Sementara itu, dari kejauhan Chris melirik Shakila sekilas.
Shakila....
Perasaan yang sama pun juga dirasakannya. Ingin sekali ia berlari menghampiri Shakila dan merengkuhnya dalam-dalam, melepas kerinduan yang terpendam sejak kemarin. Namun, Chris tak mau Calvin sampai tahu jika ia sedang dekat dengan Shakila sekarang. Hal itulah yang membuat pikirannya semrawut, seperti benang kusut sedari kemarin.
Sejak kemarin, Chris sudah mendapat kabar dari Ricko, bahwa Calvin sudah mengetahui tempat lokasi persembunyiannya. Chris lantas pergi ke suatu tempat hendak memeriksa sesuatu, bersama kedua tangan kanannya hingga menjelang subuh baru pulang ke kost. Saat sampai di kost, Chris memeriksa CCTV yang ia taruh tersembunyi di sela-sela bangunan kost dan betapa terkejutnya Chris melihat rekaman Shakila mondar-mandir di depan kost.
Chris menduga sepertinya Shakila ingin menyampaikan sesuatu. Chris hendak menemui Shakila tapi Ricko melarangnya dan memberinya saran, untuk sementara waktu jangan mendekati Shakila karena takut Shakila dapat terlibat dengan permasalahan yang sedang dihadapinya sekarang. Apalagi Calvin bukanlah orang yang tak mudah dibohongi dan sangat licik. Chris harus memikirkan keselamatan orang-orang di belakangnya dan wanita yang dicintainya jua. Kini jalan satu-satunya adalah menghindar dari Shakila dulu.
Chris hanya bisa menghela napas dan mengiyakan perkataan Ricko. Tak bersua dengan Shakila sehari saja membuat perasaan Chris semakin kalut dan tak menentu.
Seperti perkiraan Chris tadi malam ternyata Calvin benar-benar menyambanginya sekarang. Chris tak menyangka Calvin melakukan hal nekat dengan datang ke kampusnya.
"Hmm, aku tak menyangka kamu masih bisa bernapas, Chris, padahal racun yang aku berikan padamu, tak ada penawarnya." Calvin memecah keheningan setelah keduanya cukup lama terdiam sedari tadi.
Chris terlihat enggan menanggapi. Perkataan Ricki beberapa hari lalu terngiang-ngiang di benaknya, mengatakan bahwa racun yang mengalir di tubuhnya masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Akan tetapi, Ricki tak kehabisan akal. Ia meracik ramuan, menangkal racun agar tak mengalir ke dalam otaknya dan menyuruh Chris meminum obatnya dengan teratur.
"Chris, kamu pasti terkejut melihat aku datang kemari bukan," ucap Calvin lagi sambil tersenyum sinis.
"Tidak, aku sudah menduga dari semalam kamu akan datang." Tanpa menunjukkan ekspresi, Chris berkata.
Calvin terkekeh pelan setelahnya. "Ternyata adikku sekarang sudah lumayan gesit."
"Lalu apa maumu, bukankah semua yang kamu inginkan sudah kamu miliki." Suara Chris terdengar dingin. Suasana mendadak mencekam di sekitar.
Calvin tak serta-merta langsung menjawab. Pria itu malah melangkah maju dan memegang pundak Chris.
"Aku hanya mengemban tugas dari Mama dan Gissel, mereka merindukanmu, pulanglah, Chris." Calvin berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Chris mengibas cepat tangan Calvin dari pundaknya sambil menatap tajam.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu inginkan."
Chris dan anak buahnya mengali informasi lebih dalam dan mendapatkan kabar jika Calvin tak bisa menduduki jabatannya saat ini dikarenakan dirinya. Chris sedikit senang namun rasa kebahagiaan itu sirna dalam sekejap mata saat mendapat kabar, kemarin Pamannya mengalami serangan jantung mendadak dan sekarang terbaring lemah di rumah sakit. Selama bersembunyi, Chris dan si kembar kesusahan menghubungi Benvolio. Tentu saja hal itu disebabkan oleh anak buah Calvin.
"Baguslah, kamu sudah tahu, jadi ayo kita pulang, Mama sudah sangat merindukanmu di sana," ucap Calvin dengan seringai kuat.
"Tak usah mengaturku, lebih baik kamu yang pergi."
Chris menatap nyalang Calvin. Bagaimana bisa Mamanya merindukan dirinya, sebab selama tinggal di rumah, Mamanya tak pernah menatap matanya sekalipun dan jarang sekali berbicara dari hati ke hati dengannya.
