"Hotel Ritz."Shakila mengulangi perkataan Chris, sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi di hotel tersebut. Dengan muka polosnya, dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Melihat raut wajah Shakila yang tak menunjukkan adanya tanda-tanda akan ingat, Chris kembali berkata,"Sudahlah, lebih baik kamu lanjutkan hukumannya tambah lagi sepuluh kali putaran, jangan curang, ada CCTV di atas sana!" Chris menunjuk ke ring basket, yang sebenarnya tidak ada kamera pengintai, itu hanya akal-akalannya saja.
"Bapak mau ke ruang laboratorium dulu, ada yang harus Bapak kerjakan." Chris kembali menambahkan.
Shakila berdecak kesal, saat Chris tak mengurangi hukumannya dan malah menambah hukumannya. "Tapi Pak, Shakila sudah capek!" sahutnya dengan bibir merengut ke bawah.
"Tidak ada capek-capek, salah kamu sendiri karena sudah menganiaya orang lain!" Chris dapat mendengar suara Shakila yang menjerit histeris di ujung sana, saat mendengar perkatannya barusan. "Walau sebenarnya aku juga mau mematahkan tangan pria itu tadi," lanjutnya, pelan dengan sorot mata menyala-nyala karena Baron telah berani memegang wanitanya.
Semalam, setelah bertemu Shakila. Chris semakin tak bisa tidur. Saat bayang-bayangan wajah Shakila melintas di benaknya. Jantungnya semakin bergetar-getar tak karuan. Kini Chris baru menyadari akan perasaannya. Ternyata Shakila sudah berhasil memporak-porandakan perasaannya dan menjerat hatinya. Ya, gadis munggil nan lucu di matanya itu, membuat Chris sampai tak memikirkan keselamatannya saat ini. Dia bersumpah akan menjadikan Shakila sebagai ratu satu-satunya di singgasana hatinya.
"Argh! Bapak Chris jelek!" teriak Shakila seketika, mencak-mencak. Dia tak terima karena hukuman hanya diberikan padanya. Terlebih lagi ia memukul Baron juga ada alasannya.
Chris menghela napas kasar, melihat tingkah Shakila. Tanpa banyak kata dia pun melangkah pergi dari lapangan basket sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Melihat punggung Chris bergerak di depan sana, Shakila menatap tajam seketika. Secara bersamaan bayangan-bayangan aneh melintas diotaknya, sorot mata itu pun langsung meredup. Kedua mata Shakila berkedip amat cepat saat sepenggal memori di hotel Ritz, tepatnya di lift mulai berputar bak sebuah kaset.
Matanya terbelalak tatkala Chris lah yang dia cium malam itu. Shakila tergelak kala dia mulai ingat perkataan yang dia lontarkan pada Chris.
"Ugh, hot man! Kamu tahu, itu ciuman pertamaku, kamu sangat beruntung mendapatkannya hehe..."
"Oh my God! Suaramu sangat seksi! Take me to heaven!"
"Wah, apa aku di surga!"
Diikuti bayangan Chris memeluknya dan menciumnya layaknya pasangan suami istri. Shakila semakin tergelak.
"Argh!!!" Shakila berteriak sangat nyaring setelahnya, hingga para mahasiswa yang melintas di lapangan terlonjak kaget.
"Tidak, ini tidak mungkin!" Shakila tak mengira bahwa pria yang dia cium tempo lalu adalah Chris, dosen baru sekaligus penghuni baru kost-an Mommynya. Kini rasa malu mulai merasuk palung hatinya saat mengingat lagi ucapan yang dia katakan pada Chris, ternyata sangatlah vulgar sekali.
"Take me to heaven!" Perkataan itu terngiang-ngiang dibenaknya sedari tadi. Bagaimana bisa ia meminta Chris untuk mengajaknya ke surga, yang kalau diartikan ingin berhubungan badan dengannya.
"Argh! Benar-benar memalukan!" Sekali lagi Shakila menggerutu sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lapangan. Dia pun terpaksa melanjutkan kembali larinya sambil memukul-mukul pelan kepalanya, berharap ingatan itu tak kembali muncul.
Beberapa menit kemudian, setelah enam puluh kali putaran, dengan napas ngos-ngosan, Shakila menghentikan gerakan kakinya. Lalu matanya celingak-celinguk ke segala arah, ternyata keadaan di sekitarnya sekarang tampak sepi. Sepertinya mahasiswa lainnya sedang mengikuti mata kuliah. Tak mau berlama-lama di lapangan, Shakila memutuskan pergi ke toilet hendak membasuh wajahnya.
Saat di perjalanan ke ruangan, perhatian Shakila teralihkan seketika kala di depan sana, melihat Chris dan seorang wanita yang tak asing, sedang berjalan beriringan hendak ke suatu tempat. Shakila jadi penasaran, tanpa pikir panjang, dia mengekori mereka dari belakang' dengan jarak yang cukup aman.
Setelah beberapa langkah, mengikuti kedua dosen itu, dengan tergesa-gesa Shakila bersembunyi di balik pilar, ketika Chris dan wanita itu berhenti di suatu tempat. Shakila tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita tersebut karena terhalang tubuh Chris. Namun, yang jelas wanita itu sepertinya dosennya juga. Secepat kilat ia memajukan sedikit telinganya hendak mendengarkan obrolan mereka.
Dengan jarak beberapa meter, Chris dan seorang wanita saling berhadapan satu sama lain.
Chris menatap datar rekan kerjanya itu. Beberapa menit sebelumnya setelah dia pergi ke UKS, menengok keadaan Baron yang terkulai lemah, Chris memutuskan kembali ke lapangan. Akan tetapi, dirinya tiba-tiba dicegat oleh rekan kerjanya, katanya wanita itu mau berbicara empat mata dengannya' hendak menyampaikan sesuatu. Chris, iya, iya saja dan disinilah dia berada.
Sedari tadi wanita tersebut hanya berdiri sambil menunduk-nunduk malu.
"Apa yang mau kamu katakan? Cepatlah, aku harus pergi ke laboratorium satu jam lagi." Chris berinisiatif memulai obrolan.
"Em, begini Pak Chris, saya..." Wanita itu terlihat gugup. Tanpa sadar kedua tangannya memilin-milin ujung kemejanya.
Shakila melebarkan mata karena mengenali suara itu. "Bu Sinta," desisnya pelan. Yaps, ternyata wanita yang bersama Chris adakah dosennya, bernama Sinta. Kemarin Sinta sempat masuk kelasnya dan mengajar di bidang kalkulus teknik. Wanita berkacamata bulat itu sangatlah ramah dan baik, menurut Shakila.
"Sebelumnya saya minta maaf dulu Pak Chris, karena sudah lancang mengajak Bapak kemari, sebenarnya saya..." Sinta tampak salah tingkah. Berulang kali ia membenarkan kacamata bulatnya yang bertengker di hidung peseknya, menetralisir perasaan gugup yang semakin melandanya saat ini.
Chris menaikkan sebelah alis mata sejenak, dengan sabar menunggu apa yang ingin disampaikan rekan kerjanya.
"Apa?" Chris bertanya tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali, seperti biasanya begitu datar dan kaku.
Saat mendengar suara berat nan seksi bergema di telinganya, Sinta langsung menatap mata Chris.
"Sebenarnya saya menyukai Bapak, dari kemarin saya tak bisa tidur Pak, saat kita pertama kali berjumpa kemarin di kantor, wajah Bapak selalu menghantui saya setiap waktu, saya jatuh cinta sama Bapak, apa Bapak mau menjadi suami saya, eh maksudnya pacar Pak,"sahutnya, lalu menundukkan kepala seketika. Sinta tak mampu berlama-lama menatap bola mata Chris. Yang selalu membuat dadanya berdebar-debar kencang.
"Kamu bukan tipeku," jawab Chris cepat, tanpa pikir panjang.
"Apa?" Sinta mengangkat kepalanya. Dia sangat terkejut saat pernyataan cintanya di tolak langsung. Sama halnya dengan Shakila juga tampak kaget, mendengar obrolan mereka.
"Tapi Pak, coba pikirkanlah dulu, saya sudah semakin tua Pak, teman-teman di kantor udah pada berkeluarga semua, cuma saya aja yang belum, tolong Pak, terima cinta saya ya, Bapak mau tipe yang gimana? Nanti saya ubah." Kedua mata Sinta sudah nampak berkaca-kaca. Suaranya pun terdengar sedikit bergetar.
Chris tak serta merta langsung menjawab. Dia menelisik penampilan Sinta dari atas ke bawah, terlalu feminim menurutnya. Lagipula saat ini nama Shakila sudah terukir dihatinya dan tidak bisa diganggu gugat. "Tidak perlu ada yang di ubah, kamu memang bukan tipeku, Sinta. Lebih baik kamu cari saja yang lain."
"Tapi Pak, hikss, hikss, hikss, hiks... Saya maunya Bapak jadi pendamping hidup saya...." Cairan bening pun mengalir dari pelupuk matanya seketika. Sinta tak mampu lagi membendung perasaannya. Bagai tertusuk sembilu, hatinya sangat sakit dan perih, belum berjuang saja, dirinya sudah dipaksa untuk mundur.
Chris hanya diam, enggan menanggapi perkataan Sinta.
Sementara, Shakila membulatkan bibirnya, tak menyangka bahwa Chris setega itu. Dia pun menyembulkan kepalanya keluar sedikit hendak melihat keadaan Sinta. Namun, begitu saja kepalanya maju. Sinta tak sengaja melihat Shakila. "Shakila ngapain kamu di situ?" tanyanya ambil sesenggukan.
Chris pun menoleh ke belakang.
Shakila menegang seketika karena ketahuan mengintip. Secepat kilat matanya melirik kesana kemari, tengah mencari alasan.
"Hai Bu Sinta, hai Pak Chris, maaf, Shakila lagi lihatin cicak kawin, hehe," kilahnya sambil menoleh ke samping, yang kebetulan dua cicak sedang indehoy. Shakila menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sabar Sinta cari lah lelaki lain.... entah seperti apa tanggapan Chris ketika tahu Shakilla mendengar perbualan Chris dan Sinta
2024-08-19
0
Yunerty Blessa
jawaban yang mantul Chris
2024-08-19
0
Zia_Lin
tutorial mempermalukan diri sendiri😂
2024-01-08
0