"Aku...." Shakila mendongakkan kepalanya seketika.
Dia tak mampu berkata-kata lagi kala Chris berdiri tepat di hadapannya kini. Aura hitam pekat yang menguar dari tubuh dosennya itu berhasil membuat tubuh Shakila mendadak kaku dan sangat sulit digerakkan. Jika bisa dia akan berani melawan seseorang tanpa memandang jenis kelaminnya tapi tidak dengan sekarang, Shakila benar-benar mati kutu dan tak dapat berkutik sama sekali. Secara bersamaan aroma sabun dan shampo menyeruak ke indera penciumannya, sebuah aroma maskulin yang sangat tak asing bagi Shakila.
Untuk sejenak keduanya saling memandang satu sama lain.
Chris menatap lebih dalam, berharap Shakila dapat mengingat kejadian tempo lalu saat keduanya saling bercumbu mesra. Mata bulat nan indah itu, akhir-akhir ini membuat dirinya tak bisa tidur dengan nyenyak sejak kemarin.
Sejak saat itu, Chris sangat penasaran dengan wanita bernama, Shakila. Manakala bayangan wajah Shakila melintas dibenaknya, jantungnya Chris berdebar-debar tak karuan. Dia tak mengerti akan hal itu. Sebab untuk pertama kalinya sensasi aneh menjalar di jantungnya. Sampai-sampai Chris pun melupakan keselamatannya lalu keluar dari tempat persembunyian, dengan melakukan hal gila, yaitu menyamar sebagai dosen di kampus Shakila, beruntung saja Chris menguasai beberapa bahasa asing, satu diantaranya adalah bahasa Indonesia. Jadi dia tidak kesulitan berbahasa Indonesia.
Tak cukup sampai disitu dia juga tinggal dekat dengan Shakila, walau para musuhnya di luar sana masih mengincarnya. Shakila seperti magnet baginya.
Chris benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, itu semua karena Shakila. Ya, wanita yang baru pertama kali ia jumpai. Di mata Chris, Shakila terlihat begitu imut dan lucu, mungkin karena perawakan Chris tinggi dan besar, alhasil dia mengira Shakila amat kecil, padahal untuk gadis setinggi 165 cm cukup tinggi bagi standar wanita Indonesia.
Shakila dan Chris bergeming di tempat. Waktu seakan berhenti berputar sejenak. Sepasang insan manusia itu saling menyelami isi pikirannya, kala belum menyadari akan perasaannya masing-masing.
"Apa kamu mau menginap di sini?" Chris menyeringai tipis, entah kenapa melihat mimik muka Shakila yang panik dan ketakutan membuat dia begitu bersemangat.
"Tidak!" Shakila mengangguk cepat, bertentangan sekali dengan perkataannya barusan.
Argh! Apa aku sudah gila? Shakila, ada apa denganmu, dia dosenmu, bodoh!
Tunggu dulu! Kenapa dia bertanya aku mau menginap di sini?
Aneh sekali.
Shakila menjerit di dalam hatinya dan tanpa sadar melirik ke bawah, melihat roti sobek milik Chris nampak menggiurkan, air liur mengalir dari mulutnya seketika.
Chris terkekeh pelan setelahnya. "Jangan bohong! Kamu pikir aku mudah dikelabui, kalau kamu mau tidur di sini, silakan," katanya sambil menyambar satu tangan Shakila.
Seakan ada sengatan listrik Shakila semakin panik. "Pak, aku mahasiswimu..." ucapnya sambil berusaha menggerakan kakinya hendak keluar dari kost. Namun, cekalan tangan Chris sangat kuat.
"Shakila! Apa kamu ada di dalam Nak?"
Dari luar pintu suara Sekar terdengar mendekat, Chris langsung memundurkan langkah kakinya lalu mengambil kaos hitam yang tergeletak di atas meja dan memakainya secepat kilat.
Kedua mata Shakila langsung berbinar-binar mendengar suara Mommynya."Iya Mom, Shakila di sini!" sahutnya sambil menoleh ke belakang.
"Syukurlah, Mommy pikir kamu lupa memberikan Nak Chris voucher wifi, maafkan aku ya Chris, karena lupa tadi memberikan kamu voucher." Sekar berdiri di depan pintu sambil melempar senyuman kepada Chris.
Tentu saja itu adalah akal-akalan Chris untuk bertemu Shakila, dengan menggunakan Kyler untuk mengajak Sekar keluar rumah. Sebelum jam lima tadi, dia sempat bercengkerama dengan Kyler sejenak.
"Tidak apa-apa Aunty, aku juga minta maaf karena merepotkanmu, setidaknya aku senang karena mahasiswiku ini mau mengantarkan voucher untuk dosennya," sahut Chris, tersenyum penuh arti.
Shakila melonggo dibuatnya, apa dia tidak salah mendengar Mommynya memanggil dosennya dengan sebutan 'Nak', di tambah lagi senyuman yang terukir di wajah Chris barusan membuat dia bergedik ngeri.
Sekar nampak terkejut. "Oh my God, jadi kamu dosen di kampus Shakila, benar begitu?" tanyanya lalu mengalihkan pandangan ke arah Shakila.
"Shakila, mengapa di bibirmu banyak air liurnya?" Karena pencahayaan di ruangan yang agak gelap, Sekar baru menyadari akan hal itu.
Begitupula dengan Shakila. Dengan mimik muka malu, dia mengusap cepat bibirnya.
Astaga aku benar-benar jorok, uwek!
"Hehe, maaf Mom, tadi Shakila lihat roti sobek jadinya liur Shakila netes," jawab Shakila, jujur apa adanya. Dia menutup mulutnya seketika karena pikiran dan perkataannya tak selaras.
Shakila tampak salah tingkah.
"Roti sobek?" Sekar mengerynitkan dahi.
"Sudahlah Mom, lupakan saja, Shakila mau pulang dulu!" Shakila melirik Chris sekilas, sedang mengulas senyum penuh arti. Shakila tak menyadari jika semburat merah muncul di kedua pipinya saat ini.
Sedangkan Chris, sedari tadi hanya diam saja dan curi-curi pandang ke arah Shakila.
"Eits, tunggu sebentar, sama-sama Mommy saja!" Sekar menahan tangan Shakila seketika.
Shakila berdecak sebal karena Mommynya malah membuatnya semakin tak salah tingkah. Dia menanggapi perkataan Mommynya dengan mengangguk pelan
Sekar mengalihkan pandangan ke arah Chris seketika."Aku tak mengira ternyata Nak Chris adalah dosen Shakila, padahal wajahmu masih sangat muda, aku pikir tadi Nak Chris seniornya Shakila, ternyata bukan," katanya, diiringi kekehan pelan setelahnya.
"Iya, semua orang juga mengatakan wajahku terlihat masih muda." Sekali lagi Chris melirik Shakila.
Shakila langsung membuang muka saat matanya hampir saja bertubrukan dengan mata Chris.
"Oh ya, Aunty mau minta tolong padamu, Shakila itu anaknya suka membuat onar dan agak pemalas–"
"Mom!" Shakila menyela seketika saat Mommynya mulai meracau tentang dirinya yang tak baik. Rona merah semakin tergambar jelas di kedua pipinya, Shakila menahan malu setengah mati.
Sekar melotot sedikit ke arah Shakila karena memotong perkataannya barusan. "Jadi Aunty minta tolong, kalau Shakila membuat ulah di kampus dan nilainya jelek, hukum saja dia' Nak Chris, bilaperlu sampai dia jera!" lanjut Sekar.
Semakin melotot mata Shakila mendengar penuturan Mommnya. "Mom!"
Mengabaikan seruan Shakila, Sekar dan Chris melempar pandangan satu sama lain.
"Aunty tenang saja, aku janji Shakila tidak akan mendapatkan nilai jelek, karena aku yakin sekali Shakila anaknya yang rajin dan juga baik hati." Chris mulai memberi tanggapan sambil tersenyum tipis.
Melihat senyuman yang terlukis di wajah Chris, Shakila sangat was-was. Entahlah, sebuah senyuman yang menggundang tanda tanya besar.
"Baiklah, terima kasih Nak Chris, Aunty sangat senang mendengarnya, Aunty pergi dulu, oh ya vouchernya sudah di berikan Shakila kan?" tanya Sekar, ingin memastikan.
Chris menggeleng cepat. "Belum, aku baru saja selesai mandi tadi Aunty dan Shakila melempar vouchernya tidak tahu kemana," sahutnya jujur.
"Loh." Sekar menatap tajam Shakila. "Shakila di mana vouchernya? Cepat berikan, Mommy mau keluar, bye Nak Chris!" cetusnya kemudian melangkah pergi.
Shakila menghentak-hentakkan kakinya seketika lalu melirik Chris. "Dasar mesum!" katanya sambil mendelikkan mata.
Chris terkekeh pelan lalu mendekati Shakila dengan cepat dan mengambil tangan Shakila kemudian menaruh tangan Shakila, di perutnya. "Tapi kamu suka kan?"
"Ahk!" Kali ini Shakila langsung mengibaskan tangannya meski tadi dia sempat meraba-raba perut Chris walau sesaat. Kapan lagi coba memegang roti sobek premium kan. "Ish, dasar dosen mesum! Mommy!!!" jeritnya sambil melangkah keluar kost.
Saat melihat tingkah Shakila yang lucu, Chris mengulas senyum tipis sambil membungkukkan badannya, lalu mengambil voucher wifi yang ternyata tergeletak di bawah kakinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
astaga Shakilla 🤣🤣🤣
2024-08-19
0
YuWie
aneh juga, tidak pernah menginjakan kaki dan berhubungan sama org indonesia tapi biasa bahasa indo....superrrt sekali crish
2023-08-11
0
Dian Isnu
😅😅😅😅
2023-07-14
0