Suasana mendadak awkard, setelah Chris mengatakan jika Shakila adalah pacarnya barusan.
Apa-apaan dia? Apa dia sudah gila? Pacar apanya? Sejak kapan kami pacaran!
Shakila berteriak histeris di dalam hati lalu melirik Chris yang sedang melayangkan tatapan penuh arti padanya.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di benua Eropa, Italia, kota Verona.
Seorang pria yang memiliki rahang dan sorot mata nan tegas, berdiri tegap menghadap ke hamparan sungai Adige yang dikelilingi jembatan besar. Sedari tadi dia menghirup sepuntung rokok yang bertengker di tangannya. Tampak asap mengepul ke udara.
Kedua mata itu menatap lurus ke depan dengan sorot tajam, setajam elang yang akan siap memburu mangsanya.
"Mister Calvin, ini pesan dari para tetua." Seorang pria berambut blonde, memasuki ruangan bergaya vintage tersebut, sambil membawa secarik kertas kemudian meletakkan benda tipis itu ke atas meja kaca berbentuk bundar.
Calvin Costello mengalihkan pandangan mata seketika. Lalu melangkah perlahan, mendekati sofa. "Apa kata mereka?" tanyanya, seraya mendaratkan bokong ke atas sofa berwarna merah maroon.
Menunduk sedikit, pria muda bernama Fabrizio, yang di sinyalir orang kepercayaan Calvin berkata,"Maaf Mister, sekali lagi mereka menolak permintaan anda."
Dengan sorot mata menyala-nyala, secepat kilat Calvin menyambar sebotol anggur di samping tubuhnya lalu melempar botol tersebut ke meja kaca hingga retak.
Prang!
Bunyi pecahan kaca bergema kuat di dalam ruangan seketika. Fabrizio langsung menundukkan muka dan mundur beberapa langkah. Sedari dulu ia sudah terbiasa akan sikap majikannya, yang sangat tempramen dan keji. Calvin Costello ialah anak pertama dari sang pemilik rumah ini, terkenal akan keangkuhan dan keserakahannya, berbanding terbalik dengan adiknya, Chris Costello.
"Para tetua akan menyerahkan jabatan pada anda jika Mister Chris menampakkan diri di hadapan mereka." Fabrizio memberanikan diri membuka suara. Sebab kertas yang dia taruh di atas meja berisi pesan dari para tetua, sepertinya sudah rusak akibat tetesan anggur merah barusan.
"Apa katamu tadi? Cih!" Calvin bangkit berdiri lalu melangkah cepat tanpa memikirkan sama sekali pecahan kaca menancap di sepatu hitamnya.
"Argh! Ini semua karena Ricko dan Ricki. Bagaimana bisa mereka membawa keluar Chris dari mansion!"
Calvin semakin mengetatkan rahangnya. Teringat akan kejadian beberapa yang sebelumnya, saat anak buah mendiang ayahnya membawa kabur Chris. Walau tubuh Chris sangat lemah waktu itu, tetapi untuk pengikut setia seperti Ricko dan Ricki, yang memiliki kemampuan dari segi bela diri dan kognitif, hal itu bukanlah yang sulit bagi mereka. Apalagi satu diantara mereka, adalah seorang pakar ramuan obat-obatan. Seandainya saja saudara kembar itu dapat diperdaya seperti anak buah Chris lainnya, mungkin saja saat ini Calvin sudah menjadi presdir di enam belas perusahaan milik klan Costello. Namun, nyatanya mereka begitu patuh dengan mendiang ayahnya. Dan lebih berpihak pada Chris.
Sebagai anak pertama, sedari kecil Calvin menaruh iri pada Chris. Karena Chris disayang oleh ayahnya ketimbang dirinya, pikir Calvin. Namun, Calvin tak menyadari kalau sebenarnya dialah anak kesayangan kedua orangtuanya, bagaimana tidak, sejak kecil Chris diasingkan oleh keluarganya sendiri tanpa alasan yang jelas dan dititipkan pada saudara tiri ayahnya, bernama Benvolio, yang sekarang menjabat menjadi ketua para tetua klan Costello.
Kejadian beberapa hari lalu ditutup rapat-rapat oleh Calvin. Setidaknya untuk saat ini berkat kekuasaannya, para musuh Chris akan membantunya, apalagi beberapa anggota klan Costello berpihak padanya kini. Jadi Calvin tak terlalu khawatir. Akan tetapi, Calvin menebak jika Bonvelio sepertinya mulai menaruh curiga padanya. Maka dari itu, sampai sekarang jabatan yang ia inginkan sejak lama, tak bisa langsung ia dapatkan.
"Jadi Chris harus menampakkan diri di hadapan mereka? Sehingga aku bisa menduduki jabatanku, begitu maksud mereka," ucap Calvin lagi dengan nada meremehkan.
"Benar Mister, Mister Chris harus datang langsung ke kantor."
Tak ada sahutan, Calvin melangkah perlahan mendekati kaca raksasa. "Di mana Chris sekarang? Bagaimana perkembangannya?" ucapnya, dengan sorot mata dingin.
"Titik terakhir dia ada di Moskow, Mister. Sampai saat ini tim blade masih menyusuri titik temu terakhir."
"Ck! Lama sekali! Apa kalian yakin dia di Moskow!" Calvin membalikkan badannya lalu melangkah cepat, menghampiri Fabrizio.
Fabrizio tak langsung menyahut, tampak berpikir keras.
Melihat raut wajah tangan kanannya, Calvin melabuhkan pukulan tepat di perut Fabrizio. Hingga Fabrizio terhuyung ke belakang sesaat.
Sebagai bawahan Fabrizio tak bisa melawan sama sekali. Sambil berusaha menahan tubuhnya, Fabrizio meringis kesakitan sejenak. "Shftt...."
"Cuih!"
Calvin membuang ludah di ujung sepatu Fabrizio. "Aku tidak mau tahu, cepat bawa Chris kemari! Jangan sampai aku yang turun tangan sendiri!" bentaknya.
Fabrizio hanya mengangguk pelan sambil menahan rasa sakit yang menjalar diperutnya.
"Mister, Nona Gissel ada di luar, dia ingin bertemu anda!" Di luar pintu ruangan, seorang pesuruh berseru cepat.
Tanpa membalas perkataan seseorang di balik pintu, Calvin menatap Fabrizio. "Laksanakan tugasmu sekarang!" katanya melotot tajam lalu melangkah cepat menuju pintu.
*
*
"Sepertinya kamu sangat sibuk Calvin." Di ruangan lain, seorang wanita berambut panjang coklat, melayangkan tatapan menyelidik pada Calvin, dialah Gissel, tunangan Chris.
"Iya, tentu saja aku selalu sibuk, aku tak menyangka, kamu datang lagi menemuiku ada apa?" Calvin menatap lekat-lekat wajah cantik Gissel, dengan tatapan nakalnya.
Gissel melirik ke sisi jendela seketika lalu membuka cepat kipas kayu yang dia bawa sedari tadi. Wanita keturunan bangsawan ini menggerakkan kipas dengan begitu elegan. "Di mana Chris? Mengapa dia lama sekali perginya?"
Mendengar nama Chris di sebut, raut wajah Calvin berubah drastis. Namun, dalam sepersekian detik, mimik mukanya berubah kembali. "Bukankah sudah aku katakan Gissel, Chris sedang mengurus sesuatu," kilahnya seperti yang dikatakannya kemarin, hal yang sama pun ia lontarkan kepada Bonvelio tempo lalu. Sebab tak ada satupun orang tahu mengenai insiden malam itu.
"Hm, baiklah." Gissel menutup kipas kayunya lalu mulai melangkahkan kakinya. Akan tetapi, Calvin menahan tangan Gissel seketika.
"Tunggu, hanya itu saja, yang ingin kamu tanyakan?"
"Iya, kamu tentu ingat kan Calvin, aku tunangan Chris, jadi hal yang wajar aku mengkhawatirkannya," ucap Gissel dengan sorot mata menyimpan sesuatu. Lalu dia mengalihkan pandangannya mengarah pada jendela kaca.
"Kenapa kamu tidak bertanya langsung padanya, maksudku, hubungi dia."Calvin menyeringai tipis.
Gissel menolehkan matanya seketika.
"Oh aku lupa, Chris tak pernah menganggap kamu tunangannya kan haha, aku penasaran, mengapa adikku itu menelantarkan wanita cantik seperti kamu," lanjut Chris sambil melepaskan cekalan tangannya lalu berputar di sekeliling tubuh Gissel perlahan-lahan.
Gissel mulai mengetatkan rahangnya. "Tak usah ikut campur urusanku, Calvin, walau dia tak pernah menganggapku ada, kami akan tetap menikah! Permisi! Aku mau ke kamar Mamamu!" serunya lalu menggerakan kedua tungkai kakinya.
Calvin meradang, secepat kilat menarik tangan Gissel hingga Gissel menjerit histeris.
"Jangan mengaturku, Gissel. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang diinginkan kamu selama ini." Chris mencengkeram kuat dagu Gissel seketika sambil menatap penuh arti.
Gissel tersenyum sinis setelahnya sambil menahan rasa perih di dagunya saat ini, kala kuku-kuku Calvin menancap dikulit mulusnya itu. "Lepaskan aku Calvin! Itu bukan urusanmu!"
"Oh ya, tentu saja itu harus menjadi urusanku sekarang!" Calvin terkekeh pelan. "Apa kamu tahu Gissel, daripada kamu menunggu Chris, lebih baik kamu menikah saja denganku," ucapnya lalu mencium kasar bibir Gissel dengan cepat.
Gissel meringgis kesakitan saat Calvin mengigit bibirnya barusan. Setelah puas, Calvin melepaskan tubuh Gissel seketika. Saat melihat celah, tanpa pikir panjang Gissel melayangkan tamparan di pipi Calvin.
Plak!
"Biad4b!!!" jerit Gissel dengan dada bergemuruh kuat.
Sambil menggerakan wajahnya ke depan, Calvin menyentuh bibir bawahnya yang keluar darah sedikit.
Plak!!!
Calvin menampar kuat Gissel seketika.
"Argh!" Gissel terhuyung ke belakang sejenak.
"Jangan marah Sayang, aku dan Chris bersaudara, anggap saja aku adalah Chris," katanya sambil tersenyum lebar.
"Tidak! Walaupun kalian bersaudara tapi kamu dan Chris jelas berbeda. Inilah yang membuat kamu tak pantas menjadi seorang pemimpin! Pantas saja mendiang ayahmu memberikan jabatan pada Chris!" serunya berapi-api, lalu melangkah cepat menuju pintu ruangan.
"Aku jadi penasaran, di mana kamu kemarin malam, kami dalam suasana masa berkabung, bukankah seharusnya kamu datang." Dari belakang, Chris kembali bersuara.
Lantas gerakan kaki Gissel pun terhenti. "Aku pergi ke kota lain, membeli bunga untuk mamamu," sahutnya tanpa menatap lawan bicara. Padahal pada malam itu dia lah yang membantu Ricko dan Ricki membawa Chris kabur.
Chris enggan menyahut. Namun, tatapannya tak dapat diartikan sama sekali saat ini.
"Aku mau ke kamar mamamu." Gissel meminta izin pada Calvin untuk bertemu calon mama mertuanya di kamar, yang sedang meratapi kesendiriannya karena di tinggal sang suami. Tanpa mendengarkan balasan Calvin. Gissel melangkah cepat menuju ambang pintu.
Sesampainya di luar, Gissel terlihat mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Ricko, sepertinya Calvin mulai curiga, jaga selalu Chris di sana, aku tidak mau dia sampai terluka lagi," ucap Gissel cepat lalu mematikan sambungan. Setelah itu menaruh ponsel di tasnya kembali. Kedua mata berwarna hazel tersebut bergerak ke sembarang arah kemudian, seakan memastikan sesuatu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
siapa pilihan Chris sebenar....Gisel tunangan nya atau Shakilla,gadis incaran nya
2024-08-19
0
lily
klo memang Gisel wanita baik, Carikan jodoh yg baik juga Thor
2024-05-19
0
Dian Isnu
lanjut
2023-07-15
1