“Jangan pergi,” gumam Anggun sambil menatap Rio.
Rio berlutut untuk membantu Anggun mengenakan piyamanya. “Rumah gue di tempat lain,”
“Kalau begitu, aku ikut,”
“Ya nggak bisa dong Nggun, bisa-bisa gue digrebek warga bawa-bawa anak orang ke dalam kontrakan,”
“Kalau begitu, bisa tidak kamu usahakan kamu ada saat aku bangun nanti? Aku akan bersabar beberapa menit sampai kamu datang,”
“Yaaa, yang itu bolehlah,” Rio menyambar sisir dan mulai menyisiri rambut Anggun yang panjang. Hal yang dulu sering dilakukannya saat kecil ke ibunya. Sambil menyisiri rambut ibunya ia sering bercerita mengenai kegiatannya hari itu. Makanya waktu ada film horor yang beradegan anak laki-laki menyisiri ibunya yang sedang lumpuh, Rio berulang kali mengulang adegan itu.
Pak Banyu duduk di kursi meja belajar Anggun sambil termenung, tanpa bersuara. Ia tahu satu saja kalimat darinya, kondisi Anggun pasti langsung labil. Anggun histeris saat mendengar suara laki-laki, ia belum bisa membedakan kecuali suara Rio. Dengan perempuan pun ia ketakutan. Tugas Rio di sini membuat mental Anggun stabil, agar kasus ini segera ter-usut.
“Nanti pagi gue masih ujian semester. Matematika pula. Mam pus dah belom belajar. Berasa mau diumpanin ke kolam hiu,” gerutu Rio.
“Biasanya juga kamu nggak belajar, Rio,”
“Biasanya kan masih ada waktu buat ngintip-ngintip dikit modul. Sekarang udah keburu tepar,”
“Gara-gara aku ya?” tanya Anggun. Rio melirik Anggun sambil bertanya-tanya. Ini jebakan atau bercanda? Tapi akhirnya cowok itu memutuskan menanggapinya dengan santai
“Iya, tanggung jawab lo, bikin gue repot,”
“Hehe,” tawa renyah Anggun yang membuat hati Rio sangat lega. Pertanda kalau kondisi Anggun sedang stabil. Luar biasa saat mengetahui Anggun bisa dalam kondisi baik-baik saja saat berada di dekat Rio. Padahal tadinya ia bagai kesetanan. “Aku bantu belajar mau?” tanya gadis itu berikutnya.
Satu lagi pertanyaan yang membuat mereka lega.
“Eh? Males banget dengernya! Ya tapi gue butuh sih...” canda Rio.
“Kalau setelah kuajarkan kamu besok kamu bisa ngerjainnya, setelah itu kamu seharian harus di dekatku. Bagaimana?”
“Gampanglah itu. Masalahnya kan besok gue ketiduran apa nggak,”
“Ayo dong Rio,” desis Anggun memberi semangat.
“Lo juga harus janji...”
“Janji?”
“Iya... janji lo bakalan kuat.”
Anggun menatap Rio agak lama, lalu sesaat kemudian ia menggigit bibirnya.
Dengan ragu gadis itu menoleh ke samping, ke arah Ayahnya, Pak Banyu.
Pak Banyu menatapnya dengan nanar. Wajah pria itu terasa putus asa dan letih.
Sejak tadi Anggun tahu ayahnya di sana. Namun ia berusaha tidak mengacuhkannya. Semakin nyata bayangan para penjahat itu saat ia menatap ayahnya.
Padahal, ia tahu, ini ayahnya sendiri.
Orang yang pastinya saat kejadian itu kalang kabut mencarinya.
Kejadian itu masih sangat baru, jadi Anggun belum merasa kuat menguasai dirinya sepenuhnya.
Emosinya langsung timbul, tertahan di tenggorokan.
Sebelum pecah semuanya, ia pun menunduk, menghindari tatapan ayahnya.
“Aku usahakan kuat menjalani semuanya, asalkan kamu ada di dekatku,”
Jadi malam itu, dengan Pak Banyu yang mondar-mandir menghabiskan bergelas-gelas kopi, Anggun semalaman mengajari Rio bahan untuk ujian besok.
**
“Waktu habis letakkan pensilnya,” kata Pak Rendi yang berada di depan.
“Sip!!” desis Rio sambil memosisikan kedua tangannya di atas meja, dan ia langsung menelungkupkan wajahnya bersiap tidur.
“Riooo itu meja mau di pakai untuk jadwal berikutnya!” seru Pak Rendi.
“10 menit!” seru Rio. Tak lama terdengar dengkurannya
“Gitu aja langsung pingsan, gimana ikutan CPNS...” gerutu Pak Rendi sambil mengumpulkan lembar ujian.
Sejenak ia membaca lingkaran hitam di lembaran ujian Rio lalau mengerutkan dahinya, jawabannya hampir semua benar. Jadi kesimpulan Pak Rendi, kemungkinan Anggun lah yang mengajari Rio. Kalau nilai Rio begini terus,
“Sampai kamu jadi CEO, saya resign jadi Kepsek, hehe,” gumam Pak Rendi sambil menunduk. Yaitu sudah jadi nazarnya. Lagi pula orang tuanya sudah ribut ingin Pak Rendi meneruskan usaha keluarganya saja dibanding jadi Kepala Sekolah. Kalimat yang tadi itu sebenarnya sebagai penyemangat untuk Rio. Anak nakal yang sebenarnya membanggakan kalau niatnya untuk belajar timbul sedikit saja.
