Saat aku menatap diri dalam cermin, aku tidak mengenali diriku sendiri. Seluruh sisi wajahku berlumuran darah kering. Perban yang ditempelkan oleh perawat sudah dibasahi darah. Kutarik selembaran tissue untuk mengelap sebagian darah di wajahku. Selama menyeka ku dapati diriku berharap semua baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Aku sedang terduduk di lantai menempelkan badan menyandari dinding dengan mata terpejam. Aku tidak menjawab. Ketika pintu terbuka lebar, aku mendongak. Ternyata salah seorang perawat.
"Kami masih harus menjahit lukamu." Kata perawat itu.
Dia mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dan dia menarikku berdiri. Kuikuti perawat itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit sampai masuk ke ruang periksa dan aku berbaring di atas meja.
"Temanmu bilang kamu mual-mual. Besar kemungkinan kamu mengalami geger otak, tetaplah berbaring kami akan mengobati lukamu."
Setelah lukaku selesai dijahit dan perawat memberi arahan tentang cara menangani geger otak yang tengah kualami, aku disuruh mendatangi ruang perawat untuk mengisi berkas-berkas.
"Isi dulu formulir ini lalu serahkan pada saya." Ucap perawat.
"Baik."
Kuambil formulirnya dan kembali ke ruang tunggu.
"Ada kabar Res?" Tanyaku.
Resa hanya menggelengkan kepala, hampir satu jam kami di sini. Aku lalu duduk di samping Resa. Persis setelah bokongku mendarat di kursi, seorang laki-laki muncul mengenakan jas lab putih muncul dari pojokan dan berjalan ke arah kami, diikuti oleh tante sonya yang tampak kalut. Aku melonjak bangkit.
"Edo!" Teriak tante Sonya."Dimana dia? Dimana Resa? Apa Edo terluka?"
Resa hanya terdiam, aku berjalan menyongsong tante Sonya dan melingkarkan tanganku untuk memeluknya, setelah itu aku berpaling pada dokter untuk meminta jawaban karena aku tidak memilikinya. Tante Sonya melepaskan diri dari pelukanku dan pergi melesat ke ruang perawat yang tak jauh dari sana, Resa pun demikian menyusul tante Sonya dan meninggalkanku.
Dokter itu mulai berjalan menjauh, jadi aku berlari mengejar dan menghadang langkahnya di lorong.
"Bagaimana dengan Edo? Apa dia baik-baik saja? Aku belum mendengar kabar apapun. Apakah dia di ruang operasi?"
Dokter itu menatapku dengan sorot iba.
"Maaf saya belum bisa memberitahu sekarang. Akan saya usahakan semampu saya untuk mencarikan jawabannya dan kembali mengabari anda sesegera mungkin." Lalu dia tergesa-gesa menjauh.
Mereka tidak mau memberitahuku kabar apapun padaku! Sedikit pun tidak, aku bersandar di dinding lorong, lalu tubuhku merosot ke lantai. Kutekuk kedua lututku ke atas dan menumpukkan sikuku ke atasnya, mengubur wajahku di telapak tangan.
"Nar!"
Aku mendongak. Resa sedang menurunkan tatapannya kepadaku. Kuraih tangan Resa dan menariknya agar duduk di lantai bersamaku, lalu memeluknya dengan sebelah tangan. Resa balas memelukku.
"Gua gak tau Res, gimana sekarang keadaan Edo."
Kupeluk Resa erat-erat. Betapapun aku sangat ingin menjerit, betapapun aku sangat ingin menangis, rasanya dunia sekelilingku seketika runtuh.
"Res."
Aku mendongak begitupun Resa. Tante Sonya berdiri menjulang di hadapanku. Aku dan Resa bangkit berdiri.
"Resa bagaimana keadaan Edo?" Tanya tante Sonya.
"Kami belum tau keadaan Edo tante, dokter belum memberitahu apa-apa." Jawab Resa.
Sedangkan aku hanya terdiam menatap wajah tante Sonya yang khawatir akan keadaan putra semata wayangnya. Aku tau betul kecemasan seorang ibu terhadap anaknya. Aku mencoba meraih tangan tante Sonya berusaha untuk menenangkannya walaupun aku sendiri sama mencemaskan keadaan Edo.
"Tante yang sabar ya, kita berdo'a saja semoga Edo baik-baik saja." Kataku.
