*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Aku sangat mengimpi-impikan ingin menikahi salah satu permaisuri dari Delapan Dewi Bunga,” ujar Santra Buna.
Melebar sepasang mata Prabu Dira, tapi senyum tetap mekar di bibirnya.
“Terlalu lancang kau, Kisanak!” bentak keras Riskaya tiba-tiba.
Sing!
Dia lalu meloloskan pedangnya, yang ketika dicabut dari sarungnya langsung memendarkan sinar hijau.
“Tahan, Riskaya,” ucap Prabu Dira sambil menengok sedikit ke kiri, kepada Riskaya.
Riskaya pun menahan gerakannya yang ingin maju menyerang Santra Buna. Dia kembali menyarungkan pedangnya dengan mata yang tajam menatap pemuda itu.
“Lanjutkan penumpahan isi hatimu, Syahbandar. Jika tidak segera diungkapkan semua, aku khawatir ada yang membunuhmu sebelum itu diungkapkan semua,” kata Prabu Dira tenang kepada Santra Buna.
Santra Buna hanya tersenyum mendengar kekhawatiran Prabu Dira.
“Demi cinta, aku berani menempuh langkah yang sangat berisiko ini, Gusti Prabu,” kata Santra Buna. Lalu dia melanjutkan ungkapan isi hatinya, “Karena niatan itulah, aku memohon kepada Gusti Prabu untuk menceraikan salah satu permaisuri dan menikahkannya dengan diriku.”
“Benar-benar kurang ajar!” bentak Riskaya sambil kembali hendak mencabut pedangnya.
Lagi-lagi Prabu Dira memberi isarat tangan kepada Riskaya untuk menahan diri.
Melihat reaksi Riskaya, Santra Buna hanya tersenyum secukupnya.
“Lanjutkan, Santra!” perintah Prabu Dira.
“Aku juga ingin bertemu dengan semua Permaisuri Dewi Bunga, Gusti,” kata Santra Buna.
“Apalagi?” tanya Prabu Dira.
“Hanya itu, Gusti,” jawab Santra Buna.
“Benar, semua yang kau pendam sudah kau ungkapkan?” tanya Prabu Dira untuk memastikan.
“Sudah, Gusti,” jawab Santra Buna.
“Kau tidak penasaran lagi?” tanya Prabu Dira lagi.
“Sudah tidak lagi, Gusti,” jawab Santra Buna.
“Jika demikian, kalian boleh meninggalkan tempat ini dan kerajaan ini,” kata Prabu Dira tetap tenang.
Terkejut Santra Buna dan kedua pengawalnya mendengar perkataan Prabu Dira. Mereka langsung menyimpulkan itu adalah pengusiran secara halus karena Prabu Dira belum memenuhi permintaan Santra Buna.
Sejenak Santra Buna terdiam terpaku. Perasaannya begitu kecewa.
“Kisanak! Apakah kau tidak mendengar perkataan Gusti Prabu?!” bentak Riskaya yang sejak tadi ingin membunuh Santra Buna. Dia sedikit pun tidak kepincut oleh ketampanan tamu itu.
“Lebih baik kita kembali, Gusti,” bisik Jago Jantan yang didengar juga oleh Prabu Dira dan Riskaya.
Santra Buna tidak menyahut. Dia tercenung sambil manggut-manggut kecil.
“Jika kau meminta kepeng satu peti, mungkin aku akan mengabulkan. Namun, istri-istriku tidak bisa dinilai dengan kepeng dan permata. Aku dan istri-istriku adalah satu kesatuan, tidak bisa ada satu pun yang boleh terpisah dari ikatan yang telah kami ciptakan. Meski aku nilai apa yang telah kau sampaikan adalah perkara yang sangat lancang, tetapi aku telah berjanji tidak akan marah. Jadi, urusan kalian sudah tertunaikan,” kata Prabu Dira.
“Baiklah, Gusti Prabu. Tapi aku ingin tahu nama permaisuri yang bersama Gusti Prabu,” kata Santra Buna.
“Dia bukan salah satu permaisuriku, tapi dia adalah Kepala Pengawal Prabu,” kata Prabu Dira.
Terbeliak Santra Buna mendengar itu. Ternyata dia telah salah paham. Jika Kepala Pengawal Prabu saja secantik itu, pasti para permaisuri memiliki kecantikan yang sama seperti Permaisuri Geger Jagad. Itu pikir Santra Buna. Itu berarti, dia baru bertemu dengan satu Permaisuri Dewi Bunga, yaitu Permaisuri Geger Jagad.
Pertemuan Santra Buna dan Permaisuri Dewi Ara terkisah di dalam novel “Putra Mahkota Sanggana”.
“Meski aku sangat kecewa, kami memohon izin undur diri, Gusti,” ucap Santra Buna legowo.
Dia lalu turun berlutut yang diikuti oleh kedua pengawalnya.
