Bukannya Rio tidak suka dengan Anggun, atau mencintai dalam keadaan terpaksa. Siapa yang tidak suka kalau ada cewek cantik, pintar, kaya, ngejar-ngejar? Sebagai seorang cowok normal pastilah diladeni, mumpung masih single.
Masalahnya, Rio belum bisa mendeteksi perasaannya ini sekedar nafsu, cinlok, atau memang benar-benar suka.
Sambil mengernyit menatap kertas ujian bahasa Inggris yang berada di atas meja lipat di pangkuannya, Rio membayangkan berbagai kemungkinan. Bagaimana jika Anggun berubah jadi gendut dan kusam? Gara-gara ia tidak bisa membelikannya skincare yang mahal... hm, masih tetap manis sepertinya.
Coba kita bayangkan seandainya Anggun tiba-tiba hilang ingatan dan semua hafalannya terguling keluar kepala. Alias jadi idiot. Hm... mungkin masih tetap menggemaskan.
Nah sekarang bayangkan Anggun jadi keras kepala, pelit, egois, posesif, dan yang paling parah... melarangnya main game.
Hm...
Kok rasanya bukan masalah ya sekarang? Atau gue emang lagi sakit? Jangan-jangan otak gue keganggu karena keseringan kelahi kayaknya... pikir Rio.
“Rio!” sebuah penghapus mental membentur dahinya. Pak Rendi di depannya menatapnya dengan kesal. “Saya panggil 5 kali, jarak kita hanya dua meter, kamu nggak nyahut! Mikirin apa sih kamu?!”
“Ha?” Rio menatap Pak Rendi dengan mata menerawang.
“Hoy, bangun hoy! Nggak bisa tidur ya kamu semalaman? Atau darah rendah?!” Pak Rendi menjentikkan jarinya di depan hidung Rio
“I’m okay, so far so good,” jawab Rio masih tanpa ekspresi.
“Wuih, jawabnya pakai bahasa Inggris, sudah merasuk ke sukma kayaknya soal ujiannya,” kekeh Pak Rendi karena geli. “Fokus, Rio! Fokus... jangan mikirin Anggun terus, dia udah banyak yang mikirin. Sekali-kali kasihan sama diri kamu sendiri aja dulu,”
Rio mencibir karena Pak Rendi seperti biasa Mak Jleb banget.
“10 menit lagi ya,” kata Pak Rendi.
“Hah?! Serius Pak?! Bercandaaaaa!!”
“Ya makanya dari tadi saya manggil kamu,”
“Gilaaaaaaa! Dari tadi gue ngapain aja 30 menit sendiri?!”
“Mikir jorok yaaaa,” tuduh Pak Rendi.
Rio tak menjawab hanya fokus membaca kertas ujian.
**
Malam itu setelah mandi, berganti baju, dan menyelesaikan beberapa urusan penyelidikan, Anggun kembali menjenguk Rio di rumah sakit. Rio sudah bisa berdiri tegap dan saat ini sedang mengaduk kopi di pantry kecil di kamar.
Anggun masuk tanpa bersuara.
Tapi wajahnya tampak pucat.
“Rio... emmm,”
Rio tak menjawab, hanya mengangkat alisnya sambil bersandar ke konter dan menyesap kopinya.
Anggun mendekat, lalu menempelkan dahinya di dada Rio, dan menarik nafas panjang. Sepertinya dia sangat lelah.
Rio tahu, dengan ditangkapnya Ikhsan dan Ayahnya di bandara, pasti ada beberapa hal yang harus diproses lebih lanjut.
“Pak Kinto minta bertemu dengan kita untuk kemungkinan penyelesaian dengan cara kekeluargaan,” gumam Anggun.
“Kita itu... jadi termasuk gue?”
“Kamu siap?”
“Siap, mau gue tonjok muka si Ketos,”
“Hehe...” kekeh Anggun pelan. Lalu dia diam.
Sesaat kemudian isakannya muncul.
Trauma kembali membayanginya.
Rio meletakkan cangkir kopinya lalu mengelus puncak kepala Anggun.
Gadis ini... walau pun tinggi dan terlihat kokoh, namun hatinya ternyata sangat rapuh. Apakah ia selama ini berlagak kuat karena harga diri, atau karena ada kejadian di masa lalu yang merubah kepribadiannya? Rio bertanya-tanya sambil mengelus rambut panjang Anggun yang lembut.
Bahkan di saat menangis, rambut hitam ini masih terasa lembut di jari Rio. Bagaimana mungkin Anggun ada waktu untuk merawat diri? Ataukah memang begini rupanya sejak lahir? Begitu menawan dan rasanya tak terjangkau oleh Rio.
Rio berusaha tidak terlalu erat menyentuh tubuh Anggun walau sebenarnya ia ingin sekali membelai seluruh sudut tubuh gadis itu.
Dan sebuah pikiran muncul dibenaknya.
Yaitu saat ia teringat kejadian itu.
