Dua bulan sebelumnya...
GRUUNG!! GRUUNGG!!
Rio Tyaga menggeber mesin Ninja 150RR hijaunya. Di sebelahnya ada Meneer, timnya, yang sedang melemaskan otot-otot tangannya dan menunggang Vega Rnya. Temannya itu anak konglomerat, tapi ia dan gengnya memutuskan untuk lebih merakyat untuk melampiaskan hobi berbahaya mereka. Bisa saja mereka menyewa sirkuit, tapi yang seperti ini lebih praktis.
Drag race.
Balap liar saat jalanan kota Jakarta sepi dari mobil, di jam-jam menjelang sepertiga malam.
Lawannya adalah anak-anak alay dari berbagai kampung, remaja-remaja tanggung tak tentu arah yang sehari-harinya berkutat dengan kerasnya dunia. Rio dan gengnya, namanya Geng Savage, terkenal sebagai kasta tertinggi di drag race karena siapa pun yang menantang mereka balap, pasti akan tertinggal jauh.
Predikat yang cukup membuat Geng Savage menyeringai bahagia, karena di kehidupan nyata mereka ini dianggap anak-anak manja para pewaris perusahaan besar, nyatanya kalau menyamar jadi preman kampung ya vibenya menang juga dari anak alay aslinya. Padahal motor mereka sudah dipakai yang bodong modif tak karuan tetap saja mereka merajai jalanan.
“Yo,” Meneer mencondongkan tubunya ke arah Rio, tinggal 30 detik waktu menderu mesin mereka. Semua sudah siap tanding. Lap 500 meter di depan sana, nilai taruhannya bisa dapat bersih 1 jutaan.
“Apa?”
“Lo jadi jual motor?” tanya mneer.
“Iya.”
“Jual lah ke gue aja Yo, lo mau harga berapa gue iya-in, lo mau tuker pake Cruiser gue juga gapapa lah, motor lu nih legend di sini, sayang Yo!”
“Meneer, yang bikin motor legend atau nggak-nya adalah drivernya. Gue make Jupiter MX aja, bisa-bisa lo baru geber motor, gue udah di ujung sana.”Rio menunjuk garis finish. Lagian... Cruiser? Bisa apa tuh Harley dijalanan? Berisik doang! Mending Vega R lu lah!”
“Jangan Vega R gue dong, ini istri gue yang bentuknya mesin. Kalo bisa gue bawa ke kasur, udah gue kelonin nih...” desis Meneer.
“Gue jual motor ke Juhari, dy bisa kasih harga tinggi sampe 50 jutaan buat motor second. Gue bisa beli Supra X, sisa duit bisa buat hidup sehari-hari sampe lulus sekolah.” Kata Rio sambil bersiap untuk menderu mesinnya karena bendera sudah tinggi.
Mener hanya menghela nafas. Rasanya mengganjal. Ia yang anak orang kaya, tidak diizinkan sama sekali untuk membantu keuangan Rio, sahabatnya.
Rio memang begitu, dicoba dulu usaha sendiri, sampai hidupnya diujung tanduk pun ia akan mengusahakan semuanya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Bendera diturunkan.
Motor Rio melesat, Meneer menekan gasnya. Setidaknya ia jadi posisi ke dua agar kedudukan lebih tinggi dari tim lawan. Karena sudah pasti Rio akan jadi yang pertama, Meneer hanya pelengkap score.
Rio tidak melihat ke samping kanan kiri danbelakang,ia hanya fokus ke depan,ke garis finish.
Angin Jakarta yang penuh polusi, terangnya lampu jalanan, gelapnya hidup. Derumesinyang terdengar kasar dan meraung, sekaan meneriakkan semuakebencian dalamhati Rio.
Ia benci masa lalunya, kenapa ibunya harus meninggal. Ia benci bapaknya, kenapa di kala semua membaik harus ada kasus korupsi? Jadi selama ini Rio makan duit haram? Yang setiap nominalnya penuh dosa? Dan kenapa Ya Tuhan... kenapa bapaknya harus bunuh diri di penjara?!
Rio tumpahkan semua kekesalannya dengan menerpa angin malam, menembus batas kecepatan.
