Natasya's POV
Hari ini, aku pergi ke kampus. Meskipun aku selalu berada di rumah sakit untuk menjaga Bhara, tapi aku harus tetap pergi sebentar untuk kuliah. Aku tidak boleh terlalu banyak absen atau beasiswaku akan terancam dicabut. Maka dari itu, pagi tadi aku sudah meminta ibu panti untuk menggantikanku menemani Bhara hingga aku pulang nanti.
Rasanya seluruh tubuh dan pikiranku terasa berat. Bahkan, aku sulit untuk konsentrasi dengan dosen yang sedang menerangkan materi di depan sana. Pikiranku sekarang dipenuhi dengan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dalam waktu singkat agar aku bisa segera mengadopsi Bhara.
Rasanya setiap ide yang terlintas di otakku, pasti akan aku lakukan demi menghasilkan uang yang banyak. Saat dosen masih sibuk menerangkan materi, aku iseng membuka aplikasi twitter di ponselku, lalu mengetikkan sesuatu di sana
...
...
"Haah~ semoga banyak yang nawarin aku pekerjaan," gumamku.
Aku meletakkan ponselku di meja, lalu kembali mendengarkan penjelasan dosen di depan. Beberapa menit kemudian, aku merasakan getar notifikasi ponselku berdering secara berkala. Aku melihatnya sekilas, lalu senyumku seketika tersungging. Postingan di twitterku cukup banyak yang membalas. Beberapa rekan kuliah menawariku pekerjaan, sebagian besar untuk mengerjakan tugas kuliah mereka.
Natasya's POV end
...----------------...
Alan berjalan keluar dari kelas, tujuannya sekarang adalah mencari Natasya. Hari ini, mereka memiliki kelas yang berbeda. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Alan berhasil menemukan sahabatnya itu sedang mengantri makanan di kantin.
"Natasya!" teriak Alan dari kejauhan.
Gadis yang dipanggil itu pun menoleh dan tersenyum, "hai, Alan!"
Alan berlari kecil untuk menghampiri Natasya. Lalu, ia pun ikut memesan makanan di kantin. Setelah itu, mereka memilih untuk menempati salah satu meja kosong di sudut kantin tersebut. Mereka pun mulai memakan makanan masing-masing. Tetapi, Alan mengernyitkan dahinya bingung saat Natasya malah membuka laptopnya.
"Kamu masih ada tugas, Sya?" tanya Alan.
Natasya menoleh sebentar, "oh, ngga kok. Aku mau ngerjain proposal anak jurusan sebelah."
"Dia joki ke kamu?" tanya Alan lagi.
Natasya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Natasya mulai mengerjakan proposal itu sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Astaga, Natasya! Kalau makan, ya makan aja dulu. Jangan sambil ngerjain tugas dong! Harus dinikmati makanannya!" omel Alan.
Natasya tersentak ketika sahabatnya itu tiba-tiba meninggikan suaranya, tapi beberapa detik kemudian ia pun tersenyum kecil.
"Aku gak boleh buang-buang waktu, Al. Makin cepat kerjaan ini selesai, makin aku bisa ambil banyak pekerjaan selanjutnya," jelas Natasya sambil melanjutkan pekerjaannya di laptop.
Alan menghela napas lelah, "tapi gak begini juga, Natasya. Belajar ya belajar, kerja ya kerja, makan ya makan. Badan kamu itu juga perlu istirahat, Sya."
"Iya iya, Tuan Alan Robert Adikusuma," ucap Natasya dengan nada jenaka, "kenapa kamu jadi cerewet banget sih?"
Alan mendengus kesal, laki-laki itu tidak membalas perkataan Natasya lagi. Ia lebih memilih untuk melanjutkan acara makannya. Ia merasa sangat kesal saat Natasya menjadi sulit dinasihati. Melihat sahabatnya kesal, Natasya pun terkekeh dan mengajaknya berbicara lagi.
"Jangan marah gitu dong," kata Natasya, "aku kerja juga buat Bhara, Al. Aku harus cepat-cepat ngumpulin banyak uang biar bisa segera adopsi anak itu."
Kemarahan Alan lenyap seketika, tergantikan dengan rasa iba. Kini, ia merasa kasihan dengan Natasya yang benar-benar berusaha keras untuk mengadopsi Bhara.
"Kamu serius mau adopsi Bhara, Sya?" tanya Alan.
"Ya serius lah," ucap Natasya sangat yakin.
"Meskipun kamu tahu kalau uang aja belum cukup buat adopsi dia?" tanya Alan kembali.
Natasya terdiam. Sebenarnya, ia juga tahu bahwa mengumpulkan banyak uang belum tentu bisa membuatnya memenuhi syarat untuk mengadopsi Bhara. Sejujurnya ia juga tidak terlalu yakin dengan langkah yang ia ambil.
"Yang penting sekarang aku harus cari uang yang banyak dulu. Masalah persyaratan yang lain, biar aku urus belakangan," ucap Natasya tidak ingin ambil pusing lagi.
Alan hanya diam memperhatikan penjelasan dari sahabatnya itu. Ia bisa menangkap keraguan dari Natasya. Ia paham bahwa gadis itu sebenarnya juga bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Toh, kalau misal nanti aku gak memenuhi syarat, aku bisa pakai uang itu buat ambil cara yang lain," imbuh Natasya, kemudian gadis itu memajukan badannya untuk membisikkan sesuatu kepada Alan.
