Gadis itu berganti pakaian tidur dan Ibunya masuk ke kamarnya dan mulai menceritakan keburukan Alexa yang sering di dapat dari Edo.
"Edo sering main ke sini mencarimu Nara."
"Kapan bu?."
"Hampir setiap malam Edo datang kerumah, tapi kamu selalu tidak ada di rumah."
"Ahh ibu kenapa gak bilang, padahal aku rindu sama Edo."
"Dia itu baik Nara."
"Iyaa bu, aku tau itu."
"Dari Edo Ayah dan Ibu tau keburukan Alexa. Edo menceritakan karena dia sangat mencintaimu. Tanpa malu lagi Edo mengatakan cintanya di hadapan Ayah Ibu."
Sampai disitu keterangan dari ibunya kepada Nara.
Setelah ibunya meninggalkan kamarnya, Nara baru menyadari semua perbuatannya yang akan membawa akibat buruk. Dalam hatinya merasa menyesal telah membuat Edo kecewa. Untuk itu Nara terus menyebut nama Edo dalam hatinya dengan air mata yang berlinang di pipinya.
"Maafkan aku Edo, sungguh aku benar-benar mencintaimu."
...****************...
Semenjak Edo jarang berjumpa dengan Nara ia merasakan harinya sepi sekali. Dia enggan untuk datang kerumah Nara lagi, mengingat tidak pernah dijumpainya Nara.
Pelariannya untuk menghilangkan rasa rindu yang menekan pada jiwanya, Edo selalu duduk menyendiri di keramaian banyak orang.
Kadang-kadang hanya duduk disebelah penjual koran-koran bekas dengan menggunakan pakaian kucel.
"Dimana letak kebahagiaanku?" Pertanyaan yang selalu terngiang di telinganya.
Buat apa artinya hidup kalau hampa dan kesepian. Edo telah menemukan pilihan hatinya namun di rusak oleh Alexa. Akibat Nara bergaul dengan Alexa, pasti akan menyebabkan penyesalan. Edo menghela nafas panjang bila mengingat semua yang sedang menimpa Nara. Hatinya sungguh tersayat.
Untuk menghilangkan rasa sepi dan khawatirnya, diambilnya koran bekas kemudian dibacanya. Penjual koran bekas yang bernama Otoy sangat senang bersama Edo. Pasti setiap Edo datang ke tempatnya pasti banyak para wanita yang membeli koran-koran Otoy karena melihat ketampanan Edo.
"Gak masuk kuliah Do?"
"Males gua bang. Bagi ro*kok bang sebatang mulut gua asem banget nih." Edo meminta rokok pada penjual koran bekas itu.
Dari kantong kemejanya dikeluarkan r*kok.
"Suka r*kok murah emang?"
"Ya karena di kasihnya dari lo bang, gak apa-apa."
Otoy memberi satu batang r*kok pada Edo.
Di dalam hati Otoy bertanya, apa yang terjadi dengan anak ini? Mobil punya hidupnya kaya tapi seperti tak karuan. Apakah ini yang disebut remaja gak punya akal? Ahh gak mungkin.
"Sebenernya kamu kenapa Do?"
"Kalau gua cerita juga gak bakal tamat-tamat bang, lo taukan komik yang bakal lama banget tamatnya."
Otoy tersenyum mendengar perkataan Edo yang nyeplos.
"Broken home ya?" Tanya Otoy.
"Sok tau lo bang, pake ngomong pake bahasa inggris lagi."
"Gini-gini juga saya bekas mahasiswa bro, walau gak selesai."
"Alaaah bercanda lo bang." Kata Edo hampir tak percaya.
Otoy baru menceritakan pengalaman hidupnya. Menarik juga bagi Edo untuk mendengarkannya. Sebabnya penuh dengan liku-liku, ada yang pahit ada juga yang menyenangkan. Otoy adalah mahasiswa tingkat tiga jurusan sastra. Cuman sayangnya dia belum menyelesaikan skripsi.
Edo lalu manggut-manggut ketika Otoy memperlihatkan kartu mahasiswanya.
"Makanya aku jadi penjual koran Do."
Otoy tersenyum kecil, sambil menepuk bahu Edo.
"Nah sekarang kau ceritakan masalahmu?"
