“Terlihat jelas ya dari ciri-cirinya. Juga dari kepalanya yang lunglai, terindikasi kalau Anggun dalam keadaan tidak sadar, lalu dibopong memasuki pagar Apartemen. Lokasi di bagian barat gedung apartemen yakni di bagian bongkar muat barang, di luar pagar gedung. Jadi tidak memasuki area apartemen. Mobil yang sama sudah berada di RUPBASAN Polda Metro Jaya, untuk penyelidikan lebih lanjut. Di sana juga sudah ditemukan DNA dari Anggun dan masing-masing tersangka,” kata Iptu Rayhan memberikan penjelasan.
“Walau pun pihak korban mencabut pengaduannya, tapi polisi harus tetap melakukan pemeriksaan perkara untuk selanjutnya dilimpahkan kepada jaksa penuntut umum. Karena delik biasa dengan penganiayaan berat tidak dapat dilakukan pencabutan pengaduan. Yang bisa di koordinasikan adalah masa hukuman bagi tersangkanya,” kata Iptu Rayhan.
“Kami sebagai Tim kuasa hukum Ikhsan Pramudi akan meminta polisi untuk memberlakukan restorative justice dalam penanganan kasus penganiayaan yang melibatkan klien kami.” Kata Pengacara Ikhsan.
“Apabila sudah mencapai kata sepakat untuk tidak melanjutkan perkara ini ke jenjang yang lebih jauh, pada dasarnya restorative justice itu tidak boleh menghilangkan hukuman terhadap pelaku dan pemulihan untuk korban,” Kata Iptu Rayhan.
“Kami mengerti prosedurnya,” kata Pengacara Ikhsan dengan sombong.
“Saya yakin Anda mengerti, tapi saya menjelaskan dengan cara awam ke Ikhsan dan Pak Kinto.” Iptu Rayhan melirik ke arah lima orang Pengacara yang dari tadi mesem-mesem di belakang Anggun.
Mereka adalah pengacara yang terkenal sangat mahal dan pekerjaannya tidak perlu diragukan. Keberhasilan mereka membela kliennya sepanjang karier mereka mencapai 97%. Kabarnya biaya 1 pengacara ini bisa mencapai 1 miliar per orang, itu untuk pemanggilannya saja, belum masa pengadilan. Kalau mereka memenangkan perkara, biayanya lebih mahal lagi.
Mereka memang terkesan tidak bekerja dari tadi hanya ada di belakang Anggun. Bernegosiasi pun Anggun yang maju.
Karena, hal itu memang keinginan Anggun sendiri. Para pengacara ternama yang ada di belakangnya, fungsinya untuk menggertak pihak lawan. Terutama Pak Kinto yang dari awal bersikap ofensif. Sikapnya itu timbul karena sudah jiper duluan melihat jajaran pengacara di belakang Anggun.
Dari awal, Pak Kinto sudah tahu, dia sudah kalah telak.
Anaknya, Ikhsan, bisa jadi akan didakwa dengan pasal berlapis. Itu atas Anggun, belum atas Rio.
Diserang dari mana pun, ia akan tetap kalah.
Saat ini, Pak Kinto dan Anggun sama-sama mengerti, penawaran dari Anggun mengenai jalan kekeluargaan sudah sangat bagus.
Yang membuat Pak Kinto bertanya-tanya... kenapa Anggun menawarkan pencabutan pengaduan? Padahal Anggun sudah sangat trauma dan keadaannya sangat parah.
Semalaman Anggun sudah memikirkan hal ini.
Ia menghitung...
Menang atau kalah, ia sudah kehilangan sesuatu yang berharga. Tapi, ia lalu menatap Rio yang berada di depannya.
Tersenyum padanya sambil belajar untuk ujian besok siang.
Anggun sudah kehilangan sesuatu yang berharga, juga rasa traumatis mendalam. Tapi sebagai gantinya ia mendapatkan sesuatu yang berharga, dan rasa cinta yang lama terpendam bisa tersalurkan.
Lalu, walau pun ia memenangkan kasus dan Ikhsan dipenjara, ayahnya tidak akan bisa lagi bekerja di perusahaan lama. Tidak mungkin ayahnya akan merelakan Pak Kinto jadi atasannya.
Jadi, saat ini, saat mereka duduk bersama...
Inilah yang Anggun ajukan.
Ganti rugi.
Semua masalah uang dan kredibilitas.
“Usia Pak Kinto 55 tahun, masa pensiun 3 tahun lagi. Usia ayah saya 45 tahun, masa pensiun 13 tahun lagi. Gaji ayah saya ditambah tunjangan jabatan 150juta per bulan, ditambah kemungkinan bonus pencapaian, total 250juta per bulan, dikali 480 bulan atau 16 tahun. Itulah ganti rugi yang kami ajukan,”
“120 miliar? Kamu gila?! Itu sama saja kami dimiskinkan!!” seru Pak Kinto sambil berdiri dan menghardik Anggun.
“Kami akan tutup mulut mengenai hal yang akan terjadi, perusahaan Anda tidak bangkrut, Ikhsan dapat melenggang bebas setelah ini.” Desis Anggun.
Saat Anggun mengajukan penawaran, Rio membaca detail pengaduan.
Di dalam dokumen itu terpapar hasil visum, tercantum kronologi yang sangat detail, yang Rio tadinya tidak tahu.
Kemudian, ia mengingat-ingat saat Anggun memeluknya dalam keadaan tanpa busana, ia tidak melihat luka, kemungkinan tertutupi rambut Anggun. Lagi pula, ia tidak berusaha untuk mencuri-curi pandang karena pikirannya tidak terselimutkan nafsu.
Kini, saat ia membaca dokumen itu, ternyata bukan hanya sekedar rudapaksa. Sebelum Rio datang, Anggun sudah mengalami banyak hal. Selama dua jam sebelum Rio datang.
Beberapa saat kemudian, tangannya gemetar.
Dadany aterasa sesak.
“Pak Iptu...?” desis Rio dengan suara serak karena menahan amarah.
“Hm?”
“Pak Banyu sudah baca ini?”
“Sudah,”
“Apa reaksinya?”
‘”Kamu lihat dia di sini?”
Rio melayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada keberadaan Pak Banyu di sana. “Tidak,” jawab Rio.
“Ya... dia sedang diamankan di ruang sebelah, karena mencoba menembak Ikhsan,”
Rio mengangguk, “Wajar.” desis Rio.
“Tahan Rio, Hargai Anggun yang sedang mencoba kuat. Kalau kamu juga emosi, kasihan dia.” kata Iptu Rayhan.
Rio menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
Ia menunduk, ia enggan melihat wajah Ikhsan.
Rasanya ia tak tahan untuk tidak memuntir kepala si Ketos sekarang juga. Jadi jalan satu-satunya adalah mengalihkan pandangannya.
**
SMA Bhakti Putra
Pukul 13.00.
“Yo!! Rio!!” seru teman-teman Rio sambil berlarian menghampirinya. “Akhirnya lo masuk juga Yooo!”
“Gile sampe dua hari lo nggak nongol!”
“Gimana lo katanya bonyok digebukin preman?!”
“Ceritanya kayak apa sih? Lo gangguin teritori katanya ya?!”
“Musim ujian cari masalah aja sih lo! Dah motor ilang, ditangkep pulis, sekarang tawuran warga, yang bener sekali-kali ngapa sih lo?!”
“Sok banget lu ngomong udah macam ustad,” kekeh Rio sambil berpura-pura menonjok pipi temannya. “Yang jelas, gue masih selamat, terserahlah apa anggapan lu pada, gue males bahasnye!” seru Rio.
Sambil berjalan ke arah kantin untuk sebat dan ngopi, mereka mengobrol ngalor-ngidul mengenai kondisi dan situasi saat ini.
“Kemarin kelas dua ada yang kejaring pulis gara-gara tawuran,” desis salah satu teman Rio.
“Biar aje, ntar juga tau ngakalinnya. Kagak usah dibelain,” gumam Rio sambil menghisap rokoknya.
“Gue pingin gabung tapi gue inget kalo masuk sini tuh ternyata mahal ya, masa gue gagal ujian gara-gara tawuran, hehe,”
“Lu baru kerasa ye? Gue udah sejak bokap gue meninggal,” desis Rio.
“Ya tapi lu jadinya pelampiasan pake balap motor,”
“Sekarang kagak bisa lagi, motor gue raib,” keluhr Rio.
“Orang kayak lo, paling malakin ojol buat lu pake balapan motornya!”
“Elah! Itu mah sama aja gue cari mati! Masa Supra gue lawan pake Mio?! Baru setengah jalan udah lepas itu roda!”
Dan mereka cengengesan.
“Dahlah gue mundur tawuran, faktor U,” desis Rio sambil mengibaskan tangannya. “Lagian nggak guna juga!”
“Mati konyol. Ortu sedih,”
“Lo ngomong gitu, minggu lalu lo lari paling depan, bengooos!” gumam Rio.
“Emosi gue yo, Emosiiiii!” ucap temannya sambil menekan-nekan dadanya.
“Eh, lu tahu gosip paling baru nggak?” tanya salah satunya sambil mengambil rokok Rio sebatang.
“Ngapain sih kita nge-gosip? Kita nih udah masanya diskusi mikirin mau dibawa kemana nih negara! Bukan gibahin orang!” sahut Rio.
“Eh, tapi ini seru iniiii, tentang Anggun!”
Rio langsung membeku.
“Lah, gue juga barusan denger dari kelas lain, tapi gapapa lo cerita aja dulu, kita samain beritanya!” kata teman yang lain.
“Jadi gini,” Si teman merendahkan suaranya sambil mencondongkan tubuhnya. Sementara Rio dengan perasaan was-was tetap duduk bersandar di tempatnya semula dalam diam. “Tadi pagi katanya pulis ke sini buat nanya-nanya ke temen se-genknya si Anggun. Nah infonya dari mereka nih. Katanya Anggun lama nggak sekolah bukannya sakit, tapi...”
“Tapi?”
“Kawin lari sama Ketos! Makanya Ikhsan nggak masuk kan dari kemarin?! Lu ngerasa nggak?! Pas Anggun izin, Ikhsannya juga gak masuk! Alasan mau daftar Harvard ke USA! Padahal pendaftaran terakhir Februari kemarin!”
Rio mencibir mendengarnya.
Entah kenapa, dadanya langsung bergemuruh mendengar kata ‘Anggun kawin lari sama Ketos’.
Seperti panas dan terbakar.
Di lain pihak ia bersyukur karena kondisi Anggun yang sebenarnya tidak terungkap.
Ya mungkin masih lebih baik dari pada aib Anggun tersebar.
Tapi kenapa rasanya mau marah banget ya?! Pikir Rio sambil memukul-mukul meja dengan kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
kalea rizuky
2 jam sebelum Rio dteng anggun uda di apain aja thor
2024-10-20
0
efvi ulyaniek
laki bgt si rio..jaga bgt aib orang
2024-05-30
0
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
Rio walau sebenarnya brandal tapi baik jiwanya, gak mau nyebar aib anggun
2023-10-13
2