“Rio, jangan sering-sering luka yaaaa,” desis Dokter Indra saat ia memperbaiki jahitan di pinggang Rio.
“Nggak pakai laser aja sih dok,” keluh Rio.
“Mahal, Rio. Kamu kan nggak dicover BPJS. Ini dikategorikan luka tawuran. Menurut Permenkes BPJS Kesehatan tidak menjamin pelayanan kesehatan korban begal, tawuran, hingga kekerasan seksual,”
“Itu kan pinter-pinternya laporan dari RS aja kali dok,”
Dokter Indra melirik Rio sekilas, lalu menggelengkan kepala. “Hal seperti itu sering kali melibatkan kepolisian, kalau dari kami administrasinya tidak jujur, kami akan dituntut karena dianggap mengganggu proses penyelidikan.”
“Di-scan aja dok otaknya, jangan-jangan udah jadi bubur sum-sum kita nggak tahu, habis tingkahnya begajulan,” gumam Iptu Rayhan sambil terkekeh.
“Bisa jadi, Pak. Biasanya orang dengan gangguan otak sensitif cahaya, relate sama tingkahnya yang kalau malam ‘aktif’ kalo siang tidur di kantin,”
Iptu Rayhan dan Dokter Indra tertawa berbarengan.
“Kalong dong gue,” gerutu Rio pelan.
“Sudah, untuk perawatan kali ini ditanggung saya saja. Depositnya Rio sudah habis soalnya,” kata Dokter Indra
“Sudah habis, dok?!”
“Sudah, Riooo,” desis Dokter Indra, “Kalau selanjutnya kamu luka lagi, saya sarankan ke puskesmas saja tidak usah ke rumah sakit,”
Rio menghela nafas. Bahkan uang yang Ayahnya jadikan deposit untuk biaya perawatan Rio sewaktu-waktu terjadi hal khusus, sudah habis juga.
Dia benar-benar sudah tidak punya apa-apa.
Sikap Rio yang tiba-tiba diam dan kalem malah membuat Dokter Indra dan Iptu Rayhan tak enak hati. Ya tidak biasanya Rio bersikap begitu.
“Rio,” tegur Iptu Rayhan. Rio mengangkat wajahnya, “Sabar ya, kalau kelakuan kamu baik, saya bantu carikan pekerjaan,”
Lagi-lagi Rio hanya diam sambil mengamati Dokter Indra membebat lukanya dengan perban.
“Pak Iptu...” desis Rio.
“Apa?” Iptu Rayhan masih serius mengamati dokter indra melakukan perawatan.
“Kok Bapak jadi lengket sama saya sih?”
“Hm... takut kamu hilang lagi, susah ditangkep sih,”
“Dih, saya buron nih ceritanya? Berasa punya bodyguard pribadi deh,”
“Sebaliknya dong Rio, kamu terlalu positif thinking. Kamu itu tawanan saya, kan saya bilang kamu dalam pengawasan polisi,”
Rio hanya mencibir menanggapi Iptu Rayhan. “Kayaknya polisi nggak ada kerjaan ya sampai harus ngawal saya secara pribadi,”
”Hush! Udah diam, berisik...”
**
Malam itu Rio menatap barang-barang di rumah kontrakannya. Ia hanya berdiri di tengah ruangan sambil berkacak pinggang. Rata-rata adalah barang-barang memorabilia. Semua barang berharga sudah disita KPK.
Map di atas meja adalah data kepolisian atas kasus ayahnya.
Karena tidak menemukan benda berharga yang bisa dijual, jadi Rio menyibukkan dirinya untuk membaca-baca berkas ayahnya. Siapa tahu ia bisa menarik pelajaran dari sana. Anggap saja membaca novel kriminal dengan objeknya adalah ayahnya.
Memang miris ayahnya dijadikan bahan pembelajaran anaknya sendiri. Tapi untuk saat ini tak ada yang bisa ia lakukan.
Setelah sekitar dua jam ia membolak-balik berkas, Rio baru mengerti duduk masalahnya.
Ayahnya masuk ke dalam sindikat penjualan tanah illegal. Karena memang kedudukannya sebagai salah satu pejabat di Badan Pertanahan, jadi ia bisa tahu lokasi mana saja yang bisa dijadikan uang, dan mengurus seakan-akan jual-belinya legal.
Kali ini ayahnya salah sasaran, ia bermain dengan konglomerat lama yang jam terbangnya sudah masuk ke area ‘belakang’. Dan sialnya, sebenarnya yang bermain di belakangnya adalah orang lain. Ayah Rio hanya ikut-ikutan. Makanya jumlah dana yang ia gelapkan tidak begitu besar hanya sekitar 700jutaan.
Tapi dampaknya sangat besar ke diri Rio. Seandainya ayahnya tidak bunuh diri, Rio kan jadi bisa berkeluh kesah dan meminta doa darinya. Atau paling tidak nasihat agar bisa mencari pekerjaan.
Memiliki keluarga jauh lebih bisa memberinya semangat hidup dibanding sendirian.
Lalu... Rio teringat akan Anggun.
Reflek ia menatap ke arah pinggangnya.
Rio jenis yang kurang suka hubungan fisik terlalu lama. Kalau dengan sesama laki-laki, disentuh sedikit saja ia langsung emosi, maunya ngajak ribut. Berjabat tangan pun hanya beberapa detik, risih rasanya.
Kalau dengan wanita pun ia berusaha tidak terlalu lama. Ia anak nakal, tentu untuk pelampiasan ia kerap berhubungan dengan wanita sewaan. Sering kali sih gratis karena si wanitanya ketagihan duluan. Itu pun ia menghindari ciuman, pelukan, dan hal-hal intens macam itu, sudah tentu pengamannya dobel. Pokoknya asal keluar, tinggal.
