Sore itu setelah pulang sekolah, Rio bertamu ke rumah Anggun.
Pak Banyu sedang berjala keluar dari teras untuk masuk ke mobilnya. Tapi ia berhenti dulu saat melihat Rio.
“Yo,” sapa Pak Banyu.
“Om,” Rio mengangkat tangannya, “Ke kantor?”
“Iya, mau meeting. Bisa jadi ini meeting terakhir saya di sana.”
“Resign dong om?”
“Ya jelas. Tapi sudah ada beberapa penawaran dari perusahaan lain untuk posisi tinggi,”
“Saya nggak khawatir soal rejeki si Om. Tapi ini lebih ke masalah dedikasi. Om sudah sangat lama bekerja di sana kan?”
“Boleh dibilang, pertama kali saya merintis karier ya di sana,” Pak Banyu tersenyum masam. “Tapi apa boleh buat, Anggun lebih penting untuk saya.”
“Om setuju Anggun mencabut tuntutannya?”
“Tidak. Jelas saya ingin si tersangka dipenjara. Kalau perlu hukuman mati. Tapi Yo, ini permintaan Anggun sendiri... Saya tidak merasakan apa yang dialami Anggun. Saya juga sudah bilang ke dia, tidak apa-apa kalau Saya Resign dari kantor karena sudah ada penawaran lain dari perusahaan pesaing. Tapi anggun bersikeras,”
Rio mengangguk, “Tidak ada yang setuju mengenai keputusan Anggun ini. Tapi saya juga menghormati keputusannya,” kata Rio.
“Dia barusan cari kamu,”
“Iya, dia WA juga barusan, nanya kapan saya pulang. Perlu dijemput apa nggak. Saya berasa anak SD ditanyain emaknya,”
Pak Banyu berkacak pinggang sambil mengerutkan kening.
“Saya harap kamu sabar. Paling tidak, sampai dia tenang, baru kamu menjauh. Jangan masa-masa sekarang, dia masih ketergantungan sama kamu. Sebagai kompensasinya, kalau kamu butuh apa pun, hubungi saya saja.”
Rio tertegun mendengarnya.
Pak Banyu masih beranggapan kalau Rio terpaksa menjalani semua ini karena rasa empati. Atau karena Rio ada maunya.
Entah Rio harus senang atau kesal mendengarnya.
Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya ke Anggun. Di satu pihak ia terpikat cewek itu, di lain pihak ia masih ragu mengenai cinta-cintaan.
Jadi, Rio tidak mendebat Pak Banyu, ia diam saja sambil masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar Anggun.
**
Rio menarik nafas saat melihat Anggun duduk di atas ranjangnya sambil membaca buku. Anggun sedang mempersiapkan dirinya menghadapi remedial minggu depan.
Seharusnya pemandangan itu sudah biasa bagi Rio.
Tapi kini, saat melihat gadis itu, benak Rio dipenuhi kalimat-kalimat yang ada di laporan polisi.
Mengenai bagaimana cara mereka menyiksa Anggun.
Memperlakukan gadis itu dengan tidak senonoh.
Menodai kesucian gadis ini.
Dan masih ia ingat jelas bagaimana berantakannya kondisi Anggun di saat terakhir itu.
Kini, Anggun yang di depannya ini, sudah menunjukkan aura yang mirip seperti sedia kala. Angkuh dan gerakannya terstruktur dengan elegan.
Tapi entah bagaimana, Rio merasa Anggun yang sekarang hanyalah topeng gadis itu untuk menutupi kesedihan hatinya. Gadis itu belum menangis hari ini, belum bergelayut mesra di lengan Rio, belum merayu Rio, belum minta bermanja-manja.
Jadi Rio hanya mengetuk pintu kamar gadis itu pelan beberapa kali, lalu menghampiri Anggun.
Anggun mengangkat wajahnya dan menyeringai ke arah Rio.
“Hai,” sapa Anggun.
Rio tidak menjawab dan hanya meletakkan ranselnya secara sembarang. Lalu ia duduk di atas ranjang Anggun, merangsek ke belakang gadis itu, dan memeluknya dari belakang
Kepalanya ia benamkan di leher Anggun, menyesap wangi bunga yang keluar dari tubuh gadis itu. Kedua tangannya yang besar ia lingkarkan di pinggang Anggun dan ia peluk dengan erat.
“Bau rokok ih,” keluh Anggun. Tapi ia tidak menepis Rio. Malah bersandar di tubuh cowok itu sambil menengadahkan kepalanya.
Rio mengecup pelan lehernya dan berbisik. “Maaf... tidak banyak yang bisa gue lakukan. Jangan cerita apa yang terjadi saat dua jam itu,”
Anggun terdiam sejenak. Jantungnya langsung berdetak kencang.
Ia tidak menyangka Rio akan berujar begitu.
Cowok yang sehari-harinya bikin onar, bisa minta maaf karena ia tidak datang lebih cepat? Padahal sebenarnya tidak ada yang perlu di maafkan.
“Sedikit aku ceritakan boleh? Biar aku lega,” kata Anggun.
“Hm...” Rio mempererat pelukannya.
“Kamu tahu, mereka sudah mempersiapkan semacam tongkat. Kalau kamu telat sedikit saja, mereka akan memasukkan tongkat itu ke tubuhku, ke setiap lubang yang kumiliki. Selain itu, aku akan dijual ke negara lain, bisa jadi sebelum itu salah satu ginjalku akan dijual lebih dulu. Aku mendengar mereka bisik-bisik begitu,” kata Anggun.
“Jadi, jangan minta maaf, Rio. Malah yang kusesali adalah... kenapa harus kamu yang melihat keadaanku yang begitu menyedihkan.” Kata gadis itu selanjutnya.
“Aku... sangat malu saat itu. Ditambah kalau saat ini kupikir lagi, aku kemarin terlalu membebani kamu dengan rengekan-ku. Bahkan sampai merepotkan kamu. Padahal di situ ada ayahku, kenapa aku tidak ke beliau saja, malah jadi menyusahkanmu. Kamu harus malam-malam... mmmh...”
Rio membungkam mulut gadis itu dengan ciuman. Bibirnya yang keras dan penuh mencium bibir anggun dengan pelan dan manis. Ia tidak terburu-buru kali ini, ia mengecup dengan rasa sayang.
Tidak ada keraguan di diri Rio kali ini. Ia tahu harus apa terhadap Anggun. Ia tidak akan membiarkan gadis ini sendirian.
Dulu, Anggun memuja Rio.
Kini giliran Rio.
“Jadi pacarku, ya?” bisik Rio.
Anggun terpekik pelan saat mendengar Rio bilang begitu. “Kupikir kamu tak mau kemarin?!”
“Aku izin ayahmu dulu,”
“Katanya bagaimana?”
“Jelas dia tidak merestui,”
“Dia bilang akan mempertimbangkannya,”
“Sekarang aku tak peduli, aku menginginkan kamu.” Rio kembali menyesap kehangatan leher Anggun.
“Hehe...” kekeh Anggun, “sekarang kita jadi Aku-Kamu’an ya?”
“Aku akan berusaha sekolah yang benar, mungkin aku tidak akan kuliah karena keterbatasan biaya, tapi aku akan usahakan bekerja dengan rajin.”
“Rio...” Anggun mengelus lengan Rio. “Kamu yakin mau jadi pacarku?”
“Kemarin kamu minta.”
“Kemarin aku sedang labil. Sekarang aku mampu berpikir jernih. Aku tanya sekali lagi, kamu yakin mau memiliki pasangan seperti aku?” Anggun melepaskan tangan Rio dan kini duduk menghadap ke arah wajah Rio. Gadis itu menatap Rio dengan lurus, seakan sedang mencari kesungguhan di mata Rio.
“Aku sudah tidak suci, tubuhku terjamah banyak pria. Bentuknya sudah tidak karuan. Otakku juga belum sepenuhnya sembuh dari rasa trauma. Dan kalau bulan ini aku tidak dapat haid bagaimana?”
Rio mengernyit mendengar penuturan Anggun.
Ia menggigit bibirnya tanda sedang berpikir.
Lalu bertanya, “Kamu... bakal ngelarang aku main game nggak?”
“Hah? Apa-“
“Jawab aja Nggun,” tanya Rio cepat.
“Ya nggak, kalau perlu kamu ajari juga aku biar kita war bareng,”
“Aku suka taekwondo, tinju, dan bisa di gym berjam-jam kalau lagi galau. Masalah nggak buat kamu?”
“Aku juga suka ke gym, loh. Aku suka pilates dan yoga, aku bahkan memiliki personal trainer sendiri. Aku suka makan manis jadi biar nggak gemuk ya aku sering olah tubuh. ”
Rio menaikkan alisnya. Pantas saja bentuk tubuh Anggun bagus. Ternyata itu rahasianya . Jadi bayangannya akan kemungkinan tubuh Anggun jadi gemuk buyar sudah.
“Aku nggak bisa ngasih kamu kado yang mahal-mahal,” kata Rio.
“Setara Hermes semilyar dari Ikhsan aja aku buang ke tong sampah. Kamu mau kasih aku buket isi rumput juga aku terima kok, asal dari kamu. Lagian ngapain kamu ngasih aku kado? Aku udah punya segalanya. Yang aku nggak punya hanya seorang ibu, dan kamu.”
Rio terkekeh mendengarnya.
“Bisa jadi aku modal burung doang, ngekor kamu kemana-mana,”
“Aku malah ingin kamu begitu. Biar kamu tetap di sampingku,”
“Hm...” Rio tersenyum lembut ke Anggun dan membelai pipi cewek itu, “Aku suka kamu bukan karena nafsu. Mau bentuknya tak karuan, mau kamu tiba-tiba terserang panic attack, mau kamu tiba-tiba bipolar karena trauma, kamu mau posesif ke aku, juga aku tetap... suka kamu. Termasuk, kalau kamu nggak dapat haid, mungkin memang itu jalan kita untuk mendapatkan rahmatnya.” Kata Rio sambil mengelus kedua lengan Anggun.
Anggun menatapnya dengan terpana.
Agak lama.
Sampai mereka mendengar pintu kamar Anggun dibuka.
Di sana ada Pak Banyu. Menatap mereka berdua dengan raut wajah muram, namun lembut.
“Rio,” katanya.
Rio melepaskan tangannya dari pipi Anggun dan menarik nafas. “Om... bukannya ke kantor tadi?”
“Ada berkas ketinggalan,”
“Ya Om, maaf, saya-“
“Rio mau nikah siri dulu nggak sama Anggun? Nanti kalau sudah lulus sekolah, baru ajukan Itsbat nikah ke Pengadilan Agama.” tanya Pak Banyu.
“Eh?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Septi Lahat
aq nangis pas baca part nih.. jrang d real life ketemu jodoh kyk tutup ketemu pancinya kyk disini,, mnerima apa adanya, stulus hati tnpa ada embel2 dibalik bakwan!!! 😢😢😢
2024-12-06
0
Kelabu Biru
omongan para bucin... syahdu beneeerrrrr
2024-10-10
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Pak Banyu denger obrolan mereka
2024-09-01
0