Kabar baik

Aku bergegas siap-siap mandi lalu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Edo. Taxi online pun telah tiba aku segera naik pergi menuju rumah sakit tak lupa ku bawa bekal makanan untuk aku makan, karena sepulang sekolah tadi aku tak sempat makan.

Setibanya di rumah sakit aku menemui bibi Boyem menyapa dengan penuh kehormatan.

"Bibi gimana keadaan Edo?"

"Tadi dokter menyuruh Nara untuk menemuinyya di ruangannya."

"Oh begitu, aku kesana dulu yaa bi."

Aku pergi ke ruangan dokter Erwin, ternyata dokter Erwin sudah menungguku, masuk ke ruang tunggu. Aku duduk di kursiku dan dokter Erwin duduk menempati kursi di depanku.

"Bagaimana dokter?" Tanyaku.

"Kami sudah memindahkannya ke kamar ICU. Kamu sudah bisa menjenguknya satu jam lagi. Hasil scan-nya kelihatannya bagus. Kami akan terus berusaha mengurangi dosis obat biusnya perlahan-lahan untuk melihat perkembangannya. Dia masih dalam masa kritis, Nara apapun bisa terjadi. Sekarang prioritas kami adalah membuat dia merespons."

Aku bisa merasakan kelegaan menyelimutiku, namun perasaan ngeri yang baru ikut menyelusup sama cepatnya.

"Apakah dia punya peluang selamat? sembuh total?"

Dokter Erwin menghela napas.

"Saya belum bisa menjawabnya sekarang. Hasil scan menunjukkan aktivitas yang normal, tapi mungkin saja itu tidak berarti apa pun. Jika sudah tiba waktu untuk menyadarkannya. Di lain pihak itu kondisinya bisa benar-benar baik. Sebelum dia sadar, kita tidak akan tau apa-apa." Dokter Erwin berdiri.

"Dia di tempatkan di ruang ICU nomer sembilan, tunggulah satu jam lagi baru kamu bisa kesana."

Aku mengangguk. "Terimakasih."

Begitu ku dengar kabar itu aku langsung berbelok, berlari secepat-cepatnya ke arah yang berlawanan dengan ICU. Perawat tidak bertanya-tanya saat aku masuk. Aku pun bersikap seolah tahu betul apa yang kulakukan, dan langsung mengayun langkah ke kamar nomer sembilan.

Kali ini tidak banyak selang berseliweran, meskipun pernapasan Edo masih terhubung dengan ventilator dan pergelangan kirinya ditusuk jarum infus. Aku berjalan mutar ke sebelah ranjangnya lalu menurunkan jeruji pagar tempat tidur. Aku naik ke tempat tidur Edo untuk berbaring di sebelahnya, melingkarkan lenganku ke tubuhnya dan menempatkan kakiku di atas kedua kakinya. Kugenggam tangannya dan aku pun memejamkan mata..

"Nara." Panggil Resa.

Mataku tersentak membuka. Resa berdiri di sisi lain ranjang Edo.

Kuregangkan kedua tanganku di atas kepala.

"Hai." bisikku.

"Perawat bilang pengunjung hanya bisa membesuk lima belas menit saja." Kata Resa.

Aku meluncur turun dari ranjang, berdiri, dan merenggangkan tubuh.

"Kayaknya pihak rumah sakit ini suka sama lo."

Aku tertawa.

"Aku ingin lihat bagaimana pihak rumah sakit mengusirku dari sini." Kataku.

Aku berjalan ke kursi dan duduk. Bagian yang paling mengesalkan di rumah sakit adalah kursi-kursinya terlalu keras untuk diduduki siapa pun.

"Lo udah makan?" Tanya Resa.

Aku menggeleng.

"Yaudah ikut gua turun. Gua beliin makanan."

"Gak bisa. Gua gak mau ninggalin Edo." Kataku.

"Dokter sudah mengurangi dosis obatnya. Dia bisa sadar sewaktu-waktu."

"Yang jelas lo perlu makan, gua beliin makanan nanti gua bawa kesini."

"Oh iya, gak usah beli buat gua, tadi gua bawa bekal di siapin ibu di titip ke bibi Boyem."

"Okeyy. Nanti gua ambil."

Setelah Resa keluar. Aku naik lagi ke tempat tidur Edo. Aku dekatkan wajahku ke telinga Edo.

"Sayang bangunlah aku mencintaimu." Ucapku berbisik.

Dokter Erwin masuk ke ruangan.

"Dia baik-baik saja?" Tanyaku.

