Kecelakaan

Setelah Edo dan Nara menghabiskan kencan di pantai mereka pun melanjutkan perjalanan pergi untuk bertemu Resa di Kafe. Mereka pun menaiki mobil memegang setir dan melanjutkan perjalanan lalu meninggalkan pantai.

Di tengah perjalanan mereka saling mesra jari-jemari di pegang erat suasana alunan mobil pun sangat terasa hangat.

"Edo!" Nara mendadak teriak.

Nalurinya pertama menginjak rem, mesti tak yakin mengapa harus menginjak rem, aku menoleh kepada Nara yang matanya terpaku kepada lalu lintas yang berpapasan dengan kami sebelah kiri. Lalu aku palingkan kepala bertepatan saat mataky menyaksikan sebuah truk menyebrangi jalur hijau dan menabrak mobil di depan kami.

Ku buka mata tapi telingaku tak bisa mendengar apa-apa rasanya terasa dingin, aku hanya mendengar hembusan angin serta serpihan kaca di bajuku. Lalu ku dengar suara keramaian.

"Edo!" ia berteriak.

Aku memutar tubuhku kuayun pintu mobil sampai terbuka tapi tak ku lihat Edo di sisiku. Aku pun tidak tahu pasti apa yang terjadi. Kami pasti kena tabrak, kaca belakang pecah kepingannya berhamburan dalam mobil.

Kemana Edo apa dia selamat aku semakin khawatir tak kulihat Edo.

Seorang perempuan menghampiriku mencoba menangkap lenganku dan menarikku ke tepi di sandarkanlah aku pada sebuah pohon besar. Kepingan serpihan kaca berserakan di jalan, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas yang ku pikirkan saat ini adalah Edo. Aku angkat satu tanganku ku alihkan ke mata saat ku jauhkan tanganku melihat pada jariku bercucuran darah.

Aku menoleh ke belakang ku lihat mobil yang sudah rusak, serpihan kaca berhamburan. Aku mencoba berdiri dan melihat untuk mencari Edo walau terasa sakit di kepala perlahan ku berjalan menuju mobil.

Tiba-tiba Resa datang dan langsung menghampiriku.

"Nar apa yang terjadi?" Tanya Resa kaget.

"Gua gak tau Res." Jawab Nara penuh khawatir.

"Mau kemana Nar?"

"Gua harus cari Edo."

Akhirnya aku mendengar suara sirine ambulan saat aku kembali berjalan menuju mobil, pantulan cahayanya menyinari seluruh tempat kejadian seolah-olah mempertegas keadaan yang terjadi.

Aku memperhatikan semua orang di sekitarku mereka bergerak dan gerakan lambat, yang hanya ku dengar adalah tarikan napasku sendiri.

Sebuah ambulans berhenti di sebelahku lampu mobil itu menyoroti sekelilingnya, mataku ikut melihat sorotan lampu itu ke sebelah kanan, dan akhirnya ke tubuh Edo yang terbujur di tanah.

Edo! Begitu cahaya lampu mulai redup, aku tak bisa melihat Edo. Akupun berlari, aku coba meneriaki namanya, aku berlari dan terus berlari, saat aku akhirnya berhasil mencapai tempat Edo berada.

Dia terbaring di tanah dengan mata terpejam. Ada darah di kepalanya. Banyak sekali darah. Aku mulai menyeka darahnya dari wajahnya. Berusaha menemukan luka cederanya dengan perasaanku yang khawatir dan putus asa.

"Edo! Bangun, bangun, bangun."

Ku sentuh pipinya berharap ada respon darinya. Badannya dingin sekali, saat aku ingin menopangnya, seseorang menarikku ke belakang sejumlah tim medis mengerumuninya.Aku tidak bisa melihatnya lagi.

"Nar!" Resa berteriak.

Dia berada tepat di depan hidungku mengguncang-guncang tubuhku.

"Nar! Kita harus ke rumah sakit. Edo mau di bawa ke rumah sakit. Kita harus kesana ikut."

Resa berusaha mendorongku menjauh dari Edo. Karena aku tak sanggup bicara aku mendorong Resa dan berlari kembali menghampiri orang-orang itu. Aku kembali ke Edo. Namun Resa berusaha menarikku.

"Nar, udah biarin para medis menolong Edo."

