Setengah jam lamanya Anggun berteriak-teriak sambil menangis menumpahkan perasaannya, sampai saat suaranya perlahan melemah.
Rio selama itu hanya diam sambil mengelus rambut hitam panjang Anggun yang lembut.
Sepanjang hidupnya, baru kali ini memeluk perempuan selama dan seerat ini.
Rio tidak pernah punya pacar, tapi ia memiliki banyak teman kencan. Banyak wanita-wanita cantik yang menawarkan diri untuk jadi kekasihnya. Tapi cowok itu tidak suka terikat dengan suatu hubungan. Ia masih ingin bebas, tanpa ada mulut bawel yang melarangnya ini-itu. Rata-rata cewek yang jadi teman kencannya, sekali dikasih sudah merasa penting. Suka sekali mengatur-aturnya.
Sudah begitu, karena ia memiliki lebih dari satu ‘cewek langganan’ sering kali mereka saling bertengkar tanpa sebab yang jelas dengan membawa-bawa namanya. Tapi Rio berusaha tidak berhubungan dengan teman sekolahnya.
Kenapa?
Karena ia akan memiliki banyak sekali masalah.
Ia sudah cukup disibukkan dengan kasus ini-itu. Dan karena kini ayahnya sudah tiada, jadi tak ada lagi yang akan membayari semua jaminan kebebasannya.
Nyatanya, sekolah yang benar saja sulit sekali dijalani. Ada saja masalah yang berkerumun di sekitarnya. Seperti kemarin, mau untung malah buntung.
“Juhari bang ke, awas lo kalo ketemu,” gerutu Rio kesal.
“Siapa?” Anggun menengadahkan kepalanya ke atas sambil menatapnya dengan matanya yang bengkak dan masih berlinang air mata. Suaranya terdengar serak dan hampir habis.
“Hm,” Rio mengelus pipi Anggun dan menghapus air matanya, “Tapi... kalau motor gue nggak dicolong, kita nggak bakalan ketemu,”
“Eh?”
“Ngerti?”
Anggun menggeleng.
“Hehe,” kekeh Rio sambil menatap Anggun. “Setidaknya gue bersyukur lo masih hidup,”
“Kamu... masih bisa bersyukur aku masih hidup? Aku malah berharap mati aja,” desis Anggun.
“Jangan mati lah, gue udah sampai ketembak nih, masa perjuangan gue nggak dihargain,”
“Masa depanku sudah tidak ada Rio,”
“Lo masih bernafas, Nggun, jadi lo masih punya masa depan,”
“Kamu nggak tahu rasanya jadi aku,”
“Gue nggak tahu, tapi kayaknya ayah gue tahu. Dia bunuh diri dengan cara gantung diri pakai sarung di penjara,”
“Ayah kamu bunuh diri? Kenapa?”
“Penggelapan dana. Jumlahnya sih nggak sampai miliaran, tapi kayaknya dia dihujat sana-sini jadi itu yang membuat hidupnya nggak tenang. Dia sih mati ya mati aja, tebak siapa yang susah?” Rio menunjuk dirinya sendiri.
Anggun menarik nafas panjang.
“Ketika orang bunuh diri, mereka pikir mereka mengakhiri rasa sakit, tetapi yang mereka lakukan hanyalah meneruskannya kepada orang yang mereka tinggalkan. Lo tahu apa yang bisa menyembuhkan rasa depresi lo?”
“Kalau kamu mau bilang Tuhan, semua juga tahu itu. Kenapa Tuhan nggak hapus saja perasaan depresiku sekarang, kalau Dia sayang aku?” kata Anggun.
“Hm... gue sih tadinya mau bilang ‘waktu’,”
“Waktu?”
“Ya, kalau jantung lo masih berdetak, jadi Tuhan belum selesai berurusan sama lo,”
“Apalagi yang Dia minta dari gue?”
“Terkadang hal terbaik yang dapat lo lakukan adalah tidak berpikir, tidak bertanya-tanya, tidak membayangkan, tidak terobsesi dan hanya bernapas. Percayalah bahwa semuanya akan berjalan dengan baik,”
Anggun menatap Rio dengan nanar.
Rio membalas tatapannya.
Sesaat kemudian, Rio mengetahui arti tatapan Anggun.
Persis dengan tatapan para cewek-cewek yang sering berkerumun mengelilinginya. Tatapan penuh harapan.
“Nggak ada lagi sesuatu yang berharga yang bisa aku berikan ke calon suamiku,”
“Ha? Masa? Kita laki mah cuma butuh pengakuan,”
“Pengakuan?”
“Iya... pengakuan kalo kita berguna, kalau kita hebat, kalau kita laki-laki sejati. Direndahin sama cewek yang satu, ya cari cewek lain yang bisa kasih kita pengakuan,”
“Pengakuan? Itukah sikap laki-laki sejati? Kok rasanya bertolak belakang sih sama kenyataan?”
