Saat ini Bianca melihat Benson dan juga Benjamin tertawa-tawa di luar sana dan nampak memerintahkan alat-alat berat untuk bersiap melakukan kerusakan di panti asuhan ini.
Seorang petugas yang mengaku berasal dari pengadilan sudah membacakan perintah pengadilan untuk menghancurkan bangunan panti asuhan ini.
"Kenapa sudah ada perintah pengadilan, bun? Apakah keputusan memang sudah ada?" tanya Bianca kepada Rara.
"Iya, Bianca. Sebenarnya sudah 4 kali kami mendapatkan perintah untuk mengosongkan tempat ini tapi kami terus melakukan negosiasi dengan Bachtiar supaya kami bisa membayar tanah ini dari semula kami diharuskan membayar hingga 1,2 miliar hingga kami mendapatkan keringanan dengan harga 600 juta tapi sekarang mereka langsung melakukan eksekusi."
Saat petugas pengadilan sedang membacakan surat perintah eksekusi, tiba-tiba terdengar suara-suara beberapa orang berteriak-teriak.
Kevin yakin kalau ada sesuatu perubahan yang terjadi di luar sana, karena itu dia segera keluar dan langsung diikuti oleh Rara, Bianca dan Adrian.
"Apa yang terjadi?" tanya Benjamin kepada Bachtiar.
"Begini, Pak Benjamin. Ayahku baru saja menyetujui penjualan tanah-tanah panti asuhan dan sekitarnya ini kepada pihak lain."
"Kenapa begitu? Ayahmu tidak boleh berbuat begitu, dong. Kan semalam sudah ada perjanjian denganku bahkan aku sudah memberikan uang muka supaya aku bisa memiliki tanah-tanah ini." protes Benjamin.
"Iya, aku tahu tapi ternyata barusan ada orang yang menawar tanah ini dengan harga dua kali lipat lebih tinggi dari harga yang disanggupi oleh Pak Benjamin."
Mendengar itu Kevin langsung tersenyum mendengar pembicaraan itu, karena Kevin tahu pihak yang telah menyaingi harga dari Benjamin ini pastilah Lukas, sesuai perintah dari Kevin.
"Ayahmu tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh melanggar perjanjian yang kita lakukan semalam. Walau bagaimanapun, aku sudah memberikan uang muka dan kalau memang ada yang membayar dua kali lipat, aku juga bersedia menyamakan dengan harga itu!" kata Benjamin sewot.
Mendengar itu, Bachtiar langsung menghubungi ayahnya untuk memberitahu ayahnya soal apa yang dikatakan oleh Benjamin.
Melihat itu, Kevin langsung mengeluarkan handphonenya serta melakukan chat meminta Lukas untuk menaikkan harga lagi atas pembelian tanah keluarga Hasan yang merupakan pemilik panti asuhan ini.
Setelah itu, Bachtiar berkata, "maafkan aku karena ayahku juga sudah mendapatkan uang muka dari penawar baru tanah ini bahkan barusan penawar baru itu menaikkan harga hingga 3 kali lipat."
"Tidak mungkin aku membeli tanah ini dengan harga 3 kali lipat. Harga dua kali lipat itu bahkan sudah keterlaluan. Aku tidak mungkin membayar tanah ini hingga 3 kali lipat!" sembur Benjamin.
"Kalau begitu maka tanah ini akan menjadi milik dari penawar baru itu, pak. Maafkan aku tapi aku tidak berdaya lagi karena ayahku sudah menyetujuinya."
Benjamin sangat marah mendengar kata-kata Bachtiar itu. Dia mulai memaki-maki dengan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan.
Tanpa sengaja Benjamin melihat ke arah Kevin. Dia melihat senyuman mengejek di wajah Kevin itu. "KENAPA KAMU SENYUM-SENYUM, HAH! KAMU CUMA MUJUR, TAHU! KALAU SAJA TIDAK ADA PEMBELI BARU MAKA KALIAN HARUS KELUAR DARI TEMPAT INI."
Setelah berteriak seperti itu Benjamin melihat ke arah gadis cantik yang dia impikan yaitu Bianca, gadis manis yang selalu membuat dia terpesona.
Benjamin merasa dipermalukan di depan gadis pujaan hatinya itu karena itu dia menggeram dan berkata kepada Bachtiar, "kalau begitu, aku menaikkan penawaranku atas tanah ini dengan jumlah 4 kali lipat notaris-ku akan segera ke tempat ayahmu, katakan itu kepada ayahmu."
Bachtiar mengangguk. Dia segera menelpon ayahnya lagi dan memberitahu tentang keinginan Benjamin itu yang ingin membeli tanah dengan harga 4 kali lipat.
Benjamin langsung tertawa-tawa. Dia menatap Bianca seakan-akan ingin memperlihatkan kalau dia bisa memiliki kuasa yang besar dan memiliki banyak sekali uang sehingga bisa membayar tanah panti asuhan dan sekelilingnya dengan harga yang sangat mahal.
