Sementara itu di sisi lain, Chris mondar-mandir di ruangan pribadinya. Kedatangan Calvin membuat perasaannya semakin gelisah. Bagaimana tidak, pria itu mengajar sebagai dosen, di kelas Shakila. Chris menerka-nerka, mengapa Calvin ingin mengajar sebagai dosen di kelas tersebut, apa karena dirinya, entahlah, atau karena hal lain. Semakin di pikirankan, kepala Chris terasa berat.
"Ck! Apa yang ada di dalam isi kepalamu Calvin?" Chris sedang mencoba, menyelami isi pikiran saudara kandungnya itu. Semenit pun berlalu dia masih berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kantornya yang nampak sepi itu, karena para dosen sedang mengajar dan memiliki keperluan di luar kelas.
Langkah kaki Chris terhenti saat wajah imut Shakila melintas dibenaknya tiba-tiba.
"Tidak mungkin juga Calvin tahu, tentang Shakila, 'kan?" Chris bergumam pelan, setelahnya membuang napas kasar. Secepat kilat ia mengambil ponsel di saku celananya, hendak menghubungi Ricko.
Setelah menekan-nekan layar ponsel merk Sungsang tersebut. Chris mengusap tombol berwarna hijau. Dengan sabar Chris menunggu Ricko mengangkat panggilan. Akan tetapi, tak seperti biasanya anak buahnya itu malah tak mengangkat teleponnya.
"Argh! Kemana Ricko!" Chris memutuskan sambungan seketika. Kemudian mencoba menghubungi Ricki, saudara kembar Ricko. Hal yang sama pun terjadi, Ricki tak jua mengangkat ponselnya.
"Si4l!" Sekali lagi Chris mengumpat kesal. Tanpa pikir panjang dia berjalan cepat menuju ambang pintu, hendak ke kelas Shakila, ingin melihat apa yang dilakukan Calvin. Chris benar-benar takut jika Calvin sampai tahu tentang Shakila. Walau kemarin Ricko dan Ricki sudah mengatakan kalau Calvin belum menyelidiki tentang Shakila dan masih aman.
****
KELAS SHAKILA.
"Terserah kalian mau memanggil Bapak apa, my baby pun boleh, Bapak juga belum punya pacar."
Calvin di depan kelas. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, melihat para mahasiswi begitu riuh menyambut kedatangan.
"Yei! Bapak baik banget ya, beda banget sama Pak Chris, galak banget!"
"Iya, Benar."
"Wah, kesempatan ini Bapak belum pacar, boleh kali kita daftar jadi pacarnya hihi!"
Begitulah pendapat para mahasiswa dan mahasiswi tentang Calvin.
Calvin membalas dengan tersenyum hangat. Sedari tadi senyum lebar terlukis di wajah Calvin.
Berbeda dengan Shakila. Dia malah menggelengkan pelan kepalanya. Menilai Calvin seperti seorang playcop cap kapak. Bagaimana tidak, Calvin secara terang-terangan mengatakan tidak punya pacar, bukankah itu terlalu privasi menurutnya. Di tengah kegaduhan yang terjadi di kelas, wajah Chris menari-nari lagi di benak Shakila.
Pak Chris, lagi ngapain ya? Jangan-jangan lagi sama Bu Sinta?
Entah datang dari mana pikiran negatif Shakila. Namun, yang jelas dadanya bergemuruh tiba-tiba, hanya dengan membayangkan Chris dan Sinta tersenyum bersama-sama di suatu tempat.
Raut wajah Shakila langsung muram.
Shakila, Pak Chris kan bukan pacarmu, jadi terserah dia mau sama Bu Sinta atau nggak!
Shakila berperang dengan batinnya sendiri sambil menaruh kepala di atas lalu menjambak rambut panjangnya sendiri.
"Jadi, siapa yang mau jadi asisten dosen Bapak?" Di depan kelas, Calvin memperhatikan tingkah laku Shakila. Kedua matanya sesekali melirik-lirik Shakila.
"Saya!"
"Saya aja, Pak!"
"Saya siap Pak, jadi asisten di rumah Bapak juga siap!"
Seloroh para kaum hawa sambil mengangkat satu tangannya ke atas.
Calvin hanya membalas dengan mengulum senyum tipis. Dia tak langsung membalas, malah melangkah maju perlahan-lahan.
"Kamu, yang paling belakang, pakai kemeja hitam, siapa namanya?" Calvin menghentikan langkah kakinya seketika seraya menunjuk ke arah Shakila. Lantas para kaum hawa memusatkan perhatiannya pada Shakila seketika.
Shakila masih dalam dunianya sendiri. Kepalanya masih bergeming di atas meja. Dia lantas terkejut saat dosen barunya itu mengatakan 'kemeja hitam'. Secepat kilat ia mengangkat wajahnya.
"Saya, Pak?" Shakila mengacungkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri.
"Iya, nama kamu siapa?" tanya Calvin lagi.
"Nama saya Shakila Loivtun, Pak," jawab Shakila singkat, dengan raut wajah sedikit panik. Dia pikir dirinya di suruh maju ke depan untuk mengerjakan soal atau apa.
Calvin mengulas senyum tipis. "Nama yang cantik, kamu jadi asisten dosen Bapak ya," katanya.
Shakila melonggo sejenak.
"Yah, Pak! Kok Shakila sih, pilih saya aja Pak, itu anak nggak benar! Suka kelahi!"
"Mentang-mentang cantik dipilih! Nggak adil dong Pak!" Para kaum hawa berdecak sebal karena Shakila di pilih untuk menjadi asisten dosen, yang otomatis Shakila akan sering bersama Calvin. Tentu saja mereka tidak terima. Sebab Calvin sudah mencuri perhatian mereka.
"Hei, aku juga nggak mau kali jadi asisten Pak Calvin, maaf Pak saya nggak bisa." Shakila langsung menolak dengan tegas.
"Loh memangnya kenapa?" Dengan raut wajah kebingungan, Calvin kembali bertanya.
"Saya sudah jadi asisten dosennya Pak Chris, maaf Pak, capek loh ntar Shakila, memangnya Bapak mau urut badan Shakila, nggak, 'kan. Mending Bapak pilih aja yang lain," kata Shakila dengan raut wajah polosnya.
Chris yang sedang bersembunyi di balik pintu kelas, tersenyum lebar, mendengar jawaban Shakila. Padahal tadi secara gamblang Shakila mengatakan kalau tak mau menjadi dosennya lagi dan sepertinya Calvin juga belum mengetahui kedekatannya dengan Shakila. Chris sedikit bernapas lega. Dia pun hendak kembali ke ruangannya lagi saat melihat jarum arlojinya menunjukan pukul setengah sembilan, di mana dia ada mengajar di kelas sebelah.
Mendengar nama Chris disebut, mimik muka Calvin berubah drastis dan tak dapat terbaca sama sekali seketika. Tanpa bertanya lagi, dia membalikkan badannya lalu melangkah cepat menuju posisi semula.
"Baiklah, kalau begitu, kamu yang di depan Shakila, kamu saja yang menjadi asisten Bapak ya, bagaimana, kamu mau?" kata Calvin lagi.
Merry mengedipkan mata dengan sangat cepat, mendengar permintaan dosen baru tersebut.
"Saya Pak?"
"Iya. Bagaimana? Kamu nggak jadi asdos lain, 'kan?"
"Hehe kebetulan, nggak Pak."
"Jadi gimana, mau?"
"Tentu saja, mau Pak!" sahut Merry, semangat karena untuk pertama kalinya ia dipilih menjadi asisten dosen, yang dimana kesempatannya untuk mendapatkan nilai A ada di depan mata, itulah sepenggal keuntungan menjadi asisten dosen, yang akan lebih banyak bersama Calvin, ketimbang mahasiswa dan mahasiswi lainnya, ya, walaupun lebih sibuk. Sementara, para mahasiswi lainnya menahan kesal karena tak dipilih menjadi asisten dosen, mereka mengumpat pelan nama Merry.
"Bagus! Baiklah sekarang kamu maju ke depan, salin modul di laptop Bapak!" sahut Calvin.
"Iya Pak!"
***
Menjelang sore, setelah usai dengan jam mata kuliahnya di kelas lain. Calvin bergegas hendak pulang ke rumah. Begitu sampai di parkiran, dia melirik Shakila sekilas sedang menaiki motor gedenya. Kedua mata Calvin enggan berkedip saat Shakila tanpa sadar merapikan rambut panjangnya hendak memakai helm.
"Hm, Shakila Luivton, mengapa namanya tidak asing ya," gumam Calvin sambil melihat motor Shakila meninggalkan pekarangan kampus. Calvin mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi tangan kanannya.
"Fabrizio, cari identitas Shakila Loivtun dan laporkan padaku secepatnya!" Begitu sambungan terhubung Calvin langsung berkata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Calvin lebih seram dari Chris
2024-08-19
0
YuWie
nahhh kan
2023-08-11
0
Kenzi Kenzi
modus calvin ..merry dijadiin asdos...m
2023-07-05
0