Saat pertama ia melihat Anggun dalam kondisi terikat, di angkat oleh banyak pria dan satu persatu mereka bergiliran-
BRAKK!!
Rio memukul permukaan konter.
Ia merasa sangat geram.
“Rio, Ummph!!” Rio membungkam bibir Anggun. Tangannya berada di tengkuk gadis itu, menarik Anggun lebih erat.
Ia meraup semua sudut mulut Anggun dengan lidahnya. Menye sap setiap inchi bagian Anggun, setiap tetes salivanya yang terasa manis dilidah Rio. Ia reng gut semua rasa Anggun. Rio sangat marah sampai ia merasa ingin menguasai Anggun.
Dan saat ia lepaskan bibir Anggun, Rio menatap gadis itu lekat-lekat. “Sekarang ada gue di sini, nggak usah takut, ada gue. Walau pun gue harus luka sekali lagi, atau bahkan mati. Tapi selama gue masih hidup, gue usahakan nggak bakalan ada yang nyakitin lo lagi!” geram Rio. Lalu cowok itu mengernyit, “Kecuali...”
“Ke-kecuali?”
”Kecuali... gue yang nyakitin lo,”
Anggun tertegun, “Memang... kamu ada niatan untuk menyakiti aku?”
“Ya nggak, tapi kan bisa saja terjadi, mengingat gue ini... ya gitu,”
“Kamu itu apa?”
“Ya itu,”
“Itu apa?”
“Berandalan” gumam Rio pelan.
“Kamu tidak pernah jadi berandalan di mataku,”
“Gue pernah mukul cewek,”
“Aku dengar beritanya kok, kan mereka yang keroyokan mau mengerjai kamu katanya kan?”
“Hm... iya tapi pas di kantor polisi gue ngelempar kursi baso ke mereka, ada tuh yang luka,”
"Memang... mengerjai kamu itu maksudnya dengan cara bagaimana?"
"Perampokan dan pelecehan. Mereka itu pacar-pacarnya orang yang kalah balap sama gue. Mau balas dendam sekalian ngerasain katanya,"
"Ngerasain?" gumam Anggun.
"Dalam tanda kutip." tambah Rio.
“Salah mereka nyenggol raja hutan lagi tidur, ekor diinjek,” Anggun tersenyum. Senyumnya tipis tanda kelelahan.
Rio terkekeh dan kembali mencium Anggun.
Ia jadi mulai terbiasa dengan rasa bibir Anggun yang tebal.
“Rio bau rokok...” keluh Anggun.
“Tadi kabur bentar ke tangga darurat buat sebat,” bisik Rio sambil meraih pinggang Anggun dan menunduk. Ia mencium leher Anggun, lebih ke rasa penasaran dengan wangi gadis itu. Ia hirup dalam-dalam aroma Anggun yang mewah, tapi ia enggan berhenti.
Dari leher, ia naik ke pipi, lalu kembali ke bibir.
Anggun sampai melingkarkan kedua tangannya ke leher Rio, karena gadis itu ingat luka di pinggang Rio belum sepenuhnya tertutup.
“Lo percaya sama gue?” bisik Rio.
“Bagaimana bisa aku nggak percaya kamu? Kamu mempertaruhkan nyawa untukku dua kali,”
“Gue nggak merasa hal itu sebuah kesialan, sebaliknya gue malah bersyukur ada di tengah pertarungan atas nama lo,”
“Emh,” Anggun mende sah saat jemari Rio mulai nakal membelai dadanya. Lalu gadis itu terdiam seakan tercekat.
Ia mencengkeram tangan Rio.
“Perih...” ringisnya tak nyaman
“Perih?!” tanya Rio tak mengerti.
“Hm... ada beberapa pembuluh yang pecah karena rem asan mereka sangat kencang, mereka juga menampar dadaku saat aku berontak. Kalau kamu lihat bentuk di balik kaos, masih banyak lebam-lebam ungu,”
Rio tertegun sambil ternganga, “Kalau... yang di atas saja begitu... apalagi yang di bawah?” ia bertanya dengan hati-hati.
“Ada beberapa jahitan dan-“
“Astagaaaaa...” Rio memekik menahan nafas sambil menutupi dahinya. Ia merasa sangat marah sekarang. Makian yang kasar dan tak pantas disebut dengan tulisan meluncur dari bibir Rio, disertai sumpah dari bibirnya, “Mereka harus bayar sangat mahal untuk ini!” geramnya.
“Rio, aku ingin ini semua cepat selesai, aku capek,” kata Anggun kemudian.
“Hm,” Rio menunduk sambil berpikir. “Pak Banyu juga memiliki kepentingan ya,”
“Ya,”
“Kalo begitu... bagaimana kalau begini saja...“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Naftali Hanania
sadisss...lbh ke biadabbb ....😡😡😡😡
2024-02-29
1
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
gak kebayang gimana jadi anggun udah di lecehkan di rusak pula organnya
2023-10-13
1
Triani
/Sweat/mengerikan...
2023-10-12
0