**
“Lap 3 yo?!” tanya Junot sambil memberinya minum. Di tangan cowok berwajah cantik itu ada kunci motornya yang ia putar-putar di ujung telunjuknya, Junot akan bertanding di Lap 3 sebentar lagi untuk melengkapi score, kini mereka menunggu persiapan sesi kedua. Tim lawan meminta penggenapan angka yang dicapai dengan percobaan mengalahkan kecepatan Rio. Kalau mereka berhasil menyamai kecepatan, maka Geng Savage bersedia memberikan 1 scorenya untuk Tim Lawan. Yang mana, itu tidak akan terjadi. Belum ada yang bisa mengalahkan kecepatan Rio atau pun Meneer selama ini.
Rio sedang berbaring di atas beton besar, beberapa perempuan sedang menggodanya.
Rio memeriksa ponselnya, ada SMS dari Juhari. Mengenai rencana jual beli motornya yang akan dilancarkan besok pagi sebelum ke sekolah. Juhari sudah dapat pembeli rupanya.
“Nggak lah, Kepala gue pusing.” Rio mengangkat botol amernya. Hasil upeti dari tim yang kalah.
Junot terkekeh sambil berdiri menghadap ke jalan mengamati pertandingan, sementara Rio sudah keburu tepar.
“Not, Jalanan mulai rame,” Meneer datang dan beridir di samping Junot.
“Lap 3 kita batalin aja gimana? Toh dapetnya udah 2 jutaan, melebihi target sejuta,” kata Junot merasa khawatir.
“Enes belum mau katanya, masih mau tanding. Andri juga mau gantiin Rio buat Lap 2,” Kata Meneer. Ia juga khawatir. Ada satu saja mobil atau tramsjak yang elintas, mereka harus membubarkan kendaraan atau polisiakan datang.
“Ngapain sih pada carmuk banget?!” omel Junot.
Bendera diturunkan, Lap 2 dimulai.
Andri paling depan, ia bertekad menggenapi score Rio. Enes tepat di belakangnya.
Mereka berdua preman kampung yang men-dewa-kan Rio, mereka berusaha tampil maksimal agar bisa akrab dengan Rio. Padahal Rionya biasa-biasa aja.
“Neer, Neer,” Junot menunjuk cahaya dari arah berlawanan. Lampu mobil. Lap mereka melewati tikungan, jadi bisa diperkirakan mobil itu akan berbelok menyeberangi jalur balap mereka.
Sementara Andri hampir sampai finish.
“Neeer,” Junot mencengkeram lengan Mener, sepupunya. Meneer hanya bisa terpaku melihat detik-detik menegangkan.
“Not, lari sekarang! Panggil Abbas, lari semuanya!! Bangunin Rio!!” seru Meneer sambil meraih motornya.
“Tapi Andri dan Enes?”
“Udah nggak bisa Junot! Udah telat!” seru Meneer sambil menyalakan motornya
“Tapi Neer-“
BRAKKK!!
Tabrakan pertama. Motor Andri menabrak bagian tengah mobil sedan itu.
BRAKKK!!
Tabrakan kedua, motor Enes mengenai bagasi.
Junot bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kejadian itu. Dia gemetaran.
“Not, tinggal duluan.” Rio mencengkeram bahunya dan menggeretnya naik ke motor.
“Lo gimana?”
“Gue tetap di sini, harus ada yang beresin kekacauan dan jadi kambing hitam biar banyak yang dibebasin. Lo, Meneer dan Abbas nggak bisa ketangkep, bisa pengaruh ke perusahaan bokap. Cepat lari!”
“Terus lo mau-“
“Pergi, Junot!!” gertak Rio.
Junot mau tak mau pergi dari sana.
Rio berdiri dan menarik nafas. Ia bisa melihat potongan tubuh manusia berhamburan di jalanan.
“Ya Tuhan...” desisnya sambil mengusap wajahnya.
**
“Bukan saya Pak! Budeg ya udah saya bilang-“
“Heh! Malah menghina polisi lagi! Jelas-jelas plat nomornya bodong!!”
“Saya itu malah korban penipuan Pak!!”
“Kamera CCTV sepanjang jalan menangkap kamulah yang ada di atas motor! Tidak ada ganti pemilik! Ngarang kamu!!”
“Itu hari ini! Bagaimana kalau kemarin, Hah?! Memangnya ada CCTV yang nangkap gambar saya kalau kemarin sedang di atas motor itu?! Coba lihat CCTV supermarket dekat rumah saya, dekat masjid, CCTV Sekolah, tanya mereka, itu motor saya atau bukan!!”
“Yang ada CCTV kamu lagi balapan liar!”
“Nah!! Coba lihat saya balapan pakai motor yang mana Pak?! Saya itu baru beli motor ini tadi pagi tukar tambah sama motor lama saya!! Mana saya tahu kalau ini motor curian!!”
Sekuat tenaga Rio membela dirinya. Ia baru saja ditangkap oleh razia yang diadakan Korlantas Polri. Apesnya, saat itu ia memakai motor yang baru saja dibelinya, dan pihak Kepolisian menangkap keanehan pada plat motornya yang tidak terdeteksi sistem, alias diduga plat motornya palsu. Dan motor semacam itu biasanya curian.
“Ada nih nomor rangkanya di daftar kehilangan property,” salah satu polisi menghampiri Pak Komandan.
Rio mencebik, “Bapak nih kalau nuduh cepet banget selidiknya, giliran ngusut lama kayak keong,”
karena Rio tahu, mencari daftar nomor rangka dari jajaran kehilangan motor yang jumlahnya ribuan tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu. Jadi, ini pasti hanya gertakan. Kecuali, yang nyari pegawai Bank, tinggal klik sistem langsung muncul. Nah, Kepolisian kan biasanya masih manual. Nggak secanggih di Kantor Pusat.
DUGG!
Salah satu polisi memukul kepala Rio, “Hey, Bocah... udah jelas-jelas salah, bukannya ngaku malah nge-bacot,” geram salah satu oknum.
“Lu anak siapa sih? Berani bener dari tadi?! Ha?”
“Anak pejabat juga bisa kita penjarakan,”
“Ya iya, diviralin dulu sama netizen baru semua pada gerak,” Rio masih ngedumel.
“Dia ini Ketua Geng Motor di area Timur. Rio Tyaga,” salah satu Polisi menghampiri mereka dan menyerahkan laporan. IPTU Rayhan Menyeringai saat melihat Rio. Wajahnya sumringah, “Akhirnya ketangkap juga kamu. Dari dulu kabur terus kerjanya. Teman kamu udah dua tuh yang mati konyol nabrak mobil lagi diem di lampu merah. Kamu pikirin nggak betapa shocknya mereka?”
“Saya nggak terlalu kaget sih, memang sudah resiko,”
“Maksud saya, Shocknya pengemudi mobil itu? Gimana kalau mobilnya hancur, Heh? Gimana kalau di dalam sana ada anak kecil? Temen kamu sih badan hancur mati berantakan malah kita sukurin! Tapi pikirin nggak orang tua mereka?”
Rio hanya bisa menghela nafas.
“Kamu itu sampah masyarakat. Kamu bisa dikenakan pasal-pasal mengganggu ketertiban umum! Lebih lagi, kamu itu Ketua Gengnya, kamu bisa dikenal tuduhan menghasut terjadinya sebuah aksi kejahatan alias provokator!”
“Saya bukan Ketua Geng Paaaaak, udah berkali-kali saya bilang saya ini seenaknya aja diangkat jadi Ketua. Tugasnya apa’an juga saya nggak ngerti. Saya cuma sering menang taruhan balap aja. Butuh duitnya buat nerusin sekolah. Memang bapak mau bantuin saya sekolah?”
“Salah kamu sekolah di swasta mahal,”
“Itu kerjaan Almarhum Bapak saya, dia udah deposit sampai saya lulus. Masalahnya dia nggak cover duit bulanannya. Bapak saya meninggal, ya saya bangkrut lah Pak. ”
“Masih banyak kerjaan lain selain taruhan balap liar. Dobel kejahatannya, udah Balap Liar, judi pula,” IPTU Rayhan tak mau kalah.
“Yang saya bisa Cuma balapan,”
“Fasum bukan sirkuit. Apalagi tuduhan kamu sekarang... maling motor. Udah putus asa banget kayaknya kamu,”
“Saya itu ditipu Pak, Masa nggak lihat isi WA saya dengan si penjual? Yang begituan nggak bisa diabaikan dong. Saya ditangkap masih ada korban lain.”
