Pemuji 18: Pembunuh Gelap

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

Malam itu, bukan Kalawit saja yang menjalan misi rahasia, tetapi ada juga seorang wanita yang berlari di dalam kegelapan. Diketahui bahwa dia seorang wanita karena siluetnya mencirikan wanita yang berdada dan berambut panjang, saat melintas di bawah cahaya obor yang dipasang di beberapa titik pinggir jalan. Sosok wanita itu menyandang senjata pedang di punggungnya.

Dia berlari terus secara senyap menuju ke suatu tempat yang sepertinya sudah dia tahu.

Singkat cerita.

Wanita itu sampai di samping sebuah kediaman besar berpagar papan tebal setinggi leher, tetapi pada bagian atasnya ada bentangan kawat berduri. Rupanya pada masa itu sudah ada model kawat berduri, tentunya tidak sekeren zaman masa depan. Adanya beberapa obor penerang yang dipasang di beberapa titik di atas pagar, membuat kawat itu terlihat.

Jika melihat adanya dua prajurit berjaga di depan pintu pagar yang tertutup, sepertinya itu rumah orang penting atau pejabat kerajaan.

Wanita berpakaian serba hitam itu bersembunyi di balik pagar samping. Dia mengintip dua prajurit yang berjaga.

Dia kemudian bergerak senyap dengan merapatkan punggungnya ke pagar, berlindung di dalam kegelapan. Wanita yang mencoret wajahnya warna hitam itu kian mendekati posisi kedua prajurit yang berjaga disiplin karena berdiri seperti patung.

Tak!

Suara sebatang ranting kecil yang patah diinjak oleh si wanita, sontak membuat kedua prajurit itu menengok serentak.

Set!

“Akh! Akh!” jerit kedua prajurit itu, saat tahu-tahu leher dan wajah mereka ditancapi sesuatu.

Namun, setelah menjerit, kedua prajurit itu tumbang tanpa nyawa. Cahaya obor di depan gerbang memperlihatkan, benda yang menancap adalah logam pipih segitiga.

Untuk mengirit senjata, wanita itu pergi mencabut kembali senjata rahasianya dan mengelapnya di baju korbannya.

Cklek!

Si wanita muka hitam agak terkejut mendengar suara di pintu gerbang yang tertutup. Dia segera mencabut pedangnya dan merapat ke gerbang.

Pintu itu terbuka, tapi hanya sedikit. Ada satu wajah prajurit yang melongok tegang untuk melihat situasi di luar. Dia terkejut melihat kedua rekannya sudah bersimbh darah pada wajah dan leher.

Set!

“Hekr!” erang pemilik wajah ketika tahu-tahu ada seseorang muncul dari samping dan menusuknya dengan pedang.

Ketika si wanita mencabut pedangnya, prajurit ketiga itupun roboh dan badannya mendorong pintu sehingga terbuka lebih lebar.

Ternyata kejadian di gerbang itu terlihat oleh seorang prajurit yang berjaga di area dalam pekarangan rumah kayu besar tersebut. Prajurit itupun kemudian melihat ada seorang wanita bersosok hitam bergerak masuk ke dalam halaman.

Prajurit yang posisinya jauh dari pintu pagar, cepat berlari ke depan rumah kayu besar yang mewah, yang di bawahnya ada kolam-kolam ikan.

Tong tong tong otong...!

Prajurit itu memukulkan sarung pedangnya ke sebuah kentongan kayu yang menggantung.

Suara kentongan yang dipukul bertalu-talu itu jelas mengejukan seisi area rumah tersebut. Terbukti, sejumlah lelaki berpakaian prajurit bersenjata pedang muncul dari beberapa sisi rumah.

Tidak berapa lama, pintu-pintu utama rumah terbuka dan keluarlah sejumlah lelaki dan wanita. Para wanita bertelanjang bahu, sedangkan para lelaki bertelanjang dada. Tidak sebaliknya. Maklum, mereka dalam kondisi sedang tidur saat dibangunkan oleh kebisingan suara kentongan yang dipukuli, padahal dia tidak bersalah.

“Prajurit di pintu dibunuh oleh seorang wanita!” teriak prajurit yang menjadi saksi kematian rekannya.

Satu orang lelaki berbadan kekar tapi tidak berbaju, segera berlari menuju ke pintu gerbang. Dia diikuti oleh belasan prajurit berseragam cokelat-kuning. Namun, sosok wanita berpakaian hitam sudah tidak terlihat.

“Ada apa ini, Jaroan?” tanya seorang lelaki berusia separuh baya berkepala botak separuh di depan. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain sarung. Di lehernya melingkar kalung emas besar.  Lelaki berkumis tebal itu adalah pemilik rumah besar tersebut. Dia adalah Aduh Mantang, Menteri Ketahanan Pangan Kerajaan Pasir Langit.

“Ada wanita yang membunuh prajurit penjaga pintu depan, Gusti Menteri,” jawab prajurit pemukul kentongan.

“Jaroan! Di mana pembunuhnya?!” teriak lelaki kekar yang tidak berbaju, yang memimpin para prajurit di pintu gerbang. Mereka sudah melihat kondisi tiga mayat prajurit.

