Yang bisa ku lakukan hanyalah menunggu. Menunggu dan berpikir. Berpikir dan menunggu. Hanya itu yang bisa kuperbuat. Jadi hanya itulah yang aku lakukan.
Aku mondar-mandir di lorong beberapa saat karena tidak tahan duduk terus di ruang tunggu. Aku sudah banyak menghabiskan terlalu banyak masa hidupku di ruangan itu... dan di rumah sakit ini.
Sudah satu minggu berlalu aku menemani Edo di rumah sakit, sesekali ibu menengokku di sini membawa makanan atau menukar baju pakaianku, sedangkan Resa setia menemaniku walaupun sesekali dia mesti pulang ke rumah.
Hari ini ibu menjengukku ke rumah sakit membawa bekal makanan untukku.
"Bagaimana keadaan Edo?" Tanya Ibu.
"Belum ada perkembangan bu." Jawabku lemas.
"Kamu harus pulang nak, besok kamu harus masuk sekolah kembali."
Bisa-bisanya aku lupa besok sudah hari senin kembali. Libur sekolah sudah usai, tampaknya tak ada semangat aku untuk masuk sekolah kembali, bagaimana dengan Edo? Siapa yang akan menjaganya ketika aku sekolah. Sungguh membuatku dilema.
"Bu apakah Nara boleh tidak masuk sekolah dulu?"
"Nara sayang, ibu tau kamu khawatir. Ibu yakin Edo tak akan ingin melihatmu seperti ini, kamu harus sekolah apalagi kamu sudah kelas tiga akan banyak ujian sekolah yang harus kamu lewati."
Ibu benar aku tidak boleh sedih murung seperti ini aku harus sekolah agar Edo bangga padaku, namun lagi-lagi siapa yang akan menjaga Edo di sini. Tante Sonya pun tak pernah menjenguk Edo, sekalipun menjenguk itu hanya saat waktu pertama kali Edo dilarikan ke rumah sakit. Aku terdiam begitu lama, sampai tak sadar ada seseorang yang menghampiri aku dan ibu seorang wanita paruh baya.
"Permisi, apakah benar ini dengan nak Nara?" Kata wanita paruh baya.
"Iya saya sendiri, ibu siapa ya?" Merasa heran.
"Saya bibi Boyem pembantu di rumah tuan Edo, saya di suruh nyonya untuk menemani tuan Edo di sini, kebetulan saya baru pulang dari kampung segera kemari."
Ternyata wanita paruh baya itu adalah pembantu di rumah Edo di perintah oleh tante Sonya untuk menjaga Edo. Kebetulan sekali besok aku harus kembali sekolah, aku sedikit agak lega ternyata Edo tak sendiri ada yang menemaninya bibi Boyem, sepertinya dia sangat baik dan sayang pada Edo.
"Aku Nara bi, senang bertemu bibi." Melemparkan senyum.
Dan aku memperkenalkan diri juga ibu.
"Bi aku minta tolong jaga Edo baik-baik yaa, sepulang sekolah aku akan kemari untuk menjenguknya." Ucapku.
"Siap non, bibi akan jaga tuan Edo."
"Gak usah panggil non, Nara saja."
"Iya Nara."
"Bi kalau begitu aku dan ibu akan pergi pulang dulu, bibi baik-baik disini jika ada kabar terbaru tentang Edo segera kabari saya ya bi."
Bibi Boyem hanya mengangguk aku dan ibu lalu pergi meninggalkan ruang tunggu melangkah melintasi lorong rumah sakit hingga akhirnya sampai di pintu depan gerbang rumah sakit. Sudah ada taxi online yang menunggu yang di pesan oleh ibu. Kami pun naik ke dalam taxi untuk pulang. Aku terdiam sesekali sambil melihat pemandangan di jalan, sesekali berpikir tentang kondisi Edo.
...****************...
Esoknya hari pertama aku kembali sekolah setelah dua minggu libur, tak terasa waktu libur yang seharusnya di habiskan dengan bersenang-senang aku hanya menghabiskan waktu di rumah sakit menemani Edo.
"Nara." Sapa Resa.
Aku balik menyapanya lalu menghampiri Resa.
"Gua kira lo gak akan masuk?"
"Gua masuk kok Res. Lagi pula Edo sudah di jaga oleh bibi Boyem."
"Ohh.. syukurlah."
"Lo harus semangat Nara."
Resa berusaha menyemangatiku tapi tetap rasaku masih tertuju pada Edo, semua terasa hampa selama sekolah aku banyak melamun, bahkan ketika guru sedang menerangkan pikiranku terfokus kepada Edo.
Bel istirahat aku memutuskan diam dikelas rasanya malas sekali pergi ke kantin tidak ada gairah sama sekali. Tiba-tiba Roy datang menghampiriku.
"Nara cantik kok lesu banget sih." Tanya Roy.
Aku hanya terdiam pandanganku hanya tertuju pada papan tulis di depan.
"Nara ke kantin sama gua yuk, gua teraktir dah." Berusaha mengajak.
"Gua gak mau ke kantin, kalau lo mau ke kantin pergi aja sana!" Nada ketus.
Roy merasa terlihat aneh melihat tingkahku yang tidak seperti biasanya, baru kali ini dia lihat aku membentaknya. Roy pun langsung pergi tanpa berucap apapun. Aku sadar omonganku barusan seperti mengusirnya, tapi aku tak peduli yang sekarang aku pedulikan adalah Edo.
Bel pulang pun tiba kali ini aku tidak pulang bersama Resa. Resa di jemput oleh Dika naik motor, sekarang aku berjalan pulang sendiri disisi kiri bahu jalan menuju halte aku riuh dalam lamunan langkah demi langkah.
Seseorang pengendara motor dari belakang melintasiku melaju kencang mengenai genangan air. Sehingga menyiprat ke pakaianku.
Aku pun kesal siapa orang itu membawa motor tidak hati-hati. Motor itu pun berhenti tepat di depan halte. Aku segera menghampirinya untuk memberi peringatan.
"Hallo kalau berkendara tuh yang benar gak liat apa ada orang yang lagi jalan." Katakku.
Si pengendara motor pun turun dan membuka helmnya lalu menatapku.
"Cuman kecipratan air doangkan?"
"Ya tapi ini basah kotor lagi, lo taukan hukum pidana melewati genangan air, lo bisa di penjara." Katakku merasa kesal.
"Udah sih lo lebay banget perkara baju kena air doang, mau gua bersihinkan yaudah sini buka baju lo sekarang." Jawab cowok itu.
Aku kesal sekali mendengarkan ucapan cowok itu rasanya ingin ku pelintir mulutnya, bikin emosi saja. Siapa sih dia berlaga seolah paling merasa benar sekali. Seperti tidak pernah di ajarkan sopan santun.
"Jaga ya mulut lo."
"Buang-buang gua disini."
Cowok itu pergi meninggalkan Nara melaju menggunakan motornya. Tampak Nara merasa kesal sekali, bukannya meminta maaf malah pergi begitu saja. Angkot pun datang Nara langsung naik angkot pergi pulang ke rumah.
Setibanya di rumah ibu yang melihatku basah langsung bertanya kepadaku.
"Kamu dari mana kok bisa basah begini." Tanya Ibu.
"Tadi ada pengendara yang tidak tau etika melintasi genangan air lalu kena bajuku." Aku pun menjelaskan apa yang terjadi.
"Ya sudah kamu segera ganti baju lalu makan."
"Baik bu."
Aku beranjak pergi ke kamarku berganti pakaian menggunakan daster pendek yang sangat nyaman lalu membaringkan tubuhku di tempat tidur.Jika mengingat kembali kejadian barusan rasanya aku ingin memukulnya, cowok ngeselin seperti itu tak tau etika.
Seketika itu aku tertidur lelap badan terasa sangat lelah sekali memikirkan keadaan Edo dan menguras emosiku bertemu dengan cowok ngeselin itu.
Ibu masuk ke kamarku untuk membangunkanku yang tertidur. Aku membuka mata melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul lima sore, aku harus ke rumah sakit menjenguk Edo. Ternyata aku tertidur sangat pulas, untung saja ibu membangunkanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments