"Siapa mereka?" tanya Kevin penasaran.
"Nampaknya mereka itu debt kolektor dari pihak ahli waris bapak Hasan yang menghendaki tanah panti asuhan ini kembali kepadanya walaupun kakeknya, Pak Hasan itu sudah memberikan tanah panti asuhan ini kepada kami," jawab bunda Rara.
"Apakah uang yang aku kirimkan belum dikirim ke pihak ahli waris itu?" tanya Bianca.
"Sebenarnya sejak semalam waktu Nak Bianca mengirim uang 100 juta itu ke rekeningku, aku segera berusaha menelpon ahli waris Pak Hasan tapi ahli waris itu bilang dia baru akan menerima kalau uangnya sudah genap semua seperti yang dia inginkan. Dan dia juga bilang kalau tanah ini akan segera dibayar orang."
"Wah, bahaya dong. Oke, yang penting kita sudah punya usaha untuk membayar. Mari kita temui depkolektor itu." Dengan tenangnya Kevin segera melangkah ke arah luar.
Saat Kevin melangkah ke arah luar, dia melihat Adrian, suaminya Rara sedang berusaha menghadapi para debtkolektor yang berjumlah sekitar 16 orang dan semuanya bertampang sangar itu.
"Kami sudah dapat sebagian uangnya, kami akan segera membayar kepada bos kalian," kata Adrian.
"Kami disuruh bos kami untuk mengambil alih panti asuhan ini, tidak ada waktu lagi bagi kalian. Kalian harus segera keluar dari tempat ini!" kata pimpinan dari para debtkolektor ini.
Melihat itu, Rara langsung maju ke depan berdiri di samping Adrian sambil berusaha menelpon ahli waris dari pemilik dari tanah dari panti asuhan ini.
"Percuma anda menelpon Tuan Bachtiar karena sejak semalam, Tuan Bachtiar sudah melakukan deal dengan pemilik tanah yang baru."
Mendengar kata-kata pemimpin debtkolektor itu, Rara menjadi panik. "Pemilik baru? Lalu bagaimana ini?"
"Karena itu, kami datang untuk melakukan eksekusi lebih cepat. Sejak semula tanah ini cuma diberikan secara lisan oleh mendiang Tuan Hasan untuk panti asuhan ini. Setelah ikematian Tuan Hasan, cucunya tidak lagi mengakui hal itu. Dan karena tanah ini bersama tanah-tanah di sekeliling panti asuhan ini merupakan tanah dari keluarga Tuan Hasan maka kalian harus keluar dari rumah ini."
"Biarkan kami ketemu dengan pemilik baru dari tanah ini," kata Adrian." Bisa saja kami akan bisa melakukan deal dengan pemilik baru dari rumah ini."
Tiba-tiba beberapa mobil sudah memasuki halaman parkir panti asuhan ini.
Begitu melihat mobil-mobil itu, kepala debtkolektor langsung berkata, "ini adalah rombongan pemilik baru dari tanah ini beserta Tuan Bachtiar."
Mendengar itu, Rara dan Adrian langsung mendekati mobil-mobil yang ada. Mereka ingin membujuk orang yang telah membeli tanah ini supaya mereka bisa mendapatkan waktu atau syukur-syukur bisa melakukan nego untuk membayar tanah ini denagn harga rendah.
Kevin dan Bianca juga ikut-ikutan di belakang Rara dan Adrian karena mereka ingin tanah panti asuhan ini tetap menjadi milik panti asuhan.
Walau bagaimanapun Kevin merasa terbeban akan panti asuhan ini. Dia ingin panti asuhan ini tetap ada supaya penghuni panti asuhan ini yang jumlahnya sekitar 600 orang itu, tidak sampai terusir dari tempat ini.
Tapi, untuk antisipasi, sejak tadi Kevin sudah meminta Lukas untuk mendatangkan pengacara ke tempat ini.
Bianca yang melihat betapa berartinya panti asuhan ini bagi Kevin, juga ikut-ikutan prihatin. Dia meremas tangan Kevin sebagai tanda dukungan kepada Kevin.
Beberapa pria memakai setelan jas hitam nampak terburu-buru keluar dari mobil-mobil yang berada di belakang kemudian mereka maju ke depan untuk membukakan pintu-pintu mobil mewah yang berada di depan.
Ini menandakan kalau orang-orang yang naik di mobil mewah di depan ini adalah orang orang penting atau para pemimpin sehingga anak buahnya harus membukakan pintu dengan cara sangat hormat seperti itu.
"Mudah-mudahan keluhan kita bisa didengar," kata Rara kepada Adrian, juga kepada Kevin dan Bianca.
Tapi wajah Kevin dan Bianca langsung berubah saat melihat orang-orang yang keluar dari mobil-mobil mewah itu.
Karena orang-orang yang keluar dari mobil mewah itu adalah Benson, cucu kedua dari keluarga Winstead bersama dengan Benjamin.
Melihat kehadiran Benjamin ini, Bianca langsung merasa ada sesuatu yang sulit yang akan terjadi bagi panti asuhan ini dan semua itu terjadi karena dirinya.
Seorang pria berumur 30 tahunan langsung mendekati Rara dan Adrian.
"Betulkah tanah ini sudah dijual Tuan Bachtiar?" tanya Rara kepada pria berumur 30 tahunan itu yang ternyata adalah Bachtiar ahli waris dari tanah keluarga Hasan ini.
"Iya, Bu. Sejak semalam, tepat setelah ibu menelponku, aku sudah putuskan untuk menjual tanah ini dan di sekeliling tanah ini kepada Mr Benjamin dari kota Bravo. Dia ingin menanam investasi besar-besaran di kota ini, dia ingin membuat kompleks apartemen di tanah panti asuhan ini dan sekitarnya karena itulah semalam aku tidak mau lagi menerima telepon darimu."
Mendengar kata-kata dari Bachtiar itu, Bianca langsung lemas karena dugaannya mulai menjadi kenyataan. Ternyata Benjamin sudah melakukan gebrakan mengambil alih tanah panti asuhan ini dan bahkan menjualnya.
"Halo, Bianca. Senang sekali bertemu kamu lagi di sini," kata Benjamin yang ditemani Benson sambil mendekati Bianca.
Rara langsung mendekati Benjamin dan berkata, "kami bersedia untuk membeli tanah panti asuhan ini. sebelumnya kami sudah sepakat dengan bapak Bachtiar kalau tanah panti asuhan ini akan kami beli dengan harga 600 juta. Karena itu kami ingin membeli tanah ini."
Sebenarnya Rara tidak memiliki uang banyak. Hanya saja dia saat ini memiliki keyakinan kalau Kevin akan mencarikan uang untuk panti asuhan ini. Karena semalam Kevin menelpon Rara dan mengucapkan keyakinannya untuk mencarikan dana untuk tanah panti asuhan.
Benjamin langsung menggelengkan kepalanya. "Ini akan kubuat kompleks apartemen. Tanah ini sangat strategis karena berada di tengah-tengah tanah luas yang dijual oleh Mr Bachtiar Hasan ini, karena itu, kami tidak akan menjual tanah ini kepada siapapun apalagi dengan harga serendah itu."
"Please, pak, please. Ada 600 anak yang bergantung hidupnya dengan tanah ini. Mereka tinggal di sini sekian lama dan mereka juga bercocok tanam di tanah di belakang tanah ini. Please ... ke mana mereka akan pergi kalau mereka tidak bisa mendapatkan tanah ini," mohon Rara.
"Tanah ini akan segera aku bangun kompleks apartemen jadi kalian harus secepatnya pergi dari tanah ini! Kalian tidak berhak menempati tanah ini. Secepatnya pergi dari tempat ini!"
"Kalau begitu berikan kami waktu dua atau tiga bulan sampai kami mendapatkan tempat baru," mohon Rara lagi.
"Kalian harus pergi secepatnya dari tanah ini. Secepatnya! Hari ini juga kalian harus pergi!"
Melihat itu, Bianca langsung maju ke depan. "Please, Benjamin. Berikan mereka kesempatan. Berikan mereka waktu sebulan saja."
Melihat majunya Bianca itu, Benjamin yang memang sangat terpesona akan kecantikan Bianca langsung berkata, "sebenarnya semua terserah kamu, Bianca."
"Apa maksudmu, Benjamin?"
"Kalau kamu mau menjadi istriku, maka panti asuhan ini tidak akan kehilangan tanah mereka bahkan aku akan memberikan tanah ini pada panti asuhan ini secara cuma-cuma."
Mendengar itu, Kevin langsung maju dan berdiri di samping Bianca. "Untuk itu, kamu pasti ada maunya. Iya kan?"
"Syaratnya adalah, Bianca harus meninggalkan suami sampah sepertimu dan menikah dengan Benjamin, saudagar kaya raya yang uangnya tidak akan habis tujuh keturunan," timpal Benson.
Kini Rara dan Adrian mulai tahu apa masalahnya. Mereka mulai meraba-raba sedikit. Mereka saling tatap dan kini menatap Bianca dan Kevin.
Setelah itu Bianca bertolak pinggang dan berkata ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sukliang
tolak
2023-07-25
0
Tuah Dahagi
Kota Austin & Kota Bravo ? Udah ku Google Map tetapi tidak Wujud! Gimana ya ?
Juta dan Miliar dlm Rupiah currency???
2023-07-20
2
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan seruuuu banget ceritanya
2023-06-30
0