Keesokan harinya, setelah insiden kemarin, perasaan Shakila semakin tak menentu, entah mengapa saat Chris mengatakan dia adalah pacarnya, jantungnya selalu berdebar-debar tak karuan.
Pagi ini Shakila hampir saja datang terlambat ke kampus karena tadi malam tak bisa tidur, membayangkan wajah Chris yang menari-nari dibenaknya.
Setelah selesai mandi dan sarapan, Shakila bergegas pergi ke kampus. Sesampainya di sana, ia kembali dihadapkan dengan dua orang temannya, siapa lagi kalau bukan Rika dan Merry, sedari kemarin mereka terlihat amat senang menggodanya.
Saat ini, di depan pintu kelas, Shakila di hadang mereka tiba-tiba.
"Cie, cie, pacarnya Pak Chris, kok kamu nggak bilang sih, sudah putus sama Baron eh malah nyangkut sama Pak Chris," kelakar Rika, sambil tersenyum lebar.
"Iya ini, Merry nggak nyangka, ternyata Pak Chris pacarnya Shakila, hihi!" Merry ikut menggoda Shakila.
Shakila memutar malas ke atas sejenak. "Apaan sih! Bukan, kami nggak pacar kok, itu cuma akal-akalan dosen mesum itu biar aku nggak dikeluarkan dari kampus, lihat tuh kemarin aku dibebaskan kan dari hukuman!" Shakila menjelaskan apa adanya, karena setelah Chris mengatakan ia pacarnya, Donna dan dosen tersebut auto kicep.
"Ah! Masa sih? Kok Merry nggak percaya ya, tapi kayaknya Pak Chris suka deh sama kamu," kata Merry diiringi cekikikan setelahnya. Rika pun tertawa pula. Saat melihat pipi Shakila merah merona kini.
"Ish! Apaan sih! Minggir-minggir aku mau masuk kelas!" Shakila menerobos tubuh Rika dan Merry seketika lalu masuk ke dalam kelas. Meninggalkan kedua temannya masih cekikian di depan pintu.
*
*
*
Tepat pukul sepuluh pagi, Shakila masih mengikuti mata kuliah keduanya yang kebetulan adalah mata kuliah Chris dan hari ini mereka belajar di laboratorium.
Sebagai asisten dosen, dengan terpaksa dia pergi ke laboratorium hendak menyiapkan ruangan dan alat-alat yang akan mereka pakai untuk praktikum.
Sesampainya di sana, Shakila sedikit terkejut melihat Chris ternyata di dalam ruangan.
Deg,deg,deg.
Aduh! Jantung aku kenapa sih! Kongslet apa!
Shakila menepuk-nepuk dadanya seketika.
Untuk kesekian kalinya, Shakila dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, setiap bertemu Chris.
"Shakila! Ngapain mukul dada kamu? Ayo cepat siapkan alat dan bahan-bahannya."
Lantas perkataan Chris membuat Shakila menghentikan pergerakan tangannya. Tanpa banyak kata ia pun mulai melangkah cepat menuju lemari khusus, tempat menyimpan alat-alat praktikum.
Sepuluh menit kemudian, di setiap meja sudah tersedia beberapa alat laboratorium seperti gelas ukur, tabung reaksi, ph meter dan alat laboratorium lainnya.
"Selesai," celetuk Shakila tanpa sadar sambil menaruh bola karet terakhir di atas meja.
"Hmm, baguslah."
Bak sengatan listrik, Shakila terkesiap saat tubuhnya di rangkul Chris dari belakang seketika. Shakila membeku di tempat.
"Ba-pak, mau nga-pain?" Shakila begitu gugup. Sensasi aneh mulai merasuk ke relung hatinya saat ini. Dia dapat merasakan jika jantungnya sepertinya akan meledak.
"Mau peluk kamu, kenapa? Nggak boleh?" Secepat kilat Chris menyingkap rambut panjang Shakila lalu melabuhkan kecupan pelan di leher jenjang Shakila.
Sambil mendes4h pelan, bulu kuduk Shakila merinding tiba-tiba. Dalam hitungan detik dia segera tersadar lalu membalikkan cepat badannya. "Jangan gila Pak! Kita sedang di lab, tentu saja tidak boleh! Di antara kita tak ada hubungan apa-apa," kata Shakila, sedikit gugup.
Chris tak langsung menjawab. Tangan sebelah kanannya malah bergerak menarik pinggang Shakila hingga Shakila menjerit cukup kuat.
"Diam Sayang, siapa yang bilang, kita tidak ada hubungan apa-apa." Chris memegang dagu Shakila lalu menatap lekat dua bola mata bulat itu.
"Jangan begini Pak, lepaskan Shakila. Apa semua wanita selalu Bapak perlakukan seperti ini?" Shakila mengajukan sebuah pertanyaan yang bersarang dibenaknya sedari kemarin. Walau hatinya menyangkal, akan tetapi Shakila sangat penasaran akan sikap Chris padanya selama ini.
Dengan sorot mata serius, Chris semakin merapatkan tubuh Shakila hingga tak ada celah lagi di antara mereka sekarang.