Chris heran, apa yang membuat Mamanya tak mau melihatnya sedari dulu. Setiap berpapasan di rumah, Chris ingin sekali berbicara bersama Mamanya, selayaknya Ibu dan anak. Tetapi, malah sikap acuh yang ia dapatkan dari Mamanya. Chris bagaikan orang asik di rumah orangtuanya itu. Mamanya hanya memberikannya perhatian disaat ada Ayahnya. Namun, sekarang Ayahnya telah tiada.
"Haha, aku tidak bisa meninggalkan adikku seorang diri di sini. Aku akan menjagamu selama kamu mengajar di kampus ini." Calvin menyungging senyum penuh arti.
"Terserah." Chris memicingkan matanya sesaat. Entah mengapa melihat tatapan itu membuatnya ingin sekali membogem pukulan di wajah Calvin seketika. Namun, saat melihat situasi di sekitar, Chris mengurungkan niatnya.
"Pergilah dari sini Calvin, sebentar lagi aku ada kelas," ucap Chris datar.
"Astaga Chris, apa Ricko dan Ricki tidak memberitahumu kalau aku mengajar juga di sini."
Kalimat yang diungkapkan Calvin barusan, membuat Chris mengetatkan rahangnya. Kini Chris tak bisa menebak, sebenarnya apa yang diinginkan saudaranya itu. Tanpa mengeluarkan pendapatnya, Chris mulai mengayunkan kakinya ke depan.
"Come on Chris, jangan seperti ini pada abangmu!" seru Calvin sambil tersenyum sinis.
Chris tak menyahut. Dengan pandangan lurus ke depan, dia berjalan pelan.
Di belakang, Calvin memperhatikan punggung Chris sambil menyeringai tipis. "Aku penasaran, siapa wanita sexy tadi?"
Secepat kilat Chris menghentikan gerakan kaki dan membalikkan badannya. "Tentu saja mahasiswiku, apa kamu buta?" katanya sambil menahan amarah karena Calvin memuji pujaan hatinya.
"HAHAHA! Maafkan aku, aku lupa. Tapi mengapa tatapanmu padanya sangat berbeda, apa dia mahasiswi kesayanganmu atau kekasihmu."
Tak ada balasan, Chris hanya melayangkan tatapan datar pada Calvin. Lalu melangkahkan kakinya kembali hendak menuju kantor. Meninggalkan Calvin dengan raut wajah, alis terangkat satu. Pria itu nampak berpikir keras setelahnya.
***
Chris menghela napasnya berulang kali karena Calvin di dekatnya sekarang. Jadi, pergerakannya pun pasti dipantau Calvin. Dia penasaran apa yang membuat Calvin ingin menjadi dosen. Pasti Calvin memiliki tujuan lain, tebak Chris. Dia harus lebih berhati-hati sekarang.
Langkah kaki Chris terhenti saat melihat di ujung sana, Shakila baru saja keluar dari kantor.
Argh! Mengapa dia memakai pakaian seperti itu di kampus?! Apa dia sengaja ingin menampakkan lekukan tubuhnya itu, agar semua pria menatapnya ha!
Chris bergelut dengan batinnya kala menyadari pakaian yang dikenakan Shakila terlalu ketat, menurutnya. Padahal Shakila jelas-jelas memakai celana jeans dan kemeja hitam yang diselimuti jaket kulit.
Chris dan Shakila menghentikan gerakan kakinya bersamaan. Dengan jarak dua meter, keduanya saling menatap satu sama lain. Chris dengan raut wajah datarnya, namun hatinya tersiksa karena tak leluasa lagi untuk mengoda Shakila sekarang. Sementara Shakila menatap tajam Chris. Entah apa yang dipikirkan Shakila. Tapi, wajahnya terlihat kesal.
Shakila melangkah cepat, mendekati Chris, mendongakkan wajahnya ke atas dan berteriak,"Dasar dosen mesum! Aku membencimu! Aku tidak mau menjadi asisten dosenmu lagi!" Secepat kilat melengoskan muka lalu melangkah pergi. Meninggalkan Chris yang membeku di tempat.
Kedua mata Chris berkedip cepat. Melihat ekspresi Shakila yang menurutnya, tampak menggemaskan tadi. Dia pun menoleh ke belakang, melihat punggung Shakila menghilang. Secara bersamaan, dari samping Calvin menampakkan dirinya. Tanpa sadar, Chris mengepalkan kedua tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sehari Chris menyuruh orang nya bagi tahu Shakilla...hati² saja kerana saudara Calvin ada bersama Chris.....
2024-08-19
0
Kenzi Kenzi
kan ada rico
2023-07-05
0
Marlina Ryn
jangan sampai syakila terjebak oleh calvin..
2023-07-01
0