"Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan Kevin," tegas Bianca.
Benson langsung berkata, "ingat, Bianca. Ingat nasib 600-an anak di panti asuhan ini. Ingat mereka. Kamu jangan terbunuh nafsu, pikirkan kembali. Ini demi kebaikanmu. Jangan egois! Ingat anak-anak di panti asuhan ini!"
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melepaskan suamiku." Setelah berkata seperti itu, Bianca langsung berjalan menjauh dari Benson dan Benjamin.
"Ingat, Bianca. Ingat nasib anak-anak panti asuhan ini." Benjamin masih berusaha mempengaruhi Bianca.
Kevin menjadi sangat marah melihat tingkah Benson maupun Benjamin ini, karena itu, Kevin segera meminta Rara dan Adrian serta Bianca untuk masuk ke dalam rumah.
Benjamin segera memberi isyarat kepada kepala debtkolektor.
Kepala debtkolektor langsung tanggap. Dia berteriak, "ingat! Sekarang juga kalian harus keluar dari rumah ini karena kami akan segera merubuhkan rumah ini sesuai perintah pengadilan. Alat-alat berat sudah didatangkan untuk menghancurkan rumah ini. Satu jam lagi, alat-alat berat akan datang dan mulai menghancurkan rumah ini."
Kevin menatap kepala debtkolektor itu. "Dalam waktu 1 jam, semuanya akan berubah."
Mendengar itu, Benjamin malah tertawa-tawa. "Hahaha. Apanya yang mau dirubah, hah? Memang kamu bisa apa? Dalam waktu 1 jam, panti asuhan ini akan rata dengan tanah dan tidak ada yang akan bisa merubahnya, bahkan Tuhan pun tidak bisa merubahnya."
"Kamu yang mengatakan sendiri. Kamu yang meragukan kuasa Tuhan. Jadi, kita lihat saja apa yang akan terjadi." Setelah itu, Kevin langsung masuk ke dalam rumah panti asuhan ini.
Rara yang sangat bingung dengan apa yang terjadi ini, langsung berkata, "kita bertahan saja di dalam. Walaupun ekskavator datang, mereka tidak akan berani merubuhkan rumah ini kalau ada orang-orang yang berada dalam rumah ini. Iya kan? Ayo kita berdoa aja."
Bianca mengangguk. "Iya, Bun. Nampaknya itulah satu-satunya caranya sekarang ini."
Setelah itu, Rara dan Adrian menjelaskan dengan singkat keadaan di panti asuhan ini kepada anak-anak panti. Mereka semua mengangguk pasti dan memutuskan untuk berpegangan tangan dan berdoa demi panti asuhan ini.
Saat doa dimulai dengan semua mata terpejam memanjatkan doa kepada Tuhan, saat itulah Kevin meninggalkan barisan.
Kevin yang sebelumnya berpegangan tangan dengan Bianca di kiri dan di kanan dengan salah satu anak panti asuhan yang berumur 6 tahun, kini meninggalkan barisan dan sengaja mengatur supaya anak berumur 6 tahun itu yang berpegangan tangan dengan Bianca.
"Mereka berdoa. Itu sangat penting tapi harus ada yang bekerja," batin Kevin.
Setelah itu, Kevin pergi menuju ke ruang paling belakang dari panti asuhan ini.
Kevin sendirian di sana kemudian dia mulai menelpon Lukas. Kevin menjelaskan situasi yang sedang dia hadapi di panti asuhan ini di mana dalam waktu 1 jam panti asuhan ini akan dirobohkan oleh Benjamin dan anak buahnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, tuan muda?" tanya Lukas di ujung telepon.
"Panti asuhan tempat aku sekarang berada ini nampaknya akan segera dijual oleh pemiliknya kepada perusahaannya Benjamin. Tetapi aku yakin kalau peresmiannya belum terjadi. Mungkin baru akan terjadi dua atau tiga hari lagi, yang jelas sudah ada sejenis uang muka kepada pemilik lama."
"Jadi maksud tuan muda, supaya kita membeli tanah itu, tuan muda. Apakah itu maksud Anda?"
"Ya kamu harus membeli tanah ini."
"Baik, tuan muda."
Kevin berpikir sejenak. Awalnya hanya itulah aksi yang akan Kevin lakukan tetapi kemudian karena Kevin tidak terima akan Benjamin dengan cara-cara kotor Benjamin yang ingin merebut Bianca dari tangannya, karena itu, Kevin merasa kalau dia harus melakukan sesuatu.
"Satu lagi, Lukas."
"Iya, tuan muda?"
"Dalam waktu 1 jam ini, aku mau kamu melakukan kuasa yang kamu miliki dari kakekku, untuk menghancurkan perusahaan milik Benjamin. Bikin perusahaannya hancur, sehancur-hancurnya."
"Caranya bagaimana, tuan muda?"
"Aku yakin perusahaannya Benjamin pasti memiliki banyak hutang di berbagai bank, cari tahu saya Al itu dan kalau itu adalah bank milik kita, maka kita harus melakukan mulai melakukan tekanan. Kamu juga hancurkan saham-saham milik perusahaannya Benjamin, sekarang juga."
"Baik, tuan muda. Sekarang juga, aku sudah menyebarkan perintah-perintah kepada seluruh perusahaan kita di seluruh dunia untuk melakukan tekanan luar biasa dengan modal setinggi mungkin menekan semua saham perusahaannya Benjamin."
"Bagus."
"Dan aku juga mulai meminta tim IT untuk mencari semua kredit macet yang dimiliki perusahaannya Benjamin."
"Bagus dan satu lagi, Lukas."
"Apa itu?"
"Kamu cari tahu tentang investasi-investasi atau kerjasama-kerjasama bisnis atau tender proyek yang dilakukan oleh perusahaannya Benjamin dan orang tuanya. Cari tahu masalah di sana."
"Baik, tuan muda."
"Cari tahu kalau perusahaannya Benjamin terlibat dalam penyuapan atau apa saja atau kasus-kasus lainnya. Pokoknya cari tahu semuanya. Gerakkan semua aset yang kita punya untuk mencari tahu tentang dosa-dosa perusahaannya Benyamin dan pakai itu untuk menghancurkan perusahaannya Benjamin dalam waktu 1 jam ini. Kamu mengerti?"
"Baik, tuan muda. Segera aku lakukan, tuan muda."
"Ingat soal pembelian tanah panti asuhan ini. Kamu harus membeli tanah panti asuhan dan sekitarnya yang dimiliki orang bernama Bachtiar Hasan itu. Aku mau semua tanah ini bisa menjadi panti asuhan yang sangat besar."
"Baik, tuan muda."
"Bagus." Setelah itu, Kevin putuskan untuk kembali menuju ke ruang utama panti asuhan untuk kembali bergabung bersama Bianca, Rara dan Adrian serta anak-anak penghuni panti asuhan ini yang sedang berdoa meminta supaya panti asuhan ini tidak di hancurkan.
Kevin kembali masuk di tengah-tengah Bianca dan anak umur 6 tahun. Kemudian dia ikut berpegangan tangan dengan mereka berdua, ikut melantunkan doa-doa supaya panti asuhan ini tidak dihancurkan.
Suara-suara doa terdengar semakin keras saat mereka semua yang berada dalam ruangan ini mulai mendengar suara-suara mesin yang sangat ribut di luar sana.
Adrian dan beberapa anak lelaki bahkan mulai berdiri dan mengintip dari balik jendela dan mereka melihat apa yang mereka takutkan itu mulai terjadi di luar sana
Karena ternyata di halaman parkir, panti asuhan ini sudah terdapat beberapa traktor besar, excavator besar dan alat-alat berat yang merupakan mesin penghancur yang siap untuk menghancurkan gedung panti asuhan yang didirikan dengan susah payah oleh Adrian dan Rara ini.
Rara juga ikut berdiri dan mengintip dari balik jendela. Kedua suami istri ini nampak menangis. Mereka merasa tidak berdaya. Mereka merasa jerih payah mereka selama ini nampaknya akan segera hancur.
Adrian berbisik kepada Rara, "bawa anak-anak pergi. Aku tidak mau ada korban jiwa di kalangan anak-anak, biar aku yang bertahan di tempat ini."
Rara langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Kalau memang ada yang harus bertahan, maka kita berdua yang akan bertahan. Ingat, rumah ini adalah tempat kita, tempat kita mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak panti asuhan, anak-anak yang kita anggap sebagai anak kandung kita sendiri karena kita tidak bisa memiliki anak. Jadi, jangan suruh aku pergi dari sini. Aku akan terus bersama suamiku hingga titik darah penghabisan."
Adrian tersenyum. Membelai rambut Rara dan dia segera berkata, "Kevin, Bianca, keluarlah dari sini dan bawa anak-anak pergi. Usaha kita sudah gagal."
Kevin langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Usaha kita pasti tidak gagal. Doa-doa yang kita panjatkan tadi, pasti akan berhasil."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sukliang
betul , harus oercaya kekuatan doa
2023-07-25
0
Fatkhur Kevin
persatuan doe
2023-06-22
0