"Hukum kan bisa dibeli."
Alan membulatkan matanya terkejut setelah mendengar ucapan terakhir Natasya.
"Natasya! Kamu udah gila?!" seru Alan.
Natasya hanya mengedikkan bahunya, "kenapa? Omongan aku gak salah, kan?"
"Yaa... Gak salah sih," lirih Alan, tapi sedetik kemudian ia kembali berseru, "tapi gak benar juga!"
Natasya tertawa kecil, "astaga, Alan, aku bukannya ngelakuin tindak kriminal. Lagipula, ini bukan sesuatu yang ngerugiin orang lain."
Alan sudah membuka mulutnya untuk menyangkal ucapan Natasya, tapi ia benar-benar sudah kehabisan kata-kata. Sebagai mahasiswa hukum, Natasya seharusnya tidak boleh merencanakan pelanggaran hukum seperti itu. Tapi apa yang dikatakan oleh Natasya juga benar adanya, gadis itu berniat melanggar hukum karena memang terpaksa, serta tidak merugikan orang lain.
"Udah deh, Alan. Daripada kamu terus-terusan mempertanyakan tindakan aku, mending kamu bantuin aku buat cari pekerjaan tambahan," ucap Natasya.
Alan menoleh dan menatap Natasya penuh selidik, "udah berapa banyak kerjaan yang kamu terima lewat tweet-mu itu tadi?"
"Gak terlalu banyak, cuma 7 tugas kecil," jawab Natasya acuh.
"Gak terlalu banyak katamu?!" seru Alan, "astaga, Natasya! Kamu bisa kecapekan kalau ngerjain banyak tugas. Ingat! Tugas para mahasiswa di sini bukan tugas yang gampang dan butuh banyak riset."
Natasya menatap Alan dengan malas, "udah aku bilang kan, jangan terlalu khawatirin aku. Lebih baik bantu aku cari pekerjaan lagi, ya?"
"Tck! Iya iya," jawab Alan enggan.
Natasya tersenyum lebar, "nah, gitu dong! Itu baru namanya sahabat."
Alan mendengus kesal, "huh! Dasar nyebelin!"
Natasya hanya tertawa kecil melihat Alan yang semakin kesal. Kemudian, ia pun melanjutkan memakan makanannya yang masih tersisa sedikit. Karena makan sembari mengerjakan tugas, ia jadi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanannya itu.
...----------------...
Natasya tidak bercanda dengan mengambil begitu banyak pekerjaan tambahan. Bisa dibilang gadis itu sama sekali tidak beristirahat. Saat menunggu pergantian jam kuliah, bukannya beristirahat seperti mahasiswa yang lain, ia malah menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas per-joki-an milik teman-temannya.
Lalu, setelah menyelesaikan kuliahnya, ia langsung pergi ke klub menembak dan bekerja di sana selama 3 jam. Natasya baru kembali ke rumah sakit untuk menemani Bhara pada pukul 8 malam.
"Eh, Bu Natasya sudah datang?" ucap ibu panti saat Natasya memasuki ruang rawat Bhara.
"Iya, Bu," jawab Natasya, lalu melirik ke arah ranjang Bhara, "Bhara sudah tidur ya, Bu?"
Ibu panti mengangguk, "iya, dia baru saja tidur. Dari tadi Bhara rewel nyari Bu Natasya terus."
"Oh ya? Aduh, maafin saya ya karena pulang terlambat, jadi merepotkan ibu," ucap Natasya merasa bersalah.
Ibu panti pun menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, "tidak merepotkan kok, Bu Natasya. Saya kan walinya Bhara, jadi sudah seharusnya saya selalu siap untuk menjaga Bhara."
Natasya hanya tersenyum mendengar hal itu. Ia cukup lega mengetahui bahwa orang yang bertanggung jawab mengurus Bhara adalah orang yang baik.
"Oh iya, karena Bu Natasya sudah kembali, saya izin pulang ke panti dulu ya, kasihan anak-anak yang lain," pamit ibu panti.
"Oh, baik, Bu. Terima kasih ya, sudah menjaga Bhara," balas Natasya.
Setelah itu, ibu panti pun pergi dari ruangan itu. Natasya mendekati Bhara dan mengusap pelan kepala anak itu. Sebenarnya, Natasya sangat lelah hari ini. Namun, setelah melihat wajah damai Bhara yang tertidur pulas, rasa lelahnya langsung hilang begitu saja.
Setelah puas memandangi anaknya itu, Natasya pun duduk di sofa dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia tidak ingin membuang-buang waktu barang sedetikpun.
...----------------...
...PENGUMUMAN...
...Buat kalian yang udah baca sampai episode ini, aku sarankan untuk melihat sekilas mulai dari episode awal, hanya sekilas....
...Aku udah tambahin foto-foto cast di beberapa chapter. Kalau kalian ngerasa gak perlu lihat foto cast-nya juga gak apa-apa, isi ceritanya gak ada yang berubah kok....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
LISA
👍 Kak..aq suka bgt sama ceritanya
2023-11-28
2