Kecemasan Nara

Sekembali aku ke ruang tunggu, di sana sudah ada Resa.

"Lo udah dapet kabar?" Tanya Resa.

Aku mengangguk. "Edo di ruang operasi."

"Kondisinya bagaimana?"

"Dia masih hidup." Bisikku.

Aku duduk di samping Resa, sekarang masih terlalu cepat untuk mengetahui apapun.

Resa mengulurkan tangannya padaku menarik tissue dari sekian banyak kotak tissue yang bertebaran di tengah ruangan ini. Menyodorkannya padaku.

Kami duduk dalam kebisuan. Kupejamkan mata, memikirkan ulang percakapanku dengan dokter tadi. Adakah petunjuk dalam rautnya? Dalam suaranya? Aku tau dia mengetahui lebih banyak dari apa yang disampaikannya kepadaku. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Edo? Aku tak sanggup untuk memikirkannya. Edo pasti baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja.

Ayah dan Ibu tiba di lorong rumah sakit berjalan menghampiriku, aku mendongak lalu berdiri. Ibu memelukku dengan erat, melihat raut wajahnya yang sangat mencemaskanku.

"Nara kamu tak apa-apa?" Tanya ibu khawatir.

"Nara baik-baik saja." Berusaha menenangkannya.

"Tadi ibu dapat telpon dari Resa, mengabari kamu kecelakaan segeralah ibu ke rumah sakit. Luka mu harus di obati kembali Nara."

"Iya bu nanti akan ku obati."

Aku tak ingin melihat ibu dan ayah cemas melihat kondisiku yang sekarang mengalami geger otak. Aku pasti bisa mengatasi semuanya yang ku pikirkan saat ini adalah kabar Edo.

"Edo bagaimana?" Tanya ayah.

"Edo di ruang operasi yah." Jawabku

"Kita pulang ya nak, kita istirahat di rumah." Ajak ayah.

"Aku harus menjaga Edo yah, kasian dia sendirian. Tolong izinkan Nara untuk menemani Edo yah." Aku memohon agar Ayah mengizinkanku tetap disini.

Ayah dan Ibu saling bertatapn mengisyaratkan apakah mereka akan mengizinkanku disini.

"Om Tante, tenang saja ada saya disini untuk menemani Nara. Tidak usah cemas." Sahut Resa.

"Oke baiklah ayah izinkan kamu disini, tapi selalu kabari ayah dan ibu jika terjadi sesuatu." Ayah setuju.

"Ibu akan menyiapkan bajumu nanti ibu kirim menggunakan ojek online."

"Terimakasih Ayah Ibu."

Aku memeluk mereka berdua betapa beruntungnya aku di beri orang tua yang sayang padaku. Mereka mengelus rambutku, aku sangat sayang pada ayah dan ibu mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

"Yaudah Ayah dan Ibu pulang dulu."

"Kamu baik-baik disini, jangan lupa luka mu di bersihkan."

"Siap ayah."

Ayah dan Ibu meninggalkanku mereka beranjak pergi pulang.

"Nara gua harus balik dulu." Ujar Resa.

"Iya Res, gak apa-apa."

"Lo gak apa-apa gua tinggal sendiri?"

"Gak apa-apa."

"Nanti gua balik lagi ke sini, ini minuman lo."

"Terimakasih."

Resa pun pergi.

Sekarang aku sendirian. Kupejamkan mata dan menyandarkan kepalaku ke dinding. Kuhela napas dalam-dalam beberapa kali, namun tekanan dalam dadaku terus membesar semakin membesar.

Ku cob membendung semua itu. Kucoba memendam semua kesesakan itu, seperti yang dilakukan Edo, aku tak sanggup.

Kuangkat kedua tanganku ke wajah, dan seketika tangisku pun pecah. Bukan hanya menangis, aku tersedu-sedu, meraung, menjerit.

Seketika perawat menghampiriku dia seolah khawatir melihat keadaanku.

"Saya antarkan anda ke ruang istirahat, sepertinya anda sangat lelah sekali. Akan saya bantu bersihkan lukanya." Ucap perawat.

Aku mendongak berdiri seolah menuruti apa yang di katakan perawat. Di membantuku berdiri lalu kami berjalan ke ruang perawatan.

Aku baringkan tubuhku di kasur rumah sakit sesekali aku menghela napas panjang karena sedari tadi hatiku gundah gulana.

