Malam harinya.
“Rio!!”
Brakk!!
Anggun mendobrak pintu kamar Rio dengan panik.
Rio saat itu sedang duduk sambil mengernyit membaca modul kisi-kisi untuk ujian tengah semester yang diadakan besok pagi.
Di sebelahnya ada IPTU Rayhan yang baru selesai menanyainya tentang kejadian tadi siang saat ia digebuki di depan restoran.
“Naaaaah, tanya Anggun aja tuh!” seru Iptu Rayhan.
“Eh?” Anggun menghentikan langkahnya.
“Nggun, Nggun, Di dalam novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, Yusuf akhirnya tidak kawin dengan Maria karena …. A. Maria adalah gadis yang suka bergaul dengan kebanyakan. B. Yusuf lebih tertarik kepada Tuti yang suka berorganisasi. C. Maria meninggal dunia karena sakit. D. Tuti berhasil meyakinkan Maria bahwa Yusuf suka menyeleweng dengan gadis lain. E. Maria meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Yang Mana??” tanya Rio.
“Maria meninggal dunia karena sakit.” Jawab Anggun.
“Tuh kan, saya bilang juga apa. Novel tipikal Indonesia yang sepanjang jaman tuh harus drama banget dan nggak boleh aneh-aneh kayak mindblowing, Pak,” desis Rio sambil melingkari jawaban di modul.
“Lah mana saya kenal Maria siapa Tuti Siapa... kalau Hastry baru saya kenal,” kata Iptu Rayhan.
“Siapa Hastry?”
“Hastry Purwanti, Perempuan Pertama di Tim Forensik Indonesia,” Jawab Anggun.
“Lo tuh kayak Mbah Google deh, tahu semuanya,” desis Rio sambil mencebik.
“Yang nggak dia tahu cuma...” desis Iptu Ryahan dengan kalimat tertahan.
“Apa?” tanya Rio
“Hati kamu,”
“GYAAAAHAHAHAH Geli beneeeer!! Hok! Ohok!!” seru Rio sambil ketawa. “Aduhduhduhduh sakeeeettt!!” berikutnya di menelungkupkan wajahnya di bantal karena pinggangnya terasa sangat nyeri.
“Dibilang nggak boleh ketawa sama batuk. Ngeyel kamu nih, malah dua-duanya pula.” dengus Iptu Rayhan.
“Uuuuh soal berikutnya dah, saya nggak tahu mana yang salah mana yang benar, asal isi aja,” desis Rio sambil menahan nyeri.
“Rio, biasanya kalau modul disertakan kunci jawaban. Kalau tidak di lembar yang sama, ya ada di halaman terakhir,” kata Anggun masih berdiri di tempat tadi.
Rio dan Iptu Rayhan membeku. Lalu sambil terdiam mereka membolak-balik modul. Dan akhirnya ketemu lembar jawaban di bagian belakang buku.
“Bego lu!” seru Iptu Rayhan sambil memukul kepala Rio dengan bantal.
“Laaah, ini apaaa ini apaaa! Kok Polisi bisa nggak tau sih!!” canda Rio sambil pura-pura kesal. Padahal dia ingin sekali ketawa, menertawakan kebodohannya sendiri, tapi takut nyeri lagi.
“Kalo polisi tahu semuanya jadi polisi bukan manusia dong, Lagipula kalau kami tahu semuanya, dunia ini bisa kacau karena menganggap kami ini Tuhan,”
“Manusia sekali Pak Iptu,” gumam Rio.
“Saya lanjut interogasi ya, sudah ada yang akan menemani kan?” Iptu Rayhan menyeringai ke arah Anggun dan menunduk hormat ke Pak Banyu.
“Kamu... akan menginap di sini?” tanya Pak Banyu ke Anggun.
“Kalau di izinkan Yah,” tapi tatapan Anggun padanya memohon, terasa membuat hati bergetar.
“Apa boleh buat, ayah punya pilihan apa lagi?” Pak Banyu menghampiri Rio dan menghela nafas. “Penyerang kamu... masih satu sindikat dengan yang kemarin menculik Anggun?”
“Ya Pak, mereka yang berhasil kabur dari apartemen. Keterangan dari Pak Iptu begitu.”
“Jadi, tampaknya mereka bayar orang untuk menghabisi anak saya ya, jadi saya minta menuntut secara maksimal,”
“Pak Banyu... Pak Kinto Pramudi itu kan atasan Pak Banyu?”
Pak Banyu menunduk sambil menghela nafas, ”Hm, sayangnya begitu. Kalau Ikhsan dipenjara, saya dipecat. Kalau Ikhsan tidak masuk penjara, di mana keadilan. Jadi saya maju kena mundur kena. Sekarang saya tinggal memilih mau karier atau Anggun,”
“Tuduhannya sudah serius Pak, percobaan pembunuhan. Ikhsan bisa dipenjara sangat lama atau bapak dan Anggun mencabut tuntutan, itu pun proses investigasi harus tetap berjalan.”
“Ya, saya tahu aturannya,” mata Pak Banyu menerawang ke arah depan.
“Um... aku dari awal bingung antara mau bilang ke ayah atau tidak, ya karena hal ini.” desis Anggun. “Karena aku tahu Pak Kinto Pramudi adalah pemegang saham utama di perusahaan Ayah. Aku akui dari awal aku juga keterlaluan, karena Ikhsan memintaku mengalah agar dia jadi yang nomor 1. Dari awal kujelaskan berkali-kali, dia belum pantas jadi CEO di usia semuda itu.”
