Tanpa mengucap sepatah katapun. Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Chris menatap nyalang Calvin, berharap saudara kandungnya itu tak mendengar perkataan Shakila barusan. Chris memutus kontak matanya seketika dan meninggalkan Calvin dengan senyuman penuh artinya.
***
"ARGH! Mengapa kamu sangat bodoh Shakila!" teriak Shakila sambil berjalan pelan di lorong kampus.
Shakila memukul-mukul kepalanya sendiri, menyesali perkataan yang ia lontarkan tadi pada Chris. Sebenarnya dia mau mengatakan terima kasih karena berkat dosen mesumnya itu, Shakila terselamatkan. Saat di kantor tadi, sang dosen, yang mempunyai jabatan, berhak memberi hukuman pada mahasiswa atau mahasiswi jika melanggar aturan kampus, tak langsung menyalahkan Shakila.
Sang dosen malah menanyakan terlebih dahulu, apa yang membuat Shakila memukuli Baron. Shakila pun menjelaskan apa adanya, tanpa ditambah-tambahkan. Setelah mendengar penjelasannya, sang dosen tercenung sesaat, tampak berpikir keras.
Dengan wajah lemas Shakila menunggu jawaban dari sang dosen. Dia menebak sepertinya dia akan dikeluarkan dari kampus. Berdasarkan aturan kampus, jika ada mahasiswa atau mahasiswi yang berkelahi dan memukul akan dikeluarkan. Namun, perkataan dosen berambut klimis itu amat mengagetkannya tadi.
Flashback On.
"Hm, benar juga tebakan Chris. Baiklah untuk saat ini Bapak bebaskan kamu sekarang, tapi jangan diulangi lagi Shakila, trackrecord mu di kampus sebelumnya kurang baik."
Shakila tergelak sesaat. Karena dia tak dikeluarkan. Namun, dia penasaran mengapa dosen di hadapannya menyebutkan nama Chris tiba-tiba.
"Terima kasih Pak!" Shakila tersenyum sumringah kemudian. "Tapi Pak, memangnya Pak Chris menebak apa ya, saya kurang paham, hehe," katanya sambil menyengir kuda.
"Tanyakan saja langsung padanya Shakila. Bukankah kalian dekat." Sang dosen menyunggingkan senyuman anehnya, membuat Shakila mengedipkan matanya dengan cepat. "Keluarlah, sebentar lagi kelasmu akan dimulai," titah sang dosen.
Shakila membalas dengan menganggukkan kepala. Di dalam benaknya, dia menerka-nerka, apa yang dikatakan Chris pada dosen tersebut. Namun, yang jelas berkat Chris ia tak dikeluarkan dari kampus. Meskipun begitu kekesalan Shakila tadi pagi masih menjalar di hatinya, dikala Chris mengatakan dirinya hanya mainannya saja. Shakila benar-benar diema, tak mengerti akan sikap Chris terhadapnya.
Begitu sampai di luar, dengan jarak beberapa meter Shakila melihat Chris di hadapannya.
Aku harus mengucapkan terima kasih, kata Mommy kita harus mengucapkan terima kasih sama orang yang pernah membantu kita, ayolah Shakila, jangan terlalu menampakkan kekecewaanmu, ingat! Kamu harus jual mahal! Karena masih banyak pria lain di sana.
Shakila berseru di dalam hati, menguatkan dirinya sendiri, meski hatinya begitu perih saat ini karena pria yang ia cintai, tidak mencintainya.
Flashback OFF.
"Argh! Bodoh sekali aku!" teriak Shakila lagi saat perkataan yang dia lontarkan pada Chris tak sesuai hatinya.
"Ya, kamu memang bodoh!" sahut Rika, dari samping.
"Iya kamu benar, Rika. Tapi bagus juga sih, si Baron masuk rumah sakit, jadi para lalat nggak kelayapan!" seru Merry.
Rika dan Merry berjalan cepat di samping Shakila sedari tadi. Shakila lantas menghentikan langkah kakinya. Dia begitu terkejut melihat kedatangan mereka tiba-tiba.
"Astaga, kalian seperti hantu saja ha!" Shakila mendengkus kesal sambil mengelus pelan dadanya.
"Hantu-hantu gini tapi cantik, 'kan?" seloroh Rika dengan menyunggingkan senyum lebar.
Shakila memutar matanya ke atas sejenak. "Cantik dilihat dari lubang pipet!"
Rika mencebikkan bibir setelahnya.
"Makanya Shakila jangan ngomong sendiri dari tadi, jadi kamu dikeluarin atau gimana?" tanya Merry.
Lima menit yang lalu, keduanya baru saja sampai ke kampus dan langsung mendapat kabar dari teman-temannya, kalau Shakila dan Baron berkelahi, mengakibatkan Baron dilarikan ke rumah sakit.
Shakila mengulas senyum sinis lalu mulai melangkahkan kakinya lagi. "Haha! Tidak ada yang bisa mengeluarkan Shakila dari kampus ini!" katanya.
Merry dan Rika mengernyitkan dahi. Lalu berjalan cepat, menyeimbangi langkah kaki Shakila.
"Maksud kamu, kamu nggak dikeluarin dari kampus?" tanya Rika, penasaran.
Shakila menggeleng cepat. "No!" sahutnya singkat, sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kok bisa? Bukannya peraturan kampus kalau ada anak yang berantem, langsung dikeluarin dari kampus?" Dahi Merry berkerut amat kuat sekarang.
"Ada deh, udah ah, nggak usah dibahas, ayo lebih baik kita ke kelas! Bentar lagi kelas dimulai!" Shakila langsung merentangkan kedua tangannya dan merangkul bahu Merry dan Rika.
Merry dan Rika pun bertanya-tanya. Keduanya tampak berpikir keras setelahnya, penasaran, mengapa Shakila tak diberi hukuman. Namun, raut wajah kebingungan mereka sirna seketika karena Shakila tak dikeluarkan.
Lantas ketiga pemuda-pemudi itu berceloteh ria di sepanjang langkah menuju kelas. Sedari tadi Shakila yang berada di tengah, tertawa-tawa tak jelas, menanggapi guyonan Merry dan Rika.
"Oh ya Shakila, hampir aja lupa, jadi gimana Pak Chris, apa jawaban darinya?"
Begitu sampai di koridor penghubung antar kelas. Rika mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat wajah Shakila langsung muram.
"Udah, nggak usah bahas dosen mesum itu lagi," sahut Shakila sambil menghela napas pelan.
Rika dan Merry melemparkan pandangan satu sama lain, kala melihat ekspresi wajah Shakila yang tampak sendu. Dengan bahasa isyarat melalui mata, keduanya berbicara satu sama lain. Mereka menduga jika Pak Chris hanya main-main saja. Tak mau membuat Shakila sedih. Keduanya merangkul balik pundak Shakila.
"Stok cowok masih banyak kok Shakila, hehe,"celetuk Rika sambil cecenggesan.
"Iya benar, contohnya aku!" Merry menimpali.
"Ish, tapi lunak!" Rika menjulurkan lidahnya sejenak.
"Biarin! Walaupun lunak Jonny aku perkasa" ucap Merry tak terima, sambil menyelipkan rambut pendeknya ke telinga. Shakila dan Rika menggeleng pelan mendengarnya. "Eh ada apaan sih, ribut-ribut?" Merry baru menyadari jika di sisi kanan dan kiri, teman-temannya tengah berbisik tak jelas.
Shakila dan Rika serempak menggedikkan bahu.
"Hai Pukiwati, ada apaan sih ribut-ribut? Kayak ada antri BBM aja!" Merry menghentikan gerakan kakinya tiba-tiba dan bertanya pada seorang wanita yang memiliki tahi lalat d atas bibirnya.
"Ya ampun Mer, kamu nggak tahu, anak-anak laigi ributin dosen baru bule loh, katanya nggak kalah tampan dari Pak Chris, mereka pengen pindah jurusan, sama kayak aku, pengen banget deh masuk jurusan kalian!" selorohnya, kegirangan.
Yaps, seisi kampus gempar dengan kedatangan dosen baru di jurusan teknik nuklir, tak lain dan tak bukan, ialah Calvin.
Shakila, Rika dan Merry melirik sekilas satu sama lain.
"Hello, kamu nggak usah pindah, Pukiwati! Kelas udah penuh, thanks infonya!"
"Ish, pelit amat, udah ah aku mau ke ruang Ka. Prodi ketemu Bapak Bambang mau pindah jurusan hihi." Pukiwati berlarian kemudian. Meninggalkan ketiganya dengan raut wajah tanda tanya.
"Kok banyak banget ya dosen baru, mana bule lagi?" sahut Merry seketika.
"Nggak tahu, udah yuk kita masuk kelas, aku ke kelas dulu ya!" Rika pamit undur diri karena kelasnya berbeda dengan kedua temannya itu.
Anggukan cepat sebagai balasan Shakila dan Merry. Setelah melihat punggung Rika menghilang, keduanya pun mulai masuk kelas juga.
***
Tepat pukul delapan pagi, Shakila dan Merry sudah duduk di bangkunya masing-masing, tengah menunggu dosen baru mata kuliah Fisika Nuklir. Shakila keheranan, melihat teman-temannya bersolek ria di atas meja dan membenarkan pakaiannya.
Dalam hitungan detik, Calvin masuk ke dalam ruangan. Para mahasiswi sontak riuh, berbeda dengan Shakila yang terlihat acuh. Sebab jiwanya tak di sini, hanya raganya saja yang berada di kelas. Dia sedang membayangkan wajah Chris.
"Pagi semuanya, perkenalkan nama Bapak, Calvin, Bapak harap kita bisa menjadi teman," ucap Calvin sambil tersenyum lebar.
"Aaaaaaaa! Ganteng banget."
"Saya manggilnya my Baby, boleh nggak, Pak?
"Ada pacar nggak, Pak?"
Seloroh seisi kelas seketika. Para kaum hawa tak henti-hentinya berdecak kagum. Karena dosen baru mereka ternyata ramah.
Calvin menyungging senyum lebar, melihat reaksi para mahasiswinya. Pandangannya tiba-tiba tertuju ke belakang, di mana Shakila sedari tadi diam dan sedang memainkan bolpoinnya.
Saat merasa ada yang memperhatikannya, Shakila menoleh seketika. Matanya dan mata Calvin langsung bertemu.
Calvin tersenyum hangat ke arah Shakila.
Ish! Apaan sih! Sok ganteng banget dah! Padahal Chris lebih ganteng daripada dia!
Tanpa sadar Shakila berceletuk di dalam hati sambil membuang mukanya ke samping.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Shakilla merindukan Chris
2024-08-19
0
An
author kehabisan stok nama x kak
2024-06-01
0
Zia_Lin
kenapa namanya mesti pukiwati sih 😂
2024-01-13
0