Cowok itu terdiam, melepaskan tubuh Anggun, lalu menghampiri Pak Banyu.
Ia merangkul bahu Pak Banyu, tanpa ekspresi ia dorong lembut tubuh pria eksklusif itu dan keluar tanpa suara sambil menutup pintu kamar Anggun.
Di Luar, Rio minta dibuatkan kopi hitam ke salah satu ART.
Pak Banyu hanya diam bersandar di Bar, sementara Rio dengan posisi yang sama di sebelahnya berdiri sambil menatap asap yang keluar dari cangkir kopinya.
Sesaat kedua laki-laki itu hanya diam.
Pak Banyu yang sebenarnya tak setuju dengan keberadaan Rio dalam hidup anaknya, bahkan kepikiran saja tadinya tidak pernah. Ia yakin Anggun yang sikapnya sesuai namanya, Anggun dan bersahaja, akan mencari calon suami atau paling tidak seorang pacar yang levelnya sesuai dengan kehidupannya yang mewah selama ini.
Tidak pernah terpikirkan hadirnya seorang preman kampung, anak bermasalah, suka berantem, mengukur segala halnya dengan otot. Pak Banyu takut orang seperti Rio akan menyakiti anaknya.
Tapi setelah melihat latar belakang Rio, dan ia bandingkan dengan Ikhsan, ternyata dalam hidup ini segala sesuatunya tidak bisa diukur dengan harta. Anak sekaya Ikhsan, sepintar dan hidupnya terhormat, bisa merencanakan sesuatu yang sangat jahat, demi kehormatan yang sebenarnya tak akan pernah ia dapatkan.
Kalau dilihat lagi latar belakang Rio, sebenarnya hidup anak ini dulu tidak semiskin sekarang. Rio dilahirkan dengan bergelimang harta, bisa membeli benda yang ia inginkan, sampai bisa bersekolah di SMA Bhakti Putra yang biaya masuknya saja setara dengan mobil mewah. Memang di sekolah itu sebagian anaknya masuk dengan beasiswa, dan juga terkenal dengan anak-anak nakal yang suka berantem. Seperti halnya kehidupan di negara ini... tidak semua anak orang kaya itu alim. Malah banyak yang otaknya miring demi bertahan hidup.
Pak Banyu dibukakan pintu hatinya saat ia melihat Ikhsan. Anak yang tadinya sosoknya ia jadikan patokan untuk mendampingi Anggun kelak. Namun akhirnya memang yang dibutuhkan dalam diri seseorang adalah akhlak.
Akhlak menentukan kualitas hidup seseorang, dalam hal ini adalah adab.
Seorang Pangeran yang tidak menunjukkan adab baik, nyatanya kalah jauh dengan tukang berantem yang adabnya tertanam di hati sejak kecil.
Ya, Pak Banyu benar-benar pulang kembali karena ada berkas yang ketinggalan. Ia baru keluar dari komplek saat ingat harus membawa benda itu ke kantor. Setelah mengambil berkas, sebenarnya ia buru-buru, namun ia penasaran dengan keadaan kamar Anggun yang tanpa suara. Sunyi dan senyap di sore ini.
Jadi, takutnya ada hal-hal yang tidak diinginkan, ini Rio gitu loh, kita tak tahu bagaimana tingkah laku di luar sana, begitu pikir Pak Banyu saat itu. Jadi ia tempelkan telinganya di depan pintu kamar Anggun.
Dan saat itu ia disadarkan dengan sebuah realita penting.
Kalau di masa depan, anaknya sudah tidak bisa lagi berinteraksi dengan normal ke lawan jenis. Dan kecil kemungkinan akan ada lagi pria yang menginginkan anaknya karena ‘cacat’ tubuhnya.
Dandari Rio, ia mendengar kata-kata itu.
Rio menerima Anggun apa adanya.
Kini, saatnya pembuktian apakah hal itu sekedar kata-kata manis, atau memang keluar dari hati terdalam Rio.
Apakah ia sama saja dengan Ikhsan atau inilah gentleman yang sesungguhnya.
“Om,” desis Rio setelah menyesap kopinya dan kini jantungnya lebih tenang. “Serius atau bercanda?”
Pak Banyu tersenyum sinis, “Rio...” ia menatap tajam ke arah Banyu, “Kamu sendiri terhadap Anggun, serius atau bercanda?”
“Huh,” dengus Rio dengan senyumnya yang sebelah sudutnya naik sedikit. “Serius,”
“Kalau begitu, sesuai jawaban kamu. Kita berdua tidak pernah mengobral janji kan?”
“Hm,”
“Apa kamu siap dengan sebuah pernikahan?”
“CkCk,” Rio mengacungkan jarinya, “Saya balik pertanyaannya sedikit ya, Apakah OM SIAP dengan pernikahan kami?”
“Saya?”
