Gelisah

Nara merebahkan diri di tempat tidurnya seketika mengingat ketika Edo menggulum bibirnya dengan mesra. Nara seperti terbang tak ingat apa-apa. Apa gini ya rasanya di cium laki-laki? Edo emang nakal. Nara tersenyum mengingat kejadian itu. Nara tidur tidak bisa pulas, karena terbayang-bayang wajah Edo.

Sungguh mati aku gak boleh jatuh cinta dulu. Perjalananku masih jauh banyak hal yang belum aku capai.

Tetapi Edo seorang yang hebat, dapat melemahkan diriku. Dengan mudah membuka pintu hatiku yang berusaha selalu aku tutup rapat-rapat.

Nara perang dengan hati dan batinnya sendiri di antara keduanya mana yang harus di utamakan?

Tapi cinta telah melelapkannya ketika Nara membayangkan wajah Edo. Merasakan elusan tangan Edo yang lembut dan ciuman Edo yang hangat. Biasanya Nara hanya melihat di adegan drama series yang ia tonton sekarang ia benar-benar merasakannya dengan nyata. Itu ia dapatkan dari seorang lelaki yang banyak digemari wanita. Kamu emang memikat Edo. Nara tak akan bisa melupakan kejadian itu, memang Edo telah meresahkan perasaannya. Sejak saat itu Nara hatinya menjadi gelisah.

Hingga ibu Nara timbul suatu pertanyaan . Yang biasa melihat Nara ceria nampak agak beda. Maka ibunya menemui Nara yang sedang berbaring di tempat tidur.

"Nar.. ibu rasa akhir-akhir ini kamu berbeda, apa ada sesuatu nak?"

"Gak apa-apa bu."

"Kamu gak usah bohong sama ibu?"

Nara hanya terdiam sambil memeluk bantalnya. Pandangannya menatap langit-langit yang kosong.

"Rasanya aku malu buat cerita bu."

Nara bangkit dari duduknya dan duduk dengan ibunya. Wajahnya tertunduk malu. Ibunya membelai rambut Nara dengan penuh kasih sayang.

"Ngapain harus malu buang kegelisahan yang ada di diri kamu, jangan menanggung beban sendiri?"

Wajah Nara mulai terangkat perlahan dengan mata menatap vas bunga yang ada di meja belajarnya.

"Aku bingung bu perasaan yang ku alami, Edo berkali-kali menyatakan perasaanya pada Nara, aku takut jatuh cinta bu aku tak bisa menghindari pada kenyataan."

"Edo anak yang baik, ibu liat dari raut wajah dia. Terus sekarang apa yang kamu tunggu, jika dia benar-benar sungguh-sungguh sama kamu."

"Aku ingin berhasil dalam mencapai mimpi-mimpiku bu lulus dengan nilai terbaik dan bisa bantu ayah dan ibu aku takut gagal dalam cita-citaku."

"Ibu tahu kamu anak yang baik, tapi Nar masa remaja tidak akan datang dua kali jika saat itu gak kamu isi dengan sedikit rasa cinta, berbeda dengan manisnya cinta di atas dua puluh lima tahun. Ibu bukan nyuruh buat kamu bercinta, tapi ibu takut kamu jadi perawan tua karena terlalu ambisius sama mimpimu, kamu mengertikan Nara?"

Gadit itu tak menjawab kata-kata ibunya.

"Aku ingin bahagiakan ayah dan ibu dulu."

"Nara jangan kau pikirkan ayah ibu, carilah letak bahagiamu. Anggap cinta itu yang memberi semangat.

Nara mengangguk pelan, lalu memeluk ibunya dengan hangat dan penuh kasih sayang. Sambil membelai rambut Nara ibunya berkata.

"Balaslah cinta Edo, kalau emang dia benar-benar menyukaimu."

"Ibu setuju aku sama Edo?"

"Selagi kamu bahagia ibu setuju, asal kamu bisa jaga diri."

Gadis itu memeluk erat ibunya. Nara bersyukur pada Tuhan yang telah memberi seorang ibu yang sangat baik baginya.

"Yaudah ibu ke kamar dulu ya, kamu tidur udah malem."

