Shakila memutus kontak matanya seketika lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela. Jujur saja pertemuan pertamanya tadi sudah membuat image-nya jatuh, sejatuh-jatuhnya. Dia tak mengira pria tampan dan seksi di depannya kini adalah dosen barunyA. Pasalnya wajah pria itu sangatlah masih muda. Karena tak mau membuat ulah lagi, Shakila mengurungkan niatnya untuk mengincar pria tersebut.
Dia tak mau di tempat baru ini, mencari masalah, sebab kemarin Mommynya memberi ancaman kepadanya jika membuat onar lagi Shakila akan dikirim keluar negeri. Oleh karena itu, Shakila akan berusaha mengontrol diri meski tadi sempat berseteru dengan primadona di kampus ini.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan namaku Chris, aku mengajar di mata kuliah fisika medik, kalian bisa memanggil ku Pak Chris atau Sir Chris, terserah kalian mau memanggil aku apa, asalkan sopan," ucap Chris seketika, dengan suara baritonnya yang terdengar seksi di telinga para kaum hawa.
Saat ini, Chris berdiri tegap di hadapan para mahasiswanya dengan melayangkan tatapan datar, tanpa ekspresi sama sekali.
Lantas para mahasiswi langsung terpana dan meracau-racau tak jelas setelahnya.
"Pak Chris, apa sudah memiliki pacar?" kelakar Merry tiba-tiba, diiringi kekehan pelan para mahasiswa lainnya.
Chris enggan menanggapi, dia malah melangkah cepat, mendekati Merry.
Melihat hal itu suasana kelas yang semula riuh langsung hening.
"Berdiri kamu!" perintah Chris sambil mengangkat sebelah alis matanya sedikit.
Merry begitu terkejut saat mendengar perintah dari dosen barunya itu. "Saya, Pak?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri. Entah mengapa hawa di sekitarnya terasa amat dingin dan mencekam, seakan menusuk ke kulitnya.
"Iya." Chris melirik Shakila sekilas kala wanita itu malah menundukkan mukanya sekarang.
Dengan muka polos Merry bangkit berdiri. "Ada apa Pak? Hehe," tanyanya.
"Push up 200 kali!" titah Chris seketika sambil curi-curi pandang ke arah Shakila.
Shakila hanya diam saja, tak berani menatap Chris. Takut jika dirinya akan di hukum juga seperti Merry.
"Apa?! Memangnya saya salah apa, Pak?" Merry terlonjak kaget, mengapa dia di hukum tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
"Jangan banyak tanya, cepat push sekarang atau nilaimu akan aku kurangi!" seru Chris.
Mendengar gertakan Chris, Merry auto kicep. Tanpa bertanya lagi dia langsung menurunkan badannya dan mengambil posisi push-up di dekat kursinya.
"Dengarkan baik-baik, khusus di mata kuliahku, kalian harus mengikuti aturan yang telah aku buat, di larang ribut, di larang terlambat masuk kelas, di larang menitip absen, dan di larang menggoda dosen kalian!" Sambil memperhatikan Merry sedang push up, Chris mengedarkan pandangan di ruangan.
"Jika kalian melanggar aturan yang aku buat, nilai mata kuliah Fisika Medik kalian D," lanjut Chris lagi.
Suara Chris yang dingin membuat para mahasiswa dan mahasiswi bergedik ngeri sejenak. Walaupun begitu tak mengurangi kekaguman para mahasiswi kepada Chris. Karena gaya cool dan dingin itu menjadi daya tariknya sendiri. Para kaum hawa hanya mampu memuja dosen baru itu di dalam hatinya. Terkecuali Shakila, dia malah merasa tak asing dengan suara Chris, seakan pernah mendengarnya tapi tak tahu di mana.
"Apa kalian sudah mengerti?" Chris kembali menambahkan.
Tak ada sahutan semua mahasiswa dan mahasiswi masih loading di tempat.
"Apa semua mahasiswa di kelas ini tuli?" Walau tak berteriak atau menaikan intonasi suara, tetapi perkataan Chris barusan mampu membuat para mahasiswa bergedik ngeri.
