“Ya jelas nggak boleh,” dengus Pak Banyu.
Rio menyesap kopinya dengan tenang sambil menatapnya.
Anggun saat ini sedang menjalani pemeriksaan dengan polisi wanita di ruangan lain. Walau takut, tapi gadis itu mencoba tetap tenang.
Keberaniannya setelah trauma mendalam membuat Rio salut. Gadis itu mampu sembuh dengan cepat dari keterpurukannya.
Posisi Rio, kali ini di depannya ada kertas ujian yang belum boleh dibalik. Dalam keadaan menutup ke bawah.
Di depannya ada Pak Rendi dan salah satu Guru untuk mengawasinya ujian. Pak Rendi dengan berbesar hati memohon Dispensasi ke Departemen Pendidikan agar di ujian tengah semester kali ini Rio bisa menjalaninya di Rumah Sakit. Pak Rendi juga sudah menjelaskan kondisinya, didukung data dari Kepolisian.
Sebelum mulai ujian, hal yang dibicarakan Rio adalah ‘bolehkah ia berpacaran dengan Anggun’ ke Pak Banyu. Dan dia bertanya di depan Iptu Rayhan, Dokter Indra, Pak Rendi, dan si Guru Pengawas yang langsung salah tingkah.
Bu Guru Pengawas saat masuk ke ruangan ini saja sudah merasa tidak percaya diri. Dengan Pak Rendi yang posturnya seperti Sean O’Pry saja ia terpana, apalagi saat Ia melihat Iptu Rayhan, polisi ganteng 36 tahun yang masih single, dengan wajah manis dan tatapan mata sendu. Sudah begitu pakai seragam aparat pula, makin ganteng maksimal! Ditambah perawakan Pak Banyu yang eksekutif sekali ala-ala Sugar Daddy mempesona.
Rasanya ingin berkali-kali ke WC benerin lipstik.
Bukan hanya itu saja, Dokter Indra yang khas visual ******* pun masuk ke kamar Rio untuk memeriksa kondisi anak itu, sembari memperlihatkan gigi putihnya. Apa nggak makin kebat-kebit rahim Bu Guru? Ya jelas.
Malah diam-diam ia memfoto setiap individu di sana dengan alasan dokumentasi suasana ujian.
Tapi yang membuat Bu Guru tak lepas memandang, di antara semua pria di sana, malah sosok Rio.
Lirikannya dan senyum sinisnya mengingatkannya pada Jhonny Depp saat masih muda. Tapi ini versi lokalnya.
Rio tidak setampan Pak Rendi, Tidak segagah Pak Iptu, Tidak semenawan Pak Banyu, dan tidak seintelek Dokter Indra. Tapi Aura cowok itu seakan menekannya untuk tunduk, bagai seorang raja yang ingin rakyatnya langsung bersujud. Terasa sekali udara yang menyelubungi di sekitarnya bagaikan penguasa.
Bu Guru berkali-kali melirik Rio, seperti mata ini ada yang menarik otomatis untuk melihat ke arah bocah bengal itu. Tatapan Rio tajam dan meremehkan, namun memang itu settingan-nya sejak lahir.
“Ya ampun nih berondong... udah karamel, pedes pulak, makin panas tenggorokan deh!” begitu batin Bu Guru.
“Kata Anggun sudah dapat izin tuh,” desis Rio.
“Saya bilang ke dia, nanti Ayah pertimbangkan,” kata Pak Banyu.
“Itu PHP namanya Om,”
“Saya itu merawat dia 17 tahun dengan segala kemewahan yang ada, pendidikan berkualitas, skincare mahal, dan kulineran ke tempat-tempat eksotis. Memang kamu bisa kasih itu semua? Yang kamu punya cuma otot dan burung,”
“Dan nasib sial,” Iptu Rayhan menambahkan sambil menyeringai.
“Nah...” dengus Pak Banyu.
“Eh, tapi kalau Rio berhasil lulus ujian semester genap ini dengan aman, terus dia dapat pekerjaan siapa tahu nggak sial lagi loh Pak. Lulusan SMA Bhakti Putra kan bekingannya rata-rata pejabat, pasti ada lah satu-dua yang nyantol kalo nggak di perusahaan punya 12 Naga ya Three Kings,” desis Iptu Rayhan lagi.
“Kamu ini sebenarnya mendukung siapa sih?”
“Saya netral, hehe,” Iptu Rayhan mengangkat tangannya.
“Memang kamu siap berpasangan dengan Anggun?” akhirnya Pak Rendi angkat suara. “Mau modal dana berapa buat sekali kencan? Atau kamu malah berharap jadi gigo lo nya minta dibayarin terus?” tajam sekali kalimatnya Pak Rendi.
“Saya menjauh dia malah mendekat Pak, saya juga mikirin itu kok,” desis Rio.
“Cinta monyet iya-in aja dulu, ntar juga putus pas terakhir dituntut komitmen,” sahut Iptu Rayhan.
“Ya tahu, tapi anak saya bukan mainan,” sahut Pak Banyu
“Bukannya yang mau malah si Anggun Pak, saya lihat si Rio dari kemarin mah kalem-kalem aja,”
“Beneran kamu ke pihak rival...”
“Saya netral,” sekali lagi Iptu Rayhan mengangkat tangannya.
“Saya setujui kalau kamu dapat pekerjaan, atau setidaknya tabungan kamu sudah bisa menjamin anak saya,” kata Pak Banyu.
