Melihat itu Bianca langsung menggeleng. "Tidak. Tidak. Aku tidak akan mencarikan Kevin."
Bianka bahkan langsung mendekati Kevin, meraih tangan Kevin untuk dia pegang sebagai tanda kalau dia mencintai Kevin dan memilih Kevin.
Saat Bianca memegang tangannya. Kevin merasa tangannya seperti dialiri oleh air segar. Air yang mendatangkan kesejukan bagi hati Kevin. Kevin langsung tersenyum.
Sejak awal perjumpaan dia dengan Bianca, Kevin tidak henti-hentinya bersyukur bisa memiliki Bianca dan karena itu, walaupun selama setahun ini, dia selalu mendapatkan cercaan dan hinaan dari keluarga Winstead, tapi Kevin tidak mau menyerah. Dia ingin mempertahankan Bianca sebagai istrinya.
"Kamu bisa mendapatkan proyek yang kamu inginkan itu. Bahkan Kakek bisa melibatkan perusahaanmu untuk menjadi salah satu sub kontraktor di proyek besar yang sedang kakek kerjakan. Asalkan kamu mau menceraikan pria tidak berguna itu!" Robert kembali menunjuk ke arah Kevin.
"Aku tidak mau, kek. Aku tidak mau. Aku juga tidak ingin terlibat dalam proyek besar kakek itu. Aku lebih memilih untuk memperjuangkan proyek kecil yang sedang aku inginkan itu."
"Oke oke. Kalau begitu, cobalah kamu ikut tender proyek itu. Kakek akan pastikan kalau kamu akan menangis karena kamu pasti tidak akan mendapatkan proyek itu! Kakek akan mempergunakan koneksi kakek di kantor itu, supaya kamu tidak bisa mendapatkan proyek itu!"
Bianca langsung menangis mendengar kata-kata kakeknya. "Kakek nggak boleh begitu. Kalau kakek tidak ingin mendukung aku dilelang proyek itu, aku bisa mengerti. Tapi, kenapa kakek ingin menghambat aku?"
"Aku menghambat kamu supaya matamu terbuka. Supaya kamu tidak mempertahankan pria sampah tidak berguna itu!" kembali Robert menunjuk ke arah Kevin.
Bianca menangis dengan keras sementara Kevin langsung berbisik kepada Bianca, "sudahlah, sayang. Kita buktikan besok kepada kakekmu kalau kamu bisa mendapatkan proyek itu."
Bianca masih terus menangis. Dia tahu kalau kata-kata dari Kevin itu hanyalah kata-kata penghiburan, kata-kata untuk memberi semangat karena Bianca tahu pasti kalau kakeknya memiliki banyak sekali koneksi di kantor di mana lelang proyek akan terjadi besok.
Kata-kata Robert sebelumnya yang ingin menghambat Bianca dalam lelang proyek, membuat Bianca putus harapan tapi Bianca berusaha tegar. Dia kemudian menepuk punggung tangan Kevin sebagai tanda dia menerima kata-kata penghiburan dari Kevin itu.
"Bianca, aku ingin mendapatkan barang-barang milikku yang disimpan nenek Ruth itu. Itu barang-barang milikku, tolong kamu bilang kepada kakekmu," bisik Kevin lagi.
Bianca mengangguk dan berkata kepada Robert, "sebelum nenek meninggal, nenek sempat memberitahu Kevin kalau dia menyimpan beberapa barang milik Kevin di dalam brankas utama nenek. Nah, sekarang ini, Kevin ingin mendapatkan barang-barang itu, kek. Bisakah Kevin mendapatkannya?"
Robert langsung tertawa. "Barang-barang sampah itu? Aku sudah pernah melihat barang-barang itu dan kalau saja nenekmu tidak wanti-wanti kepadaku untuk tidak membuang sampah itu, sudah sejak lama kakek membuang sampah itu dari brankas karena barang-barang sampah itu tidak layak berada di sana!"
"Iya, kek. Aku ingin memiliki barang sampah itu, kek," Kevin tersenyum ke arah Robert.
"Baik aku yang ambilkan karena aku tidak percaya kalau kamu yang masuk ke dalam brankasku. Huh! Pasti kamu pura-pura mau mengambil barang-barang sampahmu itu, padahal kamu mengincar barang-barang berharga yang ada di situ. Iya kan?"