Beberapa saat kemudian, Bachtiar berkata kepada Benjamin, "ayahku sudah setuju kalau dia akan memberikan tanah ini kepada Anda karena siapa yang lebih tinggi itulah yang akan diistimewakan oleh ayahku."
"Bagus. Notarisku sudah sudah ada di sana, kan?"
"Iya, pak. Lengkap dengan pengacara bapak."
"Bagus. Kalau begitu, eksekusi dilanjutkan." Benyamin segera memberi isyarat kepada petugas pengadilan untuk terus membacakan eksekusi atas tanah dan pembongkaran bangunan tempat panti asuhan ini.
Melihat itu, Kevin segera bergerak agak memisah dari yang lainnya kemudian dia kembali menelpon Lukas. "Bagaimana, Lukas? Apa yang terjadi?"
"Pihak Benjamin sudah menaikkan tawaran menjadi 4 kali lipat dari harga sebelumnya, apa yang akan kita lakukan, tuan muda? Apakah kita naikkan menjadi 5 kali lipat atau 6 kali lipat?"
"Jangan dulu, karena kalau kita naikkan setinggi itu, maka pihak Bachtiar yang sombong itu akan mendapatkan keuntungan banyak. Aku juga tidak mau dia mendapatkan keuntungan banyak, jadi, sekarang ini jalan satu-satunya adalah kita hancurkan perusahaannya Benjamin supaya dia tidak jadi membeli tanah ini."
"Itu memang sedang terjadi, tuan muda. Saham-saham dari perusahaan milik Benjamin sudah mulai berjatuhan di mana-mana."
"Lalu kenapa dia masih terlihat tenang-tenang saja?"
"Mungkin stafnya belum memberitahu Benjamin tentang situasi sulit yang dihadapi perusahaannya keluarganya sekarang ini."
"Kalau begitu, hancurkan saham perusahaan keluarganya itu, sehancur-hancurnya. Ingat, sehancur-hancurnya."
"Iya, tuan muda dan bukan hanya itu, tuan muda tapi beberapa kasus penyuapan mulai terungkap bahkan bukti-bukti videonya sudah kita sebar ke media-media online sehingga keruntuhan dari perusahaan milik Benjamin akan segera terjadi."
"Bagus."
"Ada satu kasus lagi yang ternyata mereka menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh beberapa orang saksi dalam kasus korupsi besar di kementerian penerangan, dimana mereka juga ikut jadi tersangka. Karena keberadaan para saksi sudah hilang, maka, Benjamin dan perusahaannya bisa lolos dari jeratan hukum."
"Apa ada bukti kalau mereka menggunakan pembunuh bayaran?"
"Ada, tuan muda. Tapi oleh dua orang oknum polisi, bukti berupa CCTV dan rekaman suara dari seorang pembunuh bayaran itu, tidak pernah ditindak lanjuti karena ada indikasi main mata di belakang, tuan muda. Tapi, bukti itu berhasil dihack oleh Melvin, tuan muda."
"Bagus kamu dan Melvin telah bekerja dengan sangat baik."
"Sedikit lagi, maka polisi akan segera mengerahkan orang-orangnya untuk menangkap Benjamin, orang tuanya dan direksi mereka. Serta oknum polisi yang terlibat dan itu tidak akan lama lagi, tuan muda. Polisi sudah bergerak, tuan muda."
"Bagus, kalau begitu aku tinggal menunggu kejatuhannya. Setelah itu kita akan tetap membeli tanah milik panti asuhan dan sekitarnya ini dengan harga normal harga sebelum dinaikkan menjadi dua kali lipat supaya keluarga Bachtiar Hasan itu tidak mendapatkan keuntungan yang banyak. Kamu mengerti?"
"Baik, tuan muda. Aku mengerti, tuan muda."
"Oke." Kevin segera menyimpan handphonenya dan dia memperhatikan wajah Benjamin yang baru saja mendapatkan telepon.
Terlihat wajah Benyamin yang sebelumnya ceria dan sempat tertawa-tawa mengejek ke arah Kevin dan juga Bianca, kini mulai berubah menjadi pucat pasi.
Benjamin nampak berteriak beberapa kali dia seperti mengungkapkan ketidakpercayaannya akan suatu hal dari seseorang yang meneleponnya. "APA KAMU SEDANG BERCANDA DENGANKU?" tanya Benjamin dengan wajah geram.
Belakangan Benjamin seperti melihat ke arah belakang. Dia seperti takut seseorang akan segera datang. Kemudian terjadi perubahan di tempat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sukliang
makanya jadi orang jangan sombong bunyamin
2023-07-25
0
Imam Sutoto Suro
beneran super duper novel lanjutkan
2023-06-30
0
Fatkhur Kevin
dpo
2023-06-22
0