" Aku harap Mister dapat mempertimbangkannya kembali, jauhi dia Mister. Aku permisi dulu." Tanpa mendengarkan balasan Chris, Ricko melangkah pergi.
Chris masih terdiam. Pikirannya tiba-tiba semrawut seperti benang kusut. Benar juga apa yang dikatakan anak buahnya itu. Chris baru menyadari, latar belakangnya selama ini, tentu saja akan membuat ia dan Shakila susah bersatu.
Apalagi Shakila tak tahu perkerjaannya sebagai seorang mafia, yang terkadang berurusan dengan darah. Namun, Chris tak dapat menampik perasaannya terhadap Shakila sudah teramat dalam. Meskipun ia dan Shakila belum lama bertemu. Wanita itu benar-benar telah mencuri hatinya. Selama ini dia tak pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Sebab sedari kecil, hidupnya hanya seputar perkerjaan dunia hitam. Kedatangan Shakila ke dalam hatinya membuat hatinya yang gersang, menjadi lebih berwarna.
Chris dilanda kegalauan. Apa dia harus mengorbankan perasaannya sekarang. Entahlah...
Setelah berperang dengan batinnya. Chris memutuskan kembali ke kantor.
*
*
*
Sementara Shakila, setelah menyadari akan perasaannya. Dia berusaha mencari keberadaan Chris, sekadar ingin melihat wajah pria itu. Namun, saat selesai mata kuliah ketiga Shakila tak dapat menemukan Chris.
"Kemana sih? Tumben, biasanya ada di kantor, ini kok nggak ada?" Shakila celingak-celinguk di depan kantor. Tengah menelisik keberadaan Chris yang ternyata kosong, tak ada orang.
"Heh! Ayo ngapain!" sentak Rika dan Merry sambil menepuk pundak Shakila dari belakang.
Shakila terlonjak kaget. Secepat kilat memutar badannya. "Apaan sih! Nggak bisa lihat orang lain senang deh!" serunya, sedikit jengkel.
"Haha!" Rika dan Merry malah tertawa pelan sejenak.
"Habisnya kamu itu kayak baru pertama kali jatuh cinta aja deh?" celetuk Merry.
Shakila menghela napas kasar. "Iya, aku memang baru pertama kali jatuh cinta," katanya sambil sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri, masih mencari keberadaan Chris yang tak tahu ada di mana sekarang.
"Ha? What? Lah terus si Baron?" Merry melemparkan pandangan ke arah Rika sejenak.
Rika mengedikkan bahunya sedikit. Sebagai seorang teman dekat, ia pun juga tak mengerti dengan jalan pikiran Shakila.
Shakila hanya diam saja. Namun, matanya tak berhenti bergerak. Memang, iya selama ini, walau dia sudah memiliki banyak pacar. Dia tak pernah jatuh cinta sekalipun. Dia pacaran hanya untuk bermain-main saja dan pertama kalinya, jantungnya berdebar-debar tak karuan dikarenakan seorang pria dewasa. Tak lain dan tak bukan dosennya sendiri, yang terpaut umurnya cukup jauh dengannya.
"Baron hanya mainan, Mer. Udah deh nggak usah banyak tanya," kata Shakila kemudian.
Merry membalas dengan menganggukkan pelan kepalanya. "Jadi sekarang kalian udah pacaran nih?" tanyanya lagi, penasaran.
"Belum," Dengan wajah polosnya Shakila menjawab.
Rika dan Merry tampak terkejut.
"Ha? Terus ngapain kamu nyari Pak Chris?" tanya Rika.
"Cuma mau lihat aja, memangnya kenapa?"
"Astaga Shakila, memangnya Pak Chris belum menyatakan perasaannya sama kamu, maksud aku, bilang i love you gitu?" kata Merry, mengeluarkan pendapatnya.
Shakila menggeleng cepat.
"What?" Sekali lagi Merry dan Rika nampak terkejut.
"Aneh, banget. Kamu juga cerita kan kalau pria asing yang kamu cium itu adalah Pak Chris, aku jadi mikir jangan-jangan dia hanya penasaran aja sama kamu, Shakila, biasalah cowok itu kan kadang ada maksud tertentu buat dekatin kita, kalau udah dapat pasti dijauhin!" Rika pun mengeluarkan pendapat yang di dalam pikirannya juga.
Shakila langsung terdiam. Tampak berpikir keras.
"Begini aja, gimana kalau kamu tanya langsung ke orangnya. Mau dia itu apa? Cowok kadang nggak pekaan tahu, hehe." Merry menimpali, seakan mengerti keresahan hati Shakila.
"Iya benar juga sih, tapi jangan langsung
kelihatan kalau kamu mengharapkan dia, Shakila. Ingat wanita harus jual mahal!" kata Rika, menambahkan.
Dengan muka lesunya, Shakila hanya mengangguk saja.
