Melihat kedatangan Chris, semua mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikan perkelahian barusan langsung terdiam. Para kaum hawa dan kaum bertubuh lunak menatap kagum ke arah Chris, sementara kaum adam berdecak kesal karena mengira ada mahasiswa baru di kampus mereka yang begitu tampan, mengalahkan ketampanan mereka.
"Oh my God, apa aku sedang di surga? Kenapa mukanya tidak asing ya?" gumam Shakila.
Shakila masih bergeming di posisi semula. Kedua matanya sampai tak berkedip, memandangi ketampanan Chris. Kacamata yang bertengker di hidung mancung Chris, tak membuat parasnya berkurang sekalipun. Seakan terhipnotis, tanpa sadar Shakila memegang dada pria itu.
Alis mata Chris sedikit sambil melirik tangan Shakila bergerak-gerak di dada bidangnya. "Surga?" ucapnya kemudian menjatuhkan tubuh Shakila seketika.
"Ahk!" Shakila terjatuh ke bawah.
Chris tak berniat membantu Shakila. Pria itu malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menoleh ke bawah, melihat Shakila tengah berusaha bangkit berdiri sambil menggerutu kesal.
"Ish, tepos deh pantat aku!" Shakila menepuk pelan-pelan pakaiannya lalu menatap Chris. "Jahat banget sih, mahasiswa baru ya, kenalin aku Shakila hehe!" katanya sambil mengangkat tangan ke udara hendak menjabat tangan Chris.
Bukannya membalas jabatan tangan Shakila, Chris malah melangkah maju dan melewatinya. Meninggalkan Shakila yang mulutnya mengangga lebar karena untuk pertama kalinya dirinya di tolak mentah-mentah oleh seorang pria.
Chris berjalan cepat menuju pintu utama kampus. Semua mata mahasiswi terpesona akan ketampanan Chris. Mereka mengira bahwa Chris adalah mahasiswa baru di kampus. Sebab wajah Chris masih terlihat muda untuk usia 30 tahun. Mengabaikan tatapan lapar para wanita, Chris menatap lurus ke depan. Sorot matanya yang tajam dan tegas, membuat para kaum hawa semakin meronta-ronta jadinya.
Para lelaki yang melihat hal itu langsung membubarkan diri.
Sementara, Shakila masih berdiri dengan satu tangan terangkat ke udara.
"Shakila!" Dari belakang, Rika menepuk cepat pundak Shakila.
Shakila segera tersadar. Dia membalikkan badan seketika. "Rika! Ini nggak bisa dibiarin, apa aku udah nggak cantik lagi?" tanyanya menggebu-gebu.
"Ha? Maksudnya?" Rika melonggo sejenak sebab dia tak melihat kejadian yang terjadi barusan. Hal itu dikarenakan dia baru saja tiba di kampus.
"Rika, kamu nggak lihat tadi tuh cowok nolak kenalan sama aku!" seru Shakila.
Rika menggeleng cepat dengan raut wajah polosnya. "Nggak!"
Shakila mendengus kesal karena Rika melihat adegan yang terjadi barusan.
"Ish! Nyebelin banget sih!" katanya sambil melipat tangan di dada.
"Heh! Bantuin tuh cowok kamu kesakitan!" Rupanya Donna masih berada di sekitar. Dia menatap tajam Shakila. Rasa sakit akibat perkelahian tadi masih sangat terasa sampai kini.
Sedangkan Baron bersender di pilar bangunan kampus, tengah menahan rasa nyeri akibat tendangan Shakila tadi. Dari kejauhan dia memandangi Shakila dan Donna.
Shakila melirik Baron sekilas lalu berkata,"Nggak urus! Ambil aja tuh cowok aku!"
Donna tercengang.
Shakila merangkul tangan Rika seketika. "Udah yuk Rika kita ke kelas!" Rika mengangguk dan keduanya pun berjalan cepat beriringan, melewati Donna dan Baron yang bingung akan sikap Shakila.
*
*
"Shakila, ingat ya jangan buat onar lagi di kampus aku!" Di lorong kampus, Rika melirik Shakila sekilas.
Shakila memutar mata malasnya sejenak. "Aku nggak akan buat onar, kalau orang-orang nggak resek sama aku, Rika! Tenang deh, teman kamu yang cantik ini, bakalan kalem di kampus."
Rika mengangguk pelan walau sebenarnya dia tak mempercayai seratus persen perkataan Shakila. Sebab acapkali Shakila membuat kegaduhan dari SMA. Rika adalah salah satu teman akrab Shakila sejak SMP. Keduanya selalu bersama-sama hingga SMA. Tetapi saat kuliah, universitas mereka berbeda. Dan Rika sudah hapal betul karakter Shakila. Biang onar, nakal dan agak susah di atur. Meskipun begitu Rika tetap berteman dengan Shakila karena Shakila tak bermuka dua seperti teman yang lainnya.
"Aku nggak bisa lupain tuh cowok tadi, awas aja, aku harus dapatin dia! Terus buang dia kayak mantan-mantan aku yang lain!" seru Shakila seketika sambil menyeringai tipis.
"Lah Baron dikemanain?" tanya Rika, heran. Walau sebenarnya dirinya pun tidak tahu siapa pria yang dimaksud Shakila.
Mendengar nama Baron disebut, Shakila mendengus pelan. "Masih jauh nih kelasnya?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak nih!" Rika menghentikan gerakan kakinya dan menunjuk kelas di mana Shakila akan belajar.
Shakila menoleh, melihat para mahasiswi menatapnya sinis. Dia pun membalas dengan menatap sinis mereka satu-persatu.
"Kamu nggak di kelas ini Rika?" tanya Shakila, sebelum masuk ke ruangan.
Gelengan cepat sebagai balasan Rika. Melempar senyum jahil ia berkata,"Hehe, kelas aku di sebelah, Shakila, bisa berabe entar kalau aku sekelas sama kamu, yang ada ribut terus kita, aku mau ke kelas dulu ya mata kuliah pertama dimulai, masuk ke kelas gih kamu!" Rika mendorong pelan punggung Shakila.
Shakila menghentak-hentakkan kakinya sejenak karena tak sekelas bersama Rika."Istirahat nanti kita ke kantin sama-sama ya, oke?" Sebelum melangkah masuk ke ruangan, Shakila berucap pada Rika.
"Gampang!" Rika mengangkat satu jempolnya ke udara seketika.
Setelah itu, Shakila langsung berjalan masuk ke dalam ruangan. Baru saja masuk dirinya sudah disambut tatapan sinis oleh para mahasiswi lainnya. Shakila cuek, tak peduli akan tatapan itu. Dia fokus mencari bangku yang kosong.
Bingo!
Paling belakang terdapat satu bangku tak berpenghuni. Shakila melangkah cepat lalu duduk di bangku tersebut.
"Hai, kenalin nama aku Merry!" Seorang pria yang duduk di depannya, memutar badan tiba-tiba dan mengangkat tangan ke udara hendak berjabatan tangan pada Shakila.
Shakila menelisik penampilan pria tersebut, yang sedikit aneh, bagaimana tidak, pria berambut klimis itu, memakai kemeja berwarna pink. Apa dia tidak salah mendengar, namanya merry, yang jelas-jelas itu adalah nama perempuan.
Shakila enggan menanggapi, dia malah menatap lurus ke depan, mengabaikan tangan Merry yang masih menggantung di udara.
Merry tersenyum kecut setelahnya lalu menurunkan tangannya secara perlahan. "Kamu keren banget deh tadi! Si Donna memang sok cantik kan, aku aja dari dulu males banget sama dia, sok ngatur dan bossy, akhirnya setelah satu abad ada yang berani sama tuh cewek!" tutur Merry menggebu-gebu, tak perduli Shakila mendengar dirinya atau tidak.
Shakila hanya diam saja. Menatap datar pria aneh di depannya ini. Dia belajar dari pengalaman untuk tidak mudah berteman dengan orang karena sebelum-belumnya Shakila pernah dikhianati oleh temannya, eh salah, koreksi, mantan temannya.
"Guys, ada dosen baru mau masuk! Jangan ribut!" Ketua kelas menyelenong masuk tiba-tiba.
Mendengar kata dosen baru, perhatian sebagian mahasiswa dan mahasiswi teralihkan. Mereka menatap lurus ke depan seketika.
"Mulai dari sekarang kita temannya hehe!" Sebelum memutar kepalanya ke depan, sekali lagi Merry berkata.
Shakila ingin menanggapi perkataan Merry. Namun, seseorang yang tak asing wajahnya membuat Shakila mengurungkan niatnya. YA pria itu adalah Chris Costello.
Cowok itu! Jangan bilang dia dosen barunya!
Shakila menjerit di dalam hati kala pria itu menoleh ke arahnya seketika.
Mampus aku!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sabar Shakilla....
2024-08-19
0
YuWie
kerennn baru sampai bab ini aja udah .menarik nih
2023-08-11
1
Nana
Guys, jangan lupa komen dan kasi sesajen ya, biar author semangat updatenya 🤩
2023-06-19
0