“Paksalah hatimu untuk mencintai gadis cantik lain yang bukan milik orang. Jika cintamu tumbuh, maka kau akan bahagia bersamanya. Namun, jika cintamu berakhir perpisahan, maka rasa sakitnya tidak akan seperti ini,” kata Prabu Dira memberi sedikit wejangan.
“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Santra Buna.
Dia lalu beringsut mundur atau berjalan mundur sambil berjongkok. Itu dilakukan sampai mendekati pintu perpustakaan. Demikian hal yang dilakukan oleh kedua pengawalnya. Setelah itu mereka bangkit berdiri dan berbalik pergi ke luar.
“Apakah menurutmu syahbandar itu tertarik dengan kecantikanmu, Riskaya? Karena dia menyangka kau adalah salah satu permaisuri,” tanya Prabu Dira kepada Riskaya.
“Jika Gusti Prabu memberikan aku kepadanya, aku tidak akan patuh. Gusti Prabu telah tahu cintaku untuk siapa,” kata Riskaya.
“Hahaha!” tawa santai Prabu Dira. “Setelah urusanku di wilayah pesisir selesai, kau akan disahkan oleh Gusti Ratu sebagi selir pertamaku.”
“Terima kasih, Gusti,” ucap Riskya. Sembari tersenyum malu merona, dia menjura hormat penuh takzim.
Prabu Dira sedikit mencondongkan badannya ke samping dan meletakkan telapak tangan kanannya pada pipi kiri Riskaya, sembari tersenyum menunjukkan kasih sayangnya kepad pengawalnya itu.
Nyesss!
Seperti ada bongkahan es yang disentuhkan ke hati Riskaya. Rasa bahagia itu seoalah-olah membekukan darah di hatinya, sampai-sampai sulit berteriak girang. Sentuhan yang hanya satu detik itu sudah membuat Riskaya puas merasakan bahagia.
Sementara itu di luar Perpustakan Alam Semesta, Santra Buna melihat seorang gadis cantik jelita berambut pendek seperti lelaki, tetapi bentuk tubuhnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang perempuan, terlebih dia mengenakan tiara berhias permata kuning berkilau.
Wanita berjubah kuning itu dikawal oleh sepuluh dayang berseragam putih-putih.
Wanita jelita yang kedua matanya berwarna hitam total dan berkilau itu, memiliki bentuk hidung dan bibir yang bisa disebut sempurna. Jika mata lelaki fokus memandang hidung dan bibirnya saja, akan membuat betah dan seolah-olah tidak ingin beralih ke merek lain.
Sama seperti yang dialami oleh Santra Buna. Dia tidak beralih dari memandang wajah jelita itu, terlebih dia yakin bahwa itu adalah salah satu Permaisuri Dewi Bunga.
Wanita itu adalah Permaisuri Nara yang dijuluki dengn nama Permaisuri Mata Hati dan biasa disebut Permaisuri Guru. Di dunia persilatan ia sangat masyhur dengan julukan Dewi Mata Hati. Kedua mata hitam Permaisuri Nara adalah mata palsu. Sebenarnya dia buta total.
Hakikatnya Dewi Mata Hati wanita yang berusia lebih dari seratus sepuluh tahun. Ia merupakan orang tersakti di Kerajaan Sanggana Kecil itu. Meski matanya buta, tetapi dia berjalan lancar seperti orang yang melihat normal. Ketika berbelok, dia pun lancar.
Santra Buna tidak berpapasan dengan Permaisuri Nara karena rombongan itu berjalan di koridor lain menuju ke Perpustakaan Alam Semesta. Santra Buna hanya terus memandangi Permaisuri Nara dari jarak sepuluh tombak. Dia berharap Permaisuri Nara memandang kepadanya.
Sentra Buna tidak tahu bahwa wanita jelita yang dipndanginya buta. Itu karena dia melihat sang permisuri berjalan normal.
“Permaisuri Mata Hati tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu.
Terkejut Santra Buna mendengar bahwa wanita yang sejak tadi dipandangnya adalah Permaisuri Nara.
“Bukankah Permisuri Mata Hati buta? Tapi itu tidak,” pikir Santra Buna. Namun, dia jadi begitu jatuh hati kepada Permaisuri Mata Hati.
Ingin sekali Sentra Buna memanggil atau pergi menemuinya, tetapi sang permaisuri sudah berjalan masuk ke dalam Perpustakaan Alam Semesta. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu Si Joko up, silakan baca novel Author yang lain:
Alma3 Ratu Siluman.
Rugi1 Perampok Budiman.
Rugi2 Darah Pengantin Pendekar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT
ternyata riskaya mengharapkan peabu dira
2023-09-28
0
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT
sebenarnya permaisuri yg mana yg sdng sentra buna harapkan
2023-09-28
1
🔥⃞⃟ˢᶠᶻsᥲᥒ𝗍іE𝆯⃟🚀🦚⃝⃟ˢᴴ
kata prabu bener banget ini
2023-08-19
1