Tinggalah Nara seorang diri. Hatinya agak lega setelah bercerita pada ibu. Walaupun hatinya sudah bersemi rasa cinta yang mulai tumbuh perlahan, tapi Nara harus tetap mempertahankan untuk tidak mudah termakan rayuan Edo yang selangit. Nara harus hati-hati menempuh jalan hidupnya. Di hari esok apakah Nara akan terkecoh dengan cinta Edo. Dengan anggapan Nara harus tetap hati-hati.

...****************...

Disisi lain Edo melangkah menuruni anak tangga, menuju keruangan bawah, dikamarnya ia merasa tak betah lagi, karena duduk sendirian tanpa seorang teman. Biasanya ada bibi pembantu yang biasa menemani Edo namun kini ia tengah pulang ke kampungnya selama seminggu. Kemurungan itu rasanya menyelimuti Edo tiap harinya sendiri sepi, maka sebab itu selalu mengisi ke kosongan hidupnya dengan berkerumun di antara cewek-cewek.

Tapi itu hanya sebatas pelariannya saja sebelum mengenal Nara yang tak karuan. Semua cewek yang cantik hanya dijadikan permainan habis manis sepah dibuang. Namun semenjak Edo menaruh hati pada Nara kesepian itu perlahan menghilang. Nara adalah bak cahaya rembulan yang terang mudah di jangkau tangan namun tinggi di awan.

Kenyamanannya hanya ada di Nara jika berjumpa dengan gadis itu, wajah gadis itu begitu teduh dan anggun. Di antara sekian banyak gadis yang pernah kenal dengannya. Hanya Nara satu-satunya gadis yang dapat membuat dirinya mabuk cinta.

Selama ini sudah banyak gadis yang ditaklukan, tapi yang satu ini membuatku harus bersabar. Edo menghela nafas panjang. Di taman samping rumahnya Edo duduk seorang diri, mengenang semua yang terjadi pada hidupnya. Hatinya sedih sekali jika melihat hidupnya yang sangat sepi. Kasih sayang dari mamanya tak pernah ia dapatkan, semenjak papanya meninggal dunia.

Harapan yang disampaikan bibi Boyem selaku pembantunya hanya selalu mengingatkan untuk sabar. Sekarang bibi Boyem tengah pergi pulang ke kampungnya rumah terasa benar-benar sangat sepi sekali . Kesepian tambah menerkam dirinya. Edo bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke garasi mobil.

Suasana rumah mewah itu sangat sepi, di dalam rumah itu tidak ada keharmonisan keluarga yang baik.

Edo mengeluarkan mobilnya dari garasi. Mobil mewah itu bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, mobil itu meninggalkan garasi. Edo mulai kumat gilanya mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang dengan kecepatan tinggi.

Di tempat anak-anak muda yang sedang nongkrong Edo berhenti. Malam hari di atas terangnya rembulan menambah suasana lebih mengasyikan bagi mereka yang akan berbalap liar. Maka kedatangan Edo disambut antusias oleh temannya dengan gembira. Apalagi ketiga cewek yang mengenakan pakaian rok pendek dan baju tangtop. Sebutan pangeran sangat tepat bagi Edo saat itu.

"Hallo broo apakabar?" Sudah lama lo gak nonggol kemana aja?" Tanya Betran yang bisa dibilang musuh berat Edo di arena balap.

"Iya, ya sekarang Edo kelihatan beda. Dapat yang baru lagi yaa?" Pertanyaan itu datang dari salah satu cewek yang pernah terpangut oleh pelukan Edo.

Bahkan semua gadis yang ada ditempat itu pernah merasakannya. Mereka sangat mengagumi keberanian Edo di arena balap walaupun itu semua bersifat mencari pujian dan perhatian tidak memikirkan kematian.

"Malam ini Betran menantangmu bertanding lagi Do." Dika memancing Edo agar mau balapan.

"Okey." Jawab Edo singkat.

Remaja yang nongkrong ditempat itu merasa senang, karena Edo menerima tantangan Betran dengan mantap. Segera kelima mobil itu berjajar ke tempat pertandingan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!