"Terimakasih Nara. Sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
"Kejadiannya begitu cepat tante, aku tak tau pasti apa yang terjadi seingatku ada truk di depan mobil kami." Aku berusaha menjelaskan tentang apa yang terjadi, walaupun aku tidak ingat pasti kejadian yang sebenarnya.
Seseorang berjalan dari lorong sebelah kanan langkahnya menghampiri kami. Seorang pria berjas hitam berhenti tepat di depan kami aku dan Resa saling bertatap siapa dia kami tak mengenalnya.
"Sayang." Pria itu menoleh ke tante Sonya.
Sepertinya pria itu adalah kekasih tante Sonya karena cara dia memanggil tante Sonya sangat mesra.
"Sayang." Jawab tante Sonya memeluk pria itu dengan mesra.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya pria itu.
"Aku gak apa-apa sayang, anakku masih di tangani dokter." Jawab Tante Sonya.
Aku dan Resa hanya terdiam sesekali menatap dua insan yang tengah di landa asmara. Tiba-tiba tante Sonya izin untuk berpamitan kepada kami. Dia akan pergi bersama pria itu, memilih untuk pergi meninggalkan anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit.
"Resa Nara." Sahut tante Sonya.
"Tante harus pergi dulu, tolong jaga Edo yaa."
Aku dan Resa hanya mengangguk saja. Lalu tante Sonya dan pria itu pergi meninggalkan kami. Apa yang sebenarnya terjadi mengapa sikap tante Sonya seolah tak peduli dengan anaknya begitu saja dan memilih pergi bersama pria itu.
"Gua beli minum dulu ya, biar lo tenang." Kata Resa.
"Yaudah."
Resa pun pergi ke kantin sedangkan aku pergi menyusuri lorong, menuju ruang perawat tapi tak ada seorang pun di sana. Pintu-pintu yang mengarah ke ruang IGD terkunci, saat aku berusaha membukanya kuedarkan pandang untuk mencari seseorang.
Aku berjalan ke area di balik ruang perawat, mataku mencari-cari sampai akhirnya menemukan tombol untuk membuka pintu ruang IGD. Kutekan tombol itu dan berlari menerobos pintu yang membuka.
"Ada yang bisa kubantu?" Tanya perawat yang berpapasan denganku di lorong.
Aku terus berlari, sampai akhirnya tiba di persimpangan dan melihat papan petunjuk yang memberitahu bahwa kamar pasien ada di sebelah kanan, sedangkan ruang operasi di sebelah kiri. Aku berbelok ke kiri, ku tekan kuat-kuat tombol dindinv untuk membukanya. Sebelum pintu-pintunya terbuka lebar, aku mencoba mendesakkan diri untuk masuk, namun seorang laki-laki mendorongku keluar lagi.
"Kamu tidak boleh masuk kemari." Katanya.
"Gak! Aku harus masuk." Aku berusaha menerobos melewati orang itu.
Ternyata dia lebih kuat dari padaku, dia mendorongku sampai tersandar ke dinding.
"Kamu tidak boleh masuk ke sana."Katanya tenang.
"Saya harus tau apa dia baik-baik saja?"
Dokter itu menyandar di dinding sebelahku. Kedua lengannya dimasukkan ke saku jas putihnya.
"Dia mengalami cedera kepala parah yang mengakibatkan perdarahan pada otaknya. Sekarang terlalu dini untuk memberitahu informasi yang lebih banyak. Sebelum selesai melakukan pembedahan pada pasien. Saya berniat untuk berbicara dengan pihak keluarga. Apakah kamu mau untuk menyampaikan informasi ini pada orang tuanya?"
"Baik dok, nanti saya sampaikan pada ibunya."
Dokter itu meluruskan tubuhnya dan berjalan ke pintu ruang bedah, lalu menekan tombol. Dia berbalik tepat ketika pintu itu terbuka.
"Siapa namamu?" Dia bertanya.
"Nara."
Dokter itu menatap ke dalam mataku. "Aku Dokter Erwin." Katanya. "Akan saya lakukan semua yang saya bisa untuk menolongnya. Nara sebaiknya kamu kembalilah ke ruang tunggu. Saya akan mencarimu ketika mendapatkan kabar baru."
Dokter Erwin membalikan tubuh dan menutupkan pintu setelah dia masuk.
Aku merosot ke lantai untuk mengumpulkan kembali kekuatanku.
Edo masih hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments