Tadinya aku berharap beban itu telah terangkat dari bahuku setelah akhirnya berbicara dengan dokter, sayangnya ternyata sama sekali tidak, malah rasanya sekarang lebih sangat tidak karuan.
Aku merasa lebih tertekan. Aku hanya ingin melihat Edo.
"Nar." Panggil Resa.
"Ya." Sahutku. Aku terlalu letih menatapnya.
"Bagaimana Edo?" Tanya Resa.
"Edo baru selesai operasi, tapi mereka masih belum akan mengetahui apapun sampai besok pagi."
"Tahu tentang apanya?"
Aku duduk lalu memberi isyarat agar Resa duduk di sebelahku. Beberapa saat aku hanya diam agar dapat menjelaskannya dengan baik.
"Waktu kepala Edo terbentur, hantaman itu mengenai otaknya. Kita gak akan tau seberapa parahnya cederanya itu, kapan dia akan siuman, atau kah terjadi kerusakan pada otak-otaknya, sampai dokter nanti memberhentikan obat bius padanya.
Aku menatap Resa begitu tatapam kami bertemu. Resa memelukku.
" Lo gak sendiri Nar, kita hadapi ini bersama-sama, gua bakal selalu ada buat lo."
Mendengar perkataan Resa aku seolah sedikit tersenyum merasa senang memiliki sahabat seperti Resa. Yang selalu menemani dalam suka dan duka. Kulepaskan pelukan kami lalu aku menyeka air mataku.
Seketika aku teringat apakah tante Sonya tidak kesini untuk sekedar menjenguk anaknya yang tengah berjuang hidup. Apakah ini yang selama ini Edo rasakan tidak ada yang peduli. Payah sekali aku baru menyadari hal itu, ternyata yang selama ini Edo katakan tentang haus akan kasih sayang dan selalu merasa sepi itu benar adanya.
"Res, tante Sonya gak ada ngehubungin lo?" Tanyaku.
"Gak ada, bahkan gua chat pun dia gak bales."
"Apa dia tak peduli dengan anaknya." Tuturku.
"Setau gua tante Sonya selalu membawa lelaki ke rumahnya bermain kartu atau sekedar minum.Kelakuannya itu buat Edo muak dan menjadi keras ia di landa sepi merasa malu melihat tingkah ibunya, makanya Edo selalu melampiaskan ke para cewek-cewek yang bernasib sama dengannya hanya sekedar mendapat perhatian."
Aku sontak kaget mendengar apa yang di ceritakan Resa, sungguh malang nasib Edo aku makin merasa bersalah sudah menuduhnya macem-macem. Sekarang aku hanya bisa terdiam berharap ada kabar baik tentang Edo.
"Lo harus tau Nar, Edo benar-benar tulus."
"Iya Res gua tau itu, yang sekarang gua pikirin adalah harapan Edo untuk hidup."
"Oh iya gua tadi udah ambilin obat lo, ini lo minum dulu biar keadaan lo lebih baik." Menyodorkan obat.
Aku pun melemparkan pil-pil itu ke mulut dan menelannya ku larutkan dengan tegukan air yang mengalir ke tenggorokanku.
"Gua mau ke kantin dulu Nar, kasian Dika sendiri dari tadi gua belum belai." Resa berusaha menghibur. Aku tersenyum mendengar perkataan Resa itu.
"Gua nanti nyusul Res."
Aku mulai berjalan meneruskan langkah. Pintu ganda di lobi terbuka saat aku melewatinya, mengirimkan gelombang udara dingin di sekelilingku. Aku lalu berhenti mengarahkan pandanganku keluar, setelah itu memutuskan keluar bahwa udara segar bisa membuatku merasa lebih enak.
Aku duduk di sebuah bangku di bawah kanopi. Melihat pemandangan di rumah sakit. Hatiku bertanya-tanya apakah Edo akan selamat apa dia akan meninggal. Begitu terlintas pemikiran-pemikiran itu di benakku, aku segera menekannya. Tidak ada gunanya aku berpikir seperti ini, karena itu tidak akan terjadi. Aku marah pada diriku kenapa pikiranku seperti itu. Aku beranjak dari tempat dudukku melanjutkan langkahku untuk menyusul Resa ke kantin.
...****************...
Keesokan harinya aku masuk ke ruang tunggu, ku jumpai dokter Erwin.
"Ada kabar?"
Dokter Erwin berdiri.
"Kami masih membiusnya dan sudah bisa melakukan beberapa tes. Saya sedang menunggu hasil tesnya, tapi jika kamu ingin menengoknya boleh untuk beberapa menit."
"Sekarang? Aku boleh menengoknya sekarang? Tanyakku menegaskan.
"Nara sebenarnya saya tidak bisa membolehkan siapapun masuk." Sahut dokter Erwin.
"Statusnya belum ada perubahan ke tahap pemulihan, seharusnya saya tidak mengizinkan kamu masuk. Tapi karena kali ini giliran saya yang jaga, jadi saya pikir ada baiknya mengizinkan kamu boleh ikut dengan saya."
Aku ikuti dokter Erwin melewati ruang perawat, melewati beberapa pintu dan terus menyusuri lorong menuju pintu ganda yang mengarah ke ruang operasi. Sebelum kami berjalan lebih jauh, dokter Erwin mengajakku ke sebuah ruangan tempat kami berdua mencuci tangan. Setiba di ruangan tempat Edo berbaring, aku hampir tak mampu bernapas. Perasaanku begitu gugup. Jantungku serasa hendak meledak mendobrak dadaku.
"Nara... pertama-tama kamu perlu mengetahui beberapa hal terlebih dahulu. Dia bergantung terhadap ventilator untuk membantunya bernapas, tapi itu sengaja agar membuat kondisinya koma secara medis. Dengan tingginya dosis obat yang kami berikan padanya, sekarang ini tidak ada kemungkinan dia akan terbangun. Saya mengizinkan kamu bersamanya untuk beberapa menit saja, hanya itu yang bisa saya berikan untuk saat ini, paham?"
Aku mengangguk.
Dokter Erwin mendorong pintu ruangan dan mempersilahkan aku masuk.
Begitu melihat sosok Edo, aku harus berjuang keras untuk bernapas. Rasanya seluruh udara di gedor dari paru-paruku. Mesin ventilator tampak mengisap seberkas udara lalu melepaskannya lagi. Bunyi berulang dari mesin itu, rasanya seolah harapanku didesak keluar dari dalam diriku.
Aku berjalan mendatangi ranjang tempat Edo berbaring dan menggengam tangannya. Terasa dingin. Kukecup dahinya, kukecup berkali-kali. Aku hanya ingin berbaring di sebelahnya dan memeluknya. Banyak sekali selang, tabung dan kabel yang berseliweran kemana-mana. Kutarik kursi ke dekat ranjangnya dan mengaitkan jemarinya ke jemariku. Makin sulit saja aku melihat Edo di balik keburaman yang di akibatkan air mataku, jadi aku harus mengelapnya dulu dengan bajuku. Edo kelihatan begitu tenang... seolah saat ini dia tengah terlihat cuma tidur.
"Aku mencintaimu Edo." Bisikku.
Kukecup tangannya.
"Aku mencintaimu Edo." Bisikku lagi.
Selimut menutupinya dengan rapat, dan Edo memakai baju rumah sakit. Kepalanya di balut perban. Tabung ventilator menyungkup mulutnya, jadi aku hanya bisa mengecup pipinya. Aku tau Edo tidak akan bisa mendengarku, tapi aku akan tetap berusaha berbicara padanya.
"Edo kamu harus sembuh." Ku belai kepalanya.
"Aku tidak sanggup jika tanpa kamu Edo."
Kubalik tangannya kukecup telapak tangannya, lalu menempelkannya ke pipiku. Rasa kulitnya yang menempel di kulitku seakan tidak nyata. Sesaat terlintas di pikiranku akan tidak yakin apakah aku akan pernah merasakannya lagi. Ku pejamkan mata, mengecupi telapak tangannya lagi dan lagi. Aku dudum di sampingnya, sambil berulang-ulang menciumi bagian tubuh Edo yang bisa kukecup.
"Nara." Panggil dokter Erwin. "Kita harus keluar sekarang."
Aku berdiri dan mengecup dahi Edo, mundur selangkah lalu maju lagi selangkah untuk mengecup tangannya.
Dokter Erwin meraih tanganku.
"Nara kita harus keluar."
Aku pun berbalik dan mengayun beberapa langkah ke arah pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments