Hari berikutnya setiap di sekolah berjumpa dengan Resa, ia selalu menyampaikan salam dari Edo yang rindunya tak terbendung, sampai Resa pun hafal jika Edo menemuinya hanya untuk menitip salam pada Nara.
Sedangkan Nara hanya membalas dengan senyuman. Nara merasa heran kenapa salam itu kok datangnya setiap hari melalui sahabatnya. Timbul pertanyaan yang di tunjukkan kepada Resa.
"Lo kapan ketemu Edo?"
"Rumah gua sama dia cuman beda komplek, makanya tiap hari ketemu dan selalu titip salam buat lo."
"Lo bilangin ke dia gua takut jatuh cinta."
Resa tersenyum mendengar ucapan Nara yang baginya terasa lucu.
"Nanti si Edo bakal datang buat jemput lo."
"HAAH." Sergah Nara.
"Lo maukan?"
"Gak, gua gak mau dia cuman bakal berdampak buruk terhadap gua."
"Gua cuman bisa bilang sama lo, hati-hati aja sama Edo, jangan sampai lo jadi korban cintanya."
"Makanya itu gua ambil pertimbangan yang matang buat bergaul sama si Edo."
Di dalam keasyikannya mengobrol datanglah seorang laki-laki dan itu ternyata Roy. Dia sekolah disini dua gadis itu pun baru tau ternyata laki-laki yang di temui saat makan mie ayam waktu itu juga sekolah disini.
"Nanti pulang sekolah kita makan mie ayam lagi, ya?"
"Lo kok ada disini?" Tanya Resa merasa heran.
"Emang gua sekolah disini cuman yaa jarang masuk kelas."
"Ohh, pantesan tukang bolos." Sahut Resa.
"Maukan makan mie ayam lagi bareng gua?"
"Enggak ah ya kali makan mie ayam tiap hari, nanti usus gua kelilit mie lagi." Jawab Resa.
"Gak apa-apa nambah gizi, gua teraktir lagi kalian berdua."
Nara cuman bisa tersenyum sambil berpikir, royal banget ini cowok. Resa menyerahkan keputusannya pada Nara. Namun Nara hanya menggelengkan kepala.
"Heh lo Roy, Nara gak mau. Lagi pula dia mau di jemput sama keluarganya."
"Yaudah deh, asal lo janji lain kali kita adakan janji, oke cantik." Menatap wajah Nara dan tiba-tiba mencolek pipi Nara sambil berlari pergi.
"Iiii kurang ajar yaa lo Roy, gua tabok tau rasa." Sergah Resa yang kesal pada sikap Roy.
Roy pun berlari dan melambaikan tangan kepada kedua gadis itu. Nara memang bersikap ramah kepada semua teman sekolah. Hingga kadang-kadang orang bilang Nara anak yang gampangan buat di ajak kencan. Namun itu berbalik ketika Nara menunjukkan sikap tegasnya.
Disinilah kemenangan yang dapat diperoleh dari gadis yang ngerti harga diri, biar semua cowok tidak memandang rendah dirinya.
"Gimana kelanjutan cowok yang nari sama lo di pesta waktu itu?"
"Udah beberapa hari ini dia sering main ke rumah gua. Namanya Dika, wajahnya lumayanlah yaa ganteng."
"Terus lo udah kemana aja sama dia?"
"Gua semalem pertama kali kencan sama dia berduaan."
"Waah, seru dong. Terus kalian ngapain aja?"
"Nonton, makan, pulang."
"Sambil pacaran kan."
"Tau aja lo." Tersipu malu Resa.
"Asyik gak sih orang pacaran?"
"Lo belum pernah pacaran?". Pertanyaan Resa yang hampir gak percaya.
Nara hanya menggelengkan kepala namun mantap. Resa tersenyum sambil berkata "Gua gak percaya lo belum pernah pacaran gadis yang punya privilage cantik belum pernah pacaran."
"Sumpah gua belum pernah pacaran, jatuh cinta aja gak pernah."
"Hah kok bisa gitu?"
"Belum nemu yang cocok dihati."
Resa hanya tersenyum lebar. Nara yang merasakan ditertawakan jadi tersipu malu. Jam istirahat telah selesai semua murid bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing begitupun Nara dan Resa. Selintas Nara kepikiran tentang Edo yang akan menjemputnya nanti.
Akhirnya ketiga mata pelajaran pun selesai, bel pulang pun tiba semua murid pun bertebaran keluar.
Nara dan Resa berjalan ke depan gerbang meninggalkan kelasnya sambil bergandengan tangan. Di depan pintu gerbang sekolah sudah berhenti sebuah mobil Pajero.
"Tuhkan bener Nar, si Edo tuh pasti bakal jemput lo."
Mendadak saja sekujur tubuh Nara gemetar dingin. Apalagi ketika Edo menyandarkan badannya di pintu mobil. Kelihatan sangat ganteng sekali.
Senyumnya yang sangat meluluhkan hati setiap perempuan. Semakin menambah kegantengan yang di sebut si pangeran tampan. Resa dan Nara pun mendekati Edo yang telah menantinya.
