Melihat tindakan Kevin, Bianca menatap Kevin kemudian dia tersenyum ke arah Kevin.
Tatapan dan genggaman tangan dari Kevin ini kembali mencairkan hati Bianca sehingga perintah dari Robert dan juga bujukan-bujukan dari Victor serta Merry, tidak mampu lagi meluluhkan hatinya.
Bianca menatap Robert dan berkata, "tidak, kakek. Aku tidak akan menyetujui ini. Aku tidak bisa, kakek. Aku punya suami. Tidak bisakah kakek melihat kenyataan itu kalau aku sudah punya suami. Aku tidak lagi available, kek. Tapi, masih ada Lisa yang belum memiliki suami. Harusnya dia saja yang menikah dengan Benjamin."
Robert langsung menggelengkan kepalanya. "Benjamin tidak menyukai Lisa tapi dia menyukai kamu. Cinta tidak bisa dipaksakan. Kakek tidak bisa menyodorkan Lisa di saat Benjamin tidak menyukai Lisa tapi menyukai kamu."
"Kalau begitu, sama dengan aku, kek. Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mencintai Benjamin. Aku mencintai suamiku." Bianca menatap Kevin.
2 sejoli ini saling tatap mesra seakan tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua.
Kata-kata Bianca ini makin menyejukkan hati Kevin sehingga Kevin bertekad untuk terus memperjuangkan hubungannya dengan Bianca. "Aku akan membahagiakan kamu, Bianca. Aku berjanji. Aku berjanji," tandas Kevin sambil terus menatap Bianca.
Kata-kata Kevin ini membuat Victor meradang. "Kamu mau membahagiakan anakku dengan apa, hah! Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu juga tidak memiliki kemampuan apa-apa bahkan barang-barangmu hanya barang-barang rongsokan. Jadi, dengan apa kamu mau membahagiakan anakku, hah!"
Kevin tersenyum kepada Viktor. "Sekarang ini, mungkin belum terlihat, pa. Tapi percayalah kalau aku akan membahagiakan Bianca juga pada akhirnya."
"Akhirnya? Kapan itu, hah? Huh, Apa nunggu Bianca jadi nenek dulu? Kamu itu menantu sampah! Kamu cuma bisa memberikan sampah kepada anak kami dan pada akhirnya mungkin sampai kakek-kakek baru punya duit. Iya kan? Dan Bianca tidak bisa menunggu selama itu," timpal Merry sambil melotot ke arah Kevin.
Bianca tersenyum kepada Kevin. Kemudian dia menatap orang tuanya. "Sejak aku kecil, nenek Ruth selalu menyayangi aku, jadi aku yakin dia akan memilih yang terbaik untukku. Dia sudah memilih jalan yang terbaik bagiku. Dia memiliki Kevin untukku dan aku akan terus berjalan bersama pilihannya itu."
"Nenekmu itu sudah pikun sebelum dia meninggal, Bianca. Saat dia menikahkan kamu dengan gembel ini, dia sudah pikun. Jadi, kamu jangan mempertahankan pilihan yang dia buat itu. Kalau dulu kamu mengikuti pilihan nenekmu, sekarang ikuti pilihanku!" tandas Robert.
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tetap tidak mau dengan perintah dari Robert itu.
Kevin yang tidak ingin Bianca goyah, langsung mengembalikan kotak cincin ke dalam kotak ketiga, kemudian dia menyatukan ketiga kotak dari barang-barang miliknya yang dibilang rongsokan itu. Dia mengangkat 3 kotak itu dan meminta Bianca untuk mengikutinya.
"BIANCA, KAMU JANGAN IKUT DIA! SEKALI KAMU MELANGKAH KELUAR DARI RUMAH INI, MAKA KAMU TIDAK AKAN LAGI MENJADI CUCUKU!" teriak Robert dalam marahnya.
Bianca yang sudah membalikkan tubuhnya untuk mengikuti Kevin, kini terdiam. Ancaman itu cukup menggetarkan hatinya tapi dia memutuskan untuk melangkah.
Kevin sangat senang melihat Bianca putuskan untuk tetap melangkah bersamanya.
"INGAT KATA-KATA KAKEK TADI. KALAU KAMU PUTUSKAN UNTUK PERGI SEKARANG INI, MAKA ITU BERARTI KAMU AKAN MENJADI MUSUH KAKEK DAN JANGAN HARAP KAMU AKAN MENDAPATKAN PROYEK BESOK ATAU PROYEK-PROYEK LAINNYA DI MASA DATANG KALAU KAMU TETAP KELUAR DARI RUMAH INI," ancam Robert.
Ancaman dari Robert itu membuat Merry menangis. Dia berlari mendekati Bianca.
Sementara itu, Bianca sempat terdiam lagi setelah mendengar ancaman dari Robert yang dia tahu akan dibuktikan oleh Robert itu.
Merry sudah berhasil mendekati Bianca. Dia mulai membujuk, "please, Bianca. Ingat, masa depanmu, Bianca. Kalau kamu harus berhadapan dengan kakekmu yang sangat berkuasa di kota ini, maka kamu tidak akan bisa maju. Kamu tidak akan mendapatkan proyek besok dan juga proyek-proyek lainnya. Ingat itu, Bianca."
"Tapi aku tidak bisa, ma. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai."
"Ingat, Bianca. Pada awalnya kamu juga tidak mencintai menantu sampah itu." Merry menunjuk ke arah Kevin, "tapi pada akhirnya kamu toh juga mencintai dia setelah dia menjadi suamimu. Iya kan?"
"Itu berbeda, mah. Walaupun aku agak kaget dengan perintah dari Nenek Ruth waktu itu tapi aku tetap mengikutinya dan kemudian aku jatuh cinta kepada suamiku. Walaupun dia hanya seorang tidak berguna menurut mama dan papa tapi dia sudah resmi menjadi suamiku, aku harus mempertahankan pernikahanku seperti mama dan papa yang selalu bersama. Iya kan? Itu kan ajaran mama dan papa waktu aku kecil. Iya kan?"
"Mama dan papa memang pernah mengajarkan kamu seperti itu tetapi itu kalau pasangan kamu itu memang baik dan bukan yang seperti itu."
"Siapa bilang Kevin tidak baik, ma?"
"Dia tidak pantas untukmu. Itulah yang membedakan hubungan mama papamu dengan hubungan kamu dengan lelaki itu!"
"Tidak, mah. Akulah yang menentukan siapa yang pantas dan yang tidak. Ok, aku pergi."
Kevin kembali tersenyum saat Bianca kembali mengikuti langkahnya. Saat ini mereka sudah berhasil keluar dari rumah keluarga Winsted ini.
Melihat kepergian Bianca, Robert sangat marah kepada Viktor dan Merry. "SEKARANG JUGA KALIAN BERDUA PERGI DARI SINI DAN JANGAN LAGI MENGINJAK RUMAH INI!"
"Tapi, pah, yang salah kan Bianca bukan kami." Victor berusaha membela diri.
"KALIAN IKUT-IKUTAN SALAH KARENA KALIAN TIDAK BERHASIL MEMPENGARUHI BIANCA!" sembur Robert.
"Pa, jangan begitu, pa."
"Pokoknya aku akan segera mengambil rumah yang kalian tempati itu, sekarang juga! Rumah yang diberikan istriku kepada kalian. Mulai sekarang, aku akan berusaha mengambilnya supaya kamu kalian bertiga dan menantu sampah itu, tinggal di jalanan. Ingat itu!"
Mendengar itu, Robert dan Merry bergegas keluar dari rumah untuk mengejar Bianca.
"Bianca, kita akan diusir dari rumah kita kalau kamu berani pergi dari sini, Bianca. Huhuhu. Ke mana kita akan tinggal, Bianca?" tanya Merry sambil menangis saat Bianca hendak masuk ke dalam mobil.
Mendengar itu Kevin langsung melakukan chat dengan Lukas, meminta Lukas untuk menyediakan rumah bagi Bianca, Victor dan Merry juga untuk Kevin tinggal.
Sementara Bianca yang mendengar perkataan Merry kini berkata, "aku punya uang, mah. Aku bisa menyewa rumah untuk kita tinggal sementara. Kita belum bisa membeli rumah karena uang yang kudapat dari bank itu akan aku gunakan untuk mengambil proyek."
"Tapi kakekmu akan menghambat kamu, Bianca. Kamu pikir kamu akan bisa mengatasi kakekmu? Ingat, kakekmu itu memiliki koneksi di mana-mana. Dia bisa menghambat kamu, Bianca!"
"Segala sesuatu itu perlu dicoba, ma. Itu kan ajaran mama kepadaku waktu aku kecil. Jadi, kita harus optimis, ma."
Tiba-tiba sesuatu terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Abdullah Plengoszhzsh
Kalau tidak bisa dipaksa, maka jangan dipaksa. Mereka Masih suami isteri. Mengapa harus cerai.
2023-09-05
0
Sukliang
apa tu thor
2023-07-25
0
Imam Sutoto Suro
beneran super duper novel lanjutkan thor
2023-06-30
1