"Aku ingat sesuatu, Lukas," kata Kevin dengan wajah menerawang.
"Apa itu? Apa itu, tuan muda?" Lukas menatap Kevin penuh perhatian.
"Aku ingat dengan kata-kata Nenek Ruth."
"Nenek Ruth?"
"Nenek Ruth adalah nenek istriku. Aku ingat kata-katanya sekitar tiga hari sebelum kematiannya."
"Apa yang dia katakan, tuan muda?"
"Nenek Ruth bilang, dia menyimpan beberapa barang kepunyaanku di brankas miliknya. Barang-barang itu adalah barang-barang milikku saat aku ditemukan."
"Saat tuan muda ditemukan?"
"Iya. Aku baru sadar sekarang. Ternyata Nenek Ruth itulah yang menemukan aku sesudah kecelakaan itu. Mungkin aku dalam keadaan tidak sadar. Kemudian dia membawaku ke panti asuhan tempat aku pertama kali membuka mata. Nenek Ruth baru kembali mendekatiku sesudah dua minggu kemudian dan membawaku ke rumah Keluarga Winstead."
"Berarti Nenek Ruth itu, kemungkinan tahu tentang identitas anda, tuan muda."
"Yah. Sekarang aku berpikir demikian. Aku rasa dia bukan menemukanku secara kebetulan tapi, dia sudah tahu tentang aku sebelumnya."
"Masuk akal, tuan muda."
"Sebelumnya aku pikir aku hanya seorang gembel yang tidak berarti apa-apa maka aku tidak pernah mempermasalahkan tentang barang-barang yang dibilang Nenek Ruth itu, tapi kini, setelah aku sadar kalau aku adalah tuan muda Keluarga Randall seperti yang kamu bilang, maka nampaknya aku harus mencari barang-barang itu."
"Iya, tuan muda. Tuan muda harus mencari barang-barang itu dulu karena ada kemungkinan, lewat barang-barang itu akan terbuka tentang apa yang terjadi pada tuan muda pada masa tuan muda mengasingkan diri, 3 bulan sebelum kecelakaan yang membuat ingatan tuan muda hilang itu."
"Yah. Sekarang aku berpikir demikian. Nampaknya barang-barang itu akan menunjukkan kepadaku, dengan siapa aku pernah bersama di masa 3 bulan yang hilang itu."
"Iya, tuan muda. Sebaiknya tuan muda melakukan itu."
"Baiklah. Aku akan kembali pada istriku dan akan meminta dia untuk menemani aku meminta barang-barang itu di brankas Nenek Ruth."
"Baik, tuan muda. Aku akan mengikuti tuan muda dari belakang. Melvin juga akan terus mengawasi tuan muda lewat alat-alat canggihnya."
"Bagus. Pokoknya kalian jangan sampai menyolok. Mengerti?"
"Iya, tuan muda. Sampai saat ini, yang tahu tentang tuan muda sudah ditemukan itu, hanya aku, kakek tuan muda dan Melvin. Jadi tuan muda jangan dulu mengatakan tentang identitas tuan muda kepada siapapun, bahkan kepada istri tuan muda."
"Baik aku akan melakukannya." Kevin segera meninggalkan posisi Lukas. Dia kembali menuju ke ruangan kredit.
Tepat pada saat Kevin hendak masuk ke dalam ruangan kredit, Kevin melihat Bianca dan Milea keluar dari ruangan itu.
"Uangnya sudah masuk, sayang. Banyak banget. Besok kita akan ikuti tender proyek yang sudah dijanjikan kepadaku itu," kata Bianca sesaat setelah dia melihat Kevin menghampirinya.
"Aku juga ikut senang, Bianca." Kevin tersenyum kepada Bianca. "Aku bangga kepadamu, istriku."
Bianca tersenyum cerah kemudian dia berkata kepada Milea, "nampaknya kita harus memberikan jabatan kepada Kevin di perusahaan kita. Iya kan?"
Milea langsung mengerinyitkan keningnya. Dia sebenarnya tidak suka dengan usul dari Bianca ini tapi karena tidak enak kepada Kevin kalau harus menolak di depan Kevin, maka dia cuma bisa mengangguk tipis.
Justru Kevin yang merasa tidak enak. "Nggak usah, Bianca. Aku nggak usah dimasukkan di perusahaan kalian. Hanya saja, setiap saat aku siap untuk membantumu dalam proyek itu."
"Tapi aku mau memasukkan kamu dalam perusahaanku supaya kamu tidak lagi dianggap hina dan tidak lagi direndahkan oleh keluargaku. Oke?"
Kevin kembali tersenyum. "Baiklah. Terserah kamu saja. Aku ikut mau kamu saja."
Setelah itu, Bianca dan Milea berpisah. Bianca mengajak Kevin untuk makan siang di sebuah restoran.