Perawat itu pun keluar setelah selesai mengobati lukaku. Aku pergi ke kamar mandi, memercikan air ke wajahku, ketika kudengar seseorang berbicara di depan pintu. Kuayun buka pintu kamar mandi untuk mengetahui apakah itu dokter, tapi ternyata bukan itu Resa sudah kembali ke rumah sakit tapi kini tak sendiri dia ditemani Dika kekasihnya. Aku langsung keluar dari kamar mandi menghampiri mereka berdua.

"Lo gak apa-apa Nar?"

"Gua baik-baik aja."

"Hai Nara." Sapa Dika.

Aku hanya tersenyum membalas sapaan Dika. Aku rebahkan kembali tubuhku. Sedangkan Resa dan Dika duduk di kursi. Resa membawakanku makanan yang dia beli tadi di jalan sebelum kembali ke rumah sakit. Aku pun menyantap makanan yang di bawa Resa, walaupun lidah perasaku sedang tak karuan semua terasa hambar di mulut, ku coba menelannya walau sedikit.

Kesadaranku mulai terhanyut ke alam tidur.

Aku sudah tertidur saat seseorang mengguncang-guncang bahuku, aku tersentak bangkit dan mengedarkan pandang, berharap ada seseorang yang datang membawa kabar baik.

"Nara lo garus ganti baju."

Kuturunkan tatapanku ke arlojiku, sekarang sudah pukul enam pagi. Mengapa tim dokter belum memberiku kabar apapun. Aku menurunkan kakiku dan berjalan ke pintu kamar mandi untuk mengganti pakaian.

Setelah selesai mengganti pakaian aku pun duduk di samping Resa. Dika datang menghampiri kami sambil membawa makanan sarapan pagi untuk kami. Kami pun sarapan bersama.

Aku keluar dari ruang perawatan beranjak pergi ke ruang IGD guna mengetahui informasi tentang keadaan Edo. Dokter Erwin pun keluar lalu pergi masuk ke ruang tunggu.

"Nara silahkan ikut saya." Dokter Erwin menyentakkan kepalanya ke arah lorong.

Dokter Erwin baru mengatakan sesuatu setelah kami tiba di ujung lorong. Aku terpaksa menompang tubuhku dengan bersandar ke dinding, karena aku merasa hendak pingsan.

"Dia berhasil melewati operasi, tapi kami belum bisa menyimpulkan kepastian apa pun. Perdarahannya banyak. Ada pembengkakan juga. Sudah saya lakukan tindakan yang saya bisa tanpa perlu membuang sedikit pun tulang tengkoraknya. Sekarang yang hanya bisa kita lakukan adalah terus berusaha, berdo'a dan menunggu."

Jantungku berdegup kencang. Rasanya sulit menerima kenyataan, sementara ada banyak pertanyaan di ujung lidahku.

"Kita masih harus menunggu apalagi? Jika dia berhasil bertahan, apalagi bahaya yang kemungkinan akan terjadi?"

Dokter Erwin bersandar ke dinding di sebelahku. Kami sama-sama memandangi kaki masing-masing, sikapnya hampir terkesan seolah mencoba menghindari keharusan menatap ke dalam mataku.

"Otak adalah organ yang paling rentan dalam tubuh manusia, sayangnya kami tidak bisa memastikan letak tepatnya cedera yang diderita seseorang hanya dengan melihat hasil scan. Ini lebih seperti sebuah permainan menunggu, yang hanya bisa kami lakukan untuk saat ini adalah membiusnya. Semoga besok pagi kami sudah punya lebih banyak informasi tentang situasi yang di hadapi."

"Boleh aku menengoknya?"

Dokter Erwin menghela napasnya.

"Sekarang belum bisa. Dia masih dalam tahap pemulihan sampai sepanjang malam nanti. Saya akan kabari kamu secepatnya."

Dokter Erwin menegakkan tubuh lalu memasukan tangannya ke saku jas labnya.

"Apakah ada pertanyaan lain?"

Kutatap mata dokter Erwin "Banyak sekali." Sahutku.

Dokter Erwin menanggapi seolah jawabanku barusan bersifat retoris dan dia pun beranjak pergi, meninggalkanku.

Aku terdiam dan seolah-olah tak mengerti harus bersikap seperti apa setelah mengetahui keadaan Edo yang cukup parah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!