“Ini nikah siri Om, secara agama. Saya terkesan sebagai pelampiasan Om saja. Om takut kalau di masa depan Anggun tidak akan bisa memiliki pasangan yang menerima masa lalunya apa adanya. Seharusnya Om juga bertanya ke Anggun, dia mau dinikahkan di umur semuda ini atau tidak. Ini pernikahan tanpa ikatan yang Sah di mata negara. Tercatat di KK tapi tidak di akui! Om rela kalau tanggung jawab atas Anggun dialihkan ke saya?”
Pak Banyu menarik nafas dan menunduk, “Saya tidak siap, tapi ini harus dilakukan. Kamu bagaimana? Antar laki-laki saja, Rio. Bagaimana sebenarnya hati kamu menanggapi Anggun?”
“Saya baru saja jatuh cinta sama dia. Itu pun saya mikirnya sepuluh kali Om, bisa lebih. Apakah saya ini cinlok aja, atau memang pada dasarnya beneran suka. Saya juga pernah berpikiran apakah saya ini memanfaatkan kondisi Anggun yang sekarang untuk kesenangan saya sendiri... sepertinya tidak juga. Bukan, bukan begitu. Intinya saya saja masih bingung mengenai pacar-pacaran, semua terjadi begitu cepat, Om,”
“Saya menawarkan tingkatan yang lebih tinggi dari sekedar pacaran untuk membuktikan apakah kamu laki-laki yang sebenarnya atau sama saja dengan cowok brengsek di luar sana. Walau pun cara ini ilegal dan tidak disarankan pemerintah. Tapi saya butuh ikatan dari kamu. Janji kamu di mata Tuhan.”
Mereka berdua tahu, kalau kualitas Anggun sebagai seorang wanita lebih tinggi dari rata-rata gadis seusianya. Kecacatannya tertutupi dengan kecerdasannya. Dengan menawannya, Anggun kembali bangkit dengan cepat. Pemicunya kesembuhannya hanya satu, seorang berandalan bernama Rio.
“Demi hidup Anggun, saya bersedia menikahinya. Tapi Mohon maaf, apa adanya saya saja,” kata Rio.
“Saya sudah memaklumi yang itu, kamu ini masih makan nasi uduk beli pagi dimakan dua kali sampai siang, Masih di bawah pengawasan dinas sosial, biaya rumah sakit ditalangi dokternya pula!” Omel Pak Banyu. “Tapi kamu masih jauh lebih baik dibanding cowok kaya yang tergantung sama uang bapaknya, dan kelakuannya kayak Dajjal.”
**
“Kita nggak nikah sekarang kan Om? Saya masih harus mengajukan dispensasi ke Departemen Pendidikan loh Om. Banyak yang harus diurus,” kata Rio sambil berjalan mau masuk lagi ke kamar Anggun.
Tapi lalu dia berhenti.
Ada notifikasi di ponselnya.
Ia memeriksanya sambil berjalan, lalu dia pun berhenti sambil mengenyit.
“Eh?”
Pak Banyu juga ikut berhenti dan bertanya, “Kenapa Rio?’
“Ada... 5 miliar di tabungan saya, Om. Banknya salah kirim kayaknya ya, duit orang lain malah dikirim ke saya...” Rio memeriksa nama pengirimnya.
Anggun Rejoprastowo.
“Hah? Kok pengirimnya dari Anggun?”
Pak Banyu pun memeriksa ponselnya dan mengernyit, ada notifikasi dari Customer Service Bank.
“Ada dana masuk... 110miliar ke rekening saya. Loh? Nama pengirimnya juga Anggun?”
“Om, ini sepertinya kompensasi dari Pak Kinto yang kemarin itu... berarti dia setuju dengan penawaran Anggun.”
Pak Banyu langsung muram. “Kemurahan kalau segini mah. Bertriliun-triliun pun nggak akan cukup,” dengusnya kesal.
“Nggun!” Rio membuka pintu kamar Anggun.
Gadis itu sedang berdiri di depan meja riasnya dengan wajah sumringah, ia tersenyumke arah Rio.
“sudah sampai ya dananya?”
“Kamu tuh... duuuuh! Jangan asal kirim ke rekening aku dooong! Kalo gini caranya aku kan harus bikin NPWP buat bayar pajak!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
efvi ulyaniek
wkwkwkwkwkwkkw...rio asal jeplak aja kocak bgt...sampe kepikiran npwp segala/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-05-30
0
Naftali Hanania
duh...beneran pinter bgt ya untuk anak seusia rio...dah langsung mikir nya kesana....tp bayar pajak di negara konoha mah...kudu iklas² banyakan gak iklas ya....🤣🤣🤣🤣🤣 ups..😚✌️
2024-02-29
0
Naftali Hanania
setuju bgt ini...✌️👍
2024-02-29
0