Aku berusaha mendorong Resa, aku berusaha kembali mulai berlari menghampiri Edo. Tim medis sedang mengangkat Edo ke brankar.

Sampai akhirnya aku berhenti tepat di dekatnya.

"Edo!" Teriakku.

Salah seorang tim medis yaitu perawat mendorongku ke belakang saat yang lainnya mengangkat Edo dan membawanya ke ambulans.

"Aku harus ikut!" Teriakku. "Biarkan aku masuk."

Tim medis menahanku untuk tidak ikut masuk ke dalam mobil, mereka menutup pintu ambulans. Ambulans itu pun meluncur pergi. Aku jatuh berlutut. Aku tak bisa bernapas, tak bisa bernapas.

Baru saja ku membuka mata, aku mengedipkan mataku di sini sangat terang sekali, aku gemeteran, semua tubuhku gemetar. Ternyata bukan tubuhku yang bergetar ternyata tempatku berbaring saat ini.

"Nar, lo baik-baik ajakan?"

Aku mendengar suara Resa, saat aku membuka mata Resa ternyata sedang duduk di sebelahku, kami berada di dalam ambulans. Aku mencoba berdiri.

"Jangan bergerak dulu, anda mengalami luka yang cukup parah berbaringlah kembali, saya sedang menanganinya."

Ku tatap orang yang berbicara kepadaku, ternyata dia adalah salah satu tim medis yang menahanku.

"Apakah Edo baik-baik saja?" Ku rasakan diriku menyerah serangan panik. "Di mana dia? Apakah dia tidak apa-apa?"

Perawat itu memegang salah satu bahuku, menahanku agar tidak terlalu banyak gerak, perawat itu menempelkan perban di sebelah atas mataku.

"Seandainya saya tau pasti saya sudah memberitahu. Maaf saya hanya tau untuk menutup luka anda. Kita akan segera mendapat informasi setibanya nanti di rumah sakit." Ucap perawat.

Aku pun membaringkan tubuhku dengan perasaan yang sangat cemas.

"Tenanglah Nar, kita akan ke rumah sakit." Sahut Resa.

Ku rebahkan badanku memejamkan mata dan berdo'a agar semua baik-baik saja.

Ambulans melaju sangat cepat dengan ciri khas sirine bulat di atasnya lampu sorot yang berputar-putar melaju menuju rumah sakit.

Begitu pintu ambulans terbuka dan tim medis menggotongku keluar, aku melompat turun dari brankar.

"Mbaa kembali, luka anda perlu di jahit." Teriak perawat.

Aku terus berlari, sesekali menengok ke belakang berharap Resa mengikutiku dari belakang. Sesampainya di dalam rumah sakit.

Aku menghampiri perawat yang sedang duduk berjaga dan bertanya di mana ruangan ICU.

"Kamu keluarganya?" Tanya perawat itu.

"Saya pacarnya sus." Ucapku.

Perawat itu berdiri.

"Baiklah mari ikut saya." Perawat itu mendahului aku dan Resa memutari pojokan lalu masuk ke dalam sebuah ruangan.

"Dokter akan menemui kalian secepatnya." Perawat itu pergi meninggalkan kami.

Kududukkan badanku di sebuah kursi dan Resa pun demikian duduk di sebelah ku. Ku turunkan pandanganku sambil mengenggam jari-jari tanganku yang ku kepalkan. Beberap menit aku menunggu tidak ada satu patah kata pun. Aku tidak tahan lagi.

"Gua harus cari Edo." Aku buka suara.

Aku bersiap keluar ruangan namun lagi-lagi Resa menahanku "Udah tunggu aja disini, nanti kalau dokter cari lo, dan ternyata gak ada. Udahlah tunggu aja disini."

Aku pun mondar-mandir sudah seperti setrikaan, karena cuman itu yang bisa aku lakukan. Ku layangkan pandanganku menyebrangi lorong, dan aku melihat kamar mandi. Aku masuk ke sana dan begitu menutup pintu, perutku terasa langsung mual dan sakit.

Aku membungkuk di atas toilet lalu muntah-muntah. Setelah di rasa aku tidak akan muntah lagi, lalu aku segera mencuci tangan di wastafel sambil berkumur-kumur. Ku pegang bibir wastafel sambil menghela napas dalam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!