Puncak konflik Nara

Senja baru saja merangkak menuju ke rembang petang. Dimana Nara mendatangi rumah Resa. Maksud dan tujuan Nara datang kerumah Resa tidak lain ingin menanyakan soal Edo kepada Resa.

"Res anter gua yuk?" Dengan menarik-narik tangan Resa.

"Mau kemana?"

"Gua harus kerumah Edo, sekarang anter gua."

Mulanya Resa keberatan, namun setelah Nara menceritakan kejadiannya mengenai perkelahian itu baru Resa menyadarinya.

Akhirnya kedua gadis itu berangkat ke rumah Edo dalam suasana senja yang menjelang malam. Segumpal perasaan yang mengganjal di hati untuk menemui Edo. Tidak lain perasaan mengenai kejadian tadi perkelahian antara Edo dan Betran.

"Nar lo tau siapa Alexa?" Resa mencoba bertanya berkali-kali pada Nara apakah ia telah mengetahui bahwa Edo pernah menjalin hubungan dengan Alexa. Ternyata Nara hanya terdiam dan menggeleng pelan.

"Kalau lo mau tau, Alexa itu adalah mantan Edo yang sekarang masih berusaha mengharapkan cintanya Edo. Selama ini pergaulan lo sama Alexa itu cuman membawa pengaruh buruk buat lo, agar Edo benci sama lo."

Nara terkaget mendengarkan cerita dari Resa.

"Jadi Alexa mantan Edo? Tapi kenapa Alexa gak pernah bahas soal Edo?"

Kedua gadis itu berjalan berdampingan menuju kerumah Edo yang letaknya tak jauh dari rumah Resa. Senja berganti malam.

" Yaa jelas dong Nara, karena Alexa punya niat buruk sama lo, kalau dia cerita hubungannya sama Edo rencananya gak akan berhasil."

"Lo bener Res, pantesan selama gua jalan sama Alexa gua selalu di bawa ke tempat-tempat yang menjerumuskan gua. Hampir setiap malam gua pergi ke night club sama Alexa, untungnya ibu melarang gua bergaul lagi sama Alexa."

Resa menghela nafas panjang sambil mengumpat dalam hati hati kepada Alexa yang tak tahu diri. Akhirnya mereka berdua telah sampai dirumah Edo.

Mula-mula kedua gadis itu agak ragu memasuki pekarangan rumah mewah yang luas itu dengan taman bunga yang di hiasi kolam ikan yang terlihat indah. Demi cintanya terhadap Edo membuat Nara menjadi nekat.

Pintu pagar halaman yang terbuat dari besi dibuka hingga menimbulkan suara. Kedua gadis itu berjalan memasuki pekarangan rumah itu.

Ibu Edo sedang duduk di ruang tamu sebelah kiri yang bentuknya seperti bar dengan alunan irama musik mengalun diruang itu, dengan perempuan duduk seorang diri memegang gelas.

Melihat kedatangan kedua tamu yang rasanya tak di kenal, ibu Edo tersenyum hambar. Nara dan Resa mengangguk sopan pada perempuan itu yang dapat di tebak pasti ibunya Edo.Wajahnya masih kelihatan cantik.

"Eh Resa ada apa kemari?" Ibunya Edo telah mengenali Resa karena mereka tetanggaan.

"Eh tante kenalin ini temanku namanya Nara." Memperkenalkan Nara pada ibunya Edo.

"Hallo tante saya Nara."

"Ada perlu apa kesini?"

"Edonya ada tante?"

"Edo jarang ada di rumah, ada yang mau di sampaikan kepada Edo."

"Tolong sampaikan kepada Edo tante ada Nara yang mencarinya."

"Okey, kamu siapanya Edo?"

Nara pun bingung untuk menjawabnya di bilang kekasih namun dia belum mengutarakan perasaannya pada Edo. Namun jika sekarang yang di alami seperti pasangan kekasih.

"Saya temennya tante."

"Ohh cantik sekali kamu."

"Terimakasih tante."

Resa mencolek lengan Nara mengisyaratkan untuk pulang.

"Baiklah tante saya mohon pamit." Kata Nara.

"Silahkan."

Perempuan itu mengangguk pada kedua gadis yang berjalan meninggalkan ruang tamu. Nara dan Resa merasa lega dapat sambutan ramah dari ibu Edo.

Dibalik semua itu Nara timbul pertanyaan di dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan keluarga Edo.

Kepingin Nara bertanya pada Resa, namun tiba-tiba mobil sport berhenti persis di samping mereka. Mereka pun menoleh siapa yang ada di dalam mobil itu. Ternyata dia adalah Edo.

"Habis dari mana kalian?" Tanya Edo di dalam mobil.

"Dari rumah lo." Jawab Resa.

"Ayok naik ke dalam mobil gua anterin kalian pulang."

Sambung Edo yang melihat wajah Nara tertunduk. Segera saja kedua gadis itu naik ke dalam mobil, Nara duduk di samping Edo dan Resa di belakang, mobil melaju meninggalkan tempat itu.

Edo mengantarkan Resa terlebih dahulu ke rumahnya, baru kemudian mereka berduaan menuju ke suatu tempat. Edo membawa Nara ke arena pertandingan jalan aspal lapangan terbang yang sudah tak terpakai.

Malam itu cahaya rembulan tidak nampak dilangit karena tertutup oleh awan. Pemandangan di sekitar tempat itu gelap gulita tanpa ada penerangan lampu. Apalagi ketika lampu mobil Edo dimatikan. Nara merasakan sekujur tubuhnya dingin dan gemetar. Apa maksudnya Edo membawanya ke tempatn itu masih menjadi tanda tanya. Bila Nara ingat sekujur tubuhnya gemeteran. Di tempat yang gelap dan sesunyi ini tak mungkin ada orang yang melihat mereka berdua.

Maka Nara hanya pasrah pada Tuhan, semoga saja dia selamat.

"Buat apa kamu bawa aku ke tempat ini?"

Suara Nara bergetar ketakutan, Edo tak menjawab melainkan menghidupkan mesin mobil yang dalam beberapa lama tadi mati. Suara mesin mobil didalam kesunyian malam terdengar lebih keras. Mobil spontan melesat dengan kencang tanpa memperdulikan penumpang yang ada di dalamnya yang ketakutan. Semakin tambah kencang lagi. Hingga Nara melihat jalan yang terbentang di hadapannya berubah bagaikan sehelai benang ditelan roda mobil.

Nara menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya karena ketakutan.

"Edo berhenti! Hentikan mobil ini! Teriak Nara kencang sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.

Ternyata teriakan Nara tak di gumbris Edo ia semakin ketakutan. Dengan Edo terus menambah kecepatan mobilnya, semakin menggila. Kepala Nara pun terasa pusing rasanya ingin muntah.

Mendadak Edo menekan pedal rem kuat-kuat. Tubuh Nara terhuyung ke depan hampir menubruk kaca mobil. Gadis itu ketakutan.

Mobil itu berhenti persis berhenti di batas aspal penghabisan.

"Kamu gila yaa Do." Tarik Nara kencang.

Kedua kupingnya di rasakan seperti budek. Lelaki yang duduk di sampingnya tetap tak memperdulikan. Tiba-tiba mobilnya dilarikan mundur secara gila. Boleh dikata kalau rembulan tampak, jalanan aspal itu bisa terlihat. Tapi cahaya rembulan bersembunyi dibalik awan hitam, jalan aspal yang membujur dibilang sama sekali tak terlihat.

ketakutan Nara semakin melanda terlihat mengalir dari tubunya yang menggiigil.

"Kalau kamu mau bunuh aku jangan kaya gini!!" Tegas Nara berteriak.

Edo tetap fokus kejalanan yang membujur di belakangya.

Sementara Nara ada dalam ketegangan yang semakin memuncak. Tangan Nara berpegangan kuat pada tali pengaman. Ketika Edo menginjak rem secara mendadak, Nara tidak terkejut lagi. Mobil yang melaju kencang berhenti di tempat semula, di matikanlah mesin mobil itu. Nara membuka kedua telapak tangannya secara perlahan. Wajah gadis itu terlihat pucat di tekan rasa ketakutan yang sangat menegangkan, baru kali ini ia merasa setakut itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!