Setelah matanya berpendar di sekitar kampus, Shakila tak juga melihat batang hidung Chris. Selesai kuliah, dia pun memutuskan pulang ke rumah dan berencana akan menemui Chris di kos namun, pria itu tak juga terlihat sama sekali, seakan hilang ditelan bumi tiba-tiba.
Shakila pun resah. Pada akhirnya pulang ke rumah dengan hati yang gundah gulana.
*
*
*
Sesuai rencana Shakila. Dengan suasana hati yang semangat, ia pun bangun pagi lebih awal, hendak bertemu Chris di kantor.
"Tumben, berangkat cepat Sayang?" ucap Sekar saat melihat putrinya di meja makan telah selesai menghabiskan sarapan.
"Hehe, biar nggak telat Mom!" Shakila menyambar tas ranselnya di kursi kemudian dan menghampiri Mommynya.
Sekar tersenyum lebar sambil bangkit berdiri. "Baguslah, hati-hati ya, belajar yang benar Nak!"
"Hm, iya Mommyku yang cantik, muach!" sahut Shakila cepat sambil melabuhkan kecupan di pipi kanan Sekar.
Setelah berpamitan dengan Mommynya, Shakila bergegas pergi ke kampus dan berharap dapat menemui Chris.
Selang beberapa menit, Shakila telah sampai kampus. Dengan hati-hati ia memarkirkan motor ninjanya. Dalam hitungan detik, perhatian Shakila teralihkan saat di depan sana, melihat Chris berjalan cepat menuju koridor yang mengarah ke ruang kantor.
"Ah, itu dia, akhirnya." Secepat kilat Shakila mengambil kunci motornya dan berlarian ke arah Chris sambil berteriak memanggil nama dosennya itu.
"Pak Chris! Berhenti Pak!"
Bukannya berhenti, Chris malah mempercepat langkah kakinya.
"Pak Chris!" teriak Shakila sekali lagi, dengan raut wajah kebingungan.
"Apa suara aku kurang kencang ya." Sambil berlari Shakila bergumam pelan. Dosennya itu seakan menghindarinya sekarang, pikirnya sesaat.
"Pak Chris!"
Saat tak melihat adanya tanggapan dari Chris. Shakila langsung berdecak kesal dan tanpa pikir menggerakkan kakinya lebih lincah.
"Stop! Shakila bilang stop, Pak! Apa Bapak tuli!" Shakila menghadap Chris dari depan tiba-tiba.
Langkah kaki Chris pun terhenti. "Bapak harus absen dan ada yang harus dikerjakan juga di kantor, minggir Shakila!"
"Tidak, Bapak kenapa menghindar dari Shakila sih?" Dengan napas terengah-engah Shakila bertanya.
Satu alis Chris terangkat sedikit. "Menghindar apanya?"
"Ck! Dasar nggak pekaan, benar kata Rika." Shakila berkacak pinggang kemudian lalu menatap seksama mata Chris. "Langsung aja, Shakila mau nanya, jadi sekarang hubungan kita apa?"
"Maksudnya?" tanya Chris dengan raut wajah datar.
Shakila menghembuskan napas dengan pelan. Apa pria di hadapannya ini, lupa atau mempunyai maksud lain, untuk mendekatinya. Entahlah, tapi yang jelas sikap Chris sekarang, membuat perasaannya resah dan gelisah.
Apalagi tadi malam, Rika sempat mengirim pesan padanya untuk tidak berharap pada Chris. Sebab siapa tahu saja Chris hanya ingin menggodanya. Shakila mangut-mangut saja, meski tak sependapat dengan Rika, karena hanya dialah yang dapat merasakan perasaannya terhadap Chris. Yang menurutnya Chris juga mencintainya walau belum pernah melontarkan kata-kata cinta.
"Bapak benar-benar pikun ternyata, kata Bapak kemarin kita pacaran tapi mengapa Bapak belum menyatakan perasaan sama Shakila?" Shakila bertanya sambil mengangkat angkuh dagunya. Karena tak mau menampakkan diri kalau dia juga memiliki perasaan yang sama.
"Maafkan Bapak, sebenarnya Bapak san–"
Perkataan Chris terhenti saat melihat di ujung sana sosok yang sangat ia hindari, berdiri tegap menghadapnya sambil melayangkan tatapan dingin.
Kedua mata Chris melebar sempurna, melihat Calvin melangkah cepat, menghampiri mereka.
"Bapak apa?" Dengan sabar Shakila menanti jawaban dari Chris.
"Bapak cuma mau bilang kalau kamu hanya mainan Bapak saja dan jangan berharap lebih, Shakila!" kata Chris lalu membalikkan badannya dengan sangat cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
pasti menyakitkan hati dan perasaan Shakilla... jangan bagi harapan Chris kalau akhirnya kau hempaskan
2024-08-19
0
Marlina Ryn
pasti sakit banget deh hati syakila ...
masa seorang mafia gga mw perjuangin cintanya malah jadi pengecut
2023-06-28
1
miyura
semangat othor lanjut..
2023-06-28
1