*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Malam itu, bukan Kalawit saja yang menjalan misi rahasia, tetapi ada juga seorang wanita yang berlari di dalam kegelapan. Diketahui bahwa dia seorang wanita karena siluetnya mencirikan wanita yang berdada dan berambut panjang, saat melintas di bawah cahaya obor yang dipasang di beberapa titik pinggir jalan. Sosok wanita itu menyandang senjata pedang di punggungnya.
Dia berlari terus secara senyap menuju ke suatu tempat yang sepertinya sudah dia tahu.
Singkat cerita.
Wanita itu sampai di samping sebuah kediaman besar berpagar papan tebal setinggi leher, tetapi pada bagian atasnya ada bentangan kawat berduri. Rupanya pada masa itu sudah ada model kawat berduri, tentunya tidak sekeren zaman masa depan. Adanya beberapa obor penerang yang dipasang di beberapa titik di atas pagar, membuat kawat itu terlihat.
Jika melihat adanya dua prajurit berjaga di depan pintu pagar yang tertutup, sepertinya itu rumah orang penting atau pejabat kerajaan.
Wanita berpakaian serba hitam itu bersembunyi di balik pagar samping. Dia mengintip dua prajurit yang berjaga.
Dia kemudian bergerak senyap dengan merapatkan punggungnya ke pagar, berlindung di dalam kegelapan. Wanita yang mencoret wajahnya warna hitam itu kian mendekati posisi kedua prajurit yang berjaga disiplin karena berdiri seperti patung.
Tak!
Suara sebatang ranting kecil yang patah diinjak oleh si wanita, sontak membuat kedua prajurit itu menengok serentak.
Set!
“Akh! Akh!” jerit kedua prajurit itu, saat tahu-tahu leher dan wajah mereka ditancapi sesuatu.
Namun, setelah menjerit, kedua prajurit itu tumbang tanpa nyawa. Cahaya obor di depan gerbang memperlihatkan, benda yang menancap adalah logam pipih segitiga.
Untuk mengirit senjata, wanita itu pergi mencabut kembali senjata rahasianya dan mengelapnya di baju korbannya.
Cklek!
Si wanita muka hitam agak terkejut mendengar suara di pintu gerbang yang tertutup. Dia segera mencabut pedangnya dan merapat ke gerbang.
Pintu itu terbuka, tapi hanya sedikit. Ada satu wajah prajurit yang melongok tegang untuk melihat situasi di luar. Dia terkejut melihat kedua rekannya sudah bersimbh darah pada wajah dan leher.
Set!
“Hekr!” erang pemilik wajah ketika tahu-tahu ada seseorang muncul dari samping dan menusuknya dengan pedang.
Ketika si wanita mencabut pedangnya, prajurit ketiga itupun roboh dan badannya mendorong pintu sehingga terbuka lebih lebar.
Ternyata kejadian di gerbang itu terlihat oleh seorang prajurit yang berjaga di area dalam pekarangan rumah kayu besar tersebut. Prajurit itupun kemudian melihat ada seorang wanita bersosok hitam bergerak masuk ke dalam halaman.
Prajurit yang posisinya jauh dari pintu pagar, cepat berlari ke depan rumah kayu besar yang mewah, yang di bawahnya ada kolam-kolam ikan.
Tong tong tong otong...!
Prajurit itu memukulkan sarung pedangnya ke sebuah kentongan kayu yang menggantung.
Suara kentongan yang dipukul bertalu-talu itu jelas mengejukan seisi area rumah tersebut. Terbukti, sejumlah lelaki berpakaian prajurit bersenjata pedang muncul dari beberapa sisi rumah.
Tidak berapa lama, pintu-pintu utama rumah terbuka dan keluarlah sejumlah lelaki dan wanita. Para wanita bertelanjang bahu, sedangkan para lelaki bertelanjang dada. Tidak sebaliknya. Maklum, mereka dalam kondisi sedang tidur saat dibangunkan oleh kebisingan suara kentongan yang dipukuli, padahal dia tidak bersalah.
“Prajurit di pintu dibunuh oleh seorang wanita!” teriak prajurit yang menjadi saksi kematian rekannya.
Satu orang lelaki berbadan kekar tapi tidak berbaju, segera berlari menuju ke pintu gerbang. Dia diikuti oleh belasan prajurit berseragam cokelat-kuning. Namun, sosok wanita berpakaian hitam sudah tidak terlihat.
“Ada apa ini, Jaroan?” tanya seorang lelaki berusia separuh baya berkepala botak separuh di depan. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain sarung. Di lehernya melingkar kalung emas besar. Lelaki berkumis tebal itu adalah pemilik rumah besar tersebut. Dia adalah Aduh Mantang, Menteri Ketahanan Pangan Kerajaan Pasir Langit.
“Ada wanita yang membunuh prajurit penjaga pintu depan, Gusti Menteri,” jawab prajurit pemukul kentongan.
“Jaroan! Di mana pembunuhnya?!” teriak lelaki kekar yang tidak berbaju, yang memimpin para prajurit di pintu gerbang. Mereka sudah melihat kondisi tiga mayat prajurit.
“Tadi ada di sana, Ketua!” jawab prajurit bernama Jaroan dengan berteriak pula.
“Cepat periksa semua tempat! Dia pasti bersembunyi!” teriak Menteri Aduh Mantang.
“Periksa di luar pagar dan di dalam!” perintah lelaki kekar yang adalah Ketua Keamanan Rumah Menteri, namanya Wuwuk Degar.
Setiap rumah menteri memang memiliki Keamanan Rumah Menteri yang terdiri dari tiga puluh prajurit.
Para prajurit itu segera memecah kelompok, ada yang segera memeriksa ke sekeliling luar pagar, ada yang pergi memeriksa sisi kanan kediaman itu, dan ada yang memeriksa sisi kiri.
Di saat para prajurit sibuk mencari orang yang mencurigakan di kediaman itu, Wuwuk Degar mencari dua orang yang tidak muncul di dalam kondisi panik dan tegang itu.
“Di mana Toh Gaji dan Kumila?!” teriak Wuwuk Degar yang terlihat marah dengan situasi itu. “Jaroan, Kutung, lindungi Gusti Menteri!”
“Siaaap!” teriak Jaroan tegang. Dia dan rekannya yang bernama Kutung segera bergeser ke dekat Aduh Mantang.
Dari salah satu gang dua bangunan kayu, muncul seorang pemuda dan wanita yang berpakaian pendekar. Yang lelaki lumayan tampan dan yang perempuan lumayan cantik.
“Toh Gaji! Kumila! Situasi sedang gawat, kalian malah berkuda malam!” teriak Wuwuk Degar menghardik sepasang anak muda itu.
“Jaga mulutmu, Wuwuk!” tunjuk pemuda yang bernama Toh Gaji mendelik marah. Dia tersinggung dituduh tidak sesuai faktanya. “Justru kalian yang ribut di saat kami sedang berkuda malam!”
“Tugas kalian melindungi Gusti Menteri!” teriak Wuwuk Degar yang masih berdiri di dekat gerbang pagar.
Di saat dua lelaki itu sedang perang mulut, tiba-tiba dari atap, tepatnya di atas posisi sang menteri, sesosok tubuh berpakaian serba hitam berkelebat turun ke depan teras rumah. Munculnya gerakan itu mengejutkan Wuwuk Degar, Toh Gaji dan Kumila.
Kemunculan bayangan hitam yang turun dari atas atap mengejutkan Menteri Aduh Mantang dan semua orang yang ada di sekitarnya.
“Awas, Gustiii!” teriak Wuwuk Degar dan Toh Gaji sambil berlari ke arah teras rumah utama.
Sosok yang tidak lain adalah pembunuh ketiga prajurit di gerbang, langsung melesatkan beberapa senjata rahasianya.
Set!
“Akh! Akh!”
Jaroan dan rekannya Kutung tumbang dengan dahi dan leher ditancapi logam pipih segitiga. Ada pula senjata rahasia yang menyerang Aduh Mantang dan menancap di dada kanan sang menteri.
“Aaa!” Para wanita yang ada tidak jauh dari posisi serangan itu berjeritan sambil berlari masuk ke dalam rumah.
“Gusti Menteriii!” teriak Wuwuk Degar, Toh Gaji dan Kumila bersamaan sambil berlari cepat ke posisi serangan.
Sambil melesatkan senjata rahasianya, wanita bermuka hitam juga melesat maju ke arah Menteri Aduh Mantang.
Sambil menahan sakit pada dadanya, sang menteri bergerak melancarkan tinju kerasnya. Namun, kemampuan sang menteri tidaklah sebanding dengan pendekar wanita itu. Dengan mudah penyerang gelap mementahkan pukulan Menteri Aduh Mantang sambil dengan gerakan cepat dia meloloskan pedangnya dan menusuk perut gendut sang menteri.
“Akkr!” erang sang menteri mengejang menahan sakit yang begitu menusuk perasaannya.
“Gusti Menteriii!” teriak Wuwuk Degar, Toh Gaji dan Kumila lagi bersamaan.
Pada saat itu, ketiganya tiba dan langsung menyerang ke arah wanita berwajah hitam.
Set!
Pendekar wanita menyambut ketiga orang itu dengan kibasan pedangnya yang baru dicabut dari perut Menteri Aduh Mantang. Kibasan pedang itu membuat ketiga prajurit sang menteri menahan diri demi selamat dari mata pedang.
Sementara si wanita berpakaian hitam cepat berkelebat meninggalkan teras itu.
“Kejar!” teriak Wuwuk Degar sambil kembali bersama-sama mengejar si wanita pembunuh yang kemudian melompat naik ke atap rumah. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
luar biasa ni cewek menumbangkan sang menteri
2023-09-08
2
ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ
namanya Toh Gaji kok gak Toh Ganjel🤣🤣🏃♀️
2023-09-02
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
bunga ku luncurkan untuk om otong, eh othor🤣
2023-08-30
1