“Tadi ada di sana, Ketua!” jawab prajurit bernama Jaroan dengan berteriak pula.

“Cepat periksa semua tempat! Dia pasti bersembunyi!” teriak Menteri Aduh Mantang.

“Periksa di luar pagar dan di dalam!” perintah lelaki kekar yang adalah Ketua Keamanan Rumah Menteri, namanya Wuwuk Degar.

Setiap rumah menteri memang memiliki Keamanan Rumah Menteri yang terdiri dari tiga puluh prajurit.

Para prajurit itu segera memecah kelompok, ada yang segera memeriksa ke sekeliling luar pagar, ada yang pergi memeriksa sisi kanan kediaman itu, dan ada yang memeriksa sisi kiri.

Di saat para prajurit sibuk mencari orang yang mencurigakan di kediaman itu, Wuwuk Degar mencari dua orang yang tidak muncul di dalam kondisi panik dan tegang itu.

“Di mana Toh Gaji dan Kumila?!” teriak Wuwuk Degar yang terlihat marah dengan situasi itu. “Jaroan, Kutung, lindungi Gusti Menteri!”

“Siaaap!” teriak Jaroan tegang. Dia dan rekannya yang bernama Kutung segera bergeser ke dekat Aduh Mantang.

Dari salah satu gang dua bangunan kayu, muncul seorang pemuda dan wanita yang berpakaian pendekar. Yang lelaki lumayan tampan dan yang perempuan lumayan cantik.

“Toh Gaji! Kumila! Situasi sedang gawat, kalian malah berkuda malam!” teriak Wuwuk Degar menghardik sepasang anak muda itu.

“Jaga mulutmu, Wuwuk!” tunjuk pemuda yang bernama Toh Gaji mendelik marah. Dia tersinggung dituduh tidak sesuai faktanya. “Justru kalian yang ribut di saat kami sedang berkuda malam!”

“Tugas kalian melindungi Gusti Menteri!” teriak Wuwuk Degar yang masih berdiri di dekat gerbang pagar.

Di saat dua lelaki itu sedang perang mulut, tiba-tiba dari atap, tepatnya di atas posisi sang menteri, sesosok tubuh berpakaian serba hitam berkelebat turun ke depan teras rumah. Munculnya gerakan itu mengejutkan Wuwuk Degar, Toh Gaji dan Kumila.

Kemunculan bayangan hitam yang turun dari atas atap mengejutkan Menteri Aduh Mantang dan semua orang yang ada di sekitarnya.

“Awas, Gustiii!” teriak Wuwuk Degar dan Toh Gaji sambil berlari ke arah teras rumah utama.

Sosok yang tidak lain adalah pembunuh ketiga prajurit di gerbang, langsung melesatkan beberapa senjata rahasianya.

Set!

“Akh! Akh!”

Jaroan dan rekannya Kutung tumbang dengan dahi dan leher ditancapi logam pipih segitiga. Ada pula senjata rahasia yang menyerang Aduh Mantang dan menancap di dada kanan sang menteri.

“Aaa!” Para wanita yang ada tidak jauh dari posisi serangan itu berjeritan sambil berlari masuk ke dalam rumah.

“Gusti Menteriii!” teriak Wuwuk Degar, Toh Gaji dan Kumila bersamaan sambil berlari cepat ke posisi serangan.

Sambil melesatkan senjata rahasianya, wanita bermuka hitam juga melesat maju ke arah Menteri Aduh Mantang.

Sambil menahan sakit pada dadanya, sang menteri bergerak melancarkan tinju kerasnya. Namun, kemampuan sang menteri tidaklah sebanding dengan pendekar wanita itu. Dengan mudah penyerang gelap mementahkan pukulan Menteri Aduh Mantang sambil dengan gerakan cepat dia meloloskan pedangnya dan menusuk perut gendut sang menteri.

“Akkr!” erang sang menteri mengejang menahan sakit yang begitu menusuk perasaannya.

“Gusti Menteriii!” teriak Wuwuk Degar, Toh Gaji dan Kumila lagi bersamaan.

Pada saat itu, ketiganya tiba dan langsung menyerang ke arah wanita berwajah hitam.

Set!

Pendekar wanita menyambut ketiga orang itu dengan kibasan pedangnya yang baru dicabut dari perut Menteri Aduh Mantang. Kibasan pedang itu membuat ketiga prajurit sang menteri menahan diri demi selamat dari mata pedang.

Sementara si wanita berpakaian hitam cepat berkelebat meninggalkan teras itu.

“Kejar!” teriak Wuwuk Degar sambil kembali bersama-sama mengejar si wanita pembunuh yang kemudian melompat naik ke atap rumah. (RH)

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

luar biasa ni cewek menumbangkan sang menteri

2023-09-08

2

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

namanya Toh Gaji kok gak Toh Ganjel🤣🤣🏃‍♀️

2023-09-02

1

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

bunga ku luncurkan untuk om otong, eh othor🤣

2023-08-30

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!