"Mengerti Pak!" sahut mereka serempak kemudian.
"Pak, sudah selesai, Merry boleh duduk nggak?" Dengan napas terengah-engah Merry bangkit berdiri. Tampak buliran keringat mulai mengalir di dahinya.
"Hm boleh," balas Chris. Merry langsung duduk di kursinya. Sementara Chris maju selangkah dan berdiri di samping kursi Shakila. "Kamu, apa yang di lihat di bawah sana?"
Shakila reflek menengadahkan kepalanya dan menatap Chris. Sorot mata pria itu begitu menusuk ke hatinya seketika, Shakila terlihat gelagapan, tengah berpikir sejenak, mencari alasan. "Hm, itu Pak...."
Chris menaikkan alis matanya.
"Anuu emm aku sakit perut jadi nggak sengaja lihat ke bawah Pak, hehe, maaf ya Pak, Shakila benar-benar minta maaf," sahutnya cengengesan.
Tak ada tanggapan, Chris malah melangkah cepat ke depan kelas.
"Shakila, kamu duduk di depan sini! Ini hukuman untuk kamu yang tidak memperhatikan dosenmu berbicara tadi!" perintah Chris, sambil menunjuk bangku yang ditempati mahasiswi lain.
Mahasiswi berwajah oval itu tampak terkejut sebab kursi yang dia tempati sekarang adalah kursi khusus untuk asisten dosen.
"Apa?" Shakila sama terkejut. "Tapi Pak–"
"Tidak ada tapi, maju ke depan! Dan kamu pindah ke belakang sana!" sela Chris. Sambil melirik pemilik bangku tersebut.
Tak mau membuat kegaduhan, Shakila pun terpaksa mengiyakan perkataan Chris. Meski dirinya sangat keberatan sebab selama menempuh pendidikan dia tak pernah duduk di depan. Fun fact, Shakila amat alergi duduk di depan, yang menurutnya akan sulit bermain game jika rasa bosan melandanya.
Pagi ini Shakila mengikuti mata kuliah pertama dengan hatinya yang was-was. Sebab dosen baru itu begitu kejam dan suka bertanya-tanya.
Menjelang sore, jika sebelumnya sepulang kuliah Shakila bersantai bersama Rika di cafetaria , namun hari ini Shakila memutuskan langsung pulang ke rumah. Sebab di hari pertamanya berkuliah energinya benar-benar terkuras.
"Tumben cepat pulangnya, Sayang?" tanya Sekar ketika melihat Shakila berjalan cepat melalui pintu utama.
Dengan langkah gontai Shakila melempar tas ke segala arah dan menghempas tubuhnya di atas sofa. "Capek Mom, dosennya killer banget, kayaknya Shakila pensiun aja deh!" gerutunya dengan bibir mencibir.
Dahi Sekar berkerut kuat hingga tiga lipatan. "Pensiun? Ada-ada saja kamu, sudah gih makan sana, Mommy ada masakin makanan kesukaan kamu, setelah itu mandi."
"Bentar Mom, Shakila mau main game." Shakila mengambil ponsel mininya di saku celana seketika.
"Eits! Nggak ada bentar-bentar!" Sekar menyambar cepat ponsel Shakila.
"Ish, Mom, kembaliin!" Shakila hendak menggapai benda mini tersebut.
Sekar menjauhkan ponsel anaknya segera. "No! Kamu dengerin kata Mommy Shakila, makan terus mandi, habis itu kamu boleh main game sepuasnya!" katanya sambil menggeleng pelan, saat melihat Shakila merengut kesal. Dia tak habis pikir, mengapa anaknya sangat susah diberi pengertian padahal selama mengasuh, Sekar selalu mengajari Shakila dengan bertutur kata lemah lembut, entah sifat siapa yang diwarisi Shakila. Sekar hanya bisa menghela napas kasar.
Shakila terpaksa mengiyakan perkataan Mommynya, lalu berlarian ke dapur hendak mengisi kampung tengahnya.