“Coba saya lihat isi WAnya,” IPTU Rayhan meminta anak buahnya untuk menyerahkan ponsel Rio kepadanya. Ia membacanya sekilas lalu menggeleng.
“Juhari toh, ini sih sindikat. Karma nih kamu,” IPTU Rayhan terkekeh.
“Saya tidak percaya Karma,” dengus Rio
“Ya sudah, terima saja takdirnya. Kamu ditahan sampai kami bisa menangkap Juhari ya,”
“Lah Pak! Lusa ada Penilaian Tengah Semester Genap!” Rio mulai khawatir akan nasibnya.
“Yaaa, bagaimana?! Tingkah kamu mencurigakan, kamu juga memiliki banyak catatan kriminal-“
“Dari sekian banyak, selain saya positif nyabu, mana yang terbukti sebagai tindakan kriminal?”
“Balap liar,”
Lagi-lagi Rio mendengus, “Itu tindakan mengganggu ketertiban umum, bukan kriminalitas,”
IPTU Rayhan tersenyum. Ia sadar kalau Rio bukan siswa biasa, tingkahnya saja yang brutal. Tapi kalau dipahami, sebenarnya Rio ini lumayan cerdas.
“Belum,” Ralat IPTU Rayhan. “Berdasarkan pengalaman kami mengarahnya ke arah ‘situ’,”
“Pengalaman kalian itu tidak bisa dijadikan patokan yang valid. Kalau saya ditahan, sama saja membatasi pendidikan saya sebagai pelajar, saya bisa menuntut ke Kepolisian, karena bukti valid kalau saya mencuri, tidak ada. Benar kan?!”
Semua orang di sana diam.
Sampai akhirnya, IPTU Rayhan bilang, “Kamu dalam pengawasan polisi. Serahkan surat keterangannya ke Kepala Sekolah kamu,”
**
“An jing si Juhari!” Umpat Rio saat dia berjalan menelusuri jalanan Ibukota di malam itu. Masih dengan seragam SMAnya, ia naik kendaraan umum dan berniat ke Kampung Indah, lokasi terakhirnya bertransaksi dengan si Sindikat Maling Motor.
Sepanjang perjalanan ia memaki. Sampai ia akhirnya bertemu dengan Bang Rasno, Preman penjaga parkiran di sekitaran area sana.
Bang Rasno langsung mengernyit saat melihat Rio menuju arahnya, “Gue udah bilang, jangan beli motor sama Juhari, Toooong. Kaaaan?!”
“Mana tuh Bang sat?! Gue gebukin habis ini!” sahut Rio.
“Lu gebukin Juhari sama aja lo nantangin sekampung, lo tuh bukan warga sini. Inget itu!”
“Itu duit buat ikutan tes Tengah Semester Bang!” seru Rio. “Rencananya motor yang gue beli ke Juhari bakal gue jual lagi lebih mahal. Yang ada malah gue ditangkep Pakpol!”
“Lagian lo bego, udah tau Juhari Sindikat,” omel Bang Rasno.
Tapi ia terdiam saat menatap ke arah mobil di belakang sana. Rio menyadari perubahan raut wajah Bang Rasno dan ikutan menoleh ke belakang, “Kenapa Bang?” tanya Rio.
“Seragam lo sama’an!!” seru Bang Rasno sambil mundur. Lalu ia memanggil beberapa anak buahnya dan mereka pun berkerumun di depan Rio.
Rio yang kebingungan sebenarnya ingin pergi, tapi kalimat Bang Rasno yang bilang ‘seragamnya sama’ itu yang membuatnya tetap di sana.
“Oh iya bang, ini logo ini nih! Bukan sekedar putih abu-abu kan? Pasti sekolah swasta!” kata salah satu anak buah Bang Rasno.
“Bener, gue juga setuju!” kata Bang Rasno sambil menarik emblem di belakang punggung seragam putih Rio dan mengernyit. “Iya, logo ini di punggung. Cewek itu juga punya!”
“Motif bawah celananya juga beda sama putih abu biasa, ini ada kotak-kotaknya. Tuh cewek juga pakai corak yang sama di roknya!”
“Ada apa’an sih ni?!” Rio menepis tangan Bang Rasno.
Sementara Bang Rasno mulai berdiskusi dengan anak buahnya. “tapi ini bukan urusan kita Bang!” kata salah satu anak buah.
“Yaaa, bukan urusan kita tapi kalau ini sampai terungkap atau ada keluarga si cewek yang nyariin, nanti Densus bakalan ke sini! Lo tahukan mereka kalo gerebek rumah warga nggak tanggung-tanggung, sampai ke atap-atap mereka periksa. Nah warga kan banyak nyimpen macem-macem,”
Rio sangat mengerti arti kalimat Bang Rasno. Warga Kampung Indah memang rata-rata dalam kategori sindikat. “Ya nggak mungkin semuanya ditangkep kali, penjara kita terbatas,”
“Nggak semuanya bakalan ketangkep, tapi properti disita semua, hehe,”
“Nah, ini... ‘mereka’ tuh maksudnya siapa?” tanya Rio.
“Lo lihat mobil itu? Hiace di ujung itu?”
“Mobil travel?”
“Iya,”
“Lihat,”
“Dari jam 9 mereka parkir di sana, udah sejam,”
“Terus?”
“Itu mobil sindikat Human Traficking punya si... duh gue nggak bisa sebut namanya, ada hubungannya sama pejabat soalnya,”
“Alm. Bokap gue juga pejabat. Cuma bundir aja di penjara sebelum dinyatakan jadi tersangka korupsi,”
Bang Rasno menatap Rio dengan miris. Lalu mengacak-acak kepala anak itu.
“Tapi... mungkin lo bisa bantu, lo kan bukan anak kampung sini ya. Gue nggak mau aja nanti kita semua digerebek gara-gara satu orang bikin masalah,” Bang Rasno menghela nafas sambil menatap Rio dengan penuh harap. “Mau jadi tumbal nggak? Nanti gue kasih tahu di mana Juhari,” Bang Rasno menyeringai.
“Tumbal?!”
**
“Bukan saya Pak! Budeg ya udah saya bilang-“
“Heh! Malah menghina polisi lagi! Jelas-jelas plat nomornya bodong!!”
“Saya itu malah korban penipuan Pak!!”
“Kamera CCTV sepanjang jalan menangkap kamulah yang ada di atas motor! Tidak ada ganti pemilik! Ngarang kamu!!”
“Itu hari ini! Bagaimana kalau kemarin, Hah?! Memangnya ada CCTV yang nangkap gambar saya kalau kemarin sedang di atas motor itu?! Coba lihat CCTV supermarket dekat rumah saya, dekat masjid, CCTV Sekolah, tanya mereka, itu motor saya atau bukan!!”
“Yang ada CCTV kamu lagi balapan liar!”
“Nah!! Coba lihat saya balapan pakai motor yang mana Pak?! Saya itu baru beli motor ini tadi pagi tukar tambah sama motor lama saya!! Mana saya tahu kalau ini motor curian!!”
Sekuat tenaga Rio membela dirinya. Ia baru saja ditangkap oleh razia yang diadakan Korlantas Polri. Apesnya, saat itu ia memakai motor yang baru saja dibelinya, dan pihak Kepolisian menangkap keanehan pada plat motornya yang tidak terdeteksi sistem, alias diduga plat motornya palsu. Dan motor semacam itu biasanya curian.
“Ada nih nomor rangkanya di daftar kehilangan property,” salah satu polisi menghampiri Pak Komandan.
Rio mencebik, “Bapak nih kalau nuduh cepet banget selidiknya, giliran ngusut lama kayak keong,”
karena Rio tahu, mencari daftar nomor rangka dari jajaran kehilangan motor yang jumlahnya ribuan tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu. Jadi, ini pasti hanya gertakan. Kecuali, yang nyari pegawai Bank, tinggal klik sistem langsung muncul. Nah, Kepolisian kan biasanya masih manual. Nggak secanggih di Kantor Pusat.
DUGG!
Salah satu polisi memukul kepala Rio, “Hey, Bocah... udah jelas-jelas salah, bukannya ngaku malah nge-bacot,” geram salah satu oknum.
“Lu anak siapa sih? Berani bener dari tadi?! Ha?”
“Anak pejabat juga bisa kita penjarakan,”
“Ya iya, diviralin dulu sama netizen baru semua pada gerak,” Rio masih ngedumel.
