“Rio, jangan pulang...” Anggun menggenggam erat lengan Rio sambil menatap dengan pandangan memohon.
“Gue harus-“
“Please, please!! Jangan tinggalin aku,”
“Besok masih ada ujian Nggun,”
“Kalau gitu aku ikut! Ke mana pun kamu pergi aku ikut!”
Rio pun menghela nafas mendengar permohonan Anggun. Cowok itu melihat ke arah pak Banyu, meminta persetujuan. Pak Banyu kelihatan duduk termenung di sofanya dengan enggan.
Lalu ia menatap tajam ke arah Rio.
“Anggun, Rio harus pulang,” kata Pak Banyu.
“Aku ikut Rio pulang,”
“Nggak bisa Anggun, Rio memiliki hidupnya sendiri,”
“Bagaimana dengan hidupku? Kalau dia tak ada-“
“Kalau dia tak ada kamu kenapa? Mati? Kamu harus bisa mengendalikan trauma kamu.”
“Bisa jadi saat itu aku mati, Kan ayah tak ada di sana.”
“Kamu seharusnya sudah mati sejak lama, dan memangnya kamu ingat saat itu ayah yang menyelamatkan kamu? Tidak juga kan? Kenapa kalau soal Rio kamu ingat?”
Anggun menatap ayahnya sambil ternganga, “Aku saat itu 7 tahun dan itu sudah berlangsung sangat lama! Lagi pula sudah kewajiban ayah menolongku!”
“Dan bukan kewajiban Rio menuruti keegoisan kamu sekarang! Dia juga memiliki hidupnya sendiri!” Pak Banyu berdiri dan menghampiri Anggun. “Kamu dari dulu selalu saja menyulitkan orang lain! Memangnya kamu mau tahu apa yang harus dilakukan Rio saat pulang? Semua orang kamu dapuk jadi bawahan, kamu ratu, kami hanya jongos, termasuk ayah! Begitu?!”
“Anggun diam membelalak menatap Ayahnya.
“Kalau kamu segitu sukanya sama Rio, seharusnya kamu pikirkan juga kebutuhannya! Keperluannya! Jangan kamu lagi-kamu lagi, kamu terus yang menang! Kamu tanya sekarang, kamu cinta sama Rio, Rionya cinta nggak sama kamu?!”
“Dia tadi menciumku...”
“Bilang suka nggak? Atau dia cium kamu Cuma karena empati biar kamu tenang dan bicara?!”
“Eh?”
Anggun terdiam.
Rio hanya berdiri bersandar ke dinding sambil menatap Pak Banyu.
Tatapannya hanya santai saja, tidak tegang, tidak juga panik.
Dalam hatinya ia setuju dengan Pak Banyu, tapi di lain pihak, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyerang Anggun yang masih dilanda rasa Trauma.
Tapi Pak Banyu bilang begitu karena ia tidak tahu apa yang terjadi, juga karena bisa jadi ia tidak suka dengan keberadaan Rio dan sikap Anggun yang posesif dan terkesan murahan di depan orang.
“Rio?” dengan nanar Anggun menatap ke arah Rio.
Rio hanya membalas tatapannya, tapi masih diam. Wajahnya tanpa ekspresi.
“Kamu... kamu suka sama-“ Anggun tidak meneruskan kalimatnya.
Gadis itu menatap wajah Rio yang berubah dingin dan terkesan cuek. Tatapan meremehkan seperti saat ia melihat Rio sewaktu acara debat.
Terkesan tidak peduli dan... “Rio...” Anggun berdiri menghadap Rio sambil tercenung.
“Kan, sudah Ayah bilang, kalau kamu itu terlalu merasa penting. Bukannya Ayah tidak peduli dengan penderitaan kamu. Ya tentu saja hati ayah sangat sakit mendengar kamu diperlakukan bagai binatang oleh orang-orang itu. Tapi, Anggun, di sini ada ayah! Masa kamu menyamakan ayah dengan mereka? Menyamakan Pak Polisi di sini dengan penjahat itu? Jangan menyamaratakan asal laki-laki pasti jahat! Ayah merawat kamu selama ini, apakah itu tidak cukup bagi kamu?”
Suasana hening sesaat.
Anggun merasa sangat pusing.
Pikirannya dipenuhi berbagai hal.
Ayahnya tidak mengerti bagaimana beratnya shock yang dialaminya. Apa pun yang orang lain katakan, argumen orang lain tidak bisa diterima oleh otaknya.
Rasa sakitnya terlalu besar, terlalu dalam.
“Gue setuju sama Pak Banyu,” kata Rio.
Anggun menarik nafasnya.
“Tapi tenang aja Nggun, gue nggak sembarangan cium cewek. Walau pun gue ba jingan, tapi untuk masalah cewek, gue masih punya etika.”
“Apa...” Anggun agak limbung, “Apa maksudnya itu?”
Rio menangkap lengannya dan dengan lembut mendudukkannya di sofa.
“Jadi begini,” kata Rio sambil menatap Anggun dalam-dalam.
Pandangan Anggun mulai tidak fokus. Tapi ia mencoba menghadapi Rio.
“Mencintai bukanlah menguasai. Manusia memiliki cara mencinta yang berbeda-beda. Dalam hal ini, lo mencintai dengan cara lo sendiri dan gue mencintai dengan cara gue sendiri. Orang yang saling cinta otomatis saling paham,”
Anggun masih diam mendengar penjelasan Rio.
“Gue paham lo bersikap begini ke gue. Tapi.... ada orang yang lebih mencintai lo dari pada gue. Dia cinta sama sudah dari sejak lo lahir, Nggun. Dia habiskan waktunya hanya untuk mikirin lo, gimana caranya lo bisa tumbuh dengan baik. Lo pasti sakit hati kan kalau gue nolak lo?”
“Jangan-“ gumam Anggun.
“Sakit kan?”
“Sakit.”
“Padahal lo baru menolak seseorang. Ya itu... Ayah lo sendiri. Pak Banyu. Dari awal dia ingin sekali meluk lo. Lo nya malah meluk gue. Padahal yang paling merasa kehilangan adalah dia. Bukan gue. Gue kan baru aja kenal lo,”
Anggun menatap Rio dengan tertegun.
Bagaikan ada jari yang menyentil hatinya. Jari Tuhan tak kasat mata. Sedikit tersentuh tegurannya tak ternilai. Seakan aliran darah langsung mengalir ke nadi. Membuka hati dan mata dari kegelapan, menghadapi kenyataan dengan sebenarnya.
“Ayah...” Anggun mulai terisak.
Menyadari kalau ia sangat salah.
Dari awal, ia yang salah.
Ia terus menerus menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain. Kenapa harus dia, kenapa bukan orang lain saja. Kenapa dia harus masih hidup, kenapa harus dia yang dipermalukan. Kenapa dia harus jadi yang paling tersiksa.
“Gue juga sayang lo, tapi gue baru saja jadi orang yang sayang lo. Kalau Ayah lo udah dari 17 tahun yang lalu, Nggun. Lo harusnya lebih prioritasnya dia dibanding gue,” bisik Rio sambil mengelus kepala Anggun.
Lalu cowok itu memberi kode ke Pak Banyu supaya duduk di depan Anggun.
Dan ia pun keluar dari kamar Anggun.
**
Dalam diam ia menyulut rokoknya di tepi jendela Ruang Keluarga.
“Ketua Osis...” kekehnya tak percaya sambil menatap Iptu Rayhan. “Banyak hal gila pernah saya alami, ini yang paling gila. Percaya nggak sih Pak, orang yang sehari-harinya jadi panutan ternyata adalah dalang dari kejahatan yang paling tak terpikirkan?”
“Hehe,” Iptu Rayhan berdiri di depan Rio sambil tersenyum getir. “Saya dulu pernah berpikir, apa sih Tujuan Yang Maha Kuasa menciptakan banyak hal buruk? Apakah benar untuk menunjukkan manusia akan KebesaranNya?”
“Menurut Pak Iptu?”
Iptu Rayhan menggeleng, “Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya. Tapi seseorang pernah bilang ke saya, Skenario Tuhan bukan untuk dibaca dan diterka, tapi hanya untuk dimainkan oleh kita sebagai pemeran utamanya.”
“Setiap individu adalah Pemeran Utama,”
“Betul. Dan otak kita tidak akan bisa melampauiNya. Dari pada bertanya terus jadi gila, lebih baik jalani saja semuanya dan yakinlah selalu DenganNya.”
“Dengan CaraNya sendiri, ia mengajarkan kita cara menghadapi dunia. Kasus kali ini terus terang saja membuat saya merasa sangat kecil sebagai manusia,” Rio menghisap rokoknya dengan tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Evi
bener banget
2024-08-23
0
Naftali Hanania
keluargaku hbs nhalamin musibah yg kerasa bgt bikin shock...tp ini pasti bkn kebetulan aku krpingin baca cerita ini...ternyata isi nya sesuai sm yg lg dialamin.....skenario Tuhan 👍👍👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2024-02-28
0
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
banyak makna yang dapat kita pelajari dari musibah anggun.
2023-10-12
0