"Lo udah lama nunggu?" Tanya Resa pada Edo.
"Gak lama sih, 1 abad ada kayaknya." Sambil tersenyum kalem sambil matanya menatap Nara.
Murid-murid sekolah yang lewat pun merasa salah fokus terhadap kegantengan Edo.
"Hallo Nar apa kabar?" Sapa Edo.
"Baik." Jawab Nara singkat.
"Ayok kita pulang bareng?." Ajaknya.
Mereka bertiga pun pulang segera menaiki mobil.
Edo duduk di depan dengan Nara. Resa di belakang sendiri. Wajah Nara semakin terlihat ketika duduk bersampingan. Mobil melaju begitu cepat sekali, membuat Nara merasa takut.
"Lo gilaa, jangan ngebut-ngebut Do, gua takut." Suara Nara sedikit cemas.
Edo malah sengaja terus menambah kecepatan mobilnya. Perasaan Nara semakin tak menentu.
"Kalau lo masih nekat dan gak mau pelanin mobil loh, gua nekat turun disini sekarang." Nada suara Nara pun mendesak Edo.
Maka Edo akhirnya mengurangi kecepatan mobilnya ; sambil tersenyum kecil.
"Lo suka kebut-kebutan ya?" Nara bertanya serius.
Edo tertawa lebar sambil membenarkan kacamata yang melorot. Nara gemes dengan Edo tapi juga merasa senang.
"Lo jangan buat Nara takut, ntar dia ngambek susah dibujuknya." Ucap Resa.
"Gua pengen liat dia ngambek, pasti bakal makin cantik." Sambil tersenyum.
"Di jaga yaa mulut lo, jangan lo anggap gua barang mainan."
Edo tertawa lagi, dengan tertawa yang sedikit romantis.
Nara pun hanya menundukan kepala sambil tersenyum, di hatinya pun telah tergoyah oleh ketampanan Edo.
"Gua beneran suka sama lo, kalau lo nolak cinta gua, hati gua bakal hancur berantakan."
"Kalau udah berantakan naronya dimana?" Memberanikan diri menatap Edo yang nakal dan hangat itu.
"Kalau lo mau pungutin terus lo buang aja ke kali." Jawab Edo.
"Yaah, Nar. Jangan biarin hati pangeran tampan ini berantakan." Resa menengahi pembicaraan mereka sambil bercanda.
"Kan banyak cewek lo, kenapa harus gua?"
"Emang ya lo keras kepala banget teguh dengan pendirian, makanya itu gua suka sama lo."
"Gua gak akan mempan sama gombalan lo." Tegas Nara.
Mobil Pajero itu pun berhenti di depan rumah Resa. Gadis itu bergegas turun dari mobil sambil melambaikan tangan.
"Thankss bro.Daaa."
"Daaa." Nara membalas lambaian tangan Resa.
Edo melirik ke arah Nara yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum melihat kecantikan Nara.
"Gimana kalau kita jalan-jalan dulu?"
"Udahlah jangan jual mahal gitu, Nara."
"Gua bukan barang dagangan, anterin gua balik."
Edo tertawa kalem. Kemudian menatap Nara yang anggun dan cantik. Hatinya telah terkecoh pada gadis yang sederhana itu. Mobil Edo pun berhenti di sebuah taman.
Nara merasa takut berada di tempat itu hanya berdua dengan Edo. Lelaki yang duduk santai di sampingnya memandang tanpa berkedip, hingga Nara merasa mati kikuk.
"Gua gak suka liat tingkah lo yang kaya gini?"
Nara pun ngambek. Edo tetap saja tersenyum sambil memandang wajah Nara yang tambah semakin cantik. Tangan Edo yang nakal berusaha meraih dagu Nara yang menawan. Nara berusaha menolak ketika tangan Edo mencoba meraih dagunya.
"Jangan macem-macem yaa lo, gua teriak nih."
"Gua cinta sama lo Nara."
Nara hendak membuka pintu mobil, namun Edo menahannya.
"Biarin gua pulang sendiri!"
"Tenang Nara."
Nara pun menangis saking kesalnya.
"Kalau lo nangis, lo makin cantik."
"Gua mau pulang sekarang!!" Nara segera membuka pintu mobil dengan cepat.
Namun masih kalah cepat dengan Edo yang menyambar lengannya.
"Okeyy. Gua antar lo pulang, tapi jangan ngambek , senyum coba kalau lo senyum mobil ini bakal segera maju.. Ayo tersenyumlah." Desak Edo.
Dengan perasaan yang sulit diceritakan. Nara terpaksa harus tersenyum juga. Hatinya kesal sekali, namun sangat mengesankan. Saking kesalnya dicubitlah lengan Edo keras sekali, sampai Edo berteriak kesakitan. Cubitan Nara dirasakan Edo sebagai cubitan kasih sayang yang nikmat. Mobil pun akhirnya melaju meninggalkan tempat tadi. Dan hati Nara pun lega, sedikit perasaan tenang dirinya. Campur aduk senang, kesal, marah membuat dag dig dug hati Nara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments