*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Rempak Tujuh! Hukum apa ini? Kami yang menjadi korban, kenapa kami yang ditangkap?!” teriak anak mendiang Menteri Aduh Mantang yang seorang gadis seumuran Putri Ani Saraswani. Namanya Enting Dedes. Dia termasuk sahabat sang putri, sama seperti Badira putri Menteri Badaragi.
Enting Dedes sangat marah kepada tim investigasi dari Istana pimpinan Rempak Tujuh, karena ia, keluarganya, para prajurit kediamannya justru ditahan dan kini sudah dalam kondisi tangan dibelenggu.
Berbeda dengan istri mendiang Menteri Aduh Mantang serta Ketua Keamanan Rumah Menteri Wuwuk Degar dan pasukannya, mereka hanya pasrah karena tahu memang seperti itulah hukumnya.
“Seharusnya kalian mencari pembunuh itu secepatnya, bukan justru mencurigai kami!” teriak Enting Dedes lagi kepada Rempak Tujuh.
Memang, wanita pembunuh yang menyerang tadi malam berhasil meloloskan diri. Karena tidak berhasil menangkap atau membunuh pembunuh wanita itu, dua pendekar pengawal sang menteri, yaitu Toh Gaji dan Kumila memilih melarikan diri. Mereka tidak mau dipenjara karena kesalahan yangn tidak mereka lakukan. Kini sepasang kekasih itu berstatus buronan Kerajaan.
“Jaga bicaramu, Enting! Jangan sampai aku menganggapmu menentang hukum Pasir Langit!” hardik Rempak Tujuh mengancam.
Rempak Tujuh yang menjabat sebagai Kepala Selidik Istana adalah seorang lelaki berusia kepala empat. Perawakannya biasa saja dengan dada yang rata dan lengan tidak keras-keras amat, tetapi lelaki gondrong lurus itu terkenal cerdas. Meski cerdas, tetapi tetap saja dia menjunjung tinggi hukum yang berlaku di kerajaan itu.
Terdiam Enting diancam seperti itu.
“Jangan melawan, Nak. Jika pembunuhnya tertangkap, kita akan dibebaskan,” kata sang ibu kepada putrinya.
Sementara di sisi belakang, para pelayan perempuan hanya bisa menangis sedih. Mereka tidak pernah bermimpi atau bercita-cita akan menginap di dalam penjara.
“Tapi kita akan disiksa saat mereka mengorek jawaban dari kita, Bu,” ucap Enting Dedes ingin menangis.
Sang ibu tidak bisa menjawab.
“Bawa semuanya ke penjara!” teriak Rempak Tujuh.
Maka mulailah Pasukan Kaki Gunung menggiring Wuwuk Degar dan pasukannya dalam kondisi kedua tangan terbelenggu rantai panjang, sehingga mereka sambung-menyambung menjadi satu rangkaian.
Sementara keluarga menteri dan para pelayannya menjadi rangkaian sendiri.
Mereka semua digiring berjalan kaki keluar dari kediamannya. Mereka harus menahan rasa malu karena menjadi tontonan warga Ibu Kota. Mereka semua digiring menuju ke Penjara Kayu Hitam, yaitu penjara kayu milik Kerajaan Pasir Langit yang antiapi.
Di saat keluarga mendiang Menteri Ketahanan Pangan digiring di jalanan, dari jauh tampak Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila menyaksikan dari atas kudanya.
“Apakah si pembunuh murni hendak membunuh Paman Aduh Mantang atau memiliki tujuan lain?” tanya Putri Ani Saraswani.
“Biar nanti aku perintahkan orang-orangku untuk mencari keterangan tentang pembunuhan itu,” jawab Rincing Kila. “Lebih baik kita pergi ke Muara Jerit, Gusti.”
“Ayo!” ajak Putri Ani Saraswani.
Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Mereka memang hanya ingin melihat Enting Dedes lewat.
Di timur Ibu Kota ada sebuah muara. Di sisi darat yang terhubung dengan ibu kota Digdaya ada sebuah Rumah Makan Muara Jerit, sebuah rumah makan mewah milik kerajaan. Pelanggan dari rumah makan ini kebanyakan pejabat dan bangsawan, orang kaya dan para pendekar yang punya banyak uang. Itu karena jenis makanannya memang berharga mahal, bisa dua kali lipat dari harga makanan rumah makan biasa di Ibu Kota.
Rumah makan itu menyediakan pemandangan muara dan lautan lepas. Angin laut membuat suasana siang pun terasa adem. Separuh dari bangunannya berdiri di atas air, bahkan ada tempat makan apungnya yang berbentuk perahu, tetapi ada meja dan atapnya.
Di seberang muara adalah hutan. Dari sana sering terdengar jeritan nyaring dari sekawanan monyet bibir putih yang kelak di masa datang akan punah spesiesnya. Karena jeritan-jeritan monyet itulah sehingga muara tersebut dikenal dengan nama Muara Jerit.
Sebagai kawasan elit yang sering dikunjungi para pejabat Istana dan Ibu Kota, tempat itu menerapkan sistem keamanan yang cukup ketat, termasuk keberadaan keamanan dari kalangan pendekar. Jadi jangan heran jika ke mana mata memandang, maka akan terlihat keberadaan prajurit penjaga.
Selain memiliki saham dua puluh lima persen, Putri Ani Saraswani juga bertindak sebagai satu-satunya pemasok ikan perut emas.
Datang ke Rumah Makan Muara Jerit adalah kegiatan rutinitas yang dilakukan oleh sang putri. Biasanya dua hari sekali. Dia bahkan sering mengawasi langsung pengiriman ikan dan penerimaannya di rumah makan, bertujuan untuk menutup peluang terjadinya kasus penyelewengan. Masa perjalanan dari tempat penangkaran ikan hingga ke rumah makan adalah masa yang tidak diawasi langsung, hanya mengandalkan kepercayaan. Jadi ketika pengiriman tiba, sering kali Putri Ani yang mengecek langsung.
Para prajurit jaga segera menjura hormat melihat kedatangan sang putri.
Saat memasuki rumah makan yang luas itu, tiba-tiba Rincing Kila berbisik kepada junjungannya.
“Gusti Putri, lihat!” tunjuk Rincing Kila pada satu arah.
Putri Ani Saraswani segera memandang ke arah tunjukan pengawalnya. Terbeliak Putri Ani ketika melihat satu sosok wanita berambut panjang terurai dan berbaju merah sedang duduk di sisi sebuah meja seorang diri. Sosok wanita itu seorang diri duduk menghadap ke arah muara.
“Itu si Joko tukang kayu?” tanya Putri Ani kepada pengawalnya.
“Sepertinya,” jawab Rincing Kila.
“Kenapa selalu bertemu? Apakah Joko itu mengikutiku?” tanya Putri Ani geer.
“Seharusnya Gusti Putri yang perlu dipertanyakan, apakah Gusti mengikuti Joko,” kata Rincing Kila.
“Kau ini!” hardik pelan Putri Ani Saraswani.
“Apakah kita lebih baik pulang?” tanya Rincing Kila.
“Kenapa harus pulang?” tanya sang putri dengan kening mengerut serius.
“Menghindari pemuda berbibir merah itu,” jawab Rincing Kila sambil tersenyum menggoda junjungannya.
Bagi Rincing Kila, melihat junjungannya itu jatuh hati kepada lelaki lain adalah hal yang membahagiakannya. Sebenarnya dia tidak suka jika sang putri terus bertahan mencintai pemuda yang masih mati, terlebih Agi Lodya tidak mungkin akan hidup lagi.
“Ada urusan apa dengan dia? Urusanku adalah ingin menenangkan diri,” tandas Putri Ani.
“Menenangkan diri dari memikirkan Joko?” terka Rincing Kila masih menggoda.
“Kematian Paman Aduh Mantang mengganggu pikiranku,” sanggah Putri Ani dengan lirikan kesal.
“Hormatku, Gusti Putri!” ucap seorang lelaki separuh baya berpakaian bagus yang datang, lalu menjura hormat secukupnya kepada Putri Ani Saraswani.
“Paman, bukankah kalian belum waktunya buka, tetapi kenapa sudah menerima pengunjung?” tanya Putri Ani sambil memandang ke arah punggung Joko Tenang yang terlihat sangat perempuan jika dilihat dari belakang.
“Oooh itu. Kami sudah menolak, tetapi karena dia tamu di Ibu Kota dan sangat ingin merasakan makanan pepes telur ikan perut emas, jadi kami mengizinkannya untuk menunggu sampai kami buka. Katanya pemandangan di sini sangat indah, jadi pendekar itu ingin menikmatinya,” kilah lelaki berkumis bernama Pantri Ewa, orang yang dipercaya Prabu Galang Digdaya untuk menjalankan operasional rumah makan tersebut.
“Tidak biasanya Gusti Putri datang sepagi ini? Apakah ada pengiriman ikan yang tidak aku ketahui?” tanya Pantri Ewa.
“Kau sudah dengar kematian Menteri Aduh Mantang, Paman?” tanya Putri Ani.
“Sudah, Gusti,” jawab Pantri Ewa.
“Pembunuhannya mengganggu pikiranku. Aku hanya ingin menenangkan pikiran,” kata Putri Ani.
“Silakan, Gusti. Nanti aku akan kirimkan minuman segar,” kata Pantri Ewa. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
aneh ya itu peraturan masa semuanya dipenjara
2023-09-08
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
bunga mekar wat othor🌹🤭
2023-09-06
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
laaahhhh, lari aja lah kalian, pergi ke negri lain, hidup bahagia, punya anak banyak, dari pada jadi pendekar, yg laki kerja yg bener dah ya buat masa depan anak2 lu😪
2023-09-06
1