Mata Kevin tertuju ke arah sebuah lukisan yang tergantung di dinding.
Lukisan itu sebenarnya kontras dengan perabotan mewah di dalam ruangan ini.
Kontras dengan keramik di dalam rumah ini yang terlihat sangat mewah dengan lampu dinding yang sangat mewah.
Karena lukisan ini bukanlah lukisan karya pelukis terkenal seperti Leonardo da Vinci, Van Gogh atau Pablo Picasso tapi cuma lukisan biasa yang bahkan bukan lukisan sekelas ahli sketsa yang biasa mangkal di jalanan.
Karena lukisan ini lebih mirip sebagai lukisan anak SD dan tidak memperlihatkan kualitas seorang pelukis di dalam lukisan itu.
Tapi entah kenapa lukisan itu dipajang dengan bingkai mahal di ruangan mewah ini dan entah mengapa kedua bola mata Kevin seakan tidak berkedip menatap ke arah lukisan itu.
Kevin terus mendekati lukisan itu hingga jalannya sudah sangat dekat dengan lukisan itu, tinggal setengah meter dari lukisan itu.
Kevin terus menatap lukisan itu. Terus memperhatikan lukisan itu dengan mata yang hampir tanpa berkedip. "Aku pernah melihat lukisan ini. Tapi, dimana?" gumamnya.
Bianca yang sebelumnya terus memperhatikan perabotan rumah mewah ini dan juga interior di dalam rumah mewah ini, kini mulai memperhatikan Kevin.
Bianca heran saat dia melihat Kevin terus menatap lukisan di depan Kevin itu, lukisan yang tidak terlalu bagus bagi pandangan mata Bianca.
Karena itu, Bianca mulai ikut memperhatikan lukisan itu. Dia memperhatikannya dengan berdiri sedikit di belakang Kevin. "Ada apa dengan lukisan ini? Apa ini lukisan abstrak yang tidak bisa kulihat nilai seninya?"
Kevin menggeleng. "Ini bukan lukisan abstrak. Ini hanya lukisan biasa yang bahkan dibuat oleh seseorang yang mungkin tidak memiliki bakat dalam seni lukis."
"Lalu mengapa kamu terus memperhatikan lukisan ini?"
"Aku tidak tahu mengapa tapi aku yakin kalau aku pernah melihat lukisan ini sebelumnya."
"Kamu melihatnya di mana?" tanya Bianca penasaran.
"Aku tidak tahu di mana. Kamu ingat kan kalau aku mengalami amnesia karena itu aku tidak tahu aku melihat lukisan ini di mana tapi satu hal yang bisa aku pastikan adalah, aku pernah melihat lukisan ini."
Bianca menatap Kevin. Dia melihat kesungguhan di mata Kevin. "Sudahlah kamu jangan memaksakan diri untuk mengingat sesuatu di masa lalumu. Sekarang kita istirahat saja, oke?"
"Ok."
Para pelayan menunjukkan kamar untuk Kevin dan Bianca yang ternyata merupakan kamar termewah di rumah ini.
Begitu masuk ke dalam kamar utama di rumah ini, Bianca langsung berdecak kagum karena kamar yang ada ini jauh lebih mewah dari kamar di rumahnya sendiri dan juga lebih mewah dari kamar ayahnya dan juga kamar kakeknya.
Dengan antusias, Bianca langsung membuat video tentang rumah ini untuk dia kirimkan kepada Victor dan Mary.
Bianca ingin mengajak Victor dan Merry untuk tinggal di rumah barunya Kevin ini tapi ternyata Victor dan Mary menolak untuk tinggal bersama Kevin.
"Kami tidak mau tinggal di rumah kecil kumuh milik suamimu itu!" dengus Victor di ujung telepon.
"Pah, tolong lihat dulu video yang aku kirim, pa. Di situ papa bisa melihat bagaimana mewahnya rumahnya Kevin yang diberikan temannya untuk Kevin itu."
"Papa nggak percaya. Gembel seperti suamimu, pastilah cuma punya rumah gubuk. Gak sudi papa tinggal di rumahnya. Bisa gatal-gatal aku. Lebih baik papa berjuang supaya kakekmu tetap memberikan izin buat papa dan mamamu tinggal di rumah pemberian Nenek Ruth." Setelah itu, Victor langsung memutuskan hubungan telepon.
Bianca hanya bisa menghela nafas karena keinginannya untuk memanggil orang tuanya tinggal bersamanya itu tidak kesampaian.
**
Besok paginya, Kevin dan Bianca memutuskan untuk pergi ke panti asuhan tempat Kevin pernah tinggal dulu.
Walaupun Kevin tidak lagi tinggal di panti asuhan itu sejak tinggal di rumahnya Bianca tapi Kevin kadang-kadang masih suka datang ke panti asuhan ini.
Pagi ini, Bianca dan Kevin sengaja datang dengan membawa cukup banyak makanan jadi dan bahan makanan serta 9 bahan pokok untuk panti asuhan ini.
Rara, perempuan berumur 47 tahun yang merupakan pengelola utama dari panti asuhan ini sangat senang melihat kedatangan Kevin dan Bianca ini.
"Terima kasih, Bianca atas transfer yang kamu lakukan semalam. Kamu sangat baik, Bianca. Seluruh penghuni panti asuhan ini, berterimakasih padamu," kata Rara kepada Bianca.
"Berterima kasihlah kepada Kevin, Bunda Rara. Dan karena Kevin lah aku mengetahui tentang kebutuhan panti asuhan ini dan kebetulan aku punya uang jadi aku transfer 100 juta untuk panti asuhan ini." Bianca melirik ke arah Kevin.
"Makasih ya, Kevin."
"Iya, Bunda Rara. Aku tahu kebutuhan dari panti asuhan ini untuk mempertahankan tanah ini dari penyitaan oleh pihak ahli waris masih perlu 500 juta lagi tapi yakinlah penggalangan dana yang sedang aku adakan akan segera memberikan dana yang dibutuhkan oleh panti asuhan ini, bunda Rara."
Kata-kata Kevin ini membuat Bianca jadi sangat kaget. "Kenapa kamu tidak bilang kalau kebutuhan panti asuhan ini sebenarnya totalnya adalah 600 juta? Kalau begitu kan, aku bisa kasih semua yang dibutuhkan panti ini."
"Jangan, Bianca. Ingat, uang yang kamu dapatkan itu adalah uang pinjaman dari bank jadi kamu harus memutar uang itu supaya bisa membayar cicilannya. Uang 100 juta yang kamu berikan semalam itu sudah cukup untuk sementara bagi panti asuhan ini menyelamatkan mereka dari perampasan."
"Iya, Bianca. Kamu jangan terlalu jor-joran. Kalau memang itu adalah uang pinjaman dari bank, harusnya uang itu untuk diputar lagi, bukan untuk diberikan kepada panti asuhan ibu ini."
"Tapi, Bunda Rara. Prinsipku adalah menolong dan itu harus tuntas, tidak boleh setengah-setengah. Sebelumnya Kevin tidak pernah bilang soal berapa tepatnya kebutuhan panti asuhan ini karena itu aku pikir kebutuhannya hanya 100 juta tapi ternyata aku salah."
"Sudahlah, Bianca. Ada temanku yang sedang menggalang dana sampai ke luar negeri jadi pertolonganmu semalam itu sudah cukup besar." Kevin menenangkan Bianca.
Akhirnya Bianca mengangguk kemudian mereka bertiga masuk ke dalam panti untuk menemui anak-anak yatim di panti asuhan ini.
Umur-umur dari anak-anak yatim ini bervariasi ada yang masih satu tahun ada yang 3 tahun 4 tahun 5 tahun dan bahkan yang paling tua ada yang 18 tahun. Ada juga yang sudah berumur 25 tahun dan memilih untuk bekerja menjadi pengurus panti, untuk meringankan pekerjaan Rara.
Mereka semua ini memiliki kisahnya masing-masing. Ada yang memang dititipkan oleh orang-orang yang menemukan anak di jalanan, ada juga yang langsung dibawa oleh orang tuanya ke halaman panti asuhan ini untuk ditinggalkan di halaman panti asuhan ini.
Ada juga yang dititipkan oleh yayasan sosial. Biasanya mereka di sini untuk menunggu orang tua adopsi ataupun menunggu hingga anak-anak ini berumur 18 tahun dan siap untuk keluar dari panti asuhan ini untuk bekerja di dunia luar.
Sementara keuangan dari panti asuhan ini ada yang melalui donatur swasta, ada sedikit juga yang melalui dinas sosial tetapi belakangan panti asuhan ini mendapatkan masalah karena tanahnya dianggap bermasalah oleh ahli waris dari orang yang pernah memberikan tanah gratis untuk yayasan panti asuhan ini pada 20 tahun yang lalu.
Karena itulah panti asuhan ini memerlukan uang untuk membeli tanah ini.
Tengah Kevin dan Bianca bercengkrama, tiba-tiba terdengar suara teriakan banyak orang di luar rumah yang membuat wajah Bunda Rara langsung pucat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments