Setelah melihat punggung Shakila menghilang di balik pintu, Chris menutup pintu kost-nya rapat-rapat.
"Keluarlah," kata Chris kemudian, sambil melirik ke sisi lemari.
Mendengar hal itu Ricko dan Ricki menyembul keluar. Sedari tadi mereka bersembunyi saat Shakila mengetuk-etuk pintu kamar.
"Mister, mengapa kita tidak menginap di hotel saja, di sana lebih aman dan tak akan ada orang yang curiga dengan kita."
Ricko memberanikan diri memberi pendapat. Sejujurnya sedari kemarin dia tak setuju akan keputusan bosnya, yang memilih menetap di kost-an. Ricko amat penasaran, dengan jalan pikiran Chris, yang sangat sulit di tebak sekarang. Pasalnya di luar sana para musuh masih mencari keberadaan bosnya sampai saat ini. Meski para musuh sudah terkecoh dengan keberadaan Chris dan mengira Chris ada di Moskow. Namun, tak menutup kemungkinan mereka akan menyadarinya.
Demi menjaga keselamatan bosnya, ia dan sang adik memantau pergerakan Chris dimanapun Chris berada, termasuk di kampus tadi pagi.
Chris melirik Ricko dan Ricki sekilas lalu melangkah cepat menuju lemari, dan mengambil celana pendeknya. "Kalian tenang saja, justru dengan begini, mereka tidak akan bisa menemukan kita," jawabnya tanpa menatap lawan bicara.
Ricko enggan menanggapi karena yang memiliki kuasa adalah Chris. Dan dia hanyalah bawahan yang akan selalu menuruti perintah atasannya, walau keputusan atasannya tak sesuai perkiraannya. Namun, yang membuat dia sedikit was-was adalah perkerjaan yang ditekuni Chris saat ini, yaitu menjadi dosen, terlalu mencolok menurutnya, meski Chris sudah memakai kacamata, tapi tetap saja wajah Chris sama.
"Pasti Mister mau dekat dengan Shakila kan hehe," celetuk Ricki seketika, cengengesan.
Saat nama Shakila terdengar Chris langsung menatap tajam Ricki.
Ricki nampak gelagapan dibuatnya. Dia melirik Ricko setelahnya.
Ricko menggeleng pelan, melihat tingkah saudara kembarnya itu, yang terkadang suka berkata tanpa berpikir terlebih dahulu. Dia pun menebak jika ini semua ada hubungannya dengan Shakila. Apalagi tadi, saat mendengar obrolan mereka, sikap Chris teramat berbeda, sungguh suatu keajaiban Ricko dapat mendengar Chris tertawa hangat, karena selama menjadi bawahannya Chris sangatlah dingin. Namun, dia berusaha menepis pikirannya seketika.
"Mister, aku harap perkataan Ricki hanyalah angin lalu saja, karena Mister harus ingat jika Mister sudah memiliki tunangan di Italia, Nona Gissel lah yang membantu anda kabur dari mansion, Mister harus ingat itu, dia memiliki peranan yang cukup besar untuk anda nantinya," tutur Ricko singkat. Kala teringt pesan mendiang Tuan Besar sebelum berpulang, untuk menikahkan Gissel dan Chris.
Bukannya menanggapi perkataan Ricko, Chris malah menyambar teropong kecil di atas meja lalu melangkah cepat, mendekati jendela kamar.
"Ck, tidak asik, Bang, aku yakin Nona Gissel mempunyai maksud terselubung, seperti ada udang di balik bakwan!" seru Ricki.
"Udang di balik bakwan?" Ricko mengerutkan dahi.
"Aish, ya seperti itu kurang lebih, aku mendapatkan kata-kata itu dari penjual gorengan di kampus Shakila tadi pagi!"
Ricko menghela napas kasar mendengarnya, karena tak mengerti.
"Dan kamu harus ingat juga Bang, Nona Gissel hanyalah wanita pilihan mendiang Tuan Besar dan Nyonya Besar, dan aku yakin sekali Mister tidak mencintai Nona Gissel!" lanjut Ricki.
Ricko melototkan matanya ke arah Ricki seketika. Sebab adiknya itu malah mengomporinya. Ya, memang benar Gissel bukanlah wanita yang dicintai Chris, namun Gissel banyak membantu mereka. Tetapi, Ricko tak bisa menampik satu fakta bahwa Chris tidak mencintai Gissel. Padahal dari kecil keduanya sudah dijodohkan.
Ricki pun melebarkan mata. "Apa? Kamu tak sependapat denganku? Dengar ya Bang, cinta itu tidak bisa dipaksakan, biarlah Mister mengejar wanitanya, tugas kita sekarang adalah membantu Mister mendapatkan cintanya," katanya sembari tersenyum lebar.
"Jangan gila Ricki! Mister tidak mungkin mencintai anak kecil seperti Shakila, apa kamu tidak melihat sikapnya yang bar-bar dan sedikit cerewet itu! Sangat bertolak belakang sekali dengan sikap Nona Gissel, berpendidikan dan elegan!"
"Aku tidak gila, memang itu kenyataanya kan, hei, walaupun anak kecil tapi bodynya mengalahkan wanita dewasa, masalah cerewet dan bar-bar sudah menjadi kekurangannya, lagipula mencintai itu tidak perlu alasan," Sekali lagi Ricki berkata, karena dia kurang setuju dengan pendapat saudaranya itu.
Ricko kembali tak sependapat dengan Ricki. Keduanya saling beradu mulut. Sementara itu, dari tadi Chris sedang asik melihat Shakila di bawah sana sedang memanaskan motor ninja melalui teropong khusus.
"Hmm, menarik," Chris bergumam pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari Shakila.
***
Tepat pukul sebelas malam, suasana di dalam kost begitu sunyi dan senyap, hanya terdengar suara dengkuran halus dari hidung Ricko dan Ricki yang tengah tertidur lelap di atas sofa.
Brrmm!
Chris langsung membuka matanya kala mendengar bunyi motor dijalankan melintas di kost-nya. Beringsut dari tempat tidur, Chris mengambil teropong kembali dan mengarahkannya ke sumber suara.
"Sudah aku duga." Seulas senyum tipis terlukis di wajah Chris saat melihat di luar sana Shakila pergi entah kemana memakai motor ninja.
Di sisi lain, Shakila mempercepat laju motornya kala waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ya, malam ini akan diadakan balap liar di jalan XXX. Shakila yang suka mengendarai motor besarnya tentu saja akan ikut jika ada kesempatan. Tadi secara diam-diam Shakila kabur melalui kaca jendela, seperti yang dia lakukan sebelum-belumnya.
Di sini lah dia sekarang bersama para pembalap liar lainnya. Suasana nampak hiruk dan pikuk saat ini. Para kerumunan pemuda-pemudi memadati jalan raya. Baru saja ia membuka helm, matanya bertubrukan langsung dengan mata Baron. Sepertinya Baron juga ikut balapan liar.
Shakila melenggoskan muka, melihat Baron menghampirinya sekarang.
"Wow Sayang, aku tak menyangka, kamu juga ikut balapan, apa kamu tak rindu padaku, dari kemarin pesanku tidak kamu balas, ada apa Sayang?" kata Baron sambil berusaha meraih tangan Shakila. Namun, secepat kilat Shakila mengibaskan tangan Baron.
"Sayang Sayang, pala lu peang, udah gih sana pelukan sana sama Donna!" seru Shakila.
"Astaga, kamu cemburu, jangan gitu donk Sayang, Donna cuma teman aku kok," tutur Baron, dengan mata genitnya.
Melihat respon sang kekasih, Shakila malah menatap jijik. "Huek, cemburu apanya, nggak usah kegeeran deh!"
"Shakila!" teriak Rika dan Merry bersamaan dari kejauhan, dengan berjalan cepat mendekati mereka.
Shakila dan Baron menoleh seketika.
"Wow Shakila, aku nggak tahu kalau kamu ikut balap liar, keren amat deh!" celetuk Merry.
"Siapa dulu teman aku gitu loh." Rika menimpali seraya memasang wajah angkuh.
"Iya donk, jelas, aku memang keren, udah gih kalian menepi, sudah mau dimulai balapnya."Shakila memberi kode agar Merry dan Rika menepi dari jalanan saat mendengar panitia lomba mengatakan pertandingan akan segera dimulai.
"Oke, siap! Semoga menang Shakila, aku masang taruhan tadi hihi!" Sebelum melangkah pergi Merry berseru lagi.
"Hm," Shakila membalas dengan berdeham rendah. Setelah itu, Rika dan Merry melenggang pergi.
"Sayang, good luck ya!" kata Baron sambil menoel dagu Shakila.
"Ish! Apaan sih?!" Shakila risih sendiri melihat sikap Baron, ingin sekali dia melempar helm miliknya ke kepala kekasihnya itu, namun diurungkannya kala panitia acara memberi kode untuk semua pembalap bersiap-siapa.
Lima menit kemudian, Shakila dan para pembalap lainnya menanti kode dari penyelenggara acara untuk memulai pertandingan.
Shakila berada di paling tengah. Dia satu-satunya pembalap wanita malam ini. Dengan semangat ia menyalakan motornya.
Brmmm!
Brmmm!
Brmmm!
Bunyi motor terdengar nyaring memecah keheningan malam.
"1,2,3!"
Mendengar angka tiga, Shakila langsung menekan gigi motor seketika dan kendaraannya melesat laju.
Belum sampai semenit, Shakila keheranan kala bunyi motornya sedikit berbeda. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, matanya melebar, melihat bannya ternyata bocor. Alhasil Shakila memperlambat laju kendaraannya.
"Argh! Si4l!" umpatnya kesal. Secara bersmaan terdengar sirine polisi di sekitar, Shakila panik, begitu pun dengan pembalap lainnya, mereka langsung keluar dari jalan raya hendak lari dari kejaran polisi.
"Duh, gimana nih!" Karena ban Shakila bocor, dia tak bisa keluar dari area jalanan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat para penonton lari kocar-kacir. Akan tetapi, dari arah samping seseorang mengklakson Shakila tiba-tiba. Secepat kilat Shakila menoleh, matanya menyipit sedikit, berusaha mengenali si pengendara motor besar itu. Yang ternyata adalah Chris, dosen sekaligus penghuni baru kost Mommynya.
"Shakila, menepilah, ikut aku!" teriak Chris, dari atas motor.
Tanpa pikir panjang, Shakila pun menepikan motornya. "Tapi Pak, bagaimana dengan motorku!" serunya.
"Gampang, ayo ikutlah, cepat!" Sekali lagi Chris berteriak, saat mobil polisi semakin mendekat.
Shakila pun turun dari motor dan menaiki motor Chris seketika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Chris penyelamat Shakilla....
2024-08-19
0
YuWie
paling suka klo pemeran wanitanya gak menyek2 alias badas
2023-08-11
0
Dian Isnu
wach pas banget bocor nya🤭🤭🤭
2023-07-14
1