Setelah itu, Kevin mengajak Bianca untuk kembali ke rumahnya Bianca, karena Kevin penasaran dan ingin mencari barang-barang yang pernah disinggung oleh Ruth semasa Ruth masih hidup.
Bianca pun mengikuti keinginan Kevin ini. Dia langsung mengajak Kevin untuk kembali ke rumahnya.
Tapi Kevin dan Bianca tidak tahu kalau di rumahnya Bianca, sudah ada banyak orang yang menyambut Kevin dan Bianca.
Karena itu begitu masuk ke dalam ruang tamu keluarga Winsted, Kevin and Bianca langsung kaget melihat keberadaan banyak orang di ruang tamu berukuran luas di rumah Keluarga Winstead ini.
"Nampaknya ada sidang lagi untukku," batin Kevin saat melihat anggota keluarga Winstead yang sangat lengkap dan kini sedang melotot ke arahnya.
Ada Robert, sang kakek dan anak-anaknya. Ada Victor dan Merry, orang tuanya Bianca. Ada Ferry dan Winny, orang tuanya Alfons. Ada Fritz dan Vina, orang tuanya Benson, juga ada Ferdy dan Putri orangtuanya Lisa.
Bianca sendiri sudah melihat keberadaan Lisa di ruang tamu rumahnya ini, karena itu, dia langsung mendekati Robert yang sedang duduk bersama Victor dan Merry.
"Kakek, Papa, Mama. Aku berhasil mendapatkan dana dari Lockwood Bank dan besok aku akan mengikuti lelang proyek di dinas pekerjaan umum."
Mendengar kata-kata cucunya yang penuh kebanggaan itu, Robert malah mencibir. "Itu karena kamu adalah cucuku. Kalau tidak, pihak bank pasti tidak akan memberikan dana sebesar itu kepadamu."
"Iya, Bianca dan dengan ini, kamu semakin tidak pantas buat suami tidak berguna seperti dia!" Victor menunjuk ke arah Kevin yang cuma bisa terdiam.
Bianca langsung membantah tuduhan-tuduhan dari Robert dan Victor itu. "Tidak, kek. Tanya sendiri kepada Lisa, apa kata-kata dari pihak bank. Mereka tidak memperhitungkan kakek. Maafkan aku, kek. Tapi mereka lebih ingin memberi kesempatan kepadaku dan tidak memperhitungkan nama kakek."
Bianca masih belum ingin menyinggung tentang perkataan dari pihak bank yang menyinggung soal kredit macet milik Robert yang sedang dipersoalkan pihak bank karena Bianca masih ingin menjaga perasaan kakeknya.
"Itu omong kosong! Si Hasyim itu cuma orang rendahan di bank itu. Aku mengenal pimpinannya di ibukota. Huh, kalau aku mau menelpon pimpinannya, dia bisa aku ganti saat ini juga! Bacotnya itu terlalu besar, rasa-rasanya aku ingin segera menghubungi bosnya di pusat, supaya dia segera diganti!" Robert sangat murka.
Ternyata sebelumnya, Robert sudah mendapatkan bocoran dari Lisa tentang perkataan Hasyim tentang Robert, soal kredit macetnya Robert di Lockwood Bank.
Mendengar kata-kata Robert itu, dalam hatinya Kevin cuma bisa mendengus dan tidak mempercayai kata-kata Robert, karena dia tahu orang dengan posisi setinggi apapun di Lockwood Bank seperti yang dibilang Robert, tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau sudah bertemu dengan kakeknya.
Tapi karena Kevin masih harus menyembunyikan identitasnya, maka Kevin cuma bisa berdiam diri.
Sementara itu, Merry sudah berdiri dan berkata, "Bianca, kamu sudah membuktikan kehebatan kamu sehingga kamu bisa mendapatkan dana sebesar itu. Mama bangga kepadamu, nak," kata Merry kepada Bianca sambil mengerling mengejek kepada Lisa.
"Terima kasih, ma. Bianca juga bangga karena bisa mendapatkan dana sebesar itu padahal agunan yang Bianca ajukan nilainya sangat kecil."
"Nah itu. Kakek ingin berbicara tentang rumah itu. Walaupun rumah itu sempat dibilang Ruth menjadi milikmu dan kamu sudah sempat mengurus sertifikatnya atas namamu, tetapi kakek masih bisa mengambil rumah itu dari padamu hingga pihak bank akan segera mengambil dana pinjaman yang mereka berikan kepadamu karena tidak ada agunan lagi."
"Hah? Kenapa begitu, kek? Kenapa kakek tega berbuat begitu kepadaku?" tanya Bianca.
"Kakek berjanji tidak akan mengambil rumah itu daripadamu asalkan kamu mau menceraikan lelaki tidak berguna itu!" Robert kembali menunjuk ke arah Kevin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sukliang
woi woi kek la bau tsnah
jgn jahat tar masuk neraka
2023-07-25
0
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan
2023-06-30
0