"Bener yang lo tebak tadi bang. Broken home."
"Tapi kayaknya bukan masalah itu saja, tampaknya kau sedang ada masalah cinta."
"Benar sekali tebakan lo bang."
"Pasti cewek yang sama kau gadis cantik, secara kau pun ganteng."
"Gua cinta sama dia bang." Sambil mengacungkan jempolnya.
Tiba-tiba Edo tersentak kaget melihat Nara berjalan dengan laki-laki lain. Spontan saja Edo bangkit dari tempat duduknya dan berlari mendekati Nara. Tanpa pikir panjang lagi Edo memukul lelaki itu yang berjalan dengan Nara. Sekali pukulan lelaki itu terletak di tanah. Nara yang melihat itu langsung menjerit ketakutan.
Ketika dilihatnya ternyata lelaki itu adalah Betran. Amarah Edo makin memuncak, ingin rasanya menghajar habis-habisan. Namun banyak orang yang berada di tempat itu melihat perkelahian Edo. Nara mendorong Edo ke belakang.
"Kamu apa-apaan sih Do."
Otoy turut pula menyadarkan Edo yang sudah seperti kemasukan setan.
"Tenang Do ... tenaaang."
Segera dibawanya Edo ke tempat duduk semula.
Dengan dada yang rasanya ingin meledak melihat Nara dan Betran yang jalan berdua. Betran menatap Edo dengan wajah ketakutan. Otoy duduk di sebelah Edo sembari menyadarkan dia seperti kerasukan setan.
"Kenapa kau kita sedang enak-enak cerita, tiba-tiba kau kaya kemasukan setan Do?"
Edo tak menjawab pertanyaan Otoy.
"Heh kau tak jawab pertanyaanku?"
"Dia itu cewek gua yang barusan gua ceritain bang." Jawab Edo kesal.
Otoy tertawa keras, hingga seluruh orang yang ada di sekitarnya menoleh ke arahnya.
"Kok lo ketawa sih bang."
Otoy terpingkal-pingkal
"Kau lelaki tempe Edo."
"Apasih maksud lo bang." Bentak Edo.
Otoy baru menghentikan tawanya.
"Apa yang lo ketawain bang?"
"Kau bayangkan saja baru saja kau cerita, tiba-tiba cewek kau lewat bersama laki-laki lain. Bagaimana aku tidak tertawa."
Edo hanya terdiam.
"Kau laki-laki jantan tidak?"
"Iyahlah, bang."
"Gak bisa cari cewek yang lebih cantik?
Edo tak bisa menjawab pertanyaan Otoy. Bagaimana bisa cari cewek cantiknya melebih Nara? Adanya cuman bidadari di langit.
Kapan mendapatkan bidadari itu, apa kau harus mati dulu?Wah gak ketemu bidadari malah ketemu iblis.
Satu lagi yang tak mungkin bisa dilakukannya oleh Edo mencari gadis lain lagi. Cintanya terhadap Nara sudah begitu dalam.
Maka kata-kata Otoy pun hanya di anggap angin lalu saja.
"Udahlah bang gausah di bahas , gua jadi pusing."
Edo pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Otoy si penjual koran bekas. Lalu masuk ke dalam mobil. Cepat-cepat saja Edo meninggalkan tempat itu karena dia kesal mendengar suara ketawa Otoy yang berisik meledeknya. Edo pun membawa kebut mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kini hatinya berkecamuk tak karuan melihat kejadi tadi Nara dan Betran berjalan bersama.
Tiba-tiba ponsel Edo berbunyi dilihatnya ada panggilan masuk dari Nara, namun Edo hiraukan panggilan dari Nara. Ia merasa masih sangat kesal dan tak terkendali, bagaimana bisa Nara berjalan berdua dengan Betran, sedangkan Edo tak pernah mengenalkan Betran pada Nara. Lagi-lagi Edo teringat pasti ini ada hubungannya dengan Alexa. Pasti Alexa telah membawa Nara bergaul dengan Betran. Benar perempuan itu ternyata sangat buruk bisa-bisanya mengenalkan Nara pada Betran, karena siapa lagi yang tak suka padanya dan Nara kalau bukan selain Alexa.
Edo pun terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan pulang kerumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments