
29 29 : Resmi
30 30 : Persidangan
31 31 : Tinggal Bersama
32 32 : Baikan
33 33 : Salah Paham
34 34 : Makam
35 35 : Komitmen
36 36 : Klarifikasi
37 37 : Keluarga Kecil
38 38 : Liburan Keluarga
39 39 : Sabrina
40 40 : Masa Lalu
41 41 : Pertemuan
42 42 : Penjelasan
43 43 : Kembali
44 44 : Cinta
45 45 : Kebenaran
46 46 : Gagal
47 47 : Ditangkap
48 48 : Malam Pilu
49 49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50 50 : Ada yang Aneh
51 Part 51 : Hampir
52 52 : Hakim Jujur?
53 53 : Vonis
54 54 : Berkumpul Lagi
55 55 : Omelan Istri
56 56 : Awal Ajaran Baru
57 57 : Menghilang
58 58 : Diculik
59 59 : Pencarian
60 60 : Perlawanan
61 61 : Upaya Kabur
62 62 : Belum Berakhir
63 63 : Terguncang
64 64 : Trauma
65 65 : Hari yang Suram
66 66 : Sidang (lagi)
67 67 : Pulang
68 68 : Tidak Baik-Baik Saja
69 69 : Kembali Normal
70 70 : Akhir
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1 : Natasya
2
2 : Bhara
3
3 : Mama?!
4
4 : Fakta Mengejutkan
5
5 : Ke Kampus
6
6 : Kakek
7
7 : Berpisah
8
8 : Kecelakaan
9
9 : Donor Darah
10
10 : Johnathan
11
11 : Rencana Natasya
12
12 : Kerja Tambahan
13
13 : Haikal
14
14 : Kelelahan
15
15 : Permintaan Alan
16
16 : Hasil Tes DNA
17
17 : Keturunan Adikusuma
18
18 : Bermain
19
19 : Rencana Buruk
20
20 : Papa
21
21 : Berkas
22
22 : Kecewa
23
23 : Amarah
24
24 : Pertengkaran
25
25 : Buntu
26
26 : Kesepakatan
27
27 : Undangan
28
28 : Makan Malam
29
29 : Resmi
30
30 : Persidangan
31
31 : Tinggal Bersama
32
32 : Baikan
33
33 : Salah Paham
34
34 : Makam
35
35 : Komitmen
36
36 : Klarifikasi
37
37 : Keluarga Kecil
38
38 : Liburan Keluarga
39
39 : Sabrina
40
40 : Masa Lalu
41
41 : Pertemuan
42
42 : Penjelasan
43
43 : Kembali
44
44 : Cinta
45
45 : Kebenaran
46
46 : Gagal
47
47 : Ditangkap
48
48 : Malam Pilu
49
49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50
50 : Ada yang Aneh
51
Part 51 : Hampir
52
52 : Hakim Jujur?
53
53 : Vonis
54
54 : Berkumpul Lagi
55
55 : Omelan Istri
56
56 : Awal Ajaran Baru
57
57 : Menghilang
58
58 : Diculik
59
59 : Pencarian
60
60 : Perlawanan
61
61 : Upaya Kabur
62
62 : Belum Berakhir
63
63 : Terguncang
64
64 : Trauma
65
65 : Hari yang Suram
66
66 : Sidang (lagi)
67
67 : Pulang
68
68 : Tidak Baik-Baik Saja
69
69 : Kembali Normal
70
70 : Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!