Penyidik dari Kantor Pusat mulai menjalankan aksinya. Mereka menanyai satu persatu ART di rumah Pak Banyu. Ada kabar kalau Ikhsan Pramudi dan ayahnya Kinto Pramudi memang sedang di Bandara dalam rangka proses pendaftaran Ikhsan ke Harvard. Alasannya karena waktu pendaftaran dengan waktu Ujian Semester berdampingan, jadi Ikhsan diperbolehkan mengambil remedial setelah sepulangnya dari sana dengan pertimbangan dirinya adalah siswa berprestasi selama ini. Hal yang sama juga dialami oleh Anggun.
Tapi setelah kesaksian Anggun, dan pihak Kepolisian Kantor Pusat mengkonfirmasi kebenarannya ke Harvard... ternyata ketahuan deadline final pendaftaran adalah di tanggal 1 Januari, sebulan yang lalu. Dan diketahui juga kalau dilihat dari segi pendaftaran, TOEFL milik Ikhsan sudah tidak berlaku.
Jadi untuk apa sebenarnya mereka ke Amerika?
“Kinto dan Ikhsan Pramudi memiliki US Greencard, mereka punya rumah di LA. Besar kemungkinan Kinto sudah tahu hal yang dilakukan anaknya,”
(Green Card adalah status keimigrasian yang mengizinkan pemilik kartu untuk hidup secara permanen dan bekerja komersil secara legal di Amerika Serikat).
“Jadi setelah mereka menginjakkan kaki di Amerika, pemerintah Amerika tidak dapat mendeportasi mereka ke negara asal. Mereka bisa tinggal dengan aman di sana,”
“Tim kami sudah menyebarkan data ke petugas imigrasi Bandara untuk identitas Ikhsan Pramudi, yang lain dalam perjalanan ke sana,” kata salah satu petugas.
Di tengah kekacauan itu, Rio hanya berdiri sambil mengamati semuanya. Dari sini tugasnya sudah selesai. Berkas sudah diserahkan ke kantor pusat, Anggun sudah berbicara, Iptu Rayhan sedang mondar-mandir, dan Pak Rendi sudah mengabari kalau ia tiba di sekolah tepat waktu.
“Anuuu, Mas?” salah seorang ART menghampiri Rio dengan wajah tampak khawatir. “Dari kemarin Non Anggun belum makan, apa perlu dibawakan dari dapur?”
Para ART masih dicurigai ada keterlibatan dengan tersangka Karyo dan May, jadi Rio hanya bilang, “Tak perlu, Bu. Nanti saya yang akan belikan. Ibu jalani saja proses investigasi dengan sungguh-sungguh. Kesaksian dari rekan-rekan ART di sini sangat diperlukan untuk kepentingan penyelidikan,” kata Rio dengan lembut.
Salah seorang ART muda di belakang Ibu itu agak mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Mas ini... Rio Tyaga kan ya? Ketua begal itu?’”
“Njir,” gumam Rio langsung sebal.
“Masnya terkenal banget loh di kampung saya, waktu itu ada tawuran antar begal, katanya Masnya paling depan dan menang!”
“Ehem!” Rio berdehem agak kesal, beberapa polisi yang mendengar terkekeh mendengar penuturan si ART Muda. “Saya ini Buuuukaaaan begal, woy. Bedain dong antara geng motor sama begal! Kami ini hanya memanfaat fasilitas umum yang lagi sepi untuk balapan motor karena nggak mampu bayar sirkuit. Sementara Begal tugasnya merampok harta seseorang di jalanan. Jelas ya sampai sini?!”
“Bukannya geng motor itu balapan memang untuk melatih kecepatan motor saat melakukan pembegalan ya Mas?” desis ART Muda.
“Serah lu dah,” gumam Rio sambil mengibaskan tangannya dan pergi dari sana untuk membeli makanan. Tak lupa dia menadahkan tangan ke arah IPTU Rayhan untuk minta ditraktir.
“Pake kas kantor kan? Untuk kepentingan penyelidikan loh iniiii,” kata Rio.
“Bisa ae lo...” gerutu Iptu Rayhan sambil merogoh dompetnya. Ini bisa jadi rekor untuk Rio, dia sampai bisa malak Polisi, level pemalakannya sudah bukan ke anak sekolah lagi.
**
Perjalanan pulang dari restoran tidak semulus yang dibayangkan Rio.
Jelas tidak.
Rio menyusuri perjalanan keluar dari restoran untuk menunggu ojek online yang sudah dipesannya di seberang jalan, daripada ojeknya harus memutari jalanan lagi. Di tangan kirinya ia menenteng tas kain yang isinya makanan untuk Anggun yang ia beli di Starbucks sudah pasti. Mana mau Anggun makan nasi padang pinggir jalan 20ribuan? Sementara di tangan kanannya Rio mengernyit melihat nota pembayaran.
Dalam hatinya ia membatin, kalau seandainya ia pacaran sama Anggun, berapa yang harus dikeluarkannya untuk traktir cewek itu saat mereka berkencan?
“Bawa bekal aja kali ya kalo pacaran?” gumamnya kebingungan. Nota di tangannya menunjukkan angka hampir 250ribu dengan hanya 2 jenis makanan dan 2 jenis minuman yang menurut Rio rasanya terlalu manis.
Di seberang jalan, si tukang ojek menatapnya. Rio mengangkat tangannya menyuruhnya untuk menunggunya menyebrang jalan.
Tapi si tukang ojek tiba-tiba menunjuk ke arah belakangnya.
Spontan, rio menoleh ke belakang dan-
DUAGG!!
Sebatang besi menghantam pelipisnya.
Rio terjatuh di aspal tak berdaya.
Dalam keadaan sangat pusing, berusaha menyeimbangkan posisi tubuhnya. Namun gagal, ia kembali terjatuh ke tanah.
Pandangan matanya langsung buram dan pendengarannya sekan tak berfungsi.
Rio merasakan ada tangan yang menjambak rambutnya.
Lalu disertai hantaman di perut. Kencang sekali.
Lalu tendangan di kepalanya.
Berkali-kali.
Rio meringkuk melindungi tubuhnya, namun hantaman-hantaman itu selalu ada.
Tampaknya hal ini tidak berasal dari satu orang tapi beberapa orang. Dan tendangan tanpa ragu yang tepat sasaran semacam ini bisa berasal dari seseorang yang terbiasa dengan perkelahian.
Hebatnya, di saat seperti itu ia masih mampu berpikir.
Bukannya menjadi lemah, tendangan itu malah membuatnya marah.
Rasa sakit yang diterimanya berubah menjadi energi. Energi untuk membalas.
Rio mencengkeram kain celana di kaki yang menghantam tubuhnya, ia tarik!
Dan saat orang itu terjatuh ke dekatnya, ia colok matanya dengan jari tengahnya.
Orang itu langsung berteriak kesakitan.
Itu menjadi kesempatan Rio untuk berusaha berdiri saat yang lain kalang kabut.
Salah seorang menyerang Rio, cowok itu menunduk dan berbalik arah lalu menyikut ulu hati penyerangnya dengan sikutnya. Berikutnya ia puntir tangan si penyerang. Saking kencangnya puntiran itu, terdengar bunyi ‘krakk’ dari anggota tubuh pria misterius.
Si penyerang berteriak kesakitan. Kesempatan bagi Rio untuk melumpuhkan yang lainnya.
Beruntung, banyak orang yang berlari ke arahnya dari arah toko. Ada sekuriti pertokoan juga yang meneriaki orang-orang misterius yang tadi menyerang Rio.
Rio hanya bisa berdiri sambil terengah-engah, sementara masyarakat mengejari para pria misterius yang berlarian. Beberapa menahan para penyerang yang pingsan dan yang masih menggelepar di aspal, berteriak-teriak sambil memegangi matanya.
Dengan darah masih menetes dari pelipisnya, membasahi kemejanya yang putih. Rio duduk di aspal sambil menengadahkan kepalanya untuk menghentikan pendarahan di hidungnya.
Lalu ia pun memeriksa ponsel dikantongnya.
Remuk... tidak bisa menyala.
Rio menarik nafas dan menghembuskannya. “Ujian apa lagi ini sih Ya Allah, kenaikan tingkat atau bagaimana? Berat amat kayaknya, Heheheh,” kekehnya menertawakan hidupnya.
**
“Ya ampun ni bocah...” desis Iptu Rayhan sambil berkacak pinggang saat menemui Rio di IGD. Lagi-lagi Dokter Indra yang menanganinya.
Rio menyeringai sambil mengangkat tangannya, wajahnya babak beluk kayak petinju lagi K.O. Setengah matanya tertutup karena bengkak, dan lagi-lagi luka di pinggangnya terbuka.
“Kok masih bisa ketawa sih?” gumam Iptu Rayhan.
“Analgesik, Pak,” bisik Dokter Indra.
“Doooooook!” geram Iptu Rayhan. Karena Dokter Indra seharusnya tahu dalam dua minggu ke depan Rio harus bebas narkoba untuk menjalani penyelidikan lanjutan, dalam hal ini kesaksiannya akan dianggap lemah saat berada di bawah pengaruh mor fin.
“Nanti ada surat keterangan dari RS. Kondisinya parah waktu dia ditendangi tepat di luka yang belum tertutup. Operasi yak?” Dokter Indra memberi aba-aba ke para suster yang berada di sekitar mereka.
“Operasi dok?!” seru Iptu Rayhan dan Rio berbarengan.
“Iya, laser lah dikit. Kalo Rio sih nggak sakit koook,”
“Saya nggak punya biaya Dok!” seru Rio panik
“Lagi-lagi dibebankan ke gaji saya bulan depan, kalau kamu udah sukses jangan lupa nyicil,” kata Dokter Indra sambil mendorong ranjang Rio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Kelabu Biru
emang masih ada Dr yg begini di zaman sekarang
2024-10-10
0
efvi ulyaniek
untung dokter indra baik...
2024-05-30
0
Naftali Hanania
ya ALLOH...baik bgt itu dokter....😱😱😱❤️❤️
2024-02-29
0