“Lo tuh terlalu feminis kali Nggun, merasa serba bisa. Tegurannya nggak main-main kan kalau lo takabur. Semakin berat tegurannya, semakin besar hadiahnya kalo lo kuat. Tapi semakin besar azabnya kalo lo lari dengan cara bundir,”
“Rio... jangan jahat gitu...” gumam Anggun
Rio tidak merasa bersalah. Cowok itu hanya tahu, kalau dia benar.
Makanya dia dianggap jahat oleh Anggun.
Kata-katanya tepat sasaran.
“Kamu tahu, di mataku sekarang, semua laki-laki itu mons-“ lalu Anggun terdiam. Tangannya yang tadi sudah stabil, kembali bergetar. Terangkat menutupi wajahnya dengan susah payah.
Gadis itu kembali terisak.
“Lo tahu, di mata gue sekarang, lo itu cantik,” desis Rio.
“Hah?”
“Itu bukan gombalan,”
“Bukan?”
“Gue nggak bermaksud merayu lo. Gue Cuma ngomong jujur,”
“Gue yang sudah begini, lo bilang cantik?!”
“Nggak ada bedanya di mata gue. Lo selalu cantik, apa pun keadaan lo.”
Anggun hanya bisa terpana mendengar perkataan Rio.
“Tetap hidup ya Nggun, sayang kalau lo bundir. SMA Bhakti Putra masih butuh lo, khehehehe,”
“Kenapa malah Bhakti Putra sih?!” Anggun kembali meringkuk sambil memeluk tubuh Rio. Beberapa saat kemudian, gadis itu tertidur dengan senyum di wajahnya.
Rio menggendong Anggun dengan hati-hati ke atas ranjang dan menyelimutinya.
Lalu berusaha tanpa suara keluar dari kamar itu.
Saat ia berada di luar, Pak Banyu sudah menunggunya, “Bagaimana?” tanya Pak Banyu.
“Dia tidur Om,” kata Rio.
Pak Banyu menghela nafas lega. “Sejak kejadian itu dia belum tidur, kecuali saat kami memberinya obat penenang. Setelah diberi sedikit perawatan tiba-tiba dia bangun lagi dan ketakutan. Sampai sekarang. Dia hanya menekuk tubuhnya di sudut ruangan, hanya sekali ke kamar mandi dan keluar dengan kesakitan. Dia berteriak histeris kalau ada yang mendekat, terutama laki-laki, termasuk saya,”
IPTU Rayhan mendekati Rio sambil mengernyit, “Apa yang sebenarnya terjadi saat kamu menemukannya Rio?”
Rio menarik nafas lalu menggeleng. Ia menatap Pak Banyu dengan pandangan seakan meminta maaf, “Apa yang Pak Banyu bayangkan, hal terburuk yang terjadi pada anak perempuan, di tengah kumpulan penjahat? Sampai dia berharap sepertinya saat itu lebih baik dia mati saja atau setidaknya pingsan saja,”
Lutut Pak Banyu langsung terasa lemas. Ia jatuh terduduk di lantai marmer itu sambil memukul-mukul lantai. Raut wajahnya adalah raut paling menyedihkan yang pernah dilihat Rio.
“Kamu melihat semua kejadian?” tanya IPTU Rayhan.
“Hanya di saat terakhir, namun sepertinya saat yang paling buruk yang saya lihat,” desis Rio.
“Kamu yang mengiris lakban di pahanya? Seragam OB di pinggangnya juga milik kamu?’
“Nah yang itu saya mengaku mencurinya dari janitor di basement,” Rio menggaruk kepalanya, “Maaf kalau saya mengacaukan TKP,”
IPTU Rayhan tidak menjawab, hanya memberikan Rio tepukan tanda salut di bahunya.
Kini semua tahu kenapa Anggun terlihat ketakutan saat Rio tak ada. Karena di saat terburuknya, yang ada hanya Rio, yang menolongnya hanya cowok itu. Jelas ia tidak percaya siapa pun selain Rio. Saat ia meneriakkan banyak nama, yang ada hanya Rio.
“Ngomong-ngomong Pak, saya agak pusing. Dan mau pulang agak cepat untuk istirahat. Lalu maaf kalau saya mengotori lantai. Rembesannya sedikit kok tapi ya perlu di pel agar tidak terpeleset sih,” kata Rio.
“Apa sih?” tanya IPTU Rayhan. Lalu ia pun memandang tangan Rio yang tampak menutupi pinggangnya.
“Luka kamukebuka lagi?!” seru IPTU Rayhan panik.
“Tadi diremet kenceng banget sama Anggun,” keluh Rio
“Kenapa nggak bilang!!”
“Yaaa gimana dong serba salah dah saya,”
“Cepetan ke rumah sakit!! Gimana sih!!” seru IPTU Rayhan sambil menopang tubuh Rio untuk masuk ke mobilnya.
“Lagi-lagi gue naek mobil patroli!” keluh Rio sebal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
efvi ulyaniek
si rio kocak bgt sih ga ada takut2nya ma pak pol😀😀😀msh bs cengengesan
2024-05-29
0
Iva Rahmawan
keren banget si RiO ini,... 🤣
2024-05-03
1
Naftali Hanania
dah jd kayak jodoh ya ama. mbl patroli...😁✌️
2024-02-28
0