"Tidak, hanya denganmu aku sepertimu, karena kamu telah mencuri hatiku pada malam itu, maka dari itu..." Chris menjeda sesaat kalimatnya, tengah melihat ekspresi Shakila yang sedikit berubah. Dia tersenyum tipis, melihat reaksi Shakila. Yang belum menyadari perasaannya sendiri.
Sementara, Shakila mengedipkan pelan matanya, sedang memperhatikan wajah Chris. Yang ternyata terlihat sangat tampan dan mempesona.
"Maka dari itu apa, Pak?" tanyanya penasaran.
Cup!
Bukannya menjawab pertanyaan Shakila, Chris malah memegang kedua pipi Shakila dan secepat kilat memagut bibir ranum wanitanya itu.
Kedua mata Shakila terbelalak. Begitu terkejut dengan situasi saat ini. Rasa panas menjalar di relung hatinya seketika, sebuah rasa yang tak bisa ia artikan sama sekali saat ini. Untuk sejenak Shakila mematung di tempat. Tetapi dalam hitungan detik, ia pun terbuai juga.
Shakila menutup perlahan kedua bola matanya, saat Chris mulai memagut lebih dalam bibirnya.
"Maka dari itu kembalikan apa yang telah kamu curi malam itu, Shakila." Chris terpaksa menyudahi permainannya dikala mendengar napas Shakila tersengal-sengal.
Shakila membuka perlahan matanya. Mimik muka tampak masih syok.
"Belajarlah yang benar Sayang, hari ini kalian praktikum mandiri," ucap Chris lagi sambil melabuhkan kecupan di pucuk kepala Shakila. Tanpa mendengarkan balasan Shakila. Dia melangkah pergi dari ruangan.
Shakila melirik ke ambang pintu. "Ahk!!!" teriaknya kemudian, sambil memegang pipinya yang terasa panas. Shakila tersipu malu dibuatnya.
"Astaga, jangan bilang aku jatuh cinta sama dosen mesum itu!" serunya.
***
Setelah selesai mata kuliah kedua, Shakila bergegas pergi ke kantin. Masih menyisakan semburat merah, Shakila duduk langsung di hadapan Rika dan Merry. Sekali lagi Shakila termenung, membayangkan reka adegan tadi pagi.
"Shakila, hello! Kamu kenapa?" tanya Rika sambil mengerakkan tangannya di depan wajah Shakila.
Shakila masih bergeming, dengan sorot mata berbinar-binar.
Melihat reaksi Shakila, Rika dan Merry melemparkan pandangan satu sama lain.
"Shakila!" Merry terpaksa menepuk kuat pundak Shakila, saat temannya itu senyam-senyum sendiri seperti orang gila barusan.
Shakila tersentak. "Apaan sih?" tanyanya, kesal.
"Kamu tuh yang apaan, ada apa Shakila? Dari tadi pagi pipi kamu merah? Kayak lagi orang jatuh cinta aja deh," ucap Merry penasaran. Sebab saat di dalam laboratorium pipi Shakila terlihat merah.
"Iya benar tuh, mana senyam-senyum sendiri kayak orang gila lagi." Rika mengambil bakwan goreng di atas meja.
Shakila langsung menatap keduanya. "Iya kayaknya aku lagi jatuh cinta deh, tadi pagi pas di lab Pak Chris cium aku," Shakila berkata cepat sambil menutup wajahnya yang terasa panas lagi kala bayangan tadi pagi melintas di pikirannya saat ini.
"Aaaaaaaaa! What! Terus-terus gimana rasanya di cium Pak Chris!" Tanpa sadar Rika dan Merry berteriak serempak.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang berada di sekitar, mengalihkan pandangan ke arah mereka. Rika dan Merry menyengir kuda setelahnya dan tampak salah tingkah.
Dari jarak satu meter, Ricko baru saja melintas, hendak membeli makan siang dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka barusan. Dengkusan kasar berhembus dari hidung mancung Ricko. Dia pun memutuskan mengirimi Chris pesan, ingin bertemu dan berbicara empat mata. Chris mengiyakan dan mengajak bertemu di taman belakang.
"Ada apa Ricko?" Chris pun memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Apa Mister mencintai Shakila?" tanya Ricko to the point.
Mendengar nama Shakila disebut, Chris malah tersenyum lebar.
Ricko menghela napas kasar. Hanya dengan melihat ekspresi Chris. Dia dapat menyimpulkan jika majikannya telah jatuh cinta pada Shakila.
"Mister, maaf kalau aku ikut campur, tapi ini demi kebaikan Mister juga. Mister tidak boleh lupa tujuan kita ke sini apa. Bagaimana respon Shakila kalau dia tahu perkerjaan Mister adalah seorang mafia. Aku yakin sekali, dia akan pergi menjauh. Lebih baik sudahi semua ini Mister, kasihan Nyonya besar dan tunangan anda di sana, pikiranlah juga keselamatan anda, para musuh masih mengincar anda sampai saat ini,"jelas Ricko, panjang lebar.
Raut wajah Chris seketika muram. Dia langsung terdiam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
tanda² ada perasaan cinta pada Chris
2024-08-19
0
Zia_Lin
ricko skip 👎 gak asik.
2024-01-08
1
Selly Rizki Melina
Next
2023-06-27
0