“Kebetulan yang sangat mengerikan...” gumam IPTU Rayhan. Ia baru saja mendengarkan keterangan dari Bang Rasno, Rio, dan para anak buah Bang Rasno.
“Saya juga nggak percaya dengan ‘kebetulan’,” kata Rio.
“Iyaaa iya, takdir deh. Coba kamu nggak maling motor, nggak bakal kamu-“
“Bukan saya malingnya Pak Iptuuuu saya ini korban penipuaaan, Hih!!” seru Rio kesal. “Nih! Nih! Tanya nih mereka-mereka nih! Bang Rasno janji kan mau kasih tahu dimana si Juhari?!”
“Saya nggak tahu di mana si Juhari,” jawab Bang Rasno cepat.
“Hah?”
“Iya, nggak tahu,”
Suasana hening.
“Gue gibeng lo!!” seru Rio sambil berdiri dan hendak memukul Bang Rasno. Tapi gerakannya keburu dicegah Iptu Rayhan.
Bang Rasno melirik sekilas ke arah Rio lalu buang muka. Saat itu Rio menyadari kalau tidak mungkin Bang Rasno memberitahu dimana lokasi Juhari, karena jelas-jelas Juhari adalah warganya. Menyerahkan si maling motor sama saja mengundang polisi untuk ‘ngubek-ngubek’ Kampung Indah tercintanya.
Rio pun duduk kembali di sofa sambil ngedumel. Saat itu Iptu Rayhan mengernyit menatapnya, “Kamu luka?”
“He?” Rio mengangkat alisnya, “Kenapa Pak?”
“Darah ngucur ke lantai,” Iptu Rayhan menunjuk lantai di bawah Rio.
“Oh... ini tadi kena tembak di-“
“Gila kamu!! Sana ke Rumah Sakit!!” seru Iptu Rayhan sambil menyuruh anak buahnya mengangkut Rio ke rumah sakit.
“Pokoknya gue nggak maling!! Cepet lo kasih tau di mana motor lama gue!!” seru Rio dari kejauhan ke Bang Rasno.
Bang Rasno hanya bisa berdehem untuk mengatasi kegugupannya.
**
Dua hari berikutnya Rio pikir semua berjalan dengan baik-baik saja. Yah, tidak semua berjalan lancar. Contohnya PTS kali ini terasa berbayang di pikiran Rio. Jujur saja ia sudah skeptis duluan dirinya akan berkuliah di masa mendatang. Dan untungnya ia sudah tidak memiliki orang tua. Jadi hasil yang akan keluar nanti akan ditunjukkan ke... ibu-ibu dari Dinas Sosial yang entahlah siapa namanya. Pokoknya si ibu itu super sibuk mondar-mandir sampai sepertinya bagus atau tidaknya nilai Rio tidak terlalu berpengaruh.
Alm. Ayahnya adalah terduga kasus korupsi ratusan juta, sudah pasti dimiskinkan oleh negara. Yang tak bisa diutak-atik negara hanyalah deposit sekolah Rio sampai ia lulus. Karena dengan pertimbangan dari pengadilan, pendidikan adalah hak Rio sebagai pelajar. Jadi setelah lulus dari sekolah ini, yang harus dilakukan Rio adalah... bekerja tentunya.
Sekarang, Rio bahkan sudah tidak memiliki motornya, yang dibawa lari oleh Juhari. Rumahnya hanya berbentuk kontrakan satu pintu yang sebenarnya adalah sebuah Mess milik Dinsos, Rio tinggal sendirian. Untuk hidup sehari-harinya dapat subsidi dari dinas sosial, sampai Rio lulus sekolah.
Untuk itu, Rio berpikir, bagus atau tidak nilainya, toh ia harus keluar dari sekolah. Ujung-ujungnya sama saja. Walau pun ia menjelma jadi seperti Anggun, berbakat dan berprestasi, toh yang namanya beasiswa PTN pasti juga harus keluar dana untuk hidupnya sehari-hari. Boro-boro mempertahankan nilai, untuk memenuhi perutnya saja sudah jungkir balik.
Selesai ujian, Kepala Sekolah memanggil Rio.
Dalam hatinya... apa lagi sih? Perasaan semua urusan udah selesai.
Lalu ia teringat orang-orang yang ia gorok saat kasus diculiknya Anggun.
Matikah mereka?
Kalau iya... fixed harus cari pekerjaan secepat mungkin. Sampai ia dikeluarkan dengan tidak terhormat, berakhir lebih cepat pula subsidinya. Atau bisa jadi tak perlu lagi cari pekerjaan karena disuruh menginap di Rutan. Walau pun dalam hal ini posisi Rio membela diri dalam rangka menyelamatkan seseorang.
“Kenapa lagi lu Yo?” tanya salah satu temannya sambil cengengesan.
