Siapa sebenarnya seorang Anggun Rejoprastowo, di balik sikap ketergantungannya ke Rio?
Gadis cantik berusia 17tahun, dengan tinggi 170 cm dan berat 50kg. Sudah pasti perawakannya sangat menawan. Kulitnya seputih pualam, dengan bibir tebal alami dan alis terukir sempurna.
Orang tua Anggun bercerai saat usianya 15tahun, kini ibunya sudah memiliki kekasih di negeri barat. Dari awal ibu Anggun memang tidak terlalu ikut campur soal urusan rumah tangga dan tumbuh kembang Anggun. Jenis wanita yang masih ingin bebas namun harus dipaksa untuk berhenti bersenang-senang karena adanya seorang anak.
Jadi sang ibu menganggap Anggun adalah penghalang kesuksesannya.
Ayahnya, Pak Banyu Rejoprastowo adalah Direktur di salah satu perusahaan F&B yang sudah pasti sebagian besar manusia dinegara ini pernah mencoba beberapa produk snack mereka. Jadi keuangan keluarga Anggun bisa dibilang sejahtera.
Anggun cantik, pintar dan kaya raya, bagaikan tanpa cela, kecuali... ya, dia sangat sombong.
Apalagi saat dia menginjak semester akhir, tingkahnya sudah seperti seorang Ratu.
Di benaknya, ia akan ‘menyempurnakan’ sosok ibunya. Ia begitu membenci sosok ibunya, dan berpikir bisa lebih hebat dari ibunya. Karena itu dia terobsesi dengan kemenangan. Agar suatu saat ketemu ibunya lagi, dia sudah berada di puncak dan bisa menyombongkan diri.
Inilah anak yang kau tinggalkan, yang kau anggap penghalang.
Ia akan berkata begitu ke ibunya suatu saat nanti.
Bahwa ibunya akan ia buat merasa menyesal telah meninggalkannya begitu saja.
Masalahnya... sikap sombongnya itu berbuah fatal.
Ternyata urusannya dengan Ikhsan tidak berhenti di situ saja.
Sebulan kemudian,
"Non, bensinnya habis, kita mampir dulu ke pom sebelum jemput non ya,"
Pesan singkat dari salah satu ARTnya. Anggun memang biasa dijemput oleh salah satu ART dan drivernya. Si ART bertugas untuk membawakan tas dan buku-buku Anggun, biasanya dibawakan dari kelas sampai ke mobil.
Gaya Anggun yang bak ratu kerap disandangnya sejak kecil.
Anggun adalah anak satu-satunya, jadi sudah pasti mendapat banyak privilege. Apalagi, prestasi Anggun yang segudang cukup membanggakan, diprediksi Pak Banyu tidak akan terlalu banyak mengeluarkan dana untuk biaya pendidikan putrinya itu. Jadi banyak uang yang bisa mereka hambur-hamburkan.
“Kenapa nggak diisi dari pagi sih?! Mobil kan mondar-mandir dari tadi! Saya nggak mau tau ya, jemput saya jangan telat! Atau saya akan buat pengaduan ke ayah!” begitu isi balasan pesan dari Anggun.
Setelah itu ARTnya hanya membalas “Baik, Non.”
Dan Anggun pun berjalan mondar-mandir di sepanjang koridor sekolahnya.
Banyak sekuriti saat sore, tapi Anggun tidak terlalu mengenal mereka. Shift sore ini biasanya beda dengan yang shift pagi. Tapi hal itu membuatnya merasa aman karena masih banyak orang di sekolah.
Hari ini, Anggun harus mengurusi Rapat Osis untuk acara serah terima jabatan. Lumayan alot karena menurutnya Sekretaris Osis setelah ini dianggapnya kurang mumpuni.
Sekretaris itu ditunjuk oleh Ikhsan si Ketua Osis. Cowok itu bilang ‘tak apa’ karena Osis hanya organisasi siswa, kinerjanya tidak terlalu berpengaruh ke predikat sekolah. Istilahnya hanya organisasi sekolah yang acaranya ecek-ecek.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi Anggun yang perfeksionis. Osis pun harus bergengsi dan berkualitas, sesuai dengan nama besar SMA Bhakti Putra. Tidak bisa asal main comot siswi yang dianggap cantik sedikit dikasih jabatan sekretaris padahal ia minim prestasi.
Karena prinsip Anggun itu, ia dan Ikhsan sibuk berdebat sampai sore. Rapat Osis berlangsung sampai hampir Maghrib. Siswa dan guru sudah pulang semua. Yang berkumpul di sana hanyalah sekuriti.
