Rio perlahan membuka matanya. Yang ia lihat pertama adalah plafon kamar rumah sakitnya yang putih. Lalu TV besar yang tergantung di dinding, di sebelahnya ada jam dinding yang jarumnya menunjukkan pukul tiga 3.45.
Baru saja... ia bermimpi tentang ayahnya.
Tentang saat terakhir ia menatap ayahnya dalam keadaan sehat, kejadiannya mungkin beberapa bulan lalu saat Rio baru menginjak semester ganjil.
Ia bagai diingatkan kalau ada hal penting yang ayahnya mau sampaikan kepadanya.
Tapi karena Rio dan ayahnya tidak dekat, ayahnya kerap pergi dan pulang semaunya, beberapa kali membawa perempuan ke rumah membuat Rio jadi tak betah dan lebih banyak beraktivitas di luar.
“Rio, untuk sekali dan terakhir kalinya ini, tolong ayah.”
“Ayah mikir nggak kalau ayah punya anak? Memang kita kekurangan ya sampai ayah korupsi?!”
“Ayah minta maaf, ayah selalu menyusahkan ibumu dan kini menyusahkan kamu. Ayah pikir ini sudah yang terbaik.”
“Ini justru yang terburuk, ayah. Ayah tahu kan kenapa aku sering kali pelarian ke hal-hal yang di luar batas?”
“Waktu berkunjung sudah habis 5 menit yang lalu, ayo masuk Pak Guntur,”
“Tunggu! Saya belum selesai!”
“Semua juga bilangnya begitu, Woy, bantu tarik!”
“Jangan!! Rio, rio ayah memiliki-“
“Ayo Pak masuk ke dalam sel lagi,”
“Rio-“
“Nanti kalau pengadilan memutuskan bapak tidak bersalah, baru bisa ketemu anak bapak lagi, kan masih ada minggu depan,”
“Rio! Tolong Adinda! Adinda! Dia baru melahirkan anak keduanya! Cari dia di email!”
“Ayo Pak Guntur, ayoooo... duh susah banget sih!”
Dan itulah terakhir kalinya mereka berbicara. Setelah itu Rio mendapatkan kabar, sekitar tiga hari setelahnya, kalau ayahnya meninggal gantung diri di penjara.
Rio berusaha terduduk, namun sesuatu menahan lengannya.
Cowok itu menoleh ke samping.
Anggun...
Lagi-lagi Anggun di sampingnya.
Tertidur pulas sambil memeluk lengannya
Rio menatap Anggun dengan seksama. Baru kali ini i a dengan jelas dan tenang melihat sosok yang dulu dianggapnya makhluk mitology ini. Saking terasa tak nyatanya Anggun di hidupnya. Bagaimana bisa ada yang secantik ini di dunia?
Tinggi semampai, kulit putih dan dada besar. Berjalan dengan dagu terangkat dan menatap semua dengan remeh. Senyumnya yang menawan mampu memikat orang yang ditujunya untuk menurut.
Anggun adalah impian hampir semua cowok di sekolah.
Ada sih cewek populer kedua, ketiga, keempat. Semua rata-rata teman se-genk Anggun. Tapi Anggun selalu tampak mencolok karena tubuh tingginya dan rambut panjangnya yang sepinggang.
Rio mengelus alis anggun yang tebal dan diukir sempurna tanpa anak rambut di selanya. Bagai diukir dengan alat, tapi yang ini setiap helainya terasa nyata.
Hidung Anggun tidak terlalu panjang, kecil tapi mencuat ke atas. Lucu seperti boneka.
Dan kulitnya... ternyata sangat lembut. Rasanya Rio tak tega menyentuhnya dengan tangan kasarnya yang besar. Ringkih bagaikan permen kapas, kalau disentuh akan terkoyak.
“Rio,” terdengar suara Anggun.
Rio langsung membeku.
Lalu menipiskan bibirnya karena malu ketahuan lagi bela-belai anak orang tanpa izin bapaknya.
Mata bulat dan jernih itu terbuka sedikit.
“Di saat terakhir itu, saat aku merasa hidupku tak lama lagi, dan rasa sakit bertubi-tubi datang... aku berdoa dua hal padaNya,”
Jeda mereka diiringi dengan bunyi mesin AC dan detik jam.
“Kalau memang aku akan meninggal dalam keadaan hina, jangan sampai Ayahku melihat keadaanku yang menjijikkan. Lalu... seandainya bisa, aku ingin bertemu dengan orang yang sejak lama hanya mampu kuimpikan, untuk mengutarakan perasaanku padanya...”
Malam itu terasa sunyi.
Sunyi yang nyaman.
“Ternyata... aku diberi kesempatan hidup sekali lagi. Bahkan dua permintaanku dikabulkan. Tapi lagi-lagi setan menguasai pikiranku, aku trauma dan malah menyalahkanNya atas segala yang terjadi,”
Rio tidak berbicara, ia hanya mendengarkan Anggun.
“Saat mereka mengabarkan kami kalau lagi-lagi kamu terluka, saat itulah Tuhan menyadarkanku kalau aku pernah memohon dua hal itu Pada Sang Maha Pencipta. Malah betapa baik DiriNya masih memberikan aku kesempatan untuk memeluk kamu,” Anggun mengangkat wajahnya dan menatap Rio dengan lembut.
“Mungkin itu sebabnya, hal pertama yang kucari adalah kamu... keinginan terpendam yang selama ini tidak pernah kesampaian. Kalau ini mimpi pun aku tak akan menyia-nyiakannya.”
Perlahan, bibir gadis itu mendekat.
Lalu menempel ke bibir Rio.
Yang ada saat itu hanya rasa manis. Rio tidak suka sesuatu yang terasa manis, baginya ia tidak cocok dengan semua itu. Tapi bibir Anggun membuatnya merasa kalau hal manis itu ternyata nikmat rasanya.
Rio sedikit membuka bibirnya untuk lebih bisa menye sap rasa Anggun. Benar-benar manis yang membuat candu. Berbeda dengan saat pertama mereka berciuman, bagi Rio hal itu hanya asal menempel seperti dengan perempuan lainnya.
Namun sesuatu membayangi pikirannya...
Jangan kotori lagi.
Kata-kata itu.
Jangan kotori lagi, dia pernah terjerembab di lumpur. Masa saat kini kau menolongnya, kau tempat berpijaknya, kau malah mengotorinya lebih parah dari lumpur?
Tiba-tiba ada pikiran itu di benaknya.
Astaga... nuraninya bersabda!
Rio pun menarik bibirnya. Tentu ia lakukan itu dengan enggan. Di saat ia merasa bibir Anggun adalah hal ternikmat yang ia pernah rasakan, di saat itu pula ia tertahan untuk tidak memakannya.
Anggun menatapnya dengan kebingungan. Wajahnya langsung merasa kecewa saat itu juga.
“Gue...” tenggorokan Rio terasa tercekat.
“Rio?”
Rio memikirkan apa kata-kata yang akan ia utarakan selanjutnya, tapi tidak ada yang terasa pas. Ia tahu ia harus bicara secepatnya karena tipikal Anggun yang suka menilai sesuatu berdasarkan opininya sendiri.
“Kamu... benar menciumku hanya karena empati? Agar aku bisa bicara ke-“
“Nggak Nggun, bukan itu. Jangan salah paham,” Rio berujar dengan cepat.
“Lalu kenapa sekarang?”
“Itu...” Rio menjauh dan sedikit mendorong Anggun agar tidak terlalu menempel padanya. Lalu ia mengambil bantal di punggungnya dan meletakkannya di pangkuannya. Lalu tersenyum tak enak ke arah Anggun. “Lu ngerti dikit dong...” gumamnya pelan sambil buang muka.
Anggun menatap bantal bantal di pangkuan Rio.
Agak lama, sampai Rio jengah dan mendorong pipinya ke samping agar gadis itu tidak terlalu serius melihat bantal.
Lalu akhirnya wajah Anggun memerah.
“Ih, Rio...” tapi dia terkekeh.
“Udah sana balik ke sofa, gue mau menenangkan diri,” Rio mengibaskan tangannya mengusir Anggun.
“Hehe,” Anggun beringsut turun dari ranjang dan berjalan ke arah sofa. Lalu menyelimuti dirinya sambil tetap tersenyum simpul ke arah Rio.
“Rio?”
“Apa lagi?” keluh Rio.
“Kita pacaran ya,” itu perintah, bukan ajakan.
“Nanti gue minta izin dulu ke Pak Banyu, boleh apa nggak,” Rio masih tak mau kalah.
“Boleh kok, aku udah tanya,”
“Di depan lo boleh. Di belakang, gue bakal digebukinnya.” gerutu Rio sambil tarik selimut sampai atas kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
May Keisya
gantung diri atau digantung sama org seakan2 bundir🙄
2024-02-02
0
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
anggun agresif bener deh... untung cantik
2023-10-13
1
Jeng Anna
wkwwkwkwkwk endingnya kok Rio nggemesyin
2023-09-29
0