Pemuji 20: Muara Jerit

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

“Rempak Tujuh! Hukum apa ini? Kami yang menjadi korban, kenapa kami yang ditangkap?!” teriak anak mendiang Menteri Aduh Mantang yang seorang gadis seumuran Putri Ani Saraswani. Namanya Enting Dedes. Dia termasuk sahabat sang putri, sama seperti Badira putri Menteri Badaragi.

Enting Dedes sangat marah kepada tim investigasi dari Istana pimpinan Rempak Tujuh, karena ia, keluarganya, para prajurit kediamannya justru ditahan dan kini sudah dalam kondisi tangan dibelenggu.

Berbeda dengan istri mendiang Menteri Aduh Mantang serta Ketua Keamanan Rumah Menteri Wuwuk Degar dan pasukannya, mereka hanya pasrah karena tahu memang seperti itulah hukumnya.

“Seharusnya kalian mencari pembunuh itu secepatnya, bukan justru mencurigai kami!” teriak Enting Dedes lagi kepada Rempak Tujuh.

Memang, wanita pembunuh yang menyerang tadi malam berhasil meloloskan diri. Karena tidak berhasil menangkap atau membunuh pembunuh wanita itu, dua pendekar pengawal sang menteri, yaitu Toh Gaji dan Kumila memilih melarikan diri. Mereka tidak mau dipenjara karena kesalahan yangn tidak mereka lakukan. Kini sepasang kekasih itu berstatus buronan Kerajaan.

“Jaga bicaramu, Enting! Jangan sampai aku menganggapmu menentang hukum Pasir Langit!” hardik Rempak Tujuh mengancam.

Rempak Tujuh yang menjabat sebagai Kepala Selidik Istana adalah seorang lelaki berusia kepala empat. Perawakannya biasa saja dengan dada yang rata dan lengan tidak keras-keras amat, tetapi lelaki gondrong lurus itu terkenal cerdas. Meski cerdas, tetapi tetap saja dia menjunjung tinggi hukum yang berlaku di kerajaan itu.

Terdiam Enting diancam seperti itu.

“Jangan melawan, Nak. Jika pembunuhnya tertangkap, kita akan dibebaskan,” kata sang ibu kepada putrinya.

Sementara di sisi belakang, para pelayan perempuan hanya bisa menangis sedih. Mereka tidak pernah bermimpi atau bercita-cita akan menginap di dalam penjara.

“Tapi kita akan disiksa saat mereka mengorek jawaban dari kita, Bu,” ucap Enting Dedes ingin menangis.

Sang ibu tidak bisa menjawab.

“Bawa semuanya ke penjara!” teriak Rempak Tujuh.

Maka mulailah Pasukan Kaki Gunung menggiring Wuwuk Degar dan pasukannya dalam kondisi kedua tangan terbelenggu rantai panjang, sehingga mereka sambung-menyambung menjadi satu rangkaian.

Sementara keluarga menteri dan para pelayannya menjadi rangkaian sendiri.

Mereka semua digiring berjalan kaki keluar dari kediamannya. Mereka harus menahan rasa malu karena menjadi tontonan warga Ibu Kota. Mereka semua digiring menuju ke Penjara Kayu Hitam, yaitu penjara kayu milik Kerajaan Pasir Langit yang antiapi.

Di saat keluarga mendiang Menteri Ketahanan Pangan digiring di jalanan, dari jauh tampak Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila menyaksikan dari atas kudanya.

“Apakah si pembunuh murni hendak membunuh Paman Aduh Mantang atau memiliki tujuan lain?” tanya Putri Ani Saraswani.

“Biar nanti aku perintahkan orang-orangku untuk mencari keterangan tentang pembunuhan itu,” jawab Rincing Kila. “Lebih baik kita pergi ke Muara Jerit, Gusti.”

“Ayo!” ajak Putri Ani Saraswani.

Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Mereka memang hanya ingin melihat Enting Dedes lewat.

Di timur Ibu Kota ada sebuah muara. Di sisi darat yang terhubung dengan ibu kota Digdaya ada sebuah Rumah Makan Muara Jerit, sebuah rumah makan mewah milik kerajaan. Pelanggan dari rumah makan ini kebanyakan pejabat dan bangsawan, orang kaya dan para pendekar yang punya banyak uang. Itu karena jenis makanannya memang berharga mahal, bisa dua kali lipat dari harga makanan rumah makan biasa di Ibu Kota.

Rumah makan itu menyediakan pemandangan muara dan lautan lepas. Angin laut membuat suasana siang pun terasa adem. Separuh dari bangunannya berdiri di atas air, bahkan ada tempat makan apungnya yang berbentuk perahu, tetapi ada meja dan atapnya.

Di seberang muara adalah hutan. Dari sana sering terdengar jeritan nyaring dari sekawanan monyet bibir putih yang kelak di masa datang akan punah spesiesnya. Karena jeritan-jeritan monyet itulah sehingga muara tersebut dikenal dengan nama Muara Jerit.