“Belum pulang, Non Anggun?” seorang sekuriti yang Anggun tidak kenali menyapanya.
“Iya Pak,”
“Belum dijemput?”
“Lagi OTW,” Anggun berusaha menjauh, ia risih mengobrol dengan seorang sekuriti, apalagi yang ia tidak kenal betul.
Tapi sekuriti itu tahu namanya... lumayan aneh sih. Atau ia memang sepopuler itu?!
Saat Anggun berjalan agak ke samping itulah, bahunya membentur sesuatu.
Sekuriti yang lain, sudah ada di sampingnya.
Seakan menghadangnya.
“OTW gimana non?” tanyanya sambil menyeringai.
Anggun mulai dilanda perasaan tak enak.
“Ya lagi dalam perjalanan ke sini jemput saya,” sahut Anggun berusaha mundur untuk menghindar.
Tapi di belakangnya ia kembali membentur sesuatu.
Sekuriti yang lain.
“Udahlah Non Anggun,” kekeh si sekuriti, “Nggak bakalan dateng kok mereka,”
“Maksudnya?”
Ikhsan keluar dari gerbang sekolah, di belakangnya ada beberapa sekuriti. Anggun agak lega karena akhirnya dia tidak sendirian di sana.
Tapi melihat Ikhsan menyapa ketiga sekuriti mencurigakan yang mengelilingi Anggun, cewek itu pun menghentikan langkahnya.
“Bang,” sapa Ikhsan, “Saya sudah capek-capek ngulur waktu biar si Ratu pulangnya sore. Driver sama ARTnya juga nggak bakalan dateng ya, alasan bensin habis. Jadi dia sendirian sekarang. Usahakan... mayatnya nggak ketemu.” Desis Ikhsan.
Anggun membelalak mendengar Ikhsan bicara begitu.
“Ikhsan... kamu...”
“Aku tahu betul kamu pasti akan tidak setuju dengan anak yang kupilih untuk menggantikan kamu menduduki jabatan sekretaris berikutnya. Sengaja sih,” kata Ikhsan.
“Maksudnya apa ini?!” Anggun mulai panik.
Ikhsan tersenyum ke arah Anggun. “Nggak ada injury time ya Anggun. Kamu sudah menghancurkan masa depanku.”
Dan saat itu Anggun merasa pusing. Mulutnya ditutupi semacam kain dengan cairan menyengat. Kedua tangannya ditahan ke belakang. Dan ia digeret paksa untuk masuk ke dalam mobil.
Namun, tidak seperti di film-film Hollywood, Chloroform yang dipakai untuk membiusnya masih bisa membuatnya sadar selama beberapa menit. Tidak langsung pingsan.
Dalam keadaan meronta, di dalam mobil yang terasa asing baginya, Anggun masih bisa mendengar obrolan mereka.
“Boss, kita boleh ngerjain dia dulu kan ya?”
“Bekas abang jangan kedetect dong,” kata Ikhsan.
“Nggak, sudah sering kok tanpa jejak. Bagusnya sih setelah dana ditransfer sama bokapnya, dia baru kita habisi,”
“Yah gitu boleh juga, biar kalian semua ada pemasukan tambahan ya,”
Tawa mereka yang mengerikan jadi hal terakhir yang Anggun dengar sebelum ia merasakan gelap sepenuhnya.
**
“Ikhsan Pramudi, tangkap dia di rumahnya!” perintah Iptu Rayhan langsung setelah mendengar cerita Anggun.
Pak Banyu dengan marah berteriak, “Pantas Karyo dan May resign hari ini! Mereka resign pagi-pagi!”
“Terduga ART dan Driver Pak Banyu yang bertugas menjemput Anggun tertangkap CCTV jam 7 malam datang ke sekolah. Tapi mereka tidak menemukan Anggun. Coba cek pom bensin yang sejalan dengan arah rumah dan sekolah, mereka sempat mampir beneran nggak?” perintah Iptu Rayhan ke anak buahnya.
Sambil mendengarkan semuanya, Rio mengerjakan ujiannya dengan tenang.
Genggaman tangan Anggun terasa dingin. Rio akhirnya melepas jemari Anggun dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu untuk membawa tubuh sintalnya lebih erat.
“Fokus, Rio,” desis Pak Rendi.
“Takdir...” gumam Rio pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
cha
tengil banget sich si Rio beneran gw Toyor ni pala lo
2023-09-15
2
Kustri
kesempatan tak dilewatkan bgtu aja, rio...rio
2023-09-14
0
Ersa
tunggu ya ikhsan pembalasan dari Rio
2023-08-30
0