Lalu Anggun menunduk, “Tapi... kalau kupikirkan sekarang, seharusnya aku mengalah saja. Walau pun dia jadi yang nomor 1 pun, masuk Harvard membutuhkan ujian SAT. Belum tentu juga dia jadi kandidat. Dan itu semua bukan kepentinganku,”
“Semua sudah terjadi. Yang penting kamu selamat, sayang.” Pak Banyu mengelus kepala Anggun.
Terlihat Anggun sebenarnya enggan disentuh. Ia sedikit gemetar saat Pak Banyu mengelusnya. Tapi suatu kemajuan yang besar bisa melihatnya berinteraksi dengan lancar.
“Rio, saya titip Anggun ya di sini,” Pak Banyu menatap Rio... dengan tajam. Jelas ada suatu ancaman di nada suaranya. Seakan dia berbicara tanpa suara yang kalimatnya kira-kira : ‘Awas kamu macam-macam!’.
“Baik, Om...” gumam Rio sambil menatap Pak Banyu dengan menggoda. Seakan dia membalas kalimat Pak Banyu dengan : ‘Lagian gue kagak bisa ngapa-ngapain, bonyok gini!’
“Kata-kata ‘titip’ itu maksudnya secara keseluruhan, baik itu fisik mau pun kehormatan,” tekan Pak Banyu.
“Baik Om, saya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang berdiri saja seperti mau mati rasanya, akan menjaga anak perempuan Om dengan segenap jiwa raga,” balas Rio
Pak Banyu tersenyum sinis.
Rio menyeringai geli.
Anggun hanya diam sambil menatap keduanya, “Mmmmm, maaf ya Ayah, aku masih gemetaran kalau nggak ngeliat Rio sebentar saja,”
“Nggak apa, lagi-lagi dia jadi jimat keselamatan kamu sih. Sampai babak belur dua kali,” tapi nada suara Pak Banyu menyindir.
**
“Rio, aku boleh di situ ya?” Anggun menunjuk sisi sebelah Rio.
“Lo di sofa aja kali Nggun,”
“Hm, okey,” dan Anggun pun naik ke sofa lalu menyelimuti dirinya. Tapi matanya masih menatap Rio lekat-lekat.
“Rio, butuh aku temani belajar?”
“Nggak usah, udah ada kunci jawabannya,”
Lalu hening lagi.
Sedetik...
Dua detik...
Tiga detik...
“Rio-“
“Gue lagi belajar Nggun,” potong Rio.
“Kamu marah sama aku?”
“Kesel, dikit,”
“Hm... karena Ayah?”
“Salah satunya,”
“Aku nyusahin kamu terus ya?”
“Perlu gue jawab?”
“Maaf ya,”
“Nggak papa,”
“Nggak papa tapi cemberut,”
“Gue lagi belajar. Gue butuh ijazahnya untuk cari kerja. Lulus sekolah, subsidi berhenti,”
“Aku nggak ngerti-“
“Lo udah jadi Ratu sejak lahir, mana mungkin ngerti?”
“Kok kamu gitu...”
“Ssssh!” desis Rio.
Lalu ruangan hening lagi.
Sedetik...
Dua detik...
Hanya ada suara detik jam dinding dan sayu-sayup perawat sedang mengobrol di depan ruangan mereka.
“Rio, aku sudah suka kamu dari dulu,” desis Anggun.
“Kalau beneran suka gue, tolong diam dan biarin gue fokus belajar,”
“Aku pingin ngobrol sih...”
Rio menarik nafas lalu tersenyum lembut ke arah Anggun. “Gue lagi kesal. Sama lo, sama bokap lo, sama Ikhsan, sama para preman, sama juhari, sama Bang Rasno. Banyak orang yang bikin hari-hari gue berasa... berwarna. Iya, warnyanya item oret-oretan. Kayak kalao lu frustasi trus kertas lo coret-coret nggak jelas? Nah kayak gitu. Gimana? Ngerti? Gue Cuma butuh waktu sendiri buat nenangin diri,”
“Menenangkan diri dengan belajar sepertinya bukan tipikal kamu,”
“Karena mau menenangkan diri dengan balapan, motor udah di maling sama Juhari, mau main mobile legend hape gue rusak, mau mabok-mabokan eh gue di rumah sakit, mau ke gym lah gue kan lagi bonyok! Terus menurut lo apa lagi yang harus gue lakuin?!”
“Ngobrol sama-“
“Jangan nanya mengenai perasaan, aku cinta juga sama kamu atau nggak? Mau punya anak berapa di masa depan? Warna kesukaan aku apa? Makanan kesukaan aku apa? Big No! Awas lo tanya-tanya. Bikin gue makin kesel aja...” gerutu Rio.
Anggun diam lagi, tapi dia hampir tertawa. Baru kali ini dia melihat Rio sewot seperti ini. Biasanya dia cowok cool.
“Hm, Rio mau hape apa? Aku beliin ya?”
“Samsung Galaxy Fold 4 yang layarnya gede, biar puas bisa main game,” jawab Rio cepat. “Sekalian headset bluetooth-nya.”
Paling tidak, kalau kehabisan duit, bisa dijual lagi, ya Rio?! Hehe...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Hamidh
/Grin//Grin/
2024-06-07
0
efvi ulyaniek
ya ampun kocak amat si rio
2024-05-30
0
Naftali Hanania
wahahahahahaaa...cepet bgt njawab nya 🤣🤣🤣🤣🤣
2024-02-29
0