Hari senin pun telah tiba, subuh-subuh sekali Shakila terpaksa terbangun dari tidurnya karena sebelum berangkat kuliah dia harus membersihkan seluruh ruangan di mansion. Kemarin Mommmya menghukum dirinya karena terlambat pulang ke rumah.
Tentu saja Shakila tak bisa menolak, sebab jika ia tak menuruti perkataan Mommynya. Maka Mommynya akan mengadu pada Daddynya. Tetapi, setidaknya Shakila bernapas lega karena hukumannya tak terlalu berat pikirnya. Namun, saat dikerjakan, Shakila baru menyadari rumah yang tempati selama ini ternyata sangat luas dan besar.
Shakila benar-benar pasrah jadinya. Dia terpaksa mengerjakan pekerjaan rumah meski badannya sudah pegal dan sakit-sakitan sedari tadi. Setelah selesai melaksanakan tugasnya. Shakila bergegas pergi ke kamar hendak membersihkan dirinya.
Tepat pukul setengah tujuh pagi, Shakila sudah berada di ruang makan bersama adik bungsunya.
"Kak, aku boleh nebeng nggak?" tanya Kyler seketika.
"Nggak, enak aja! Kalau antarin kamu sekolah,
terlambat entar aku, udah ah mau berangkat dulu!" Shakila mengunyah cepat sandwich-nya lalu mengambil tas ranselnya di atas kursi.
Kyler mencibir. "Ish! Pelit amat sih! Dasar Kakak jahat!"
Shakila malah membalas perkataan sang adik dengan menjulurkan lidahnya seketika.
"Ada apa ini kok ribut-ribut?" Sekar baru saja dari dapur. Dia membawa susu untuk putra bungsunya yang baru menginjak sekolah menengah pertama.
"Biasa, anak manja tuh!" Shakila meledek Kyler sejenak.
Kyler langsung turun dari kursi hendak melayangkan pukulan di badan Shakila, seperti yang biasa ia lakukan. Namun, karena tubuh munggilnya, Kyler sedikit kesusahan untuk turun.
Sekar menggeleng pelan, melihat tingkah putra dan putrinya itu.
"Mom, Shakila pergi dulu ya! Bye pendek!" Sebelum adiknya turun dari kursi, Shakila langsung pamit pada Mommynya dan tak lupa menjahili adiknya itu.
Sekar mengangguk cepat.
Secepat kilat Shakila melenggang pergi, meninggalkan adiknya menangis kencang karena tak kesampaian membalas perbuatan kakaknya.
*
*
*
Lima belas menit kemudian, motor gede milik Shakila berhenti tepat di parkiran Universitas XXX. Di mana pacarnya, bernama Baron, menempuh pendidikan juga. Dia membuka cepat helm hitamnya lalu mengibaskan rambut panjangnya seketika. Para mahasiswa yang melintas di sekitar, terpana sejenak, melihat mahasiswi yang wajahnya tak pernah mereka lihat, begitu cantik dan mempesona.
"Fiuh, semoga saja di sini nggak ada orang resek."Shakila mengambil kunci di motor. Lalu melangkah cepat menuju pintu utama kampus.
Belum juga beberapa langkah, Shakila tak sengaja menabrak pundak seorang gadis.
"Oh my God! Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Shakila, dengan tatapan memelas karena dirinya memang tak sengaja menabrak gadis tersebut.
Gadis bertubuh langsing dan bergaya feminim itu malah menyilangkan kedua tangannya di dada dan mengangkat angkuh dagunya lalu berkata,"Heh! Punya mata itu di pake! Enak aja maaf, maaf, berlutut kamu di depan aku!"
Tanpa sadar Shakila mengepalkan kedua tangannya seketika, namun, seseorang dari belakang menepuk pundaknya.
"Shakila!"
Shakila menoleh ke belakang, melihat Baron tersenyum lebar padanya.
"Sayang,"desis Shakila, rahangnya yang mengeras mulai mengendur.
Mendengar kata Sayang, gadis yang sempat ditabrak Shakila tadi tersenyum sinis."Baron, ini pacarmu? Astaga, kampungan sekali!" serunya.
Shakila mengalihkan pandangan dan mulai tersulut emosi. "Ngomong apa kamu barusan ha!" teriaknya menggelegar.
Baron nampak panik. Secepat kilat ia menarik tangan Shakila. "Sayang, jangan marah-marah, sudah, jangan digubris, biarin aja, Donna memang begitu anaknya, sudah yuk aku antar ke kelas."
"Nggak mau!" Shakila menghempas kasar tangan Baron lalu menatap tajam wanita bernama Donna itu. "Sok cantik banget kamu jadi cewek! Tas KW-an aja bangga!" kata Shakila, hendak memprovokasi Donna. Meskipun begitu tas yang dipakai Donna, memang palsu. Sebab Shakila bisa membedakan mana barang asli dan palsu.
Donna naik pitam. Dengan cepat ia menarik rambut panjang Shakila. Akan tetapi, secepat kilat Shakila menendang tubuh Donna, sehingga Donna terjungkal ke belakang.
"Ahk!" jerit Donna kesakitan.
"Rasain! Makanya nggak usah sok kecantikan!" Seringai tipis muncul di bibir tipis Shakila seketika.
"Donna!" Bukannya mendekati pacarnya, Baron malah membantu Donna untuk bangkit berdiri. Melihat hal itu tentu saja Shakila semakin meradang. Dengan tangan terkepal kuat, dia menatap nyalang Baron.
"Pacar kamu bar-bar banget sih Baron! Sakit nih!" gerutu Donna sambil mencibir.
Baron membersihkan tubuh Donna dan menelisik keadaan teman sekelasnya itu.
Hal itu tak luput dari pandangan Shakila. Tanpa pikir panjang dia berlarian ke arah mereka, melompat tinggi kemudian menendang dada Baron seketika.
Bugh!
"Baron!" teriak Donna, terkejut kala melihat Baron terpental ke belakang.
Donna melayangkan tatapan tajam pada Shakila lalu kembali menarik rambut Shakila.
Shakila tak tinggal diam. Dia pun menjambak juga rambut Donna. Alhasil di halaman depan kampus keduanya berkelahi. Lantas para mahasiswa-mahasiswi mengerumuni keduanya, asik menyaksikan perkelahian antara antara primadona kampus dan mahasiswi baru itu.
Suara teriakan dan gemuruh mahasiswa membuat suasana kampus di pagi ini tampak riuh.
"Dasar cewek kampungan! Berani kamu sama aku ha!" teriak Donna, tanpa berniat melepaskan cengkeraman di rambut panjang Shakila.
Shakila enggan membalas perkataan Donna. Dia malah semakin menarik rambut Donna dengan sangat kuat hingga Donna mengaduh kesakitan.
Semenit pun berlalu, keduanya masih berseteru. Tak ada seorang pun yang berani mendekat, Baron pun hanya bisa menonton keributan tersebut tanpa berniat sama sekali melerai.
Saat Shakila teringat akan perkataan Mommynya untuk jangan membuat masalah lagi di kampus barunya, dia mengendurkan cekalan tangannya. Akan tetapi, Donna mengambil kesempatan itu kemudian menendang Shakila tiba-tiba.
Bugh!
Shakila terhuyung ke belakang setelahnya. Matanya reflek menutup rapat. Dia sudah bersiap untuk menahan rasa sakit karena tubuhnya akan terbentur jalanan. Akan tetapi, Shakila heran saat merasa tubuhnya seperti di tahan oleh seseorang. Secepat kilat dia membuka mata dan matanya bertubrukan langsung dengan mata pria berwarna coklat, siapa lagi kalau bukan Chris, yang kebetulan melintas di tempat kejadian.
Untuk sejenak Shakila dan Chris saling memandang satu sama lain, tanpa mengedipkan mata sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
seneng a klau cweknya bar2 kyak gini🤗🤗
2024-12-27
0
Yunerty Blessa
cieee....Chris dan Shakilla,, semoga ada cinta diantara mereka
2024-08-19
0
YuWie
baron baron..nyesel lho ditinggilin shakila.
2023-08-11
0