Di luar sana, langit mulai berubah jingga, menandakan sebentar lagi hampir petang, Shakila masih asik sendiri memainkan permainan game di ponselnya, sampai pada akhirnya Mommynya masuk ke kamar dan berkata,"Shakila jam 7 an nanti ke kos sebelah ya, antar voucher wifi, ada orang baru masuk, Mommy lupa tadi kasi vouchernya, Mommy mau pergi keluar sebentar, antar Kyler."
"Loh kenapa nggak kirim di grup aja Mom, Shakila malas tahu ke sana!" gerutu Shakila.
"Orangnya nggak punya hp, kasihan tahu, katanya kamu kenal sama dia," sahut Sekar berusaha merayu sang anak.
"What? Di zaman serba modern gini nggak ada hp, kampungan banget sih!" Sekali lagi Shakila menggerutu.
"Nggak boleh gitu, ini vouchernya antar nanti ya, katanya dia mau kerja pakai laptopnya, Mommy mau pergi dulu." Sekar memberikan kertas kecil kepada Shakila.
Sambil mendengus kesal Shakila mengambilnya. Setelah itu Sekar pun keluar.
Tepat pukul tujuh malam, setelah di telepon Mommynya berkali-kali barusan, Shakila akhirnya terpaksa pergi ke kos sebelah rumahnya, yang berjarak sekitar belasan meter dari tempat tinggalnya. Ya, selain menjadi pengusaha butik, Mommynya juga pemilik kos-kosan elit.
"Ish, nyebelin banget! Tapi siapa ya? Apa aku punya teman yang udah tua, kayaknya nggaka ada deh!" Karena dekat Shakila hanya berjalan kaki saja. Di sepanjang jalan ia bersungut-sungut kecil, menyumpah serapah penghuni baru kos-an tersebut.
Sesampainya di halaman depan kosan, Shakila langsung naik ke lantai dua, di mana penghuni kos tersebut tinggal.
Berkali-kali Shakila mengetuk pintu kamar, namun tak ada jawaban. "Kemana sih nih orang! Udah nyusahin! Malah nggak ada di dalam! Awas saja entar!"
Semenit pun berlalu, pintu tak dikunjung dibuka, Shakila pun memutar gagang pintu dan secara ajaibnya pintu tak dikunci.
Tanpa memikirkan akibatnya, Shakila langsung masuk ke dalam. "Akhirnya!" katanya sambil melangkah cepat.
Sesampainya di dalam, pencahayaan di ruangan sedikit remang-remang, Shakila sedikit heran, apa Mommynya sengaja mengatur pencahayaan di kos agak gelap atau si penghuni kos sengaja, entahlah.
"Hallo, ada orang nggak? Nih vouchernya! Ambil tuh! Nyusahin amat jadi orang!" sahut Shakila kemudian sambil melempar voucher kertas ke sembarang arah.
Kriet!
Dari samping, terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, Shakila menengok seketika. Matanya membulat sempurna, melihat sosok yang sangat ia hindari, siapalagi kalau bukan Chris, dosen barunya.
"Pak Chris?"
Perasaan Shakila campur aduk antara terkejut, takut dan sedikit panik sekarang. Tanpa sadar dia menelan air liurnya melihat otot-otot seksi Chris. Bagi wanita seperti Shakila, siapa yang tidak tergiur dengan ketampanan Chris. Pria berwajah tampan dan berkharisma itu benar-benar membiusnya, jika saja Chris tidak galak dan bukan dosennya, Shakila mungkin saja sudah menerkamnya.
Dalam keadaan setengah basah di seluruh tubuhnya, Chris keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya, dia melangkah cepat, mendekati Shakila.
Shakila semakin panik, tanpa sadar dia memundurkan langkah kakinya. Apalagi sorot mata Chris seakan ingin memakannya.
"Pak... anu...itu aku, anu..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Shakilla tergagap mahu menjawab nya
2024-08-19
0
Yunerty Blessa
mata tu pak Chris harus dijaga
2024-08-19
0
YuWie
anu..anu..anuku
2023-08-11
0