"Kami akan melepas ventilatornya sekarang. Pengaruh obat biusnya mulai berkurang dan dia tidak akan mendapatkan obat lain selain pereda rasa sakit yang dimasukkan lewat infusnya."

Dokter Erwin mendatangi brankar Edo dan menegakkan kembali jeruji pagar tempat tidur.

"Silahkan keluar dulu sebentar, saya janji nanti kamu boleh masuk lagi." Dia tersenyum.

Ini bagus, mereka akan melepas alat bantu pernapasan Edo. Aku keluar aku menunggu dengan perasaan tidak sabar. Aku mondar-mandir di lorong. Resa pun datang dengan membawa makanan.

"Kok di luar?"

"Dokter mau lepas alat ventilatornya."

"Wah syukurlah, yaudah lo makan dulu sekarang."

Aku pun makan bersama Resa sambil menunggu kabar terbaru dari dokter. Dokter Erwin muncul dari kamar itu.

"Organ-organ vitalnya kelihatannya bagus. Sekarang dia sudah bernapas tanpa alat bantu. Kita harus menunggu lagi."

Aku masuk lagi ke kamar Edo dan naik ke tempat tidur. Ku dekatkan telingaku ke mulutnya, mendengarkan embusan napasnya. Itu suara paling indah di dunia. Ku cium dia. Tentu saja aku harus menciumnya. Aku akan menciumnya sejuta kali.

Ku genggam tangannya betap bahagianya aku sekarang, walaupun Edo belum sehat sepenuhnya tapi rasanya ada perubahan yang diberikan Edo untuk tubuhnya.

Ada seseorang masuk, ku alihkan pandangan ke pintu. Ternyata itu adalah Resa.

"Nara."

"Iya Res."

"Gua balik dulu ya, lo mau bareng balik sama gua?"

"Nanti aja gua masih ingin disini."

"Yaudah gua balik dulu."

Resa pun pergi dan keluar dari ruangan, aku kembali merebahkan wajahku dekat dengan Edo. Ku elus tangannya dengan lembut berharap Edo bisa meresponku.

"Nara."

Aku tersentak dan langsung segera berdiri dan menatap Edo. Matanya terpejam. Sosoknya tidak bergerak-gerak. Aku tahu aku mendengar namaku disebut. Aku yakin! aku menyentuh wajahnya.

"Edo."

Bibir Edo merekah dan mengucapkannya lagi.

"Nara."

Mata Edi mengerjap-ngerjap. Dia berusaha membuka matanya. Kupadamkan lampu kamar, lalu menarik kabel lampu di atas kepala untuk mematikan lampu itu juga. Aku tahu betapa sakitnya bila terpapar cahaya lampu fluoresens ini.

"Edo."Bisikku. Aku naik lagi ke atas ranjang. Kukecup bibirnya, pipinya, dahinya.

"Jangan bicara dulu kalau sakit."

"Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja Edo."

Edo menggerakkan tangannya, jadi aku mengenggamnya.

"Kamu bisa merasakan tanganku."

Edo mengangguk. Sangat tidak mirip anggukan, tapi yang jelas ia mengangguk.

Pintu kamar Edo terbuka dan perawat masuk.

"Dia memanggil namaku!"

Perawat itu menatapku, lantas tergopoh-gopoh keluar lagi untuk memanggil dokter Erwin.

"Bangunlah Edo." Kata dokter Erwin saat dia masuk. "Biar kami memeriksa keadaanya. Nanti kamh boleh masuk lagi."

"Dia menyebut namaku." Sambil turun dari brankar.

Dokter Erwin tersenyum kepadaku.

"Keluarlah dulu."

Aku menurut dan keluar. Sampai lebih dari setengah jam. Tak seorang pun keluar dari kamar itu, dan yang keliar pun tidak ada. Padahal sudah setengah jam yang mencekam.

Akhirnya dokter Erwin pun membuka pintu kamar dan keluar. Perawat itu mengikutinya.

"Aku tadi mendengar suaranya? Dia baik-baik saja, kan? Dia memanggil namaku!"

"Tenanglah Nara, kamu harus tenang dulu, mereka tidak akan mengizinkan kamu masuk jika kamu terus seperti itu."

Aku pun berusaha mengatur napasku untuk menenangkan diriku.

"Dia merespons." lanjut dokter Erwin

"Respon fisiknya semua bagus. Dia tidak ingat apa yang terjadi. Mungkin seketika dia tidak akan mengingat banyak hal. Dia perlu istirahat."

Betapa leganya aku mendengar hal itu, akhirnya Edo bisa merespon dan memanggil namaku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!