Seseorang mengetuk pintu kelas ruang ujian, Pak Rendi menoleh dan melihat Iptu Rayhan dengan pakaian casual menyeringai padanya.
“Kenapa Ray?” bisik Pak Rendi sambil menghampiri Iptu Rayhan. Polisi berusia 36 tahun itu sengaja memakai pakaian casual karena tidak ingin siswa-siswi di sana kaget ada polisi di sana.
“Kayaknya nanti siang si Anggun udah bisa kita wawancara,” desis Iptu Rayhan, “Gue mau bawa tim ke rumah Pak Banyu, lo bisa keluarin surat izin buat bocah tengik itu kan?”
“Masih ada ujian nanti siang, Ray,” desis Pak Rendi, “Rio nggak bisa ikut remedial lagi, kuotanya udah overload saking banyaknya kasus,”
“Kita dapat laporan kalau Boss mereka bakalan kabur ke luar negeri nanti sore,”
“Haduh,”
“Sementara ini masih dugaan, buktinya belum ada. Satu keterangan saja dari Anggun, kita bisa blokir bandara lebih cepat, Ren. Tapi buat bisa bikin Anggun ngomong, gue butuh Rio.”
Pak Rendi menatap tubuh Rio yang masih asik mendengkur di mejanya, sementara anak-anak lain sudah bermain-main di lapangan tanda kelegaan mereka lepas dari ujian Matematika.
“Gue coba akalin ya Ray,” gumam Pak Rendi sambil mengusap tengkuknya.
**
Jadi?
“Saya mempertaruhkan karier saya demi pernyataan dari Anggun. Mohon harap maklum. Saya juga ingin kekebalan hukum terbebas dari segala tuntutan.” Kata Pak Rendi sambil duduk di depan Rio.
Rio hanya cengengesan. Di sebelah Rio ada Anggun, juga sedang duduk sambil memeluk lengan Rio dengan posesif.
Mereka semua sekarang ada di rumah Pak Banyu, di ruang tamunya. Diam-diam Pak Rendi melakukan hal itu agar kertas ujian Rio bisa di scan tepat waktu sesuai jadwal ujian. tapi sekaligus bisa berdekatan dengan Anggun.
“Jadi, saya akan mengawasi Rio ujian, dan silakan selesaikan urusan kalian dengan Anggun. Betul begitu kan ya? Pak Iptu? Pak Penyidik?”
Iptu Rayhan hanya terkekeh sebagai jawabannya.
"Konsekwensinya, saya ingatkan lagi, Rio harus menyelesaikan ujiannya 15 menit lebih awal, karena saya butuh waktu buat ngebut kembali ke sekolah, bawa-bawa kertas ujian kamu, terus selipin ke map. Ya?" kata Pak Rendi.
"Ya Paaaak," gumam Rio malas.
Rio menatap Anggun di sebelahnya, lalu mengelus punggung tangan cewek itu. “Lo bisa, Nggun. Seperti biasa, lo bisa. Bedanya, sekarang ada gue di sini,”
Anggun menatap Rio dengan ragu. Tapi ada sedikit siratan cahaya di maniknya. Kalau ia juga ingin semua ini selesai, dan ia akan selesaikan dengan elegan seperti biasanya.
Sebuah semangat yang timbul hanya dari genggaman tangan seorang Ketua Geng Motor.
“Rio,” kata Anggun.
“Ya?”
“Kamu punya pacar?”
Terdengar dengusan dan keluhan para polisi di sana. Karena jawaban Rio sudah pasti akan mempengaruhi keterangan Anggun.
“Lo tahu pacar gue banyak, gue Ketua Geng, udah pasti keren,” desis Rio.
“Motor lu bodong, knalpot berisik, rangka kanibal, 125 cc pulak lo bilang keren...” gerutu Iptu Rayhan.
“Yang 1000 cc udah disita KPK, Pak,” gumam Rio.
“Rio,”
Semua diam lagi.
Mulut Anggun sedikit terbuka, tapi tertutup lagi. Tampaknya ia ragu mau bertanya lagi.
Tapi ia tidak mengalihkan pandangannya dari Rio.
Rio hanya tersenyum santai menanggapi Anggun.
Dan cowok itu pun mencondongkan tubuhnya mendekati Anggun.
Tanpa diduga, Ia mencium bibir Anggun.
**
Ciuman itu hanya sekitar 2 detik. Sekedar menempel tanpa naf su, tanpa gairah.
Namun berisi dorongan penyemangat, energi untuk kuat berdiri menghadapi badai
Saat bibir itu saling terlepas, Rio berbisik, “Kita hadapi berdua. Di mata gue, lo tetap cewek tercantik yang gue tahu,”
“Njir, malah ngegombal...” gerutu Iptu Rayhan.
“Biasaaaa abege Ray,” gumam Pak Rendi santai seakan dia sudah sering melihat yang semacam ini di sekolah, “Kayak nggak pernah muda,”
Anggun yang masih terpana, otomatis kepalanya mengangguk. Bagai terhipnotis, dengan pipi masih merah karena malu, ia menarik nafas dan mengumpulkan keberaniannya untuk memulai menceritakan kronologi kejadiannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Kelabu Biru
apa nih woyyyyy... apa nih bisa di katakan bocah
2024-10-10
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Nyosor d tonton banyak orang, keren si Rio ini🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-31
0
Rose_Ni
CEO diperusahaan mana nih ? 9 naga kah?
2024-03-25
0