Kevin langsung menggelengkan kepalanya. Mendengar tuduhan dari Robert. "Aku tidak seperti itu, kek. Aku tidak akan mencuri. Aku cuma akan mengambil barang-barangku tapi kalau kakek tidak percaya, tolong kakek yang mengambilkannya untukku."
"Tunggu di sini!" Robert langsung melangkah ke arah dalam kamar besar yang berada di lantai satu rumahnya.
Di kamar di lantai 1 rumahnya ini, selain ada kamar besar untuk Robert dan Ruth semasa Ruth masih hidup, juga di bawah tanah ada sebuah brankas besar di mana tersimpan perhiasan surat-surat berharga dan juga barang-barang penuh kenangan dari keluarga Ruth yang merupakan keluarga terkaya turun-temurun di kota Austin ini.
Setelah kepergian Robert, Bianca meminta Kevin untuk duduk bersamanya.
Tapi Ferry yang merupakan anak tertua dari Robert, sudah berdiri dan berkata, "kamu menantu sampah, tidak layak duduk di situ! Kamu tetap berdiri!"
Mendengar itu, Kevin yang hendak duduk, tidak jadi duduk. Dia memilih untuk tetap berdiri.
Bianca juga jadi ikut-ikutan berdiri. Bianca yang sebenarnya sudah duduk, terpaksa berdiri karena Kevin tidak diperkenankan duduk oleh Ferry.
"Kamu boleh duduk Bianca. Kamu adalah bagian di keluarga ini. Cukup dia yang berdiri karena statusnya di rumah ini lebih rendah dari pembantu!" Ferry menunjuk Kevin.
Kevin cuma bisa terdiam. Dia biasa menerima perlakuan seperti ini, yang dimulai satu bulan sejak Ruth meninggal dunia.
Sejak saat itu, anggota Keluarga Winstead yang sempat percaya dengan kata-kata Ruth kalau Kevin berasal dari keluarga terpandang, tidak lagi percaya karena tidak ada bukti kalau Kevin berasal dari keluarga terpandang.
"Biarkan, Om. Kalau memang suamiku tidak diperkenalkan untuk duduk di di ruang tamu rumah terhormat ini, maka aku juga tidak akan duduk!" tandas Bianca.
Sehari-harinya Bianca beserta orang tuanya memang tidak tinggal di rumah besar ini. Mereka sudah lama dikucilkan dan diusir dari rumah ini sebulan sejak Ruth meninggal.
Selama ini, Bianca dan orang tuanya tinggal di rumah yang diberikan Ruth untuk Bianca, rumah yang belakangan sudah diagunkan Bianca ke pihak bank.
Cuma sekali-kali saja Bianca datang ke rumah ini, seperti pada saat ini, dia datang karena untuk mengikuti permintaan Kevin yang ingin meminta barang-barang milik Kevin yang pernah disinggung oleh Ruth dulu.
"Aku ingin tahu sebenarnya barang apa yang kamu inginkan itu. Aku pasti akan ketawa-ketawa kalau melihat barang itu, karena barang dari seorang sampah seperti kamu, pastilah sampah yang sebenarnya tidak layak untuk ditaruh ibuku di berankas keluargaku," kata Fery sambil mencibir.
Beberapa saat kemudian, Robert sudah datang bersama asistennya yang membawa beberapa kotak.
Kotak-kotak itu ditaruh di meja, kemudian Robert duduk di depan meja.
Semua mata memandang ke arah kotak-kotak itu. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu kalau ternyata barang-barang milik Kevin sempat disimpan dalam brankas.
Karena yang diberitahu Ruth soal barang-barang milik Kevin itu, hanyalah Robert dan selama ini Robert sudah mulai melupakan tentang barang-barang itu, walaupun barang-barang itu tidak pernah dia singkirkan keluar dari brankas yang berada di ruang bawah tanah itu.
Kini saat keluarganya Robert mendengar tentang barang-barang itu, mereka nampak ingin tahu. Sesampah apa barang yang dibilang Robert milik Kevin itu.
Robert mulai membuka kotak pertama dan saat kotak itu dibuka, semua mata melonggok ke arah dalam dan mereka semua terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sukliang
barang apa thor
2023-07-25
0
Imam Sutoto Suro
bener bener keren thor lanjutkan
2023-06-30
0