Rio menghembuskan nafas kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sementara Bang Rasno dan anak buahnya cengengesan di belakang Rio.
“Yang bener aja Juhariiiiii! Itu250cc lu jual cuman 6 juta?! Mau mati lo!!” seru Rio sekuat tenaganya.
Ya, keesokan paginya, Rio dapat kabar kalau Juhari ditemukan. Setelah berdiskusi dengan Anggun, tadi malam Rio menelpon Bang Rasno (Pakai hape baru dooooong!) dan bilang, kalau Bang Rasno tidak menyerahkan Juhari besok pagi, Iptu Rayhan akan meminta surat penggeledahan untuk barang terlarang di semua rumah Warga di Kampung Indah.
Secara Rio sudah akrab dengan Iptu Rayhan, jadi hal itu ia manfaatkan saja sebisa mungkin. Padahal dia hanya bawa-bawa nama Pak Iptu saja sih. Nggak mungkin lah dia bilang-bilang, dia bukan cepu. Bisa-bisa dituduh pengkhianat sama orang sekampung.
Dan jreng jreeeeeng! Memang Iptu Rayhan bawa hoki, pagi harinya Juhari sudah diserahkan ke Rio.
“Gue pas lagi sakaw Yo, Soriiiii!” Juhari sampai nyembah-nyembah ke Rio. “Gue butuh banget duit buat beli barang,”
“Mati aja lu sana!!” maki Rio sambil melepas sepatunya dan menimpuk kepala Juhari keras-keras. “Gara-gara lu gue hampir mati dicolek timah!! Nih pinggang gue, liat nggak perbannya setebel bedak cabe-cabean?! Hih! Gue bacok pake pisang goreng lu!!” seru Rio memaki sepuasnya.
“Yo, udah lah ampuni aja dulu. Kasih kesempatan warga buat patungan dulu beli motor baru buat lu dah,” kata Bang Rasno.
“Atau tungguin gue maling motor yang lain deh, motor lu udah keburu dibongkar soalnya Yo,“ Juhari memelas sambil memeluk kaki Rio.
Rio mencibir sambi berkacak pinggang.
Lalu ia melayangkan pandangan ke jalanan di depannya sambil berpikir mau dia apakan si Juhari ini.
Dan ia pun menatap parkiran di depannya.
Apartemen menjulang tinggi di depan mereka.
Apartemen nahas tempat Anggun disiksa.
“Bang Rasno, lu sempet ambil video pas mobil travelnya parkir dan ngeluarin Anggun nggak sih?” Rio bertanya dengan penasaran. Ini topik yang berbeda sih, tapi ia penasaran saja.
“Bukan gue, tapi Yanto dan Tri sempat tuh. Mereka pas itu lagi jaga parkiran sekitar sini. Kenapa?” kata Bang Rasno.
Tipikal warga sekitar, kejadian semacam itu memang biasa direkam, apalagi kalau mereka tahu yang berkegiatan adalah sindikat besar semacam assassin. Video itu biasa dikeluarkan saat polisi mewawancara warga sekitar, untuk ditukarkan dengan keringanan hukuman penyimpanan miras atau narkotika di rumah warga agar tidak diusut lebih jauh.
“Kasih videonya ke gue, gue bersedia mengampuni Juhari,” kata Rio.
**
Polres Metro Jakarta Pusat,
Kemayoran, Jakarta Pusat.
“Mengurangi masa tahanan dengan kompensasi?!” dengan mata membesar Pak Kinto menatap Anggun.
“Saya pikir itu yang paling sesuai,”
“Tapi kamu kan nggak mati, Jadi memang sudah sepantasnya masa tuntutan dikurangi,”
“Justru karena saya masih hidup, jadi saya bersedia berdamai. Jangan memutar-balikan kata-kata Pak, Kalau saya sudah mati, ayah saya pasti akan menuntut penuh. Seharusnya bapak berterima-kasih karena saya bersedia memberikan pengampunan.” Kata Anggun sambil menatap Ikhsan. Dari tadi cowok itu hanya diam di kursinya sambil menatap Anggun tajam.
“Semua ini kan terjadi karena kamu menolak cinta Ikhsan, Makanya jadi cewek jangan sok jual mahal! Kalau kalian pacaran kan urusan jadi lancar, bisnis dan kehidupan kalian di masa depan!”
“Karena saya... apa?”
“Karena kamu menolak pernyataan cinta Ikhsan. Anak saya sampai kasih kamu Hermes kan sebagai hadiah?”
Anggun menatap Ikhsan dengan tajam.
Ikhsan hanya bisa menunduk.
“Perbincangan ini direkam kan ya?” tanya Anggun ke penyidik.
Iptu Rayhan menunjuk sebuah alat perekam yang ada di atas meja.
Anggun tersenyum ke arah Pak Kinto, berusaha sabar. “Pak Kinto, kalimat barusan itu bapak dengar dari Ikhsan, atau bapak karang sendiri untuk membela anak bapak?”
“Jangan kurang ajar kamu. Karier bapak kamu di ujung tanduk sekarang!”
“Bapak mengancam saya?!” tanya Anggun menantang Pak Kinto. “Justru kalau sampai hal ini terungkap ke publik, nama baik perusahaan bapak akan jelek. Masa depan Ikhsan pun akan hancur. Kalau saya sih sudah hancur dari kemarin. Pihak pembunuh bayaran sudah bersaksi semua, menurut bapak sekarang siapa yang diujung tanduk? Kalau hukum enggan bicara, Netizen akan mengadili,” kata Anggun.
Pak Kinto membanting ponselnya ke atas meja, “Sekarang mau kamu apa, hah?”
“Mau saya?” Anggun menatap Ikhsan. “Nyawa dibalas nyawa, pelecehan dibalas pelecehan. Itu baru adil. Saya ingin yang saya alami, juga dialami Ikhsan secara detail. Termasuk yang dilakban, yang ditampar, yang digilir sampai robek, yang dipaksa menelan air seni orang lain,”
Pak Kinto menarik nafas dengan gemetar, “Kamu yang mengarang, nggak ada gitu-gituan!”
”Sudah dibuktikan dengan hasil visum dan kesaksian dari semua tersangka,” potong Iptu Rayhan.
“12 jahitan Pak!” seru Anggun memaki Pak Kinto. Lalu ia menghela nafas untuk memendam emosinya. “Dan saat kejadian itu saya masih perawan. Hasil visum berbicara!”
Pak Kinto mengernyit lalu ia menoleh ke arah Ikhsan. Ikhsan hanya balas melirik Pak Kinto dengan tatapan bertanya.
“Aku nggak minta mereka melakukan hal itu,” desis Ikhsan. “Jadi aku tidak salah,”
“Kamu tidak meminta, tapi mereka memberi usul dan kamu menyetujui! Aku dengar sendiri ya Ikhsan! Mereka bahkan tidak berpikiran akan membunuhku! Mereka bilang kalau aku sudah selesai dipakai aku akan dijual ke China! Sementara kamu ingin mereka membunuhku!” Seru Anggun.
Pak Kinto mengetuk-ketuk permukaan meja dengan kukunya, ia tampak berpikir apa yang kira-kira bisa digunakan untuk menyelamatkan masa depan anaknya.
“Satu lagi, Pak Kinto. Saya tidak pernah menolak Ikhsan, dan Ikhsan tidak pernah meminta saya berpacaran dengannya. Hermes yang dia berikan ke saya itu, sebagai harga untuk saya mundur di peringkat pertama semester kemarin. Dia butuh kredibilitas untuk masuk ke Harvard karena sudah tahu nilai SATnya tidak akan cukup. Saya juga menolak hal itu, teman-teman saya saksinya, saya akan sebutkan nama-nama mereka. Saya kembalikan Hermesnya ke Ikhsan,” kata Anggun.
“Itu harus dibuktikan dengan penyelidikan Mbak Anggun,” desis Pengacara Pak Kinto. “Tidak ada CCTV yang menangkap adegan itu. Bisa jadi semua saksi sudah dibayar, kan semuanya teman-teman Mbak Anggun,”
Lalu perbincangan mereka terjeda karena ruangan interogasi diketok seseorang dari luar.
Iptu Rayhan melongok ke balik pintu dan anak buahnya membisiki, “Rio, Pak,”
“Suruh masuk,” sahut Iptu Rayhan.
Dan Rio pun masuk.
Ia tersenyum sinis sambil menatap ke arah Ikhsan. Ikhsan pun tampak terkejut melihat Rio ada di sana.
“Video saat Anggun digotong keluar dari mobil, dan dibawa masuk ke dalam apartemen melalui Basement. Mobil tidak memiliki plat nomor, jadi tidak bisa masuk ke parkiran berbayar Apartemen, sehingga harus parkir di area luar.” Kata Rio sambil menyerahkan ponsel Yanto, salah satu anak buah Bang Rasno ke Iptu Rayhan.
“Gila lu,” desis Iptu Rayhan kaget. “Yang beginian bukannya koordinasi dulu sama saya!” ia mengomeli Rio.
“Mendingan kita tonton rame-rame, Pak. Mumpung pemainnya ada semua. ” kekeh Rio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Kelabu Biru
"Gila luh" kenapa aku bacanya pake nada lolly ya
2024-10-10
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
setan alas semua😡
2024-09-01
0
Lia Kiftia Usman
biadab...sadis... 😡😡😡
2024-07-24
0