Tapi dengan Anggun... ia bahkan tidak ingin pergi.
Walau pun pinggangnya terasa nyeri, bahkan ia sampai lemas karena darahnya menetes terus. Tapi pikirannya fokus ke Anggun.
Melihat Anggun yang mengiba padanya, memintanya untuk jangan pergi... sama seperti dirinya 10 tahun lalu, menangis meminta ibunya jangan pergi. Pergi ke akhirat.
Tubuh terbujur kaku dengan mulut berbusa, orang lain bilang baunya sudah sangat busuk, tapi panca indera Rio seakan tak berfungsi. Ia peluk tubuh ibunya sekuat tenaga ia guncang-guncang. Ibunya yang dalam kondisi apa pun tetap ia sayang, walau pun tidak bisa mengurusnya, tapi senyuman dan usapan ibu di keningnya sudah membuatnya sangat senang.
Jangan pergi, ibu...
Jangan pergi, Rio...
“Kenapa sih orang-orang sukanya bikin gue nangis?” keluhnya sambil menyulut rokoknya dan duduk di lantai bersandar ke dinding.
Bibirnya tersungging senyum sinis, tangan dengan rokok di sela jemarinya menutupi kedua matanya. Tapi... air mata turun ke pipinya.
Air mata lelah.
**
Sekitar tengah malam, ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Rio belum tidur saat itu, ia sedang membereskan barang-barangnya untuk dipilih-pilih ke pengepul sampah besok, biar dapat uang tambahan buat makan sehari-hari.
Bisa saja sih ia palak-palakin anak-anak orang kaya, kebiasaannya saat ayahnya masih hidup. Uangnya dia habiskan untuk mabok dan taruhan balap liar. Tapi kalau ia lakukan hal itu saat ini, itu bisa jadi tiket untuk dikeluarkan dari sekolah lebih cepat.
“Halo?” sapa Rio.
“Ini dengan Rio ya?” suara laki-laki. Sepertinya ia kenal suara ini.
“Siapa ya?”
“Saya Banyu, bapaknya Anggun. Rio-“
Suara itu terdiam karena terpotong teriakan di belakangnya.
Suara Anggun yang histeris.
“Rio, bisa ke sini sekarang tidak? Kalau berkenan loh,”
“Eh, iya Om, bisa... tapi agak lama ya Om, soalnya jam segini angkutan umum jarang lewat,”
“Nggak bisa pakai kendaraan saja?”
“Motor saya kemarin disita polisi, saya nggak punya uang untuk pesen ojek online Om,”
“Nomor kamu yang ini terhubungke aplikasi ojek online tidak?”
“Iya Om,”
“Om isiin saldo ya, kamu segera pesan ojek online. Kalau Om jemput kamu bisa-bisa kelamaan. Anggun dari tadi mandi di shower, katanya badannya kotor banget. Sudah tiga jam dia mandi, akhirnya kami harus menggeretnya paksa, tapi dia malah histeris.”
**
“Rio!! Rio!!” Anggun langsung berlari, sampai melupakan handuknya yang jatuh ke lantai dan langsung menghambur ke pelukan Rio yang baru saja menginjakkan kaki melewati pintu depan.
“Kenapa kamu pergi?! Aku bangun kamu udah nggak ada! Kamu jahat Rio!!” seru Anggun sambil menangis meraung-raung.
Dengan keadaan seberisik itu bagaimana bisa ia utarakan alasannya kenapa ia pergi? Sudah pasti tak ada yang akan mendengar. Jadi dia hanya bisa pasrah lagi-lagi pinggangnya harus ditekan sampai nyerinya naik ke ubun-ubun.
Rio melihat sekelilingnya, para ART rumah itu berkumpul dalam keadaan letih, kondisi rumah itu berantakan. Sepertinya Anggun baru saja mengamuk.
Tubuh telan jang Anggun masih basah, merembes ke pakaian Rio. Lantai marmer di depannya juga penuh air.
Kacau.
“Hey, Ratu Es... nggak boleh gini dong. Kasihan tuh ayah lo...” desis Rio sambil mengelus rambut Anggun yang masih lembab.
“Kamu nggak ada tadi... lalu aku merasa sangat kotor. Seperti badanku bau got dan penuh lumpur! Aku bahkan bisa mencium bau alkohol dan asap rokok di badanku!”
“Itu ingatan masa lalu lo,”
Belum sampai Rio menyelesaikan kalimatnya, Anggun menjauh sambil mengernyit, “Kamu bau rokok,”
“Iya barusan ngerokok di rumah,”
Lalu Anggun mencondongkan tubuhnya sambil mengendus badan Rio. “Tapi baunya beda sama mereka,”
“Punya mereka kan lintingan, dicampur serbuk haram pula. Ya jelas beda baunya.”
“Bau kamu lebih enak...” Anggun kembali memeluk Rio sambil menempelkan hidungnya di leher Rio.
“Bau keringat dibilang enak, ngaco lu ah,” Rio sedikit mendorong Anggun karena tatapan Pak Banyu sudah sangat tajam padanya. Anak perempuannya memperlihatkan kontak fisik yang sangat vul gar di depan matanya sendiri, jelas saja suasana menjadi sangat jengah.
“Wangi,” gumam Anggun sambil bergelayut sangat erat di tubuh Rio.
“Pake baju dulu, ntar masuk angin.” Rio akhirnya menggendong tubuh Anggun dan masuk ke kamar gadis itu sambil meminta Pak Banyu menemaninya untuk menghilangkan kesalah-pahaman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Lenni Namora
/Whimper/
2024-12-07
0
Naftali Hanania
super² kasian sama anggun....😭
2024-02-28
0
Naftali Hanania
ya Alloh melas timen yo..😭🤧
2024-02-28
0