“Dia ini Ketua Geng Motor di area Timur. Rio Tyaga,” salah satu Polisi menghampiri mereka dan menyerahkan laporan. IPTU Rayhan Menyeringai saat melihat Rio. Wajahnya sumringah, “Akhirnya ketangkap juga kamu. Dari dulu kabur terus kerjanya. Teman kamu udah dua tuh yang mati konyol nabrak mobil lagi diem di lampu merah. Kamu pikirin nggak betapa shocknya mereka?”
“Saya nggak terlalu kaget sih, memang sudah resiko,”
“Maksud saya, Shocknya pengemudi mobil itu? Gimana kalau mobilnya hancur, Heh? Gimana kalau di dalam sana ada anak kecil? Temen kamu sih badan hancur mati berantakan malah kita sukurin! Tapi pikirin nggak orang tua mereka?”
Rio hanya bisa menghela nafas.
“Kamu itu sampah masyarakat. Kamu bisa dikenakan pasal-pasal mengganggu ketertiban umum! Lebih lagi, kamu itu Ketua Gengnya, kamu bisa dikenal tuduhan menghasut terjadinya sebuah aksi kejahatan alias provokator!”
“Saya bukan Ketua Geng Paaaaak, udah berkali-kali saya bilang saya ini seenaknya aja diangkat jadi Ketua. Tugasnya apa’an juga saya nggak ngerti. Saya cuma sering menang taruhan balap aja. Butuh duitnya buat nerusin sekolah. Memang bapak mau bantuin saya sekolah?”
“Salah kamu sekolah di swasta mahal,”
“Itu kerjaan Almarhum Bapak saya, dia udah deposit sampai saya lulus. Masalahnya dia nggak cover duit bulanannya. Bapak saya meninggal, ya saya bangkrut lah Pak. ”
“Masih banyak kerjaan lain selain taruhan balap liar. Dobel kejahatannya, udah Balap Liar, judi pula,” IPTU Rayhan tak mau kalah.
“Yang saya bisa Cuma balapan,”
“Fasum bukan sirkuit. Apalagi tuduhan kamu sekarang... maling motor. Udah putus asa banget kayaknya kamu,”
“Saya itu ditipu Pak, Masa nggak lihat isi WA saya dengan si penjual? Yang begituan nggak bisa diabaikan dong. Saya ditangkap masih ada korban lain.”
“Coba saya lihat isi WAnya,” IPTU Rayhan meminta anak buahnya untuk menyerahkan ponsel Rio kepadanya. Ia membacanya sekilas lalu menggeleng.
“Juhari toh, ini sih sindikat. Karma nih kamu,” IPTU Rayhan terkekeh.
“Saya tidak percaya Karma,” dengus Rio
“Ya sudah, terima saja takdirnya. Kamu ditahan sampai kami bisa menangkap Juhari ya,”
“Lah Pak! Lusa ada Penilaian Tengah Semester Genap!” Rio mulai khawatir akan nasibnya.
“Yaaa, bagaimana?! Tingkah kamu mencurigakan, kamu juga memiliki banyak catatan kriminal-“
“Dari sekian banyak, selain saya positif nyabu, mana yang terbukti sebagai tindakan kriminal?”
“Balap liar,”
Lagi-lagi Rio mendengus, “Itu tindakan mengganggu ketertiban umum, bukan kriminalitas,”
IPTU Rayhan tersenyum. Ia sadar kalau Rio bukan siswa biasa, tingkahnya saja yang brutal. Tapi kalau dipahami, sebenarnya Rio ini lumayan cerdas.
“Belum,” Ralat IPTU Rayhan. “Berdasarkan pengalaman kami mengarahnya ke arah ‘situ’,”
“Pengalaman kalian itu tidak bisa dijadikan patokan yang valid. Kalau saya ditahan, sama saja membatasi pendidikan saya sebagai pelajar, saya bisa menuntut ke Kepolisian, karena bukti valid kalau saya mencuri, tidak ada. Benar kan?!”
Semua orang di sana diam.
Sampai akhirnya, IPTU Rayhan bilang, “Kamu dalam pengawasan polisi. Serahkan surat keterangannya ke Kepala Sekolah kamu,”
**
“An jing si Juhari!” Umpat Rio saat dia berjalan menelusuri jalanan Ibukota di malam itu. Masih dengan seragam SMAnya, ia naik kendaraan umum dan berniat ke Kampung Indah, lokasi terakhirnya bertransaksi dengan si Sindikat Maling Motor.
Sepanjang perjalanan ia memaki. Sampai ia akhirnya bertemu dengan Bang Rasno, Preman penjaga parkiran di sekitaran area sana.
Bang Rasno langsung mengernyit saat melihat Rio menuju arahnya, “Gue udah bilang, jangan beli motor sama Juhari, Toooong. Kaaaan?!”
“Mana tuh Bang sat?! Gue gebukin habis ini!” sahut Rio.
“Lu gebukin Juhari sama aja lo nantangin sekampung, lo tuh bukan warga sini. Inget itu!”
“Itu duit buat ikutan tes Tengah Semester Bang!” seru Rio. “Rencananya motor yang gue beli ke Juhari bakal gue jual lagi lebih mahal. Yang ada malah gue ditangkep Pakpol!”
“Lagian lo bego, udah tau Juhari Sindikat,” omel Bang Rasno.
Tapi ia terdiam saat menatap ke arah mobil di belakang sana. Rio menyadari perubahan raut wajah Bang Rasno dan ikutan menoleh ke belakang, “Kenapa Bang?” tanya Rio.
“Seragam lo sama’an!!” seru Bang Rasno sambil mundur. Lalu ia memanggil beberapa anak buahnya dan mereka pun berkerumun di depan Rio.
Rio yang kebingungan sebenarnya ingin pergi, tapi kalimat Bang Rasno yang bilang ‘seragamnya sama’ itu yang membuatnya tetap di sana.
“Oh iya bang, ini logo ini nih! Bukan sekedar putih abu-abu kan? Pasti sekolah swasta!” kata salah satu anak buah Bang Rasno.
“Bener, gue juga setuju!” kata Bang Rasno sambil menarik emblem di belakang punggung seragam putih Rio dan mengernyit. “Iya, logo ini di punggung. Cewek itu juga punya!”
“Motif bawah celananya juga beda sama putih abu biasa, ini ada kotak-kotaknya. Tuh cewek juga pakai corak yang sama di roknya!”
“Ada apa’an sih ni?!” Rio menepis tangan Bang Rasno.
Sementara Bang Rasno mulai berdiskusi dengan anak buahnya. “tapi ini bukan urusan kita Bang!” kata salah satu anak buah.
“Yaaa, bukan urusan kita tapi kalau ini sampai terungkap atau ada keluarga si cewek yang nyariin, nanti Densus bakalan ke sini! Lo tahukan mereka kalo gerebek rumah warga nggak tanggung-tanggung, sampai ke atap-atap mereka periksa. Nah warga kan banyak nyimpen macem-macem,”
Rio sangat mengerti arti kalimat Bang Rasno. Warga Kampung Indah memang rata-rata dalam kategori sindikat. “Ya nggak mungkin semuanya ditangkep kali, penjara kita terbatas,”
“Nggak semuanya bakalan ketangkep, tapi properti disita semua, hehe,”
“Nah, ini... ‘mereka’ tuh maksudnya siapa?” tanya Rio.
“Lo lihat mobil itu? Hiace di ujung itu?”
“Mobil travel?”
“Iya,”
“Lihat,”
“Dari jam 9 mereka parkir di sana, udah sejam,”
“Terus?”
“Itu mobil sindikat Human Traficking punya si... duh gue nggak bisa sebut namanya, ada hubungannya sama pejabat soalnya,”
“Alm. Bokap gue juga pejabat. Cuma bundir aja di penjara sebelum dinyatakan jadi tersangka korupsi,”
Bang Rasno menatap Rio dengan miris. Lalu mengacak-acak kepala anak itu.
“Tapi... mungkin lo bisa bantu, lo kan bukan anak kampung sini ya. Gue nggak mau aja nanti kita semua digerebek gara-gara satu orang bikin masalah,” Bang Rasno menghela nafas sambil menatap Rio dengan penuh harap. “Mau jadi tumbal nggak? Nanti gue kasih tahu di mana Juhari,” Bang Rasno menyeringai.
“Tumbal?!”
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
innalilahi 🙈
2024-08-31
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Meener anaknya kevin Cakra bukan
2024-08-31
0
May Keisya
reel🤣
2024-02-02
0