“Nanti juga numpang tinggal dan makannya di rumah Pak Banyu,” gumam Pak Rendi.
“Nohok bener sih Pak,” desis Rio.
“Sakit hati kamu?”
“Nggak sih,”
“Stabil nih... seperti biasanya si Rio,” desis Dokter Indra sambil memeriksa denyut jantung Rio. “Saya sering mikir alat di sini rusak apa nggak ya soalnya kalo meriksa si Rio kok kayaknya stabil-stabil aja,”
“Dia naik turun kalo balapan Pak, atau tawuran. Acaranya selesai, berubah lagi jadi es,” kata Iptu Rayhan.
“Naik tensinya kalo ada Anggun,” kata Pak Rendi lagi.
“Nohok lagi,” desis Rio.
“S-s-sudah waktunya Pak,” desis Bu Guru Pengawas.
“Awas kamu nggak lulus, saya sudah buang-buang waktu ke sini.” gumam Pak Rendi.
“Ya dibantu saja biar lulus,” pancing Rio sambil membalik kertas ujian.
“Tanya Pak Banyu tuh, kalo nggak lulus ada kerjaan jadi sekuriti nggak di kantor? Biar kayak judul novel-novel kan, Securiti-ku Cintaku Masa Depanku.”
**
“Rioooo, bisa ngerjainnya?” Anggun menghampiri Rio dengan ceria. Perangai gadis itu langsung berubah dari mode kalem jadi sok-sok kiyut kalau di depan Rio.
“Nggak tauuuuu...” Rio menutupi wajahnya dengan bantal sambil menengadahkan kepalanya ke atas, jadi suaranya mendem. “Gue nggak pernah baca novel isinya tentang buku semua. Siapa itu Mariati?! Siapa itu Teguh?? Kalo Luffy, Ace, gue hapal di One piece. Paling tidak ya ada Sasuke Hinata lah!”
“Itu kan komik Jepang, bukan novel Indonesia,”
“Tokoh Novel Indonesia yang gue hapal cuma Pak Sebastian Bataragunadi!” seru Rio putus asa.
“Kalau yang novel itu Authornya belum jadi aset negara jadi nggak muncul di ujian, hihihi,” kikik Anggun.
Rio membuka bantalnya dan menatap ke arah Anggun. “Lo tuh dalam sehari bisa baca berapa buku?”
“Satu buku kulahap sehari,”
“Sebenarnya kutu buku ya,”
“Suka membaca bukan berarti kutu buku, Rio,” Anggun naik ke ranjang Rio tanpa persetujuan, lalu kembali bergelayut di bahu cowok itu, “Kangen ih, baru dua jam ninggalin kamu rasanya udah galau aja,”
“Jangan terlalu erat, masih sakit,” desis Rio sambil menyingkirkan tangan Anggun.
“Nggak mau pisah,” gumam Anggun sambil membenamkan wajahnya.
“Hush!” Rio kembali mendorong Anggun sampai gadis itu menjauh sambil menyerang Rio dengan tatapan mengiba. “Nanti siang ujian Bahasa Inggris, sini bantuin gue biar ngerti grammar,”
**
“Kalau Object itu adalah tujuan, kalau Adverb adalah keterangan tempat, waktu dan kondisi,” gumam Rio.
“He-em,” gumam Anggun. Tapi tatapannya tertuju wajah Rio, bukan ke modul.
“Jadi kalimat yang berikut... jawabannya, A. Did you see my table on the phone two hours ago. Tull nggak?”
“Iya,” jawab Anggun, tapi matanya tetap tertuju ke arah Rio. Ia memperhatikan wajah cowok itu dengan mata menerawang sambil bertopang dagu.
“Yang bener?!” pancing Rio.
“Bener kok, Did you see my phone on the table two hours ago,” desis Anggun sambil tetap memperhatikan Rio.
“Kan nggak dengerin gue, gue tadi ngomongnya sengaja dibalik loh. Did you see my table on the phone two hours ago (Apakah kau lihat mejaku di atas telepon dua jam yang lalu),”
“Eh?” Anggun agak tersentak, lalu mesem-mesem menyadari tindakannya. “Hehe,”
“I did not sleep well last night,” desis Rio. (Aku nggak bisa tidur nyenyak tadi malam)
“So was I,” jawab Anggun. (Aku juga)
“Kalimat itu memakai rumus simple past tense verbal atau nominal?” tanya Rio
“Heh?”lagi-lagi Anggun tersentak.
“Kaaan lagi-lagi nggak fokus! Gue ganteng banget kali ya sampai lo segitunya ngeliatin gue?!”
“Mmmm... iya,” jawab Anggun.
Rio langsung mencibir. “Niat ngajarin gue nggak?”
“Cium dulu,” Anggun mencondongkan wajahnya.
Rio mengecup bibirnya sekilas.
“Lagi dong?”
“Nggak, nanti gue bablas. Belajar, belajar! Mana kopi!”
“I love you,” gumam Anggun.
“Itu pasti Subject, Adverb, Object. Kan?”
“Ih Rioooo!” gerutu Anggun
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ita Xiaomi
Ya kali ada dipelajaran sekolah😁.
2024-12-24
0
Kelabu Biru
malah gelut bapak bapak ini 😅
2024-10-10
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
silver fox❤️
2024-08-31
0