Sebagai kawasan elit yang sering dikunjungi para pejabat Istana dan Ibu Kota, tempat itu menerapkan sistem keamanan yang cukup ketat, termasuk keberadaan keamanan dari kalangan pendekar. Jadi jangan heran jika ke mana mata memandang, maka akan terlihat keberadaan prajurit penjaga.

Selain memiliki saham dua puluh lima persen, Putri Ani Saraswani juga bertindak sebagai satu-satunya pemasok ikan perut emas.

Datang ke Rumah Makan Muara Jerit adalah kegiatan rutinitas yang dilakukan oleh sang putri. Biasanya dua hari sekali. Dia bahkan sering mengawasi langsung pengiriman ikan dan penerimaannya di rumah makan, bertujuan untuk menutup peluang terjadinya kasus penyelewengan. Masa perjalanan dari tempat penangkaran ikan hingga ke rumah makan adalah masa yang tidak diawasi langsung, hanya mengandalkan kepercayaan. Jadi ketika pengiriman tiba, sering kali Putri Ani yang mengecek langsung.

Para prajurit jaga segera menjura hormat melihat kedatangan sang putri.

Saat memasuki rumah makan yang luas itu, tiba-tiba Rincing Kila berbisik kepada junjungannya.

“Gusti Putri, lihat!” tunjuk Rincing Kila pada satu arah.

Putri Ani Saraswani segera memandang ke arah tunjukan pengawalnya. Terbeliak Putri Ani ketika melihat satu sosok wanita berambut panjang terurai dan berbaju merah sedang duduk di sisi sebuah meja seorang diri. Sosok wanita itu seorang diri duduk menghadap ke arah muara.

“Itu si Joko tukang kayu?” tanya Putri Ani kepada pengawalnya.

“Sepertinya,” jawab Rincing Kila.

“Kenapa selalu bertemu? Apakah Joko itu mengikutiku?” tanya Putri Ani geer.

“Seharusnya Gusti Putri yang perlu dipertanyakan, apakah Gusti mengikuti Joko,” kata Rincing Kila.

“Kau ini!” hardik pelan Putri Ani Saraswani.

“Apakah kita lebih baik pulang?” tanya Rincing Kila.

“Kenapa harus pulang?” tanya sang putri dengan kening mengerut serius.

“Menghindari pemuda berbibir merah itu,” jawab Rincing Kila sambil tersenyum menggoda junjungannya.

Bagi Rincing Kila, melihat junjungannya itu jatuh hati kepada lelaki lain adalah hal yang membahagiakannya. Sebenarnya dia tidak suka jika sang putri terus bertahan mencintai pemuda yang masih mati, terlebih Agi Lodya tidak mungkin akan hidup lagi.

“Ada urusan apa dengan dia? Urusanku adalah ingin menenangkan diri,” tandas Putri Ani.

“Menenangkan diri dari memikirkan Joko?” terka Rincing Kila masih menggoda.

“Kematian Paman Aduh Mantang mengganggu pikiranku,” sanggah Putri Ani dengan lirikan kesal.

“Hormatku, Gusti Putri!” ucap seorang lelaki separuh baya berpakaian bagus yang datang, lalu menjura hormat secukupnya kepada Putri Ani Saraswani.

“Paman, bukankah kalian belum waktunya buka, tetapi kenapa sudah menerima pengunjung?” tanya Putri Ani sambil memandang ke arah punggung Joko Tenang yang terlihat sangat perempuan jika dilihat dari belakang.

“Oooh itu. Kami sudah menolak, tetapi karena dia tamu di Ibu Kota dan sangat ingin merasakan makanan pepes telur ikan perut emas, jadi kami mengizinkannya untuk menunggu sampai kami buka. Katanya pemandangan di sini sangat indah, jadi pendekar itu ingin menikmatinya,” kilah lelaki berkumis bernama Pantri Ewa, orang yang dipercaya Prabu Galang Digdaya untuk menjalankan operasional rumah makan tersebut.

“Tidak biasanya Gusti Putri datang sepagi ini? Apakah ada pengiriman ikan yang tidak aku ketahui?” tanya Pantri Ewa.

“Kau sudah dengar kematian Menteri Aduh Mantang, Paman?” tanya Putri Ani.

“Sudah, Gusti,” jawab Pantri Ewa.

“Pembunuhannya mengganggu pikiranku. Aku hanya ingin menenangkan pikiran,” kata Putri Ani.

“Silakan, Gusti. Nanti aku akan kirimkan minuman segar,” kata Pantri Ewa. (RH)

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

aneh ya itu peraturan masa semuanya dipenjara

2023-09-08

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

bunga mekar wat othor🌹🤭

2023-09-06

1

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

laaahhhh, lari aja lah kalian, pergi ke negri lain, hidup bahagia, punya anak banyak, dari pada jadi pendekar, yg laki kerja yg bener dah ya buat masa depan anak2 lu😪

2023-09-06

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!