Rio dengan hati-hati melongok ke dalam kamar Anggun.
Benar saja, gadis itu sedang meringkuk di pojok kamarnya, ia menyelimuti dirinya sampai kepala dan memeluk bantal dengan erat.
Lalu Rio dengan hati-hati menutup kembali pintu kamar Anggun dan tertegun.
Di bayangannya terpatri wajah Anggun di sekolah sebelum ini. Bagaimana gadis itu berdiri tegak di atas podium, dengan senyum dinginnya mendebat lawannya mengenai masalah ekonomi di Kompetisi debat Terbuka SMA VS Universitas. Atau saat dengan tenangnya ia menekan tombol di Olympiade Matematika tingkat International, sangat elegan dan cantik.
Ia kebanggaan sekolah. Kini harus seperti ini.
“Rio, yang tahu mengenai kondisi ini hanya segelintir orang, termasuk kamu. Kami sepakat untuk menyembunyikan masalah ini ke teman-teman dan guru di sekolah. Anggun izin sakit beberapa hari dan dipersilakan mengikuti remedial, tapi melihat kondisinya yang sekarang saya juga khawatir dia tidak akan mampu ikut ujian apa pun,” kata Pak Banyu.
“Dia kenapa Om?” tanya Rio.
“Sampai di rumah sakit, Anggun histeris dan ketakutan, kami harus memberinya obat penenang. Lalu saat bertemu psikiater ia meraung ketakutan dan minta bersembunyi. Sepanjang itu... dia terus memanggil kamu.”
“Saya?’
“Iya,”
Rio menatap Pak Rendi dan Iptu Rayhan yang duduk di sofa keluarga, memandangnya dengan tajam.
“Kenapa saya?” tanya Rio.
“Itu yang juga ingin kami tanyakan,”
“Saya bukan pacarnya, jujur saja interaksi terdekat saya dengan Anggun itu ya kemarin lusa itu. Kami jarang ngobrol sama anak-anak unggulan. Kantin saja dibedakan, kami makan di area belakang, mereka di depan,”
“Kan kalian sendiri yang mau di belakang, seenaknya saja berbuat vandalisme di kantin,” desis Pak Rendi.
“Sudah begitu bentukannya dari dulu tuh Pak,” cebik Rio. “Bukan salah saya lah, saya hanya menduduki kursi kaisar,’
“Kursi Kaisar... huh!” dengus Pak Rendi. “Yaaah, sampai saat ini saya biarkan karena kalian itu kalau tidak diberi arena sendiri akan mengganggu anak lain. Saya mau keluarkan juga tak ada alasan yang yang kuat,”
“Anak seperti Rio ini yang kelakuan kriminal tapi usia dianggap masih di bawah umur. Kerap menggunakan kelemahan undang-undang dengan berbuat melanggar hukum. Mereka pikir kami tak akan mengenakan hukuman dewasa untuk mereka, tapi maaf saja, di negara ini kalau bukan kami yang menghukum, masyarakat yang bertindak dan mereka lebih kejam dari kami para aparat.”
Rio hanya tersenyum sinis, “Jadi saya sebenarnya populer ya? Saking femesnya jadi punya haters seperti Pak Rendi dan Pak Iptu ya? Khehehe,”
“Nggak usah cengengesan, bukan itu tujuan kita ke sini,” kata Pak Rendi sebal.
Lalu mereka berempat menatap pintu kamar Anggun yang tertutup.
“Saya akan coba masuk ya Pak, kalau keadaannya sudah membaik Pak Iptu bisa langsung melakukan interogasi,”
“Wawancara,” ralat Pak Iptu, “Wawancara biasanya dilakukan dengan korban dan saksi. Interogasi dilakukan dengan tersangka,”
“Yang saya kemarin kok nadanya seperti interogasi?” tanya Rio.
“Ya apa pun yang kamu lakukan indikasinya ke tersangka sih, kamu suspect paling mencurigakan,”
“Kalau Juhari sampai saya temukan, Pak Iptu kasih saya motor baru yak?!” tawar Rio.
“Nanti dicari yang bekas lelang yang-“
“Jangan yang bekas ketabrak kereta-“ potong Rio cepat sambil membuka pintu dan masuk ke dalam.
“Halah, dia selalu tahu yang akan saya katakan,” kekeh IPTU Rayhan
“Sebenarnya dia cerdas Pak, hanya kondisi keluarganya mengharuskannya bertingkah begitu. Kalau tidak begitu sudah habis kena Bully,” kata Pak Rendi sambil menyesap kopinya.
Pak Banyu duduk di depan mereka dan berusaha menyandarkan tubuhnya yang letih dengan santai, “Memang apa yang terjadi dengan keluarga Rio? Siapa sebenarnya anak ini sampai Anggun selalu membicarakannya?”
“Membicarakannya? Kata Rio mereka baru benar-benar bertemu kemarin lusa saat kasus itu?!” tanya Pak Rendi.
“Ada berapa anak yang bernama Rio di sekolah Pak?”
“Ya saat ini hanya dia, Rio Tyaga itu,’
“Saya mendengar dari salah satu ART yang mengasuhnya, kalau sudah lama Anggun ini suka dengan yang namanya Rio, tapi Rio-nya tidak respon. Dia takut ketahuan saya karena saya kan pasti akan menyelidiki latar belakang cowok yang dia suka. Jangan sampai dari keluarga yang berantakan tak jelas, atau dari keluarga yang berpolitik keras, atau bermasalah, atau anaknya nakal dan fakboi,”
Iptu Rayhan dan Pak Rendi langsung saling bertatapan.
Ya sudah Pasti Rio adalah anak yang ada di daftar teratas Golongan Terlarang.
Pak Banyu menyadari arti tatapan mereka berdua, “Rio anak yang jenis itu...?”
“Yang ini bahkan lebih parah...” gumam Pak Iptu, “Dia buronan saya karena Ketua Geng Motor. Tahu kan yang kemarin viral di IG ada anggotanya yang waktu balapan liar nabrak mobil yang berhenti di lampu merah? Yang motor dan tubuhnya langsung hancur? Untung mobilnya nggak kenapa-napa,”
Pak Banyu menegakkan duduknya meminta keterangan lebih lanjut. “Lalu? Apa lagi?”
Pak Rendi menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat, “Dia yatim piatu. Ibunya meninggal karena sakit, menurut psikiater karena Schizoprenia yang parah, tapi ada beberapa yang bilang karena santet. Lalu ayahnya bunuh diri di penjara. Ayahnya itu ditangkap atas dugaan kasus penggelapan dana di PT. Arghading Corp. Ada beberapa yang ditangkap termasuk dia,”
“Astaga...” Pak Banyu mengusap wajahnya. “Ini sih parah,”
“Kami akui kalau ada beberapa siswi yang mengidolakan Rio,”
“Idola kok sama begal,” gerutu Pak Banyu.
“Preman yang ini bukan jenis Jamet Pak. Rio itu istilahnya... Badix pak,” kata Pak Rendi
“Apa itu?”
“singkatan dari Berandal Terdidik,”
“Yang manapun tetap saja salah,”
“Badix bukannya julukan basis? Bapak ini alumni SMA 4 yak, Daerah Gambir... pernah tawuran dong yaaa,” gumam IPTU Rayhan.
“Ehem,” kata Pak Rendi, “Saya juga pernah nakal waktu muda Pak,” desis Pak Rendi.
**
Dengan hati-hati Rio melangkah masuk ke dalam kamar Anggun. Kamar itu bernuansa estetik khas cewek jaman sekarang, yang perabotannya rapi dan warna tanah, tapi kalo dilihat-lihat harganya luar biasa. Anggun jenis cewek yang terorganisir dan kamar ini menggambarkan dirinya.
Namun saat ini hanya suasana muram yang terasa.
Ada dua sosok Anggun yang Rio ketahui, keduanya sangat bertolak belakang. Anggun yang kuat bagai Ratu, dan Anggun yang depresi bagai pengemis kelaparan. Cowok itu sampai sekarang tidak dapat menggambarkan mirisnya situasi yang ia hadapi saat ini. Kenyataan di lokasi jauh lebih parah, Rio bahkan tak sampai hati buat bilang ke Pak Banyu tadi. Anak gadis yang seumur hidup ia lindungi, harus berantakan porak poranda dikerjai mafia. Bisa jadi belum ada yang bilang ke Pak IPTU mengenai bagaimana persisnya situasi yang terjadi.
Sikap Anggun saat ini jelas dimaklumi oleh Rio. Justru kalau Anggunnya baik-baik saja malah lebih mengherankan.
“Anggun?” bisik Rio sambil berlutut di depan Anggun.
Cewek itu bagai tersentak sesaat, lalu matanya yang bulat itu mengintip dari balik bantal.
“Rio?” desisnya. Suaranya serak dan lirih.
“Iya ini-“
“Rio!! Rio sini!!” Anggun membuka selimutnya lalu merangkak ke arah Rio. Tangannya berusaha menggapai cowok itu.
Rio yang kaget reflek mengulurkan tangannya untuk membantu Anggun.
“Jangan... jangan-jangan pergi lagi, tolong aku Rio, tolong aku!!”
“iya, ini-“
“J-j-jangan pergi! Temenin aku di sini, plis temenin aku!!” jemari Anggun mencengkeram lengan Rio, lalu gadis itu merangsek ke pelukannya. Ia merengkuh pinggang Rio erat-erat sampai cowok itu mengernyit menahan sakit karena luka akibat terserempet tembakannya belum sepenuhnya menutup.
Saat ini darah mulai merembes dari area pinggangnya, mengenai lengan dan baju Anggun, tapi gadis itu terisak sambil meringkuk di pelukan Rio.
“Aku- a-a-aku hancur Rio, aku hancur... huhuuu aku sudah hancuuurr!!” Anggun menangis histeris. Ia berteriak sekencang-kencangnya, sepuasnya.
Ia melolong menumpahkan isi hatinya. Amarah, sedih dan rasa putus asanya jadi satu.
Ia tidak bisa menumpahkan semua isi hatinya kemarin.
Saat ini, di depan Rio, ia bisa tumpahkan semuanya.
Pak Banyu dan yang lain, mengamati Anggun dan Rio dari ambang pintu. Tampak air mata menetes dari pelupuk Pak Banyu.
Putri kesayangannya, di depannya, dalam keadaan jatuh.
Dan ia tidak mampu menolongnya.
“Pak Banyu, kami akan berusaha menangkap siapa pelaku di balik ini semua,” Kata IPTU Rayhan.
Rio menunduk sambil menghela nafas, setidaknya saat ini, ada yang bisa ia lakukan untuk Anggun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ita Xiaomi
Udah lengkap tuh pak.
2024-12-24
0
Naftali Hanania
duh kasian ya tu yg meninggal..dianggep gak lbh penting dr boil....🤦😁✌️
2024-02-28
0
Naftali Hanania
wahahaha...baca obrolan nya seru...rio bener² anak cerdas yg begitu sifat & kelakuan nya krn keadaan yg dia alamin gak biasa...👍✌️
2024-02-28
0