“Kayaknya... gue baru aja bunuh orang deh,” Rio menelan ludahnya.
“Kapan? Siapa?!”
Namun Rio tetap diam. Teman-temannya tidak harus tahu dengan siapa dia terlibat. Lagi pula apa untungnya ngumbar-umbar masalah orang lain? Hanya akan jadi bahan tertawaan.
“Dahlah gue temuin aja. Kalau gue nggak balik, jadi gue dikeluarin dari sekolah,”
“Elaaah gitu aje baper. Emang harusnya dah dari dulu kali lo dikeluarin! Kasihan aja Pak Rendi sama lo!” ejek teman-temannya
“Bilang aja lo mau ngerebut kursi kaisar gue, ya kan?!” sahut Rio sambil mengeplak kepalanya temannya. “Nggak ada gue, lo semua dah jadi bubur diserang Zwanzig! Belom Boedoet ikut campur. Mam pus lo kanan kiri!”
“Sok Jawara lu, Boedoet nyerang tinggal kita koalisi sama Texas...” umpat temannya. Ya tapi itulah kenyataannya. Berkat Rio semua lawan kabur. Bahkan ada beberapa yang berakhir mengenaskan di rumah sakit.
(Faktanya, Dalam dunia tawuran di Jakarta, masing-masing sekolah memiliki julukan sendiri. Misalnya SMA 20 dikenal dengan nama Zwanzig, bahasa Jermannya 20, STM dan SMA Budi Utomo adalah Boedoet, dan SMAN 46 adalah Texas, singkatan dari Tentara Ekstrem Anti STM). Bagaimana dengan SMA Bhakti Putra? Hehe.
Sambil menduga-duga apa yang akan dihadapinya di ruang Kepala Sekolah, Rio berjalan dengan malas-malasan.
Sejenak ia menoleh ke arah samping, ada sedan mewah terparkir di dalam gerbang sekolah. “Njir, sadiss...” pujinya dalam hati. Sekaligus ia merasa aneh karena tidak biasanya ada tamu datang di tengah situasi ujian tengah semester seperti saat ini. Ya, karena satu-satunya yang diizinkan membawa mobil mewah hanya Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah, mobil guru-guru biasanya diparkir di luar gerbang, jadi sedan mewah yang ia tidak pernah lihat ini, terparkir di dalam gerbang, sudah pasti tamu penting.
Saat ia masuk ke dalam ruangan Kepala sekolah, di sana sudah ada... IPTU Rayhan dan seorang Pria yang tidak ia kenal.
Pak Rendi, Kepala sekolah SMA Bhakti Putra mempersilakan Rio masuk ke dalam dan duduk di pinggir meja kerjanya. Rautnya yang selalu tampak serius dengan postur bak model papan atas, membuat Rio serasa berada di dalam circle Runway.
“Yaaah, positif dah,” gumam Rio.
“Apanya yang positif, Rio?!” tanya Pak Rendi.
Rio menatap Iptu Rayhan, “Pasti kemarin ada yang mati ya Pak Iptu?”
Iptu Rayhan menaikkan alisnya, “Kok tahu?”
“Perlu bapak tahu saya dalam posisi membela diri,” kata Rio cepat.
“Kami tahu, kok. Saya hanya bercanda, Rio. Kedatangan kami ke sini bukan itu,” kata Iptu Rayhan.
“Rio, perkenalkan, ini ayah Anggun. Bapak Banyu Rejoprastowo. Ada yang ingin beliau bicarakan kepada kamu.”
Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Rio. Rio menyambutnya.
“Kamu penyelamat anak saya, terima kasih banyak!” kata Pak Banyu.
“Sama-sama Om...”
“Sampai saat ini Anggun belum bisa datang ke sekolah karena rasa traumatisnya masih belum stabil. Kami sudah membawanya ke psikiater, dan diagnosanya dia terkena Panic Attack saat berdekatan dengan orang lain,” kata Pak Banyu.
“Tapi kami butuh tahu siapa orang di balik semua ini. Anggun belum dapat berbicara kepada kami,” kata Iptu Rayhan.
“Ah, ya... saya mengerti kondisinya,” kata Rio.
Pak Banyu mendekati Rio sambil menggenggam kedua lengan Rio dan menatap matanya dengan serius. tersirat rasa khawatir yang besar sekaligus rasa sedih tak terkira yang terlihat di sana.
“Rio...” suara Pak Banyu terdengar bergetar, “Tolong... tolong anak saya. Tolong Anggun. Saya mohon tolong dia...”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ita Xiaomi
Macam nak peragaan busana😁.
2024-12-24
0
kalea rizuky
uda di perkosa belom anggun nya
2024-10-20
0
Nengsih Dilla